Pemandi Jenazah
17 Juni 2026| | 0 CommentsRinaya juga tidak lolos dari bahan omongan: kenapa pemandi jenazahnya muda sekali, di mana belajar tata cara memandikan jenazah […]
Oleh: Chaery Ma |
Lahir di Bone, Sulawesi Selatan. Penulis merupakan Emerging Writers pada Makassar International Writer Festival tahun 2020. Sudah menulis sejak kecil dan tulisan-tulisannya sudah tersiar di beberapa media nasional. IG : @chaery_ma
Selasa siang pukul 11.30, Rinaya dan dua orang asistennya memandikan jenazah perempuan yang akan dimakamkan setelah zuhur. Sabun beraroma lavender mulai menyeruak masuk ke sel olfaktori. Gelembung busanya memenuhi area rambut jenazah yang masih menyisakan jejak darah kering, kemudian berpindah ke wajah, daun telinga, lubang hidung. Rinaya menggosoknya pelan sementara asistennya bergantian membilas dengan air dingin, dari kepala ke kaki, begitu berulang-ulang. Proses memandikan ini terbilang cepat, dan hati-hati—tidak ada pembersihan sampai ke area intim atau daerah lipatan sebagaimana biasanya. Jenazahnya korban kecelakaan dengan sebelah kiri badan sudah hancur.
Suara-suara pelayat sampai ke telinga Rinaya bersamaan dengan guyuran air pada tiga bilasan terakhir. Siapa yang pertama kali mencetuskan kalau majelis gosip di teras rumah juga ikut pindah kalau ada acara kedukaan. Suara-suara mereka terkadang lebih besar dari suara orang mengaji, membicarakan kenapa perempuan muda ini meninggal seperti sapi potong, kenapa raungan ibu dari yang meninggal ini seperti terompet sangkakala, atau sesenggukan pacar si perempuan ini kenapa seperti drama sinetron. Rinaya juga tidak lolos dari bahan omongan: kenapa pemandi jenazahnya muda sekali, di mana belajar tata cara memandikan jenazah, bagaimana kalau memandikannya asal-asalan.
Rinaya mengemas perlengkapan mandinya begitu jenazah sudah diangkat untuk dikafani. Masih ada jenazah berikutnya di tempat lain, dan dia yang memang tidak pernah tinggal berlama-lama, selain meladeni sebentar bisikan keluarga yang punya rumah: biaya jasa akan ditransfer besoknya, atau mungkin besoknya lagi. Rinaya melewati sekelompok pelayat perempuan yang paling antusias menjadikannya bahan obrolan dari tadi, merasakan tatapan mata tertuju hanya padanya. Sudah menjadi hal biasa bagi Rinaya mendapat tatapan seperti itu, sejak menjadi pemandi jenazah tiga tahun yang lalu. Tatapan orang-orang itu sering ditafsirkannya sendiri. Dibawanya sampai ke kamar kontrakan, sampai ke warung kopi, sampai ke pasar pagi. Selalunya berhenti pada satu pernyataan: masih banyak pekerjaan yang sebenarnya lebih baik dari ini. Sama, sama seperti racauan ibunya setiap kali menelepon.
“Mau sampai kapan? Kamu masih muda, masih 27 tahun, masih banyak yang lebih baik kamu kerjakan selain itu.”
Rinaya membiarkan ibunya bicara sendiri sampai panggilan suara itu berakhir sepihak. Dia malas berdebat. Percuma. Kemudian panggilan suara ibunya akan kembali berulang, sampai tiga kali, lima kali, dan dia membiarkan itu menjadi musik pengantar tidur. Sebagaimana Rinaya yang tidak pernah memahami perasaan ibunya, maka seperti itu pula ibunya tidak pernah mengerti perasaan Rinaya. Keputusannya untuk keluar rumah beberapa tahun setelah lulus kuliah—saat adiknya, Masayu mulai lulus di kementerian, dan anak-anak tetangga juga beruntutan lulus di instansi lain—adalah ketidakberpihakannya pada perbuatan yang suka membanding-bandingkan. Rinaya memilih jalan hidupnya sendiri.
Menjadi pemandi jenazah. Pekerjaan apa lagi yang lebih tidak biasa dari ini? Anehnya, sejak saat itu dia merasa menjadi manusia seutuhnya.
Panggilan suara kembali terdengar, diikuti pesan masuk. Kali ini sudah bukan dari ibu. Rinaya melirik sekilas pesan yang muncul di layar. Besok subuh ada jenazah yang mau dimandikan, dimakamkan pukul 7 pagi. Rinaya meraih cepat gawai itu. Seketika tubuhnya menegang. Dia tertegun lama melihat nama jenazah yang tertera di sana.
***
Salima.
Wajah yang ditumbuhi rambut halus itu tanpa riasan apa-apa kini. Selain hanya biru. Rinaya mulai menyingkirkan tiga helai rambut yang menutupi dahi Salima, pelan. Dadanya bergemuruh. Air matanya mendesak untuk keluar. Tapi dia sedang bekerja. Tidak boleh ada air mata yang menyentuh kulit jenazah, agamanya mengajarkan itu. Rinaya segera menuangkan sabun cair ke telapak tangannya. Sengaja dipilihnya sabun aroma kopi, kesukaan Salima. Tangannya menempel di wajah Salima, menyapukan gelembung busa ke alis Salima, matanya, hidung, mulut, sampai tak bersisa. Guyuran air mulai pelan-pelan jatuh di wajah itu. Rinaya pernah melakukan ini dulu, untuk menjahili Salima, dan Salima akan megap-megap kesusahan bernapas. Rasanya ingin kejadian itu terulang lagi, kemudian Salima balik menyerang Rinaya setelah itu. Tapi Salima tidak lagi bergerak, tidak ada perlawanan.
Rinaya beralih menggosok lipatan leher Salima dengan hati-hati kemudian berpindah pada lipatan ketiak kemudian sela jemari. Digosoknya berulang kali. Jangan sampai ada satu pun noda yang tertinggal. Salima harus menghadap Tuhan dengan tubuh yang sangat bersih, dan itu tugasnya kini. Suara-suara pelayat kembali terdengar, lebih nyaring dari biasanya. Kenapa pemandi jenazahnya muda sekali, kenapa Salima meninggal bunuh diri, suara-suara itu lebih besar dari suara pendoa.
“Rinaya, cukup.” Asisten Satu membisiknya pelan, menghentikan Rinaya yang dari tadi menggosok area yang sama berulang kali. Asisten Satu seusia ibunya, datang dengan tangis berderai pada suatu hari karena ingin meminjam uang. Rinaya tidak meminjamkan, namun ajakan Rinaya membuatnya tak menampik sama sekali. Dia bertugas mengguyurkan air saat Rinaya membersihkan jenazah, adalah tawaran pekerjaan dari Rinaya untuknya. Masih dilakoni pekerjaan itu hingga kini. Mungkin dia yang paling banyak berdoa agar banyak perempuan yang meninggal setelah itu, untuk memenuhi makannya, untuk membayar utang-utangnya.
“Belum, belum bersih, sedikit lagi.” Kemudian Rinaya berpindah ke kaki Salima. Masih ada bekas luka sobekan di sana, di kaki kanan, terkena rantai sepeda. Kenangan yang tidak akan pernah hilang dari ingatan Rinaya, saat dunianya seolah berhenti seketika. Salima yang duduk di boncengannya tiba-tiba berteriak kencang, kaki kanannya tergulung masuk di rantai sepeda yang berputar. Darah segar mengucur. Salima terlalu banyak tingkah saat dibonceng, demikian dia membela Rinaya di hadapan orang tuanya. Ah … Salima! Dia yang selalu mengerti perasaan Rinaya, dia yang selalu baik pada semua orang.
“Tadi sudah di situ.” Giliran Asisten Dua berbisik saat Rinaya kembali menggosok pada lipatan ketiak. Asisten Dua tetangga kontrakan Rinaya, pernah mencoba bunuh diri karena ditinggal menikah suaminya. Kemudian Rinaya membawanya melihat jenazah yang meninggal karena bunuh diri.
“Mungkin kamu pernah dengar, betapa banyak orang mati kemudian meminta hidup kembali untuk tidak mengulang perbuatan dosa yang pernah mereka lakukan,” bisik Rinaya. Perempuan itu menangis keras kemudian tak sadarkan diri. Dia bertugas membantu Rinaya menggosok tubuh jenazah beberapa bulan kemudian. Memilih untuk tetap hidup.
Bagaimana dengan Salima? Apakah dia memilih untuk mati?
Kabar kematian Salima bergerak seperti kecepatan cahaya, bahan perbincangan di warung kopi, di pasar pagi, di terminal bus, di mana saja. Bunuh diri, demikian kata orang-orang. Dibunuh, demikian kata keluarga besarnya.
Berita di media juga menjadikan kasus Salima sebagai umpan klik: Hakim Bunuh Diri? Salima memang ditemukan meninggal di rumah dinasnya dengan lilitan kain gorden menutup kepala. Komentar warganet muncul seperti sengatan tawon di siang bolong. Kubu dibunuh membalas serangan kubu bunuh diri. Bagi Rinaya, bunuh diri dan dibunuh, tugasnya adalah membawa jenazah Salima pulang dengan tubuh sebaik-baiknya keadaan: bersih dan wangi.
Rinaya sempat menangkap wajah ibunya yang turut hadir di pemakaman Salima. Mulut itu terkunci, berbanding terbalik dengan racauannya saat memamerkan kabar kelulusan Salima sebagai hakim waktu itu, atau kabar keberhasilan Salima dalam memutus perkara rumit. Rinaya memang menolak keras segala bentuk perbuatan membanding-bandingkan, tapi kalau boleh memohon, dia ingin mendengar racauan ibunya saat ini, tentang Salima yang berprestasi, atau apa pun tentang Salima yang selalu sempurna di mata ibunya.
Keluarga Salima menuntut keadilan, ayahnya bicara patah-patah di hadapan media memohon kepada aparat untuk menelusuri kematian Salima sampai ke akar-akarnya. Kasus sengketa tanah antara masyarakat dan perusahaan tambang yang tengah ditangani anaknya meyakinkan pihak keluarga pada dugaan kuat Salima meninggal karena dibunuh. Ibu Salima jangan ditanya, sudah tidak bisa lagi dibedakan alis dengan mata selain hitam semuanya karena tangis kepedihan ditinggal anak perempuan satu-satunya.
Ah, andai yang mati bisa hidup kembali.
***
Andai yang mati bisa hidup kembali, untuk menceritakan kronologis kematian mereka, sehingga tidak ada lagi tebak-tebakan, tidak ada kubu-kubuan.
Seperti hari itu, saat Rinaya melihat makhluk hidup itu tak lagi hidup. Ia mematung setelah menyisakan gerakan kecil setelah menggelepar cukup lama. Dia hanya berharap ada sisa kehidupan yang masih tertinggal di sana entah melalui kedutan kecil atau kedipan mata. Sayangnya, yang diharapkan tak kunjung muncul. Itu pertama kalinya dia melihat proses kematian, saat usianya tujuh tahun. Kematian seekor merpati yang baru saja dilihatnya meliuk di sekitar ranting pohon akasia, mematuk biji-bijian yang berhambur di tanah, mengepakkan sayap lagi sampai terbang tinggi, merendah lagi sampai ke daratan. Berulang tingkahnya tersebut, sampai kemudian Rinaya berhasil menangkapnya. Pegangan Rinaya tidak terlalu kuat, sampai kemudian merpati itu lolos dengan mudah. Tapi bukannya terbang menjauh, merpati itu malah terjatuh di tanah, menggelepar dan mati. Rinaya membatu, beberapa saat kemudian berlari ke rumah Salima yang jaraknya hanya beberapa meter. Cukup lama. Sampai kemudian terdengar pekikan Masayu, yang mungkin telah mengetahui kalau burung peliharaannnya telah mati.
Berhari-hari Rinaya mencerna kenapa merpati itu mati setelah dipegang oleh tangannya. Dia mempunyai kebiasaan menjilati tangannya setelah itu, kalau kalau ada racun yang mungkin menempel di sana. Tapi buktinya, Rinaya masih hidup setelah itu. Rinaya mengadukan pada Salima, meringkuk di kamar Salima berhari-hari pula.
Kedua kalinya dia melihat proses kematian, saat usianya empat belas tahun. Kematian bapaknya sendiri. Bangun pagi dengan keluhan sakit dada sebelah kiri. Bapak sempat meneguk air yang diberikan oleh Rinaya. Haus, katanya berulang-ulang. Ibunya masih sibuk menelepon ambulans saat bapak jatuh tepat di hadapan Rinaya. Mata hitamnya tenggelam, sementara mulut terbuka dengan lidah menggulung ke dalam. Tubuh itu tak menggelepar, melainkan terdiam. Hening. Kemudian pecah tangis ibunya, tangis Masayu, menjadi satu teriakan. Rinaya hanya mematung, mencoba mencerna yang terjadi. Semua terjadi begitu cepat, begitu tiba-tiba. Apa yang bapak rasakan saat pergi? Kenapa sampai mengeluhkan dada sebelah kiri? Adakah makanan yang sudah dimakan sebelumnya?
Rinaya baru menangis sebulan setelah kepergian bapaknya, menangis di pelukan Salima. Kehidupannya menjadi beda setelah itu. Dia takut mati.
***
Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.
Psikolog itu selalu mengulang kalimat yang sama di sela-sela sesi terapinya, diiringi tarikan napas panjang Rinaya. Sejak Salima diterima menjadi hakim, dan pindah-pindah tempat tugas, tempat mengadu Rinaya berpindah ke psikolog. Dia juga tahu diri untuk tidak terlalu mengganggu jadwal Salima yang sibuk.
Kematian merpati dan bapaknya secara tiba-tiba menimbulkan luka masa kecil pada dirinya. Bertahun-tahun dia mengalami ketakutan akan kematian, kematian yang mendadak. Rinaya mulai sering merasakan mual dan sakit kepala, bahkan pernah berkali-kali merasakan seperti akan mati juga. Psikosomatis, demikian psikolog itu memberikannya gambaran tentang perasaan yang menghantuinya. Tiga tahun belakangan inilah baru dia merasa pulih seutuhnya, sejak menjadi pemandi jenazah. Betapa berharganya hidup, betapa pastinya mati adalah pembelajaran yang Rinaya dapatkan dari sana.
“Pemandi jenazah?” Suara Salima menggema di seberang sana saat Rinaya menceritakan kegiatan barunya. Suara yang bangga. Bukan suara yang sering diperdengarkan ibunya—juga Masayu yang mulai sering ikut-ikutan memojokkan dirinya.
“Itu pekerjaan yang sangat mulia, kamu tahu, kalau anak-anak muda tidak mengambil alih pekerjaan itu, apakah kita harus menyerahkan sepenuhnya pada nenek-nenek yang tangannya sudah bergetar dan matanya yang sudah rabun?” Salima selalu tahu cara menenangkan hati Rinaya. “Yang ada bukannya malah membersihkan jenazah, melainkan meraba-raba jenazah.” Tawa Salima terdengar, membentuk lekukan bulan sabit di bibir Rinaya. Kemudian mereka akan berbicara panjang setelah itu, dari bakso langganan sampai kerja robot yang akan menggantikan manusia. Tidak gampang menghubungi Salima sejak dia menjadi hakim, maka Rinaya membalas waktu yang sulit itu dengan durasi satu jam atau sampai gawai mereka menjadi panas.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Bu Rima—psikolog itu—membawa Rinaya kembali ke dunia. Dia ternyata melamun ke mana-mana, sedari tadi, demikian bu Rima menambahkan.
“Sahabatku meninggal beberapa minggu yang lalu.” Rinaya menghela napas berat.
“Apakah alasan itu yang membuatmu minta bertemu?” Bu Rima memperbaiki letak kacamatanya, dia terlihat bersemangat hari itu. Rambut coklatnya dibiarkan tergerai kali ini dengan semerbak aroma mint. Usianya jauh di atas Rinaya, tapi sikapnya yang terbuka membuat hubungan mereka bukan lagi sebatas psikolog dan klien, melainkan sudah seperti kakak dan adik.
“Tidak juga, sudah lama kita tidak bertemu.”
“Artinya kamu semakin membaik.”
Mata mereka bertemu. Rinaya segera merogoh sesuatu yang berat dari dalam tasnya, memperlihatkan jurnal yang sudah setebal kamus bahasa Indonesia J. S. Badudu kepada Bu Rima. Perempuan itu membuka lembarannya dengan hati-hati, sampai halaman terakhir. Butuh waktu satu jam, atau dua jam. Rinaya menulis semuanya: jenazah perempuan muda yang mengeluarkan aroma anyir, jenazah nenek tua yang beraroma rempah, jenazah perempuan nakal yang mengeluarkan aroma melati, ada pula bau got, bau kaki. Rinaya meredam semua itu seorang diri, menulis di lembaran jurnalnya, memberinya warna-warni.
Hati manusia tidak pernah ada yang tahu. Tulisan itu dia simpan di sampul depan, dengan penanda teks berwarna silver. Bu Rima telah menutup kembali jurnal itu.
“Ada yang belum kamu tulis.” Bu Rima menebak pikiran Rinaya.
“Iya, aku belum menulis tentang sahabatku.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu.”
“Apakah kamu takut menerima kenyataan kalau dia meninggal bunuh diri?” Bu Rima telah mengetahui pula berita tentang Salima.
“Aparat sudah mengumumkan kemarin, semua bukti-bukti yang ada menyatakan dia bunuh diri.”
“Terus?” Bu Rima melepas kacamatanya, dia ingin tahu maksud kedatangan Rinaya kali ini.
“Dia tidak mungkin melakukan itu, tidak mungkin, aku tahu betul orangnya, dia tidak akan berpikiran pendek seperti itu.”
Bu Rima memperlihatkan kembali tulisan yang ada di sampul jurnalnya: hati manusia tidak pernah ada yang tahu. Rinaya menggigit bibir. Air mata yang ditahannya dari kemarin tumpah juga pada akhirnya. Dia menangis dalam pelukan bu Rima. Wajah Salima kembali menari di hadapannya. Salima yang baik, Salima yang sopan, Salima yang ceria.
“Andai yang mati bisa hidup kembali untuk menceritakan kenapa dia sampai meninggal.”
“Nanti, bukan di sini, bukan di dunia … di hari esok, di pengadilan yang tidak ada lagi tabir antara benar dan salah, di pengadilan akhirat.” Bu Rima menghapus air mata Rinaya, menyerahkan kembali jurnal itu.
***
Salima dibunuh.
Rinaya melaporkan itu pada aparat. Saat memandikan jenazah Salima, dia mencium aroma wangi semerbak serupa vanila, berbeda dengan aroma jenazah bunuh diri yang pernah ditanganinya: anyir bercampur amoniak. Tawa aparat itu menggema, mengundang rekan lainnya mendekat. Laporan yang aneh, demikian samar-samar suara aparat sampai ke telinga Rinaya.
“Saya yakin Salima dibunuh.” Bibir Rinaya bergetar, gemuruh di dadanya jangan ditanya. Tapi kakinya menahan untuk tetap di tempat, dia tidak boleh menyerah.
“Pembuktian itu harus sesuai fakta.” Seorang aparat menghadapi Rinaya, lebih tenang dibanding yang lain—satu per satu menggertak, kemudian pukul meja, kemudian menghentakkan sepatu. Seolah-olah Rinaya sedang disuguhi pertunjukan betapa menakutkannya mereka, betapa lemahnya Rinaya.
“Tapi ini fakta, saya mencium sendiri.” Keberanian Rinaya terkumpul pelan-pelan. Pengalamannya mencium aroma jenazah, satu-satunya senjata yang dia andalkan kini.
“Fakta itu berbeda dengan mistis,” Si aparat tenang itu mulai menunjukkan penekanan.
“Ini bukan mistis.” Suara Rinaya terpaksa meninggi. Mau tidak mau, dia mulai menceritakan pengalamannya, satu-satu.
“Bagaimana bisa mengetahui kalau itu adalah fakta sementara hanya anda sendiri yang mencium aroma itu,” potong si aparat seolah diceritakan dongeng sebelum tidur.
Rinaya memanggil asistennya. Dua perempuan itu datang tergopoh-gopoh, saling berpandangan.
“Saudara berdua mencium aroma wangi waktu memandikan jenazah Salima?”
“Iya, memang ada, wangi sabun,” jawab Asisten Satu dengan nada tercekik seolah baru pertama kalinya bertemu aparat.
“Aroma kopi,” lanjut Asisten Dua sedikit lebih tenang.
Rinaya menggigit bibir. Dia kembali ke kontrakannya, menangis keras di sana. Apa yang sedang dia lakukan? Mempermalukan diri sendiri. Sudah tahu, orang tidak akan ada yang percaya. Sudah tahu, tidak akan pernah ada orang yang memahami pikirannya.
Rinaya menuangkan pikirannya di media sosial. Hujatan datang bertubi-tubi walaupun ada sebagian yang mendukung. Rinaya kurang waras, demikian komentar orang-orang yang sempat dibacanya, bagaimana mungkin aroma jenazah bisa menentukan seseorang dibunuh atau bunuh diri. Keluarga Salima datang memeluknya, memintanya berhenti.
“Kita tidak punya orang dalam untuk membuka kembali kasus ini, terima kasih karena telah bersuara, aku rasa sudah cukup, hiduplah dengan baik.” Ibu Salima menggenggam tangan Rinaya dengan erat.
Rinaya membuka jurnalnya, satu-satunya tempat yang tidak pernah menghujat pola pikirnya, perasaannya. Dia mulai kembali ke sana, sampai tangannya sendiri menjadi lemas untuk mengangkat pena. Salima dibunuh. Dua kata itu berlembar-lembar habis ditulisnya. Kesadaran Rinaya berkurang. Matanya gelap.
***
Dia hanya melihat wajah Bu Rima begitu matanya terbuka. Perempuan itu menatap Rinaya dengan iba.
“Begini ternyata rasanya berteriak namun tidak didengar,” samar suara Rinaya.
“Ini tidak seberapa, di luar sana, ribuan orang berteriak namun tidak didengar.”
“Setuli apa sampai tidak mendengar?”
“Bukan telinganya yang tuli, tapi hatinya.”
Rinaya tertegun. Wajah Bu Rima tiba-tiba berubah bentuk. Menjadi Asisten Satu.
“Dari tadi orang meneleponmu, ternyata ponselmu tidak aktif, dan kau tidur seharian.”
“Ada apa?” Rinaya pelan-pelan bangkit dari tempat tidurnya. Kepalanya masih sedikit oleng.
“Nanti malam ada jenazah yang akan dimandikan, bunuh diri, kamu bisa menghidu kembali seperti apa aroma jenazah yang bunuh diri itu.”
“Tidak lagi penting.”
“Ya sudah, memang tidak penting. Yang penting adalah semoga banyak perempuan yang meninggal besoknya, dengan itu aku bisa makan.”
Mata mereka bertatapan. Wajah Asisten Satu tiba-tiba menjelma menjadi wajah ibunya. Rinaya terperanjat. Kaget. Sejak kapan ibu berada di kamar kontrakannya. Tidak ada Bu Rima, tidak ada Asisten Satu. Hanya ibu. Raut wajah ibunya menyiratkan duka.
“Ibu bermimpi, kamu meninggal.”
“Bukannya ibu bahagia kalau aku meninggal?” Rinaya tidak lepas menatap ibunya.
“Mana ada ibu yang bahagia kalau anaknya meninggal.”
“Berarti ibu sayang aku?” Entah kenapa hati Rinaya tiba-tiba dikepung rasa hangat.
“Sejak kapan ibu tidak menyayangimu, teruslah hidup, besok-besok jika ibu meninggal, kamu yang harus memandikan jenazah ibu bukan orang lain.”
Rinaya baru saja ingin membalas ucapan ibunya. Tapi wajah itu berubah menjadi wajah Masayu. Rinaya mengitari semua ruangan, mencari ibu.
Hanya ada Masayu, adiknya. Raut itu selalu sendu dari dulu, selalu manja, selalu cengeng. Namun Rinaya melihat raut yang beda kini, raut kemarahan. Bibir Masayu bergetar dengan gemerutukan gigi yang terdengar sangat keras.
“Kenapa kakak lebih memilih bermain bersama Salima dibanding aku?”
“Kakak selalu menganggapku tidak ada.”
“Kakak hanya butuh Salima, Salima, Salima terus … padahal aku juga ingin menjadi tempat kakak bercerita.”
“Kakak masih terus saja membela Salima, sampai kapan?”
Cecaran itu membuat lidah Rinaya kelu. Napasnya terasa sesak. Belum sempat dia membalas, wajah Masayu berubah menjadi pecah kemudian hilang kemudian kosong. Tidak ada siapa-siapa lagi kini. Tidak ada orang. Seperti setan kesurupan, Rinaya meraih gawainya, mencari kontak Masayu. Tidak ada. Sejauh itu ternyata hubungannya dengan Masayu. Seperti orang lain. Seperti asing. Rinaya meraih jaket, berlari menuju ibu, menuju Masayu. Banyak hal yang ingin Rinaya ketahui.
Rumahnya sudah terlihat dari jauh. Rumah masa kecilnya, rumah yang harusnya selalu menjadi tempat pulang. Langkah Rinaya melesat semakin cepat, pandangannya kabur dengan air mata. Dia mencium aroma anyir bercampur amoniak, dan aroma itu berasal dari rumahnya.***
Ilustrasi: The Way Home (Francisc Sirato), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Keputusan Vero – Cerpen Ajen Angelina
– Kawan Masa Lalu – Cerpen Budi Hatees

happy reading 💕