Menu
Menu

Dari 27 puisi Saddam HP dalam Komuni, terdapat setidaknya 20 puisi yang memuat imaji biblikal.


Oleh: Giovanni A.L Arum |

Bergiat di Komunitas Sastra Filokalia Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang dan Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Salah satu emerging writer MIWF 2019. Kini sedang mempersiapkan buku puisi perdananya.


Identitas Buku

Judul: Komuni
Penulis: Saddam HP
Penerbit: Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora
Cetakan: I, Mei 2019
Tebal: 52 halaman; 11×17 cm
ISBN: 978-602-51631-9-7

***

Komuni

Altar yang rapuh

Merayakan memoria.

Di baris keempat depan sibori

Kunanti mukjizat ekaristi.

Perjamuan bukan cuma roti,

Tapi TubuhMu batu hidup,

Merajam sarang-sarang

Penyamun dalam tubuhku.

(Lasiana, 2018)

Demikianlah kutipan salah satu puisi dalam buku puisi Komuni karya Saddam HP. Komuni pernah mengantar Saddam HP menjadi salah satu finalis dalam program Pertukaran Penyair Indonesia Timur-Inggris 2019 (Eastern Indonesia-UK Poet Exchange Program) yang disponsori oleh British Council dan Komite Buku Nasional Indonesia.

Ulasan ini akan bergerak dalam bingkai teori intertekstualitas semiotis. Puisi-puisi dalam Komuni akan dilihat relasinya dengan teks-teks Alkitab sebagai hipogram (teks acuan) dan melihat strategi pemaknaan terhadap hipogram tersebut melalui imaji biblikal yang dihadirkan penyair dalam puisi-puisinya. Meski tak seluruh puisi mengacu pada Alkitab sebagai hipogram tekstualnya, kita dapat mengatakan bahwa puisi-puisi biblikal menjadi nada mayor dalam Komuni.

Imaji Biblikal sebagai Jembatan Intertekstual

Dalam puisi, imaji merupakan salah satu perangkat sastrawi yang penting. Keterampilan penyair untuk membentuk bangunan imaji yang disajikan dalam puisi dapat menjadi salah satu indikator tingkat kematangan seorang penyair. Imaji, yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin “imago” (gambaran), tidak dapat diartikan secara tegas sebagai khayalan belaka.

Dalam tataran psikologi pengetahuan, pencerapan terhadap realitas ditangkap oleh akal dan direspons menjadi suatu gambaran konseptual (imaji). Dengan demikian, imaji dapat dipahami sebagai respons akal terhadap realitas yang ditangkap oleh indra manusia. Imaji adalah produk rasionalitas manusia.

Imaji biblikal adalah imaji yang berkaitan dengan Alkitab. Bagi umat Kristiani, Alkitab adalah wahyu Ilahi yang tertulis. Sebagai sebuah teks tertulis, Alkitab dapat dibaca dan didekati oleh siapa saja sehingga tidak terbatas pembacaannya hanya bagi umat Kristiani.

Dalam konteks sastra misalnya, Alkitab dapat dibaca sebagai sebuah karya sastra besar yang mengamanatkan pelbagai kekayaan nilai yang terkandung di dalamnya. Kekayaan bentuk sastrawi yang hadir dalam puisi-puisi Perjanjian Lama, misalnya dalam kitab Mazmur dan Kidung Agung, atau juga penggambaran metaforis dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus dapat diteliti sebagai karya sastra yang memiliki unsur estetika semantis yang sangat kuat. Karena itu, kita tidak heran dengan puisi “Isa” karya Chairil Anwar yang dengan penuh tenaga berhasil merekonstruksi narasi penyaliban Yesus Kristus.

Tentu saja, membatasi Alkitab dari sisi pembacaan yang sangat terbatas dan ekslusif hanya akan membendung kekayaan nilai yang terkandung di dalamnya, termasuk nilai estetis.

Dalam bingkai teori semiotika intertekstual Michael Riffaterre, imaji biblikal dapat dipahami sebagai suatu jembatan intertekstual yang dibangun penyair dari khazanah Alkitab sebagai hipogram aktual (teks acuan), kemudian di(re)konstruksi dalam teks puisinya. Dengan kata lain, jika kita bergerak dari teks puisi menuju kepada teks Alkitab, kita perlu melewati imaji biblikal sebagai jembatan intertekstual yang menghubungkan kedua teks tersebut.

Ulasan ini akan menawarkan jalan alternatif memasuki rimba intertekstual dengan menelusuri imaji biblikal sebagai jembatan penyeberangan yang menghubungkan puisi-puisi Saddam HP dan narasi Alkitab.

Dari 27 puisi Saddam HP dalam Komuni, terdapat setidaknya 20 puisi yang memuat imaji biblikal. Dari ke-20 puisi itu, dapat dikapling lagi dalam kategori puisi yang menjadikan narasi biblikal sebagai fondasi utamanya, dan puisi yang menjadikan beberapa alusi dalam Kitab Suci hanya sebagai bagian yang periferal untuk menegaskan makna. Puisi-puisi yang direkonstruksi dari narasi Alkitab seperti: “Kutuk”, “Taman”, “Yudas”, “Kambing Hitam”, “Hati Sang Bapa”, “Fragmen”, “Ular Hijau”, “Tanah, Awan, dan Biji Gandum”, “Tukang Kayu”, “Pararel”, “Di Katedral”, “Komuni”, “Mazmur 23”, “Benang”, dan “Tatan Pulang Gereja”.


lima fungsi imaji biblikal dalam komuni karya saddam hp

 

Lima Fungsi Imaji Biblikal

Posisi imaji biblikal dalam puisi-puisi Saddam HP tidak memiliki fungsi tunggal dan simetris. Tiap-tiap puisi menghadirkan imaji biblikal dengan fungsi yang berbeda untuk mencapai efek estetis yang diperjuangkan oleh penyair.

Lima fungsi imaji biblikal yang dapat ditemukan: (1) imaji biblikal sebagai jembatan dialogis dengan realitas eksternal, (2) sebagai jembatan antara “yang biblikal” dan “yang lokal”, (3) sebagai jembatan alternatif dari narasi biblikal, (4) sebagai jembatan yang menghadirkan pola-pola paralelisme dalam kisah Alkitab, serta (5) sebagai jembatan bercabang yang mempertemukan pelbagai alusi dalam Alkitab.

Pertama, imaji biblikal sebagai jembatan dialogis antara Alkitab dan realitas eksternal. Dalam beberapa puisi, alusi Alkitab hadir sebagai komplemen untuk menegaskan makna puisi yang dibangun penyair untuk kepentingan estetis tertentu. Misalnya, pada puisi-puisi “The Godfather”, “Leon, 1994”, dan “Ini dari Mathilda”, beberapa alusi biblikal hadir sebagai cuplikan yang melengkapi narasi puisi Saddam HP yang sedang merespons film sebagai hipogram puisinya. Puisi “The Godfather” mengacu pada film klasik Amerika pada tahun 1972 berjudul “The Godfather” yang disutradarai oleh Francis Ford Coppola, sedangkan puisi “Leon, 1994” dan “Ini dari Mathilda” mengacu pada film berjudul “Leon: The Professional” (1994) yang disutradarai oleh Luc Besson.

Alusi biblikal sebagai komplemen juga tampil dalam puisi-puisi “Balada Frater” dan “Daun Sirih”. Dalam puisi “Balada Frater” ditampilkan imaji biblikal pada baris pertama dan kedua, yakni: Minggu, menunggu tuhan agar mengubah batu menjadi roti itu keramat/ Memintanya mengubah air menjadi anggur di ketujuh tempayan itu rahmat// (hlm. 38). Imaji dalam puisi ini berelasi dengan narasi Alkitab tentang pencobaan di padang gurun (Mat. 4:1-11).

Ungkapan “mengubah batu menjadi roti” mengacu pada pencobaan pertama iblis kepada Yesus: “Jikalau Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” (Mat. 4: 3).

Ungkapan “mengubah air menjadi anggur” mengingatkan kita pada kisah perkawinan di Kana, di mana Yesus mengadakan mujizat pertama dengan mengubah air menjadi anggur. (Yoh. 2: 1-11).

Tentu saja, kedua imaji ini ingin dimaknai secara baru dalam konteks Ekaristi sebagai perjamuan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Namun, imaji ini hanya mendukung salah satu bagian dari keseluruhan narasi puisi yang ingin dibangun Saddam HP, yakni kisah harian para frater di biara.

Selanjutnya, pada bait kedua puisi “Daun Sirih”, Saddam HP menulis: Tidak. Tidak. Aku tidak hanya membawa damai datang, tapi juga membimbing pedang pulang/ (hlm. 40). Imaji biblikal ini menjadi jejak alusi biblikal yang sepadan dengan perkataan Yesus: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang.” (Mat. 10:34). Alusi ini dihadirkan untuk memberi suspensi terhadap narasi puisi yang dibangun Saddam dengan memanfaatkan imaji tentang sirih, pinang dan kapur sebagai penanda simbolik hubungan antar tokoh dalam puisi.

Kedua, imaji biblikal sebagai jembatan perjumpaan “yang biblikal” dan “yang lokal”. Pada beberapa puisi tertentu, imaji biblikal hadir untuk mempertemukan “yang biblikal’ dan “yang lokal” semisal puisi “Kutuk” yang dapat dipadankan dengan kisah “Yesus mengutuk pohon ara” (Mat. 21: 18-22; Mrk. 11:12-14, 20-26).

Dalam “Kutuk”, Saddam HP memadankan pohon ara dengan pohon lontar sebagai siasat lokalitas: “Lontar yang tinggi hati, jadilah tuak!”. Tentu saja narasi puisi yang dibangun tidak simetris dengan narasi pengutukan pohon ara. Dalam puisi ini, dikisahkan bahwa Tuhan sedang “mengancam” pohon lontar yang tingi hati untuk menghasilkan nira yang akan ditampung pada haik (wadah dari daun lontar muda yang ditekuk untuk menampung nira yang disadap).

Suasana alternatif pemaknaan terhadap narasi Alkitab ditempuh dengan cara melenturkan peristiwa kutuk menjadi ancaman atau peringatan. “Bila haik tak penuh, esok kau kering.”/ Debu kaki dikebaskan, tempias.// (hlm. 12). Imaji ini tentu tidak sama persis dengan narasi Alkitab, di mana pohon ara benar-benar dikutuk dan menjadi kering. “Kata-Nya kepada pohon itu: “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu” (Mat. 21: 19b).

Ketiga, imaji biblikal sebagai jembatan alternatif terhadap kisah Alkitab. Pada puisi “Taman”, Saddam HP membangun narasi alternatif terhadap kisah terkenal Adam dan Hawa di Taman Eden (Bdk. Kej. 2: 8-25) dan kisah kejatuhan manusia serta drama pengusiran (Bdk. Kej. 3:1-24) dengan perspektif Taman sebagai aku-lirik. Akulah eden, taman kutukan/ menampung kodrat dan pohon yang terluka/.  (hlm. 13). Dalam puisi ini, penyair menggeser posisi Adam dan Hawa dari “objek yang terusir” dari Taman menjadi “subjek yang melarikan diri” dari Taman: bukan aku yang berkenan mengusir, pun kerub dengan pedang cahaya, tapi sebelum mayapada dikutuk sabda, kalian memilih meninggalkanku// (hlm. 13)

Pada puisi “Tukang Kayu” keterampilan menafsir kisah Alkitab hadir dalam kejelian memanfaatkan predikat Yesus sebagai tukang kayu untuk menciptakan hubungan pemaknaan dengan peristiwa kayu salib. Ungkapan “tukang kayu” (Yun. tektōn) merujuk pada pekerjaan harian Yesus di Nazaret berdasarkan pekerjaan ayah-Nya, Yosef. (Mrk. 6:3). Tegangan semantis berhasil diciptakan dengan memanfaatkan imaji tentang kayu dalam kaitannya dengan predikat profesi Yesus dan juga dalam kaitannya dengan kayu salib sebagai simbol peristiwa sengsara dan wafat Yesus Kristus. Saddam HP menulis: Kau menaksir umur pada lingkar kambium/ Sebelum memahat luka pada mata kayu/ Tapi demi bibir puisi yang alpa kau cium/ Waktu telanjur mengeras menjadi paku// (hlm. 29).

Keempat, imaji biblikal sebagai jembatan yang menghadirkan pola-pola paralelisme dalam kisah Alkitab. Puisi “Di Katedral” sangat kuat menyalin suasana kisah perumpamaan tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai (Luk. 18:9-14). Imaji biblikal yang dihadirkan membentuk pola paralelisme sintesis Saddam HP menulis: Dengan nada penuh oktaf paling tinggi mereka memuji/ kurban tubuh penuh maaf di kapela seperti suara litani/ sedang aku dengan kata paling puisi terus meramu/ sajak di pojok yang tak pernah layak di hadiratMu.// (hlm. 31). Kita dapat bandingkan dengan kutipan ayat dari Luk. 18: 13: “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Pada puisi ini, imaji biblikal berfungsi membangun puisi yang simetris dengan narasi Alkitab.

Dalam puisi “Komuni”, Saddam HP merekonstruksi beberapa alusi biblikal yang berkaitan dan memiliki tegangan semantis dengan memanfaatkan paralelisme antitesis yang cukup matang. Keterampilan penyair dalam menafsirkan kata-kata yang berhubungan dalam pemaknaan tentang Ekaristi, seperti: “roti dan Tubuh” diberi tegangan semantis dengan kehadiran “batu” yang justru berada dalam hubungan negatif dengan roti.

Paralelisme sintesis tentang roti dan Tubuh Kristus kita temukan kesaksian biblikalnya dalam ipsisimma verbi (kata-kata langsung) dari Yesus, yakni: “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu…” (Luk. 22:19). Sedangkan paralelisme antitesis antara roti dan batu, hadir dalam kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun (Bdk. Mat. 4: 3-4).

Selain itu, kehadiran batu sebagai alat rajam untuk menghilangkan nyawa seseorang yang hadir dalam kisah Perempuan yang Berzinah (Bdk. Yoh. 8:1-11) yang telah menjadi kebiasaan dalam hukum orang Yahudi (Bdk. Im. 20:10; Ul. 22:22-24) ditafsirkan secara baru. Saddam HP berhasil menciptakan tegangan semantis yang kuat dengan penafsiran baru terhadap anasir “batu, roti dan tubuh”. Ia menulis: Perjamuan bukan cuma roti,/ Tapi TubuhMu batu hidup.// Merajam sarang-sarang/ Penyamun dalam tubuhku.// (hlm. 36).

Kelima, imaji biblikal sebagai jembatan bercabang yang mempertemukan pelbagai alusi dalam Alkitab. Dalam puisi “Yudas”, imaji biblikal hadir sebagai jembatan bercabang yang mempertemukan pelbagai alusi dalam Alkitab. Melalui strategi ini, Saddam HP membangun gambaran mengenai Yudas sebagai tokoh antagonis dalam Alkitab dengan membangun imaji biblikal yang diolah dari 10 perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Dengan demikian, piranti imaji biblikal menegaskan fungsinya sebagai jembatan bercabang yang mempertemukan pelbagai alusi biblikal untuk membangun suasana psikis tokoh puisi yang kuat.

Kaitan imaji biblikal dan narasi acuannya dalam Alkitab dapat dilihat, misalnya: Ia biji sesawi, jatuh di batu-batu/ rindu mengecup mulut matahari./ paralel dengan perumpamaan tentang seorang penabur (Mat. 13: 1-23), khususnya tentang benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu (ay. 5-6); Ia pukat, terbang dengan jerat perangkap/ ke pelukan laut meski tak bisa menjaring/ lengan sendiri…/ paralel dengan perumpamaan tentang pukat (Mat. 13:47-52); Ia benih gerimis jatuh di tanah subur,/ tertulis di antara epitaf batu karang dan/ saraf burung-burung/ dapat diparalelkan dengan perumpamaan tentang benih yang jatuh di tanah subur (Mat. 13: 8), namun terjadi siasat pembalikan makna dengan mengganti benih dengan gerimis yang kemudian berpengaruh pada konsekuensi yang bertolak belakang dengan nasib benih yang jatuh di tanah yang subur.

Kualitas daya estetis Saddam HP dalam puisi “Yudas” tidak hanya terletak pada bangunan puisi dengan 10 imaji biblikal, melainkan juga karena puisi tersebut memberikan suatu tingkat pembacaan yang lebih reflektif. Sisi lain dari tokoh Yudas yang antagonis dengan kesaksian biblikal yang tergolong minim dalam Alkitab diisi oleh penafsiran reflektif yang kuat. Kita bisa merasakan suasana psikis Yudas dibangun dengan siasat 10 perumpamaan tetang Kerajaan Allah menjadi seorang pribadi yang tidak mutlak berdosa, melainkan keliru dalam usaha yang dibangun dalam cerita hidupnya.

Catatan untuk “Yang Minor”

Jika tema biblikal menjadi tema mayor dalam “Komuni”, maka tema-tema minor lainnya merangkum tema tentang cinta, lokalitas, keseharian, maupun relasi keluarga. Dua puisi yang kuat mengangkat tema cinta seperti puisi “Siklus” dan “Memorabilia”. Selain itu, ada juga yang mengangkat pengalaman harian penyair, seperti: puisi “Tukang Kliping”, “Titip Salam”, dan “Balada Frater.” Ada juga puisi yang sangat kuat mengangkat nilai kekeluargaan, seperti puisi “Ayah Bulan.”

Jika kita membaca keseluruhan puisi dalam “Komuni”, maka kekuatan menafsir secara alternatif dan menciptakan tegangan semantis dalam puisi seakan meredup dalam puisi-puisi cinta. Seolah penyair taat pada sentimentalitas psikis yang dirasakannya. Daya kritis yang dikelola dengan baik pada puisi-puisi biblikal tidak nampak dalam puisi-puisi “Siklus” dan “Memorabilia”.

Meskipun Saddam HP memanfaatkan siasat bentuk fisik puisi yang rapi, tetapi kita hanya mendapat suasana romantis yang dibangun tanpa siasat menafsir yang merangsang daya pikir pembaca. Mungkin saja, hal ini dipengaruhi dengan konteks titimangsa kedua “jenis” puisi tersebut. Kita dapat memakluminya sebagai sebuah ziarah kreatif penulis – mengingat “Komuni” merupakan buku puisi pertama Saddam HP.

Terlepas dari catatan minor yang periferal ini, Komuni menyuguhkan pembacaan alternatif dengan strategi tegangan semantis yang bertenaga terhadap narasi Alkitab. Kita tidak hanya menemukan kekayaan spiritual, melainkan juga kekayaan intelektual yang dijahit rapi oleh Saddam HP dalam perangkat imaji-imaji biblikal. Imaji biblikal yang hadir dalam puisi-puisinya memiliki kekayaan fungsi sebagai jembatan intertekstual terhadap narasi Alkitab. Selain itu, pemilihan desain sampul yang artistik dengan mengangkat lukisan “Agnus Dei” karya Fransisco de Zubarán menjadikan buku ini tampil dengan perwajahan yang menarik.(*)


Infografis: Daeng Irman

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *