Menu
Menu

Bekerja dengan metafora dalam narasi memang bukan perkara gampang, tapi menantang.


Oleh: Marcelus Ungkang |

Pengajar sastra di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unika Santu Paulus Ruteng. Saat ini, ia bergiat di Klub Buku Petra dan Teater Saja Ruteng.


Armin Bell mengangkat tema peristiwa ’65 di Ruteng-Flores dalam salah satu cerpennya. Namun, apa menariknya mengulas tema tersebut?

Pertama, dalam peta tematik sastra Indonesia, pembicaraan tentang peristiwa ’65 lebih banyak didominasi oleh peristiwa-peristiwa di Jawa dan Bali. Peristiwa- peristiwa ’65 dari NTT, misalnya, relatif kurang terlihat pengaruhnya secara diskursus di panggung sastra Indonesia.[1]

Kedua, sirkulasi pengetahuan berupa riset atau kesaksian tentang peristiwa ’65 masih lebih banyak terkonsentrasi di wilayah Jawa-Bali.[2] Di satu pihak, kondisi tersebut secara tidak langsung memberikan “keuntungan” sumber rujukan bagi para pengarang yang ingin menggarap cerita bersumber dari peristiwa 1965 dari Jawa-Bali.

Di pihak lain, keterbatasan materi rujukan dapat membuat pengarang justru mereproduksi teks-teks dari wilayah Jawa-Bali ke dalam karya yang berangkat dari peristiwa 1965 di NTT, misalnya—yang jelas tidak sama.[3]

Sebagai contoh, para pelaku di NTT melaksanakan ritual pembersihan/pemulihan diri yang bersumber dari ritual agama adat setempat (Kolimon, 2015).

Ketiga, di samping enggan dibicarakan terbuka, keragaman medium dan cara pengungkapan peristiwa ’65 di Manggarai memang masih terbilang langka. Selain cerpen Armin Bell, tercatat saat ini baru ada satu liputan feature di floresa.com dan satu film dokumenter pendek Tida Lupa karya sutradara Asrida Elisabeth yang khusus bicara tentang peristiwa ’65 di Manggarai.[4]

Dunia Tekstual

Perjalanan Mencari Ayam (2018, diterbitkan Dusun Flobamora) adalah kumpulan cerpen kedua karya Armin Bell, setelah Telinga (2011). Sejumlah cerpennya pernah dipublikasikan di Jurnal Santarang, Pos Kupang, Flores Pos, Lombok Post, Pos Bali, dan Litera.

Perjalanan Mencari Ayam berisi tujuh belas cerpen. Secara umum, tema-tema dalam PMA membicarakan persoalan sosial di Manggarai: konflik tanah antara sesama masyarakat atau masyarakat adat dengan negara, TKI, pencarian identitas diri, dan mitos-mitos lokal Manggarai.

Dari tujuh belas cerpen dalam Perjalanan Mencari Ayam, “Lapak di Atas Tulang Kekasih” merupakan satu-satunya cerpen yang mengangkat peristiwa 1965. Kelangkaan tema ini di konteks Manggarai membuat cerpen ini menarik untuk diulas. Selain itu, jika dibandingkan daerah lain, Manggarai adalah daerah yang kurang dibicarakan dalam penelitian mengenai peristiwa ’65 di NTT.[5]

Secara ringkas, “Lapak di Atas Tulang Kekasih” mengisahkan perempuan bernama Lena yang berdagang di Pasar Puni. Pilihan tempat tersebut bukan tanpa alasan. Puni adalah tempat ayah, saudara laki-laki, dan kekasihnya dieksekusi karena keterlibatannya dengan organisasi PKI. Ketika Puni dialihfungsikan menjadi pasar, Lena segera memutuskan berdagang di sana agar tetap dekat kuburan ketiga orang terkasihnya. Pertemuan Lena dengan seorang penjual sapu keliling dan ramai suara petasan yang lazim didengar pada bulan Desember di Ruteng membangkitkan kembali kenangan tentang peristiwa ’65, sebuah wujud involuntary memory. Kepada si penjual sapu, Lena menceritakan bagaimana ketiga orang terkasihnya dijemput tengah malam karena nama mereka ada dalam daftar anggota gerakan. Ketiganya bergabung karena janji organisasi gerakan untuk melawan kemiskinan serta menyerahkan bantuan peralatan pertanian bagi masyarakat. Di akhir kisah, Lena menuturkan bagaimana ia menyaksikan sendiri, tanpa boleh menangis, bagaimana mereka dieksekusi.

Dunia Kontekstual Peristiwa ‘65 di NTT

Untuk memahami lebih jelas cerpen Armin Bell, kita perlu meletakkannya pada konteks NTT.

Mery Kolimon, seorang peneliti dan putri pelaku peristiwa ’65 di NTT, dalam artikel “Para Pelaku Mencari Penyembuhan: Berteologi dengan Narasi Para Pelaku Tragedi ’65 di Timor Barat” (2015), menyampaikan beberapa poin penting.

Pertama, menurutnya para pelaku tragedi ’65 masih enggan menceritakan pengalaman traumatis tersebut. Meskipun peduli dan tidak melupakan, tapi ada campur aduk perasaan tidak nyaman, malu, takut, dan jijik bagi mereka ketika mengingat semua itu. Para pelaku tahu bahwa para korban adalah orang baik, tapi mereka tidak mampu mencegah terjadinya kejahatan itu. Kolimon (2015: 37) menulis “Dengan membunuh, para pelaku kehilangan separuh jiwanya. Kejahatan kemanusiaan itu melukai diri mereka sendiri.”

Kedua, kebanyakan pelaku masih berpegang pada narasi besar negara. Artinya, para pelaku masih bersikukuh dan bersembunyi di balik narasi pembenaran atas perbuatan mereka. Dengan cara itu, mereka bertahan dari proses kerusakan diri dan rasa bersalah.

Ketiga, para pelaku perlu diberi kesempatan untuk menguji dan menimbang kembali narasi dan imajinasi kepahlawanan mereka. Imajinasi yang dimaksud antara lain bahwa pelaku lebih tinggi derajatnya daripada korban, perilaku agresif sebagai bentuk maskulinitas, komunisme antiagama, dsb.

Keempat, dalam menghadapi rasa bersalah atas perbuatannya, para pelaku melaksanakan beberapa ritual untuk pembersihan/pemulihan diri. Ritual itu adalah (1) meminum darah korban, (2) menggosok badan dengan kayu pendingin (hau hainikit), (3) ritus mengalirkan darah anjing ke sungai, dan (4) dan berdoa di gereja.

Dunia Referensial-Tekstual

Dapat dikatakan bahwa penggarapan cerita yang bertitik tolak dari peristiwa nyata di atas merupakan kerja transformasi dunia referensial ke dunia tekstual.[6] Peristiwa eksekusi ’65 di Pasar Puni Ruteng dalam cerpen “Lapak di Atas Tulang Kekasih” adalah dunia referensial. Sedangkan dunia tekstual adalah dunia yang diproduksi dari dalam dunia teks itu sendiri tanpa harus dikaitkan dengan dunia referensial. Ucapan tokoh Lena kepada penjual sapu, misalnya, “Jangan menyerah. Besok sapu-sapu itu pasti ada yang laku. Setiap orang membutuhkan sapu untuk kotoran-kotoran yang mereka buat sendiri” adalah contoh dunia tekstual.

Meski peristiwa ’65 diloloskan dari dunia referensial ke dalam dunia tekstual, cerpen “Lapak di Atas Tulang Kekasih” menyisakan beberapa catatan. Hal itu terutama terkait dengan bagaimana dunia tekstual yang dibangun berguna untuk menguji narasi utama Orde Baru tentang peristiwa ’65 (baca: dunia referensial).

Pertama, belum ada sesuatu yang khas dari gambaran peristiwa ’65 yang terjadi di pasar Puni Ruteng dibandingkan karya-karya yang mengambil latar Jawa-Bali, misalnya. Padahal, sebagaimana diungkapkan oleh Ignas Kleden (2018: 10) bahwa “ […] sastra mencari kekhususan dan kekhasan pada satu objek singular yang membedakannya dari objek lain dalam gejala yang sama. Misalnya dalam gejala pemberontakan petani, akan diselidiki bukan kesamaan-kesamaan antara pemberontakan petani di Birma dan di Banten, tetapi justru kekhasan pemberontakan petani Banten yang membuatnya berbeda dari pemberontakan petani di tempat lain.”

Kedua, soal pengarang tersirat dan pembaca tersirat. Karena fitur-fitur internalnya, cerpen dapat ditelaah dengan naratologi Seymour Chatman (1980). Naratologi Chatman dipilih sebagai sarana analisis karena model ini mengakomodasi komunikasi. Narasi sebagai komunikasi, hemat saya, diperlukan karena teks sastra sampai saat ini bisa menjadi alternatif mengomunikasikan peristiwa 1965 yang masih enggan dibicarakan terbuka di Manggarai.

Ada enam komponen dalam model naratologi Chatman yang dapat dibagi dalam dua kelompok besar. Pertama, di luar narasi: pengarang sebenarnya (real author) dan pembaca sebenarnya (real reader). Kedua, di dalam narasi, yaitu narator, narratee, pengarang tersirat (implied author), dan pembaca tersirat (implied reader).

Cara teks dikonstruksi dari posisi atau sudut pandang tertentu adalah bagian dari konsep pengarang tersirat, sedangkan pembaca yang diandaikan, dikonstruksikan atau terkonstruksikan oleh narasi adalah pembaca tersirat. Sebagai catatan, pengarang tersirat tidak sama dengan narator. Narator memiliki “suara” dalam cerita, sedangkan pengarang tersirat tidak. Sebagai contoh, seorang ibu ketika melihat anak perempuannya bermain mobil-mobilan berkata bahwa anak perempuan sebaiknya main boneka saja. Mobil-mobilan hanya untuk anak laki-laki.

Ibu yang berbicara di atas adalah narator. Anak perempuan yang dituju oleh ujarannya adalah narratee. Ideologi patrilineal dapat dikatakan sebagai pengarang tersirat yang mengonstruksikan cara pandang ruang gerak anak perempuan terbatas pada wilayah-wilayah domestik. Sedangkan (anak) perempuan yang didomestikasikan adalah pembaca tersiratnya.

Narator dalam “Lapak di Atas Tulang Kekasih” adalah Lena. Namun, siapa pengarang tersirat dan pembaca tersirat dalam teks “Lapak di Atas Tulang Kekasih” tampaknya masih terlalu umum. Masih mengambangnya pembaca tersirat ini berdampak pada pembaca riil yang agak sukar mengaitkan dirinya dengan teks.[7]

Keumuman dimaksud bisa dicurigai karena dua hal yang berkaitan. Pertama, teks cerpen ini dibangun dari teks-teks besar peristiwa ’65 di Jawa-Bali. Selain latar geografis Pasar Puni, tidak terlihat kekhasan peristiwa itu berlangsung di Manggarai, misalnya, terkait cara pandang tokoh terhadap kematian. Padahal, orang Manggarai membedakan antara kematian wajar dan tidak wajar (dara ta’a). Bagi orang Manggarai, mati karena dibunuh termasuk kematian tidak wajar. Karena itu, cara pandang serta cara menghadapinya juga berbeda.

Karena pembedaan jenis penyebab kematian itu pula, seperti temuan Kolimon di Timor Barat, membuat para pelaku melakukan ritual pembersihan diri—yang secara tidak langsung mengakui bahwa perbuatan mereka salah. Sesuatu yang dianggap salah itu kemudian perlu dikembalikan pada kondisi harmoni.

Kedua, trauma kolektif bisa dipandang bertindak sebagai pengarang tersirat. Artinya, trauma itu menyamarkan diri justru dengan mengambil rupa teks umum yang sudah dikenali dan dibicarakan secara relatif lebih terbuka, misalnya di Jawa dan Bali.

Strategi Proses Kreatif: Bekerja dengan Metafora

Dari pembacaan di atas dapat dikenali dua persoalan menulis peristiwa ’65. Pertama, bagaimanakah cara agar dunia tekstual membuka terobosan cara pandang (insight) baru pada dunia referensial yang darinya sebuah teks diasalkan? Kedua, bagaimanakah mengembangkan strategi proses kreatif menyiasati hambatan ketaksadaran yang masih membayangi?

Strategi alternatif yang dapat diajukan adalah bekerja dengan metafora. Ada beberapa alasan bekerja dengan metafora. Pertama, kebanyakan pelaku masih berpegang pada narasi besar negara. Karena itu, usul Kolimon, para pelaku perlu dihadapkan pada situasi yang memungkinkan mereka untuk menguji dan menimbangkan kembali narasi dan imajinasi kepahlawanan mereka pada peristiwa ’65. Jika usul Kolimon dibawa ke dalam konteks sastra, para pengarang juga perlu bekerja dengan sarana-sarana naratif seperti simbol dan metafora. Metafora dapat meredeksripsikan sesuatu yang sudah dikenali dengan cara baru dan segar (Kaplan, 2013:50).

Kedua, kenyataan di Timor Barat, militer telah membajak dan mengeksploitasi metafora dan simbol-simbol lokal untuk memperkuat imajinasi dan narasi pembenaran bagi para pelaku pembunuhan 1965 (lih. Kolimon, 2015: 43-44). Kerja kritis sastra kemudian adalah membebaskan berbagai metafora dan simbol lokal itu untuk dikembalikan pada kondisi semula atau membuat inovasi semantik atasnya. Inovasi semantik itu sendiri terjadi pada “metafora hidup” dan bukan “metafora mati”. “Kepala batu”, misalnya, adalah contoh “metafora mati” yang tidak membawa imajinasi baru lagi.

Ketiga, harus diakui bahwa ada hambatan sosiopolitik dan ketaksadaran mengenai apa yang boleh dan tidak boleh diungkapkan mengenai peristiwa ’65.[8] Khusus soal hambatan bawah sadar, persis di situlah pentingnya simbol dan metafora. Dalam wawasan psikologi sastra, ketaksadaran manusia dipandang bekerja dengan cara mirip dengan sastra, yaitu melalui metafora dan simbol-simbol.

Tentu pendayagunaan simbol dan metafora bukan barang baru dalam sastra. Namun, hemat saya, akan berbeda jika kita menghadapkannya secara kritis bukan pada slogan gerakan melawan lupa, tetapi justru melawan ingatan.

Dikatakan melawan ingatan karena Orde Baru dengan aparatusnya membenihkan ingatan–master narrative, atau narasi besar–tentang peristiwa ’65. Narasi besar ini bukan cuma ada di benak para pelaku, tetapi juga beberapa lapis generasi melalui, terutama, buku-buku sejarah versi Orde Baru. Tentu kini ada buku-buku sejarah di luar versi Orde Baru. Namun, kisah ‘65 yang ditanamkan di benak masa kecil bukan sesuatu yang mudah dihapus begitu saja.

Keempat, bekerja dengan metafora juga menjadi salah satu pembeda utama antara jurnalis dengan pengarang atau seniman. Seorang pengarang dapat melakukan riset atau investigasi layaknya seorang jurnalis. Namun, pengolahan lanjut atas hasil riset keduanya berbeda. Sebagai misal, Afrizal Malna dalam pengantar bukunya menceritakan tentang seseorang yang meninggal di Jakarta karena tertabrak. Afrizal termasuk orang yang ikut memandikan mayat.[9] Yang menarik perhatian Afrizal bukan soal tabrakannya, tapi justru kuku korban yang berwarna hitam. Bagi Afrizal, kuku hitam itu merupakan metafora tentang kerasnya kehidupan di Jakarta. Sementara jurnalis mungkin lebih berfokus pada fakta-fakta seputar kematian orang bersangkutan.

Cerpen “Lapak di Atas Tulang Kekasih” sesungguhnya memiliki potensi simbol dan metafora, tetapi belum dimaksimalkan oleh Armin Bell, yaitu “sapu ijuk” dan/atau “pasar”. Sapu bisa dipandang sebagai pengendapan (kondensasi), yaitu penggabungan sekaligus beberapa soal: (1) eksekusi (baca: pembersihan komunisme), (2) sebuah paradoks karena untuk membersihkan kotoran, sapu harus mengotori dirinya, (3) sapu adalah alat untuk meluputkan diri dari kontak langsung dengan objek pembersihan.

Jika dicermati, bentuk kondensasi berupa sapu ijuk, selain dikenali oleh skemata lokal orang Manggarai, koheren dengan diskursus tentang ’65. Komunisme dicitrakan sedemikian kotor sehingga harus “dibersihkan”. Untuk kepentingan “bersih-bersih” itu, kekuatan negara dengan militer sebagai alat harus dilibatkan. Akan tetapi, negara juga bisa “cuci tangan” dengan cara melibatkan sipil sebagai eksekutor lapangan.[10]

Selain sapu ijuk, Pasar Puni bisa dilihat lebih dari lokus eksekusi ‘65. Pasar bisa dijadikan metafora ruang negosiasi yang khas karena dapat dilakukan relatif dengan anonimitas. Kondisi itu paralel dengan diskursus ’65 di Manggarai. Sampai saat ini, sedikit sekali kajian sejarah tentang siapa pelaku, korban, saksi, atau penyintas peristiwa ’65 di Manggarai.[11]

Namun, bekerja dengan metafora dalam narasi memang bukan perkara gampang, tapi menantang. Meski kunci untuk memahami koneksi antara metafora dan narasi telah ditunjukkan oleh Ricoeur melalui konsep imajinasi produktif (lih. Kaplan 2003: 49-50), menurut saya, perbedaan sifat dasar metafora yang memadatkan dengan narasi yang bersifat menguraikan ide bisa jadi kerja kompleks dalam proses kreatif.[12] Lain hal dengan puisi yang memiliki kesepadanan sifat dengan metafora: keduanya memadatkan ide.

Penutup

Secara politis, cerpen macam karangan Armin Bell masih diperlukan untuk mengungkapkan peristiwa ’65 di NTT yang relatif jauh dari “episentrumnya”. Namun secara estetis, para pengarang juga perlu mengembangkan strategi proses kreatif terkait tema ’65 ini.[13]

Sebagai penutup, kita bisa mengingat film Inception (2010) besutan Christopher Nolan. Lazimnya kita tahu bahwa perampok mengambil sesuatu secara terang-terangan, sedangkan pencuri masuk, mengambil, lalu keluar secara diam-diam. Namun, dalam film ini, pencuri tidak mengambil, tapi justru menyimpan sesuatu (baca: ide) sedemikian rupa sehingga pemilik rumah berpikir seakan-akan ide itu dari dulu memang miliknya.[*]

Artikel ini pernah ditayangkan di jurnalruang.com tahun 2019. Versi ini telah mengalami penyuntingan minor.

Catatan Kaki
[1] Bandingkan misalnya dengan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Pulang karya Leila S. Chudori, Amba karya Laksmi Pamuntjak, atau cerpen-cerpen Martin Aleida.
[2] Perbandingan informasi tentang peristiwa ’65 di NTT dengan daerah Jawa dan Bali misalnya dapat dilihat di www.genosidapolitik65.blogspot.com. Blog ini relatif lengkap mendokumentasikan link berbagai tulisan, publikasi, atau video dokumenter tentang peristiwa ’65.
[3] Lihat artikel Mery Kolimon tentang bagaimana ritual para pelaku untuk memulihkan diri sesudah mengeksekusi korban.
[4] Cek http://www.floresa.co/2015/09/30/tragedi-1965-di-ruteng-dari-tuduhan-pki-hingga- eksekusi-massal-di-puni/ dan https://medium.com/ingat-65/menelusuri-jejak-kuburan- massal-di-pasar-puni-d54d4ed5ce9d.
[5] Bdk. https://indoprogress.com/2016/07/memori-kolektif-perspektif-korban-dan- marwah-peradaban1/; Mery Kolimon dan Liliya Wetangterah, Memori-Memori Terlarang Perempuan Korban dan Penyintas Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur, (2012, Yayasan Bonet Pinggupir).
[6] Contoh analisis dunia referensial dan tekstual juga dapat dilihat dalam tulisan Ignas Kleden, “Sastra dan Humaniora”, 2018. Ulasan bagian ini juga berhutang pada tulisan Ignas Kleden tersebut.
[7] Membaca novel Korupsi karya Pramoedya Ananta Toer, misalnya, dapat memberikan pengalaman khas tentang pembaca tersirat. Bermacam mentalitas dan rasionalisasi yang mungkin dipikirkan sebagai alasan untuk melakukan korupsi seperti sudah diantisipasi teks melalui pembaca tersirat.
[8] Hambatan ini bukan milik sastra semata. Sebagai contoh, dalam tulisan Ignas Kleden (2017) disebutkan bahwa ungkapan “kebebasan bertanggung jawab” produk Orde Baru, yang masih kita warisi itu, problematis sifatnya karena tidak ada definisi yang jelas dan tegas tentang apa yang dimaksud dengan bertanggung jawab itu. Definisi itu ditentukan oleh pemerintah yang sedang berkuasa.
[9] Seperti sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia, Afrizal Malna, (Magelang: Indonesia Tera)
[10] Beberapa kisah eksekusi di NTT bisa dibaca di beberapa tautan berikut: https://historia.id/modern/articles/penumpasan-pki-di-ntt-dalam-dokumen-rahasia-as- vVerW; http://indoprogress.blogspot.com/2010/06/senandung-bisu-1965.html; https://kbr.id/saga/11-
2015/ipt_1965 ngesti pembunuhan_massal_di_ntt_dikomandoi_tni/77447.html.
[11] Riset dan diskusi peristiwa ‘65 di Manggarai agak kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain di NTT. Bandingkan dengan buku Berani Berhenti Berbohong: 50 Tahun Pascaperistiwa 1965-1966 yang membahas peristiwa ’65 di NTT.
[12] Beberapa contoh prosa fiksi yang berhasil menggunakan metafora secara baik, misalnya, Bumi Manusia karya Pramoedya melalui tokoh Nyai Ontosoro sebagai metafora Indonesia dan Burung-Burung Manyar karya Mangunwijaya.
[13] Bdk. Zen Hae, “Ihwal kegemaran dan siasat terhadap realisme” di beritagar.id. https://beritagar.id/artikel/telatah/ihwal-kegemaran-dan-siasat-terhadap-realisme


Baca juga:
Mendengarkan Bisikan Tanah Penari Karya Rissa Churria Lebih Saksama
Lima Fungsi Imaji Biblikal dalam Komuni Karya Saddam HP


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

178 thoughts on “Metafora Baru dalam Penggambaran Peristiwa 1965”

  1. SAHVIN MUGIONO berkata:

    kata dan bahasanya mudah di pahami dan di mengerti . penulisnya rapi dan Kata-katanya mudah di pahami

  2. Putih969 berkata:

    Ceritanya cukup bagus untuk dibaca karena disini banyak sekali arti “kata” yang dapet menambah sedikit ilmu buat kita

  3. Putih969 berkata:

    Ceritanya cukup menarik dan rekomend untuk dibaca karena disini banyak sekali arti “kata” yang dapet menambah sedikit ilmu buat kita

  4. acel berkata:

    saya sangat suka dengan cerita dan sangat menarik, cerita ini memiliki banyak arti yang sangat mudah di pahami dengan makna yang mendalam serta penulisan yang rapi dan menarik sekali

  5. ELSYA GIYANTORO PUTRI berkata:

    arti bahwa peristiwa ’65 meninggalkan trauma lintas wilayah. Di Ruteng-Flores, sebagaimana di tempat lain, tragedi itu masih bergema dalam kesunyian orang-orang yang ditinggalkan.

  6. Anggun widia putri berkata:

    ceritnya menarik, narasinya terarah jadi mudah di pahami membuat pembaca menjadi memahami alur ceritanya

  7. salsabila berkata:

    tulisan yang sangat luar biasa bagus,memiliki analisis yang tajam,alur yang mudah dimengerti,bahasa yang digunakan sangat mudah untuk di pahami.

  8. Sasmita berkata:

    Metafora baru dalam penggambaran peristiwa 1965 merupakan upaya penting untuk membongkar kebekuan sejarah dan menghadirkan trauma kolektif secara lebih manusiawi. Melalui simbol, ruang, dan tubuh sebagai metafora, para seniman dan penulis berhasil membuka celah naratif yang selama ini tertutup oleh versi resmi negara. Pendekatan ini bukan hanya bentuk estetika, tetapi juga strategi politik yang cerdas karena berbicara tentang kebenaran dengan cara yang tidak langsung, namun tetap menggugah dan sulit disangkal. Dalam konteks Indonesia yang masih sensitif terhadap isu ini, metafora menjadi jembatan antara ingatan dan pengakuan.

  9. adnan berkata:

    Metafora Baru dalam Penggambaran Peristiwa 1965 menyajikan pendekatan kultural untuk memahami tragedi 1965 melalui seni, sastra, dan media. Buku ini membongkar narasi tunggal Orde Baru dan menawarkan sudut pandang baru yang lebih humanis dan reflektif. Melalui metafora, peristiwa kelam ini dihadirkan tidak hanya sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai luka kolektif yang perlu dimaknai ulang. Buku ini penting untuk membangun kesadaran kritis dan empati terhadap para korban, meski pendekatan akademisnya cukup menantang bagi pembaca umum.

  10. rizqy berkata:

    cerita dan alur yang disampaikan sangat mudah untuk dimengerti dan sangat menarik. penulisannya baik memberikan kesan tersendiri bagi pembacanya

  11. Maryam berkata:

    menraik pembaca

  12. Zholva berkata:

    Cerita nya sangat menarik untuk dibaca menurut saya ide yang dikeluarkan begitu luar biasa sehingga membuat cerita dan alur sangat bagus membuat cerita begitu kuat dari cerita ini ada banyak hal yang bisa kita pelajari menurut saya ini menarik sekali

  13. Madd berkata:

    Menurut saya cerita ini bagus bagi semua Masyarakat

  14. rafa berkata:

    ceritanya di paparkan dan mudah di mengerti dab dari kata kata yang di pakai sangat menarik, dan banyak arti dari cerita tersebut

  15. Bella Putri Trihandayani berkata:

    Keren banget alurnyaa suka deh

  16. Ester Indah Kristanti Gita Hapsari berkata:

    cerita yang dipaparkan begitu memiliki makna yang sangat dalam namun midah untuk di jabarkan sehingga membuat pembaca juga tertarik untuk membaca cerita ini

  17. jihan d. puri berkata:

    ceritanya sangat menarik serta mempunyai makna yang sangat mendalami dari sisi ceritaya sendiri

  18. Dian lasmana berkata:

    Sangat lah menarik

  19. Amelia berkata:

    Sangat bagus cerita ini sungguh luar biasa, tulisannya juga mudah dipahami ini sangat sukaaa

  20. faried riady berkata:

    ceritanya sangat menarik sekali dan mempunyai makna yang sangat bagus.
    penulisan katanya juga sangat rapi

  21. Rangga Ardiansyah berkata:

    Cerita yang cukup menarik

  22. Adly Algifari berkata:

    dari segi cerita cukup menarik dan untuk penulisan cukup baik, ada banyak makna yang dapat kita ambil dari cerita tersebut.

  23. Insan berkata:

    Cerita bagus sekali tidak membosankan dan sangat menarik

  24. Ibrahim Fauzi berkata:

    Dari yang sudah saya baca, Hasil dari metafora ini sangat menarik untuk dibaca lalu dalam penggunaan bahasa dan kata kata yang dipilih cukup mudah untuk dipahami oleh pembaca awam yang ingin mengenal sejarah yang sudah terlupakan

  25. nadya berkata:

    cerita yang bagus,alur yang menarik ,banyak hikmah/makna yang bisa kita ambil dari cerita tersebut

  26. sparkly9784309a62 berkata:

    Cerpen ini menghadirkan cerita yang menarik dengan alur yang mengalir dan penuh makna Dan bacaan yang berkesan. Bahasa yang indah dan gaya penceritaan yang memikat membuat cerpen ini layak diapresiasi.

  27. Brhn Asyrxyz berkata:

    Cerpen ini menghadirkan cerita yang menarik dengan alur yang mengalir dan penuh makna.Bacaan yang berkesan. Bahasa yang indah dan gaya penceritaan yang memikat membuat cerpen ini layak diapresiasi.

  28. Dinda berkata:

    Dari sini bisa kita lihat Teks tersebut membahas tentang kompleksitas ide dalam proses kreatif, terutama dalam konteks menulis cerpen dan puisi. Cerpen, seperti karya Armin Bell, diperlukan untuk mengungkapkan peristiwa sejarah seperti peristiwa ’65 di NTT, tetapi secara estetis, pengarang harus mengembangkan strategi kreatif yang lebih inovatif. Teks ini juga mengacu pada film “Inception” sebagai analogi proses kreatif yang memasukkan ide ke dalam pikiran seseorang secara halus. Selain itu, metafora disebutkan sebagai alat untuk memadatkan ide dalam puisi dan cerpen, menunjukkan pentingnya teknik sastra dalam mengungkapkan gagasan kompleks.

  29. Dinda berkata:

    Dari sini bisa kita ketahui bahwa teks tersebut membahas tentang kompleksitas ide dalam proses kreatif, terutama dalam konteks menulis cerpen dan puisi. Cerpen, seperti karya Armin Bell, diperlukan untuk mengungkapkan peristiwa sejarah seperti peristiwa ’65 di NTT, tetapi secara estetis, pengarang harus mengembangkan strategi kreatif yang lebih inovatif. Teks ini juga mengacu pada film “Inception” sebagai analogi proses kreatif yang memasukkan ide ke dalam pikiran seseorang secara halus. Selain itu, metafora disebutkan sebagai alat untuk memadatkan ide dalam puisi dan cerpen, menunjukkan pentingnya teknik sastra dalam mengungkapkan gagasan kompleks.

  30. alya Zahra Tul Naura berkata:

    setiap cerita memiliki makna tersendiri salah satunya cerita ini, dan kata kata yg digunakan didalam cerita ini sangat menarik dan mudah dimengerti selain itu alurnya juga sangat cocok untuk saya.

  31. alya Zahra Tul Naura berkata:

    setiap cerita memiliki makna tersendiri, salah satunya cerita ini, ada banyak arti yang dapat ditangkap dari cerita ini, dan kata kata yg digunakan cukup mudah dimengerti

  32. Ahmad Rifa'i berkata:

    Karya tulis ini menawarkan analisis kritis terhadap narasi tentang peristiwa Orde Baru 1965, dengan menyoroti pentingnya metafora dalam karya sastra, tetapi dapat lebih mendalami eksplorasi estetika dan strategi kreatifnya.

    Tulisan ini menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana narasi sejarah dibangun dan dilestarikan melalui media tertentu, khususnya dalam konteks Orde Baru. Penggunaan metafora sebagai alat—seperti analisis sapu ijuk dan pasar dalam cerpen Armin Bell—merupakan pendekatan yang menarik dan relevan dalam membaca ulang peristiwa 1965.

    Namun, meskipun artikel ini telah menggali makna simbolik dan politik dari cerpen tersebut, ada peluang untuk memperkaya pembahasannya dari segi estetika sastra. Bagaimana strategi kreatif yang lebih efektif dapat diterapkan dalam menulis fiksi bertema sejarah? Bagaimana peran bahasa, struktur naratif, dan sudut pandang dalam membentuk makna yang lebih mendalam bagi pembaca?

    Selain itu, referensi yang digunakan sangat kuat, menunjukkan kajian yang berbasis penelitian mendalam. Namun, alur argumentasi bisa lebih terstruktur agar hubungan antara ingatan politik, metafora, dan estetika semakin jelas. Secara keseluruhan, ini adalah tulisan yang kritis dan informatif, tetapi bisa lebih berkembang dengan eksplorasi lebih jauh terhadap dimensi kreatif dalam sastra bertema sejarah.

  33. Lutfiana berkata:

    Ceritanya bagus dan menarikk, ceritanya pun juga bisa dimengerti. Intinya the best

  34. Apis berkata:

    Ceritanya bagus mudah di fahami

  35. hanifah berkata:

    wow,cerita yang sangat menarik dengan makna yang sangat mendalam serta mudah di pahami

  36. Indri berkata:

    aku suka baget cerita nya. dan dari cerita ini kita bisa belajar bahwa apa yang kita punya harus di jaga apalagi titipan orang. dan cerita nya seru baget

  37. eca key berkata:

    cerita yang di sampaikan cukup mudah di pahami dan kalimat atau kata yang di sampaikan menarik perhatian para pembaca

  38. ary berkata:

    alur ceritanya bagus,mudah di mengerti, dan menginspirasi. memiliki makna dan kisah nyata yang sangat berarti. aku merekomendasikan ini, karena aku menyukainya.

  39. ekaa berkata:

    Alurnya cukup mudah dimengerti ceritanya sangat menarik dan punya makna yang mendalam bagus deh pokoknya

  40. Lutfi berkata:

    Cerita menarik sayaa suka

  41. Antares Bahtera berkata:

    Alur cerita ini sangat bagus dan menarik, dan juga menggunakan bahasa yang mudah dipahami pembaca

  42. ayucutee berkata:

    cerita yang menarik dan mudah di mengerti sehingga para pembaca cukup mudah tertarik

  43. Anggin alexanti Anggin berkata:

    Alur ceritanya bikin saya jadi terbayang bagaimana diposisi itu sangat mudah dipahami tidak gampang bosan dan cukup detai

  44. Sintiy berkata:

    Cerita nya menarik dan mudah untuk di pahami

  45. jul berkata:

    wow, buku ini sangat bagus dan mudah di pahami alur ceritanya

  46. Reynaldi berkata:

    Cerita yang Menarik

  47. Ilham berkata:

    Alur cerita yang menarik dan dapat dipahami

  48. Surja Agatha berkata:

    Alur cerita sangat menarik, dimana tidak hanya mengungkapkan peristiwa sejarah yang jarang dibahas tetapi juga menyarankan bahwa sastra itu mempunyai peran penting untuk menantang kolektif yang telah dibentuk dan bahkan membuka jalan untuk penyembuhan maupun pemahaman baru.

  49. Dell berkata:

    alurnya sangat mudah dipahami dan penulis memberikan kesan dan makna yang bisa didapatkan oleh pembaca

  50. dilla berkata:

    menurut saya ini sudah bagus, dari tulisannya pun rapih, dan mudah dipahami juga kalimat kalimat yang tertera disitu sangat amat menarik, menjadikan semua orang tertarik untuk membacanya. GOOD JOB FOR YOU👍

    1. saila berkata:

      waa

  51. sanisa berkata:

    cerita menarik dengan kata dan bahasa yang mudah dimengerti. alur cerita sangat bagus

  52. gusti zakaria berkata:

    ceritanya bagus, saya suka

  53. yuhana berkata:

    Cerpen ini mungkin menawarkan sebuah refleksi atau pendekatan baru yang lebih sensitif, mungkin lebih humanis atau filosofis, dalam menggali dan memaknai peristiwa sejarah yang memiliki dampak besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan menggunakan metafora baru, cerpen ini berpotensi untuk menciptakan ruang bagi pembaca untuk melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang lebih luas dan mendalam.

  54. nayla Opellia Brahasana berkata:

    ceritanya sangat menarik, bahasa yang digunakan juga mudah dimengerti oleh para pembaca. kita tahu bahwa perampok mengambil sesuatu secara terang-terangan, sedangkan pencuri masuk, mengambil, lalu keluar secara diam-diam. Namun, dalam film ini, pencuri tidak mengambil, tapi justru menyimpan sesuatu

  55. adam berkata:

    bukunya bagus, mudah di pahami, alur yang bagus, latar tempat yang jelas. intinya suka deh

  56. yayea berkata:

    bagus mudah dipahami kata2 nya

  57. rendy_iyaa berkata:

    ceritanya sangat bagus dan menarik, bahasanya juga mudah untuk di pahami dan kata’ yang di pakai sangat menarik. alurnya juga cukup mudah untuk di mengerti.

  58. MUHAMAD DAFFA ALGHIFARI berkata:

    Mudah untuk dipahami, secara tulisan sudah rapih dan struktur tulisannya jelas

  59. Dian berkata:

    banyak makna dari tulisan ini, cerita yang mudah dimengerti oleh kalangan remaja.

  60. Ilham Ainal Yaqin berkata:

    Banyak mengandung pesan / makna di cerita ini. Sangat mudah dipahami dan menarik
    Memuat…

  61. Nurul Amalia berkata:

    Cerita bagus dan kata- kata nya mudah di pahami

  62. Dinar berkata:

    Pembahasan cerita yang bisa di mengerti dan di cerna dengan pengolahan kata kata yang bagus dan menarik sehingga tidak terlalu susah untuk di mengerti

  63. eca berkata:

    Kalimat demi kalimat mudah untuk di mengerti ,bahasa nya yang relatif bagus , dan alurnya jga mudah untuk di mengerti untuk para pembaca

  64. Akbar Acmad berkata:

    Secara keseluruhan, cerita ini memperkaya literatur tentang peristiwa ’65 di Indonesia, meski memerlukan pengolahan simbol dan metafora yang lebih mendalam.

  65. Selamet riady berkata:

    Untuk cerita ini menarik perhatian dan mudah di pahami oleh kalangan remaja dan orang dewasa…alur ceritanya singkat dan jelas..cerita ini mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi di NTT tahun 65 banyak makna yang terkandung didalamnya

  66. Nadya berkata:

    cerita ini sangat bagus dan bahasanya mudah dipahami bagi pembaca.

  67. sierencine berkata:

    cerita ini mudah dipahami oleh kalangan orang dewasa dengan kata yang dipakai dapat menarik intensi sang pembaca sehingga ingin membaca secara terus menerus

  68. Setya Putri berkata:

    untuk alur cerita yang sangat menarik, dan kata kata yang di gunakan cukup mudah untuk di mengerti banyak makna yang dikandung dalam setiap kalimat

  69. Nanan berkata:

    alur cerita mudah di mengerti, kata kata yang di pakai sangat menarik dan mudah di pahami pembaca. Selain itu sebagai pembaca tidak akan bosan dengan ceritanya.

  70. Lia berkata:

    Alur dan bahasa yang di gunakan terstruktur, dan cukup mudah di pahami, terdapat beberapa kata yang memberikan informasi tambahan untuk para pembaca

  71. Biba berkata:

    Banyak mengandung pesan / makna di cerita ini. Sangat mudah dipahami dan menarik

  72. Gio Wildan berkata:

    Ceritanya menarik , mudah dipahami dan tidak membosankan bagi saya

  73. Gio Wildan berkata:

    Ceritanya menarik , mudah di pahami dan juga tidak membosankan untuk saya

  74. Damai lase berkata:

    Cerita nya saya suka, alur ceritanya juga gampang untuk dimengerti banyak cerita yang bagus didalamnya.

  75. mrizkypamungkas27 berkata:

    Kalimat demi kalimat mudah untuk di mengerti ,bahasa nya yang relatif bagus , dan alurnya jga mudah untuk di mengerti untuk para pembaca

  76. Putri berkata:

    Bahasanya mudah di mengerti, alirnya cukup mudah dimengerti, kata kata yang di pakai sangat menarik. Mempunyai makna tersendiri

  77. Hexian berkata:

    cerita yang di paparkan alurnya cukup mudah di mengerti dan dari kata’ yang di pakai sangat menarik. ada banyak arti yang di dapat dari cerita tersebut dan mengulik sejarah supaya anak zaman sekarang tidak lupa dengan cerita zaman dulu

  78. Devi berkata:

    Buku ini cukup menarik banyak peminat. Dengan menggunakan penulisan serta bahasa yg mudah di pahami, dan banyak makna dibalik kisah buku ini.

  79. alpi berkata:

    bahasanya mudah dimengerti, menarik juga pembahasannya, lalu banyak arti dan makna dari ceritanya

  80. Reyhan berkata:

    Menarik sekali ceritanya, mudah dimengerti alurnya dan kata” yang dipakai sangat menarik, ada banyak arti yang dapat dari cerita tersebut.

  81. nur berkata:

    dengan bahasa yang cukup mudah di mengerti oleh cerita yang di terapkan dan dari kata kata yang di gunakan sangat menarik. ada beberapa banyak arti yang dapat dari cerita tersebut

  82. Rio nanda berkata:

    Cerita nya sangat menarik,mudah di pahami,bahasa nya juga sangat baik

  83. Fahril berkata:

    untuk cerita yang di paparkan alurnya cukup mudah di mengerti dan dari kata’ yang di pakai sangat menarik. ada banyak arti yang di dapat dari cerita tersebut dan mengulik sejarah supaya anak zaman sekarang tidak lupa dengan cerita zaman dulu

  84. ImSol berkata:

    Untuk cerita yg dipaparkan alurnya cukup mudah untuk dimengerti dan mempunyai makna cerita yang sangat mendalam.

  85. Intan Pazira berkata:

    Cerita nya menarik, bahasa nya mudah di mengerti, dan pengambilan kata kata nya menarik, sehingga ketika membaca seperti sedang berada di dunia cerita tersebut

  86. Rini berkata:

    Cerita dan alur nya menarik dan cukup mudah untuk di mengerti pemilihan kata nya juga menarik dari cerita ini ada banyak arti yang bisa saya dapat

  87. dulse berkata:

    kata setiap paragraf mengandung inspirasi peminat pembaca karena kaliamtnya dan alur ceritanya sangat bagus dan mudah di pahami

  88. nandadutz1612 berkata:

    ceritanya mudah di pahami dan di mengerti

  89. Nana berkata:

    Ceritanya bagus dan mudah dipahami.

  90. aldo2020thh berkata:

    iyaaa ceritanya mudah dipahami

  91. aldo berkata:

    untuk alurnyaa mudah di mengerti,dan juga menggunakan kata’ yg menarik,hingga membuat saya suka dengan ceritanya

  92. Vilga ligausil berkata:

    Ceritanya cukup mudah di mengerti, alurnya juga gak bosenin sangat menarik.

  93. Aira berkata:

    Untuk tulisan nya sangat menarik dan mudah di pahami kata demi kata aliran nya bagus san dapat menambah ilmu si pembaca

  94. zahrazikhaathiyah667 berkata:

    menurut saya ceritanya lumayan menarik dan ada pengetahuannya juga, namun saya juga masih bingung sama alurnya. tapi kalau soal bahasa jangan di tanyakan, antara bisa dan tidak bisa di mengerti. namun kita jadi tau bahasa2 yang gak kita ngerti selama ini, dan kita jdi cari tau arti bahasa itu tadi.

  95. Key berkata:

    Cerita yang dituliskan sangat mudah dipahami, kata – kata dapat diceerna dengan baik, dan banyak informasi ataupun pengetahuan yang kita dapat

  96. tarra kalingga berkata:

    alurnya ceritanya mudah dimengerti, bahasanya juga mudah dimengerti dan ceritanya memiliki makna yang mendalam

  97. puripurnamasari43 berkata:

    Ini cerita yang sangat menakjubkan dari semua alur serta pembacaan nya sungguh mudah dipahami dan sangat menarik untuk terus di baca ????‼️

  98. Puri Purnamasari berkata:

    Kali ini saya sangat terkesan dengan salah satu cerita yang saya baca cerita ini memuat banyak hal berupa ketertarikan dan mudah untuk dibaca keseluruhan yang saya baca dari cerita ini sangatlah menarik dari sini kita bisa memuat banyak hal berupa pembelajaran dan hal lain nya Ini direkomendasikan banget sih!????????????

  99. rahman berkata:

    untuk cerita yang di paparkan alurnya sangat mudah di mengerti dan dari kata-kata yang di pakai sagang menarik untuk dibaca. ada banyak arti yang di dapat dari cerita tersebut.

  100. hani berkata:

    baca ini seperti kisah nyata

  101. David_San berkata:

    Untuk cerita di atas cukup menarik untuk di baca dan memiliki makna tersendiri alur ceritanya jelas dan mudah di mengerti.

  102. Muhammad rifky berkata:

    Untuk cerita nya mudah di pahami dan kata2 nya sangat amat menarik, berasa kisah nyata

  103. alpi berkata:

    cerita dan narasi yang bagus, kalimat dan kata kata mudah dimengerti, mengulas sejarah kembali

  104. alpi berkata:

    kata kata sering didengar, narasi dan alur yang bagus, menambah pengetahuan dan pengalaman memberi kesan tersendiri, mengulas sejarah kembali, menambah pengetahuan

  105. alpi berkata:

    bahasa yang digunakan sangat bagus, sehingga untuk pemahaman dapat mudah dimengerti, dapat membuat pembaca membuat angan angan atau ilustrasi sendiri, yang dapat dirasakan, menambah pengetahuan,

  106. Mohamad Randy berkata:

    Cerita Sangat Menarik Dan Bagus Untuk Dibaca, Cerita Juga Mudah Di Baca Dan Di Mengerti, Banyak Arti Dan Juga Makna Yang Bisa Kita Ambil

  107. Jony berkata:

    Ceritanya sangat bagus dan menarik juga mudah di pahami, kata-kata yang di pakai sangat mudah di mengerti dan banyak arti yang di dapat dari cerita tersebut, mantap.

  108. Nazwa berkata:

    Menurut saya sendiri, Ulasan yg akan saya berikan terhadap cerita tersebut ialah cerita ini memiliki alur yang sangat menarik dan memiliki daya tarik tersendiri pada pembaca nya karna alur pembawaan yg seru dan pembawaan kata kata yg tidak boring dan juga banyak makna yang terkandung pada cerita ini

  109. Ilham Shadewa berkata:

    Ceritanya sangat menarik dan mudah untuk dimengerti,kata-kata nya sangat bagus, cerita ini sangat bagus dan bisa menambah pengetahuan kita.

  110. Ayu Jusita berkata:

    alurnya mudah dimengerti dan hanya menggunakan 1 alur saja terus ceritanya juga menarik

  111. Muhammad Aqzan berkata:

    Cerita ini sangat bagus karena, di dalamnya terdapat banyak info dan pengetahuan baru tentang suati kejadian di daerah itu dan mengajak kita juga mendalami apa yang ada dalam cerita ini serta seolah-olah kita mengilustrasikan di kepala kejadian tersebut.

  112. rayyannurjihan berkata:

    Ulasan tersebut memberikan pemahaman yang padat dan mendalam tentang cerpen “Lapak di Atas Tulang Kekasih” karya Armin Bell. Dengan singkat namun komprehensif, ulasan ini menggambarkan bagaimana karya tersebut membuka sorotan baru pada peristiwa ’65 di Ruteng-Flores, NTT, yang jarang menjadi fokus dalam sastra Indonesia. Analisis tentang penggunaan metafora sebagai alat untuk memperluas pandangan terhadap peristiwa sejarah yang sensitif memberikan wawasan yang menarik. Selain itu, pembahasan tentang trauma kolektif dan konteks sosial NTT memperkaya pemahaman kita terhadap karya tersebut. Dengan menyajikan strategi kreatif dalam menangani tema yang sensitif, ulasan ini tidak hanya memberikan gambaran tentang cerpen itu sendiri, tetapi juga merangsang pemikiran tentang peran sastra dalam memahami dan merespons sejarah yang kompleks.

  113. Nina berkata:

    Ceritanya mudah dipahami, menarik pembaca dan sangat bagus

  114. Suryana berkata:

    Untuk cerita yang di paparkan, membuat saya teringat kemasa 3tahun yang lalu.

  115. Nova berkata:

    Cerita yang mudah dipahami dan alur yang menarik dan banyak hal hal positif yang terkandung

  116. Yeni berkata:

    untuk cerita diatas menggambarkan seorang perempuan yang bernama Lena harus menghadapi kepahitan dunia yang harus kehilangan orang-orang tercinta nya, kemudian dipertemukan kembali dengan tukang jual sapu. Cerita diatas menggambarkan juga bagaiamana Lena berusaha menjalani kehidupan di daerah NTT. Perpaduan cerita antara religius dan kepecayaan amsyarakat setempat digambarakan begitu nyata. Cerita nya sangat menarik membuat pembaca mengetahui kejadian yang terjadi di daerah tersebut.

  117. Kiki berkata:

    Kata2 dan alurnya mudah dimengerti, makna dari alur cerita juga bagus banget

  118. Diwa Lulu berkata:

    Karya yang memiliki alur yang sangat mendalam dalam setiap momen yang terjadi. Disisi lain cerita ini mengulang terjadi dalam kasus yang nyata di dunia ini

  119. untuk cerita yang di paparkan alurnya cukup mudah di mengerti dan dari kata’ yang di pakai sangat menarik. ada banyak arti yang di dapat dari cerita terse

  120. Nurul Patudin berkata:

    Alurnya mudah dipahami dan penulisan yang sangat baik juga membuat si pembaca tidak akan merasa bosan untuk mengartikan tiap kata dalam cerita tersebut.

  121. Orlando Silas Davincci Kambu berkata:

    penggunan bahasa yang sangat tepat yang membuat pembaca seolah-olah mersakan apa yang terjadi pada dunia nyata pada saat membaca cerita tersebut

  122. Itsmecin berkata:

    Buku ini bagus dan ceritanya sangat menarik serta membunyai arti yang sangat dalam mungkin orang orang di luar sana belum banyang mengerti tentang buku ini,buku ini merupakan karya yang memukau tentang penggunaan metafora baru dalam mengenalkanperistiwa bersejarah pada tahun 1965.Dengan penulis yang menambahkan analisa di dalam buku tersebut tentang bagaimana penggunaan metafora,ini tidak hanya memengaruhicara kita memahami peristiwa tersebut, tapi juga memperdalam pemahaman tentang politik dan narasi sejarah. Melalui pendekatan yang kritis dan terstruktur, buku ini memberikan kontribusi berharga dalam memahami dinamika budaya, kekuasaan, dan memori kolektif. Sebuah karya yang sangat disarankan bagi siapa pun yang tertarik dalam studi sejarah dan representasi visual.

  123. zidan berkata:

    bagus,mudah di fahami,ada banyak arti di dalam cerita terebut.

  124. Shofia berkata:

    Bagus mudah di pahami

  125. Shofia berkata:

    Sangat bagus

  126. Dalam cerita “Lapak di Atas Tulang Kekasih” yang digarap oleh Armin Bell, tema peristiwa 1965 di Ruteng-Flores diangkat dengan cara yang menarik dan menggugah. Bell menempatkan fokus pada kehidupan sehari-hari seorang perempuan bernama Lena yang berdagang di Pasar Puni, tempat dimana ayah, saudara laki-laki, dan kekasihnya dieksekusi pada peristiwa 1965 karena keterlibatan dengan organisasi PKI.

    Metafora yang digunakan dalam cerita ini menciptakan koneksi antara dunia referensial, yaitu peristiwa sejarah yang terjadi, dengan dunia tekstual, yaitu cerita yang diproduksi. Misalnya, Pasar Puni dijadikan sebagai metafora ruang negosiasi yang khas dan anonim, mirip dengan bagaimana diskursus ’65 di Manggarai dilakukan secara relatif tertutup.

    Dengan cara ini, Bell mencoba menghadirkan sudut pandang baru terhadap peristiwa ’65 di NTT yang belum banyak terungkap dalam sastra Indonesia. Meski begitu, ia juga menyoroti kompleksitas dalam bekerja dengan metafora dalam proses kreatif, terutama terkait dengan bagaimana menguji narasi utama Orde Baru tentang peristiwa ’65. Ini menunjukkan bahwa cerita ini tidak hanya menghadirkan cerita naratif, tetapi juga mengajak pembaca untuk memikirkan dan merenungkan makna yang lebih dalam dari peristiwa sejarah tersebut.

  127. Rasyid Nur Syaban Prayogi berkata:

    Ceritanya mudah dipahami dan alurnya sangat menarik

  128. afriana berkata:

    bahasa dan keseluruhan kata mudah dipahami, ceritanya menarik alurnya juga rapi dan ceritanya sangat bermakna dengan kesan yang baik bagi pembaca.

  129. queeny briggita watuna berkata:

    alurnya mudah dipahami ceritanya sangat menarik perhatian dengan makna yang sangat mendalam, mempunyai banyak makna dalam cerita tsb

  130. Johan berkata:

    Alurnya mudah dipahamii

  131. Johan berkata:

    Ceritanya sangat menarik dan alurnya mudah dipahami dan mudah dimengerti

  132. fikri berkata:

    bagus ceritanya, alur nya mudah di mengerti dan dari kata kata yang di gunakan juga menarik minat baca

  133. gina berkata:

    sangat bagus ceritanya dan banyak sekali kosakata yang sangat menarik dan banyak makna dari setiap kata”nya

  134. Zahran berkata:

    Ceeitanya sangat bagus Dan memuaskan, ceeitanya menarik Dan baik

  135. stevejohnsen berkata:

    kata dan bahasanya sangat bagus

  136. Yolanda berkata:

    Dalam cerita dan ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa kisah tahun 65 banyak menyimpan kisah divalik kisah yang sangat menyayat hati kita para pembaca yang tahu alkisah dibalik kisah yang sebenarnya, hal ini memberikan kesan tersendiri bagi pembacanya

  137. dea berkata:

    untuk cerita yang di paparkan alurnya cukup bagus dan mudah di mengerti. banyak kata’ yang menarik di dalam cerita tersebut dan banyak mengandung arti atau makna dari cerita tersebut.

  138. Putri berkata:

    Sangat bagus dan mudah di pahami oleh para pembaca dan terstruktur

  139. Dian berkata:

    menarik

  140. Annisa berkata:

    sangat bagus sekali karena setiap kata ada makna yang berbeda beda

  141. m4inah1997 berkata:

    Ini sangat menarik dan mempunyai makna yang indah aku suka ini

  142. Antie berkata:

    Buku ini menceritakan tentang sejarah peristiwa dunia.sebuah sejarah berharga
    Yg dapat di sarankan untuk siapa saja

  143. butterfly berkata:

    Metafora baru dalam penggambaran peristiwa 1965 dapat memberikan sudut pandang yang segar dan mendalam terhadap peristiwa tersebut. Misalnya, menggambarkan peristiwa tersebut sebagai “badai politik yang mengguncang bumi” dapat menyoroti intensitas dan dampak dramatis dari peristiwa tersebut. Metafora ini membantu mengilustrasikan kekuatan dan kekacauan yang terjadi pada saat itu, serta implikasi jangka panjangnya. Dengan menggunakan metafora baru, kita dapat melihat peristiwa sejarah dari perspektif yang lebih kaya dan nuansa.

  144. aay berkata:

    bahasa dan kata katanya sangat mudah di pahami oleh pembaca

  145. bahasa sangat di pahami,dan mudah di mengerti

    1. Alanoaxe berkata:

      kata dan bahasanya sangat mudah dimengerti mudah dipahami mudah dimaksud dan jelas

  146. salut dengan jam terbangnya yang sudah jauh,bisa menjadi inspirasi buat anak muda

  147. Anita Tri Apriliani berkata:

    secara keseluruhan bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh pembaca, ceritanya bagus alurnya lumayan seru

  148. Sekar Swadani berkata:

    Bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami dan nyaman dibaca.

  149. Anam berkata:

    Pengolahan kata yang mudah di pahami dan bahasa bagis

  150. mukhlis berkata:

    bahsanya mudah dimengerti ceritanya menarik

  151. Wira Sandi berkata:

    Cerita nya sangat menarik

  152. Muna berkata:

    Bahasanya dan kata katanya bagus untuk dibaca dan bisa menarik perhatian banyak orang untuk membaca ini

  153. Muna berkata:

    Bahasa

  154. hilmi berkata:

    Pembahasan nya menarik tidak membosankan

  155. melva berkata:

    secara keseluruhan bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh pembaca

    1. Wira Sandi berkata:

      Benar sekali

    2. ranaa berkata:

      bahasa yang di gunakan dalam artikel ini sangat di pahami, ditulis dengan kata kata yang baik, sehingga para pembaca bisa memahami apa yang ditulis dalam artikel tersebut

  156. S.Budiman berkata:

    Bahasa yang digunakan sering saya temukan pada beberapa buku karya penulis yang jam terbangnya tidak diragukan lagi. Saya suka walaupun ada beberapa kata yang kurang saya pahami. Semoga kemampuan menulis saya bisa meningkat seperti itu. Salam hormat dari Papua Barat ????

  157. kkayditha berkata:

    bahasa dan kata kata nya puitis banget, indah dan menyenangkan untuk dibaca

  158. senja berkata:

    ceritanya bagus alurnya juga lumayan seru namun,alangakah baiknya jika tulisanya di lebih di perhatikan lagi karena ada beberapa kata yg sulit di pahami

  159. Aprilia Dwi berkata:

    Penulisan rapi dan kata-kata yang digunakan mudah dipahami oleh para pembaca.

  160. Fakih Rhmt berkata:

    Kata kata ilmiah alangkah baiknya di jelaskan artinya agar pembaca lebih memahami apa yang ingin di sampaikan oleh penulis.

  161. Nurul Annisa Tanjung berkata:

    Saya berpendapat alangkah baiknya, tulisan atau isinya bisa lebih di mengerti lagi dari inti permasalahnnya

  162. Maria Fransisca berkata:

    Cerita, bahasa, dan kata-kata yang disampaikan dan digunakan dapat dipahami

  163. Lola berkata:

    Pemilihan bahasa dan cara penulisan sangatlah mudah dipahami. Pembaca pun tidak akan merasa cepat bosan

    1. Sekar berkata:

      Sangat bagus. Cerita, bahasa, dan kata katanya sangat mudah dipahami????

  164. Bagus ceritanya, sayangnya yang titik² itu tidak ada tulisannya

    1. Julia berkata:

      Buku ini merupakan karya yang memukau tentang penggunaan metafora baru dalam merepresentasikan peristiwa bersejarah tahun 1965. Dengan cermatnya, penulis menyajikan analisis yang mendalam tentang bagaimana penggunaan metafora ini tidak hanya memengaruhi cara kita memahami peristiwa tersebut, tetapi juga memperdalam pemahaman tentang politik dan narasi sejarah. Melalui pendekatan yang kritis dan terstruktur, buku ini memberikan kontribusi berharga dalam memahami dinamika budaya, kekuasaan, dan memori kolektif. Sebuah karya yang sangat disarankan bagi siapa pun yang tertarik dalam studi sejarah dan representasi visual.

      1. farida berkata:

        secara keseluruhan karya ini sangat bagus dan rapih dari mulai pembuka hingga penutup

  165. rossy ahsani berkata:

    bahasa dan kata-kata yang digunakan mudah dipahami oleh pembaca.

    1. Fikar berkata:

      Mempunyai makna dan kisah nyata yang membuat orang lain menangis

      1. Sensen berkata:

        Bahasa serta kata2 yang digunakan mudah dimengerti serta langsung cepat dipahami ketika membaca. Bagus bangett pokonya.

        1. Putri berkata:

          Bahasa cerita nya mudah di mengerti saya suka kisah tersebut, berasa di kisah nyata. Dan ada banyak makna makna di dalam cerita tersebut

    2. widya berkata:

      ceritanya sangat menarik serta mempunyai makna yang sangat mendalam dari sisi ceritanya sendiri, penulisannya yang baik sehingga memberi kesan yang menarik bagi pembacanya

    3. dea berkata:

      untuk cerita yang di paparkan alurnya cukup mudah di mengerti dan dari kata’ yang di pakai sangat menarik. ada banyak arti yang di dapat dari cerita tersebut.

      1. raja berkata:

        Secara keseluruhan, tulisan ini adalah ulasan yang sangat mendalam, cerdas, dan terstruktur dengan baik. Penulis menunjukkan kemampuan analisis sastra yang tajam, menghubungkan teks dengan konteks sejarah dan teori, serta mampu mengkomunikasikan idenya dengan jelas. Penggunaan analogi dari Afrizal Malna dan Inception sangat efektif dalam memperkuat argumen. Ulasan ini tidak hanya mengkritisi, tetapi juga mengapresiasi potensi cerpen sambil memberikan saran konstruktif untuk pengembangan artistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *