Menu
Menu

Ke mana ikan-ikan itu saat aku memancing? Apa aku kurang sabar? Atau barangkali shalat memang ada pengaruhnya?


Oleh: Reza Nufa |

Penulis asal Bogor, saat ini menetap di Luwuk, Banggai. Ia menulis beberapa buku: Iqra’!, Hanif, Pacarku Memintaku jadi Matahari, dan Pulang ke Rinjani. Saat ini Reza aktif sebagai kepala editor di Penerbit Basabasi, kurator Festival Sastra Banggai, dan mentor tetap Akademi Sastra Banggai. Reza bisa dihubungi melalui nomer 081226499389 atau IG @rezanufa.


Lamunanku terhenti ketika hujan turun seperti rentetan jab keras di pipi. Kemudian laut bergolak. Perahu pontang-panting dihantam uppercut dari bawah laut. Bisa kubayangkan seorang petinju di bawah sana ingin menenggelamkanku. Kepalaku sakit sekali. Hujan makin lebat dan laut mengamuk. Sesekali moncong perahu hampir diterkamnya. Keringat menetas paksa dari lubang-lubang kulitku. Lalu mataku terkancing pada sepasang sandal di lambung perahu.

Sebe pernah bilang, sandal tak boleh dibawa ke perahu karena setiap nelayan yang melaut harus percaya bahwa ia akan pulang. Aku tak begitu percaya mitos, tapi dalam kondisi begini, pikiran itu menelanku dalam bentuk ombak bermulut besar.

Segera kuambil sandal itu lalu kubuang ke laut.

*

Daun-daun ketapang telah kembali menguning lalu gugur seluruhnya, menyisakan dahan-dahan telanjang, menjadi pertanda bahwa ikan-ikan di laut mulai mendekat ke tepi, makan dan menebar telur sebanyak-banyaknya. Perahu-perahu yang lama tertambat akan kembali melaut, dan Sebe tak lama lagi akan memintaku untuk serius mengurus perahu, membakar kulitku selayaknya laki-laki di tempat kami. Tak lupa, dia akan mengomel soal bertinju, hobi yang kujalani sejak setahun lalu.

Dia bilang tinju itu bodoh. Olahraga harusnya bikin sehat, bukan gegar otak. Dia tak tahu, aku suka tinju seperti dia suka ibadah. Tadinya mau kubilang begitu tapi dia pasti menghantamku. Jadilah kubilang, “Papa tahu kenapa orang Bajo te bisa jauh dari laut? Karena dorang pe hati ada di sana.”

“Dorang begitu karena dari kecil hidup di laut,” katanya. “Ngana ini yang banyak tingkah. Dari kecil so bapancing, perahu so dibuatkan … motor turus … tinju turuuus… mau apa dengan tinju? Te ada leluhurnya ngana batinju.”

Itu namanya hobi!

“Cuma bikin remuk. Kalau te diurus nga pe Mamak, so mati ngana ini!” lanjutnya.

Terdengar Mamak batuk di dapur. Sebe berhenti bicara.

Sudah kupahami amarah Sebe. Dia ingin aku jadi nelayan. Katanya, sampai kapan pun laut tidak akan berhenti kasih kita makan.

Kalau kau sering main ke dermaga Maahas dan jumpa Sebe, sekali waktu kau pasti dengar ceritanya tentang laut yang memberi semua yang ia miliki hari ini. Dia tak mau mengakui bahwa ikan-ikan sudah berenang menjauh. Ketika ia masih melaut dengan perahu layar kecilnya, puluhan tahun lalu, hanya dua ratus meter dari tepian dia bisa tangkap ikan besar. Hari ini, ia harus pakai perahu mesin dengan perjalanan satu-dua jam.

Amarahnya berlipat karena hari ini ikan layar besar lepas dari pancingnya setelah bertarung dua jam. Saat ia menepi, beragam perintah diarahkan padaku, yang tanpa dia bilang pun sebetulnya pasti kulakukan.

“Ngana simpan dulu itu dayung!” katanya dengan masam, tak lama setelah kutarik perahu. Dia masih marah karena kuhilangkan satu dayungnya minggu lalu. Sebulan sebelumnya aku juga lupa di mana menaruh senternya. Dan dua bulan lalu kuhilangkan sesuatu—aku lupa apa itu.

“Jual jo itu ikan, te usah batunggu besok,” lanjutnya, menyinggung ikan kadompe, deho pelat, malalugis, dan cakalang yang memenuhi paragon.

Aku tak iyakan karena ada rencana sparing nanti malam.

“Baru bangun ngana ini?” Dia siap mengomel lagi soal tidurku.

Tanpa membalas, kubawa ember ikan menuju dermaga yang hanya berjarak seratus meter dari para-para perahu Sebe. Angin Selatan masih bertiup, menepuk-nepuk seng dermaga yang longgar. Kutarik napas baik-baik. Kulepas amarahku bersama angin-angin itu.

*

Setelah membeli simvastatin dan sucralfate untuk Sebe, aku pergi minum di tempat Adi. Kalau tidak begitu aku pasti bingung. Sulit sekali tidur malam hari, dan kalau terlalu lama sendiri, otakku akan mengajakku bicara. Dia sering bilang aku ini bodoh, teledor, tidak bisa dipercaya—cuma bisa mabuk dan tidur! Kau tak sepintar adik perempuanmu yang lulus kuliah. Kau ini kutu, tak tahu malu!

Gelas mulai diputar. Perlahan kami meninggi.

Adi mulai meracau. Dia menang 2 juta dari judol dua hari lalu, tapi mengeluh uangnya habis untuk traktir orang. Aku masih sedikit bagus karena tidak tertular judi. Hidupku sebetulnya cukup baik kalau aku tidak mabuk. Maksudku, hidupku akan terlihat baik di mata orang lain bila aku tidak mabuk, sementara bagiku sendiri rasanya akan seperti mimpi yang hitam dan bergelombang. Aku sadar hidupku bergelantungan seperti kelelawar dalam goa, hanya keluar saat dunia sudah gelap, dan aku masih pula pulang membawa masalah baru. Kalau aku sudah mabuk sekali, Adi akan mengantarku dengan motor rongsoknya. Itu pun kalau dia tidak lebih kacau. Dua minggu lalu kami tersungkur ke dalam selokan. Sisa air hujan masih menggenang di sana.

Ceplak! Bunyi itu membangunkanku di sisi diriku yang lain. Bunyi tamparan Sebe, seperti dayung yang jatuh di kulit air. Ia hanya terjadi satu kali, tapi selalu kuingat setiap kali mengantarnya menuju perahu, sehingga dalam kepalaku itu terjadi berulang kali.

Empat tahun lalu perahuku terbalik dan aku hampir mati. Tubuhku terpuih di laut selama satu malam. Sampai di rumah, saat aku masih berusaha memuntahkan air dari perutku, Sebe justru marah-marah. “Musibah memang te ada yang tahu,” katanya, “tapi manusia harusnya waspada. Otaknya dipake! Bukan macam kambing!”

Kau mungkin tak percaya: omelan itu melahirkan memar pada diriku. Tapi memar itu tidak bisa dikompres, tidak bisa diolesi salep. Aku kadang merasakannya di dada sehingga sesak. Lain hari dia pindah ke perut lalu aku mencret-mencret. Yang terparah, memar itu pindah ke bagian kepala, lalu aku harus mabuk. Tapi anehnya, ketika bertinju, memar itu justru diredam oleh rasa sakit di tubuhku. Seiring tubuhku pulih, perasaanku pun ikut membaik. Orang tua macam Sebe mana paham kondisi semacam ini.

Jam tiga pagi, aku masih bisa berjalan, pulang dari tempat Adi sekalipun dengan badan miring. Mamak keluar dari kamar membawa baju ganti dan perlengkapan shalat Sebe. Dia juga memeriksa alat pancing dan memasukkan enam bonggol es ke ember. Kuambil dayung dari belakang rumah dan sempat melamun sebentar. Aku membayangkan bagaimana jika aku yang menang judi. Mungkin aku bisa menabung uangnya jika menang. Tidak perlu hambur-hambur uang. Dan langsung berhenti jika sudah dapat banyak. Aku bisa buka bengkel motor. Bisa juga—astaga, kepalaku berputar…

Entah berapa waktu kemudian, sesuatu menghantam punggungku dengan keras. Sebe sudah berdiri di samping, memegang dayung, dan aku sudah tertidur di tanah.

“Te ada guna ngana hidup!” Dia memukul punggungku lagi dengan lebih keras. Aku bisa terima. Tapi kemudian dia bilang, “Pigi ngana! Te usah balek ke sini! Sa so mo hapus nga pe nama dari KK!”

*

Selepas Maghrib, Mamak melongok di pintu kamarku. “So makan ngana?”

Aku tak jawab. Sudah kusiapkan barang-barang untuk melaut. Pikiranku sudah lebih dulu babak belur. Sudah kusiapkan jalur yang dibutuhkan jika memang aku harus pergi dari rumah ini. Akan kutabung uang dari hasil mencari ikan untuk pergi ke Makassar.

“Makan dulu. Tunggu Sebe pulang dari masjid.”

“Te usah. Sa bukan keluar kota. Cuma bapancing.”

“Iya, Anak. Tapi laut lebih jauh dari luar kota. Di kota ada banyak orang, di laut sendirian.” Mamak menarik lengan baju panjangku. “Te usah jo bapancing. Ini malam Jumat. Di rumah saja.”

Tak peduli, setengah tujuh malam, kunyalakan perahu.

Ini malam kedua di bulan baru. Langit gelap, arus bergerak seperti kuala di musim hujan. Sempat kucari nelayan lain di antara puluhan rompong. Hanya terlihat lampu-lampu kecil yang bergoyang. Satu dua perahu dengan bayangan hitam nelayan melintas ke arah pulang. Aku bertahan karena ember-ember itu masih kosong. Kalau bukan ikan, setidaknya aku harus dapat suntung. Mencari seratus ribu sehari, dalam sebulan aku bakal punya bekal untuk ke Makassar.

Rintak kuturunkan. Puluhan mata pancing yang beruntai itu hanya berhasil menaikkan empat ekor kadompe. Gerombolan kadompe sudah pindah ke rompong lain. Dalam kondisi semacam ini—perihal membaca arus, mencium cuaca, melacak ikan—Sebe itu terbaik. Meski begitu, ia pun kadang pulang dengan ember kosong. Itulah kenapa aku malas. Menjadi nelayan kadang tak adil. Setiap kali melaut, rasanya seperti bekerja sekaligus berjudi. Kau bisa memancing seharian dan tak menghasilkan apa pun. Lain hal jika jadi kuli; semua butir keringatmu akan dihitung. Aku tidak sedang membela diri. Coba kau duduk denganku, dan jawab ini: bila nelayan yang berpengalaman saja susah payah, apa yang bisa dilakukan nelayan sepertiku? Lalu coba bandingkan dengan bertinju. Dalam tinju, sekalipun kau kalah, kau tetap dibayar!

Hujan mulai turun beserta angin.

Rompong ini sudah dekat Pulo (Banggai Kepulauan). Dari sini terlihat lampu-lampu dari daratan lain sementara kota Luwuk sudah tertelan mendung. Andai dulu perahuku terbalik di sini, sudah pasti aku mati. Arus di tempat ini terkenal deras. Di sini seorang penjaga rompong pernah terbawa hanyut hingga ke Jepang gara-gara tali rompongnya putus. Kematian memang rahasia Tuhan, tapi bayangkan kau terseret hingga tempat yang tak kau kenali, tak ada kawan bicara, kulitmu terkupas, sehari-hari mengunyah ikan mentah dan meminum air kencingmu sendiri, lalu setelah semua itu, kau tak juga ditemukan atau menemukan orang lain, sampai mati. Kalau aku di posisinya, aku akan dengan cepat menenggelamkan diri karena tak punya energi untuk berusaha hidup sekeras itu.

Ombak mulai melompat-lompat.

Sudah lima rompong kupancingi, tapi baru empat belas kadompe kudapat. Itu bahkan tak bisa mengganti minyak perahu. Kenapa ikan-ikan itu seperti menghindariku?

Seorang kawanku yang bernama Uman bisa dengan mudah mendapat ikan sekalipun memancing dengan sembarangan. Dia bawa umpan suntung busuk, dilemparnya dari atas dermaga, lalu seekor ikan bobara didapatnya. Saat kuikuti caranya, ikan-ikan seolah menertawakanku. Papan dan seng dermaga, juga angin dan awan, semua menertawakanku. Ke mana ikan-ikan itu saat aku memancing? Apa aku kurang sabar? Atau barangkali shalat memang ada pengaruhnya? Aku ingat, Sebe hampir selalu mendapat ikan, dan sekalipun ikan sedang rakus, ia akan menyempatkan shalat subuh di perahunya. Tapi dia pemarah. Sangat pemarah. Dan bila seorang pemarah punya banyak keberuntungan, kenapa seorang pemabuk tidak bisa?

Badai ini jadi. Perahu pontang-panting.

Kulirik cap tikus di botol bekas. Seharusnya tak kubawa barang sial itu. Sebe bakal mengamuk kalau tahu. Tapi tanpa itu aku kacau. Satu teguk tak ada salahnya. Satu teguk, lalu tidur.

Tidak boleh.

Satu kali. Tidak lebih.

Tidak bisa.

Satu sruputtt….

Tidak!

Coba pikir, untuk apa itu dibawa?

Prokeprokeprok! Kupukuli kepala dengan botol CT yang ternyata sudah kugenggam. Tutupnya terbuka, isinya berhamburan di atas perahu. Tersisa sedikit di dasar botol … Kuteguk habis. Kuisap-isap. Seketika ia menyengat kepala.

Ponga’!

Lalu aku teringat sandal yang kubuang tadi. Bodohnya. Bila sandal itu tak kembali ke darat, apakah artinya aku juga takkan bisa pulang?

*

Laut tenang. Pagi sudah datang. Tapi di mana ini?

Kucari-cari daratan di ujung horison dengan mata pedih. Tak ada. Tadi malam sudah kuikat perahu ke rompong. Tapi sepertinya kepalaku menipuku lagi. Perahu telah hanyur begitu jauh. Kucuci wajah. Kurogoh plastik dalam ember, tak pula kutemukan ponselku. Sial.

Cepat kuarahkan perahu dengan memunggungi matahari karena rumahku berada di Barat matahari pagi.

Satu jam perahu melaju, belum tampak apa pun.

Kuulur pancing tonda untuk mengalihkan pikiran. Tak mau aku mati di sini. Anggap saja aku tidak tersesat dan masih memancing dan beberapa waktu lagi nelayan lain akan melintas di dekatku. Anggap saja aku belum mau pulang karena belum dapat ikan. Tak lama tonda dimainkan, sesuatu menahannya dengan kencang. Senar berlari keluar dari cengkeraman. Kusintak keras-keras. Jauh di sisi kanan perahu, ikan layar melompat!

Detak jantungku ikut laju. Darah berlarian.

Ikan itu menahan perahu. Kugenggam senar dengan keras hingga ia menyayat telunjuk. Rasa perih menjalar. Berusaha kukejar ikan dengan perahu. Namun, setelah agak lama, mesin mati kehabisan minyak. Kepalaku terbelah-belah. Aku takkan bisa pulang sekalipun ikan ini berhasil diangkat. Di saat yang sama, ikan masih sangat kuat dan bisa jadi dia sedang menarikku makin jauh. Namun, aku pun tak mungkin melepas ikan ini dengan ratusan meter tasi yang menempel di mulutnya. Aku tidak mungkin melepasnya karena ikan ini akan jadi salah satu tangkapan terbaikku.

Satu jam, dua jam, tiga jam, entah berapa jam kubiarkan ikan menarik perahu. Satu jengkal demi satu jengkal kutarik tasi itu. Jaraknya sudah sempat tersisa tujuh meter saja dari perahu, siripnya yang lebar mencuat di kulit air, mendorong lagi semangatku, tapi akhirnya ia berlari menjauh lagi dengan tenaganya yang besar.

Matahari sudah tinggi. Ubun-ubunku diisapnya. Tapi kemudian ikan itu kelihatan lagi. Hitam dan besar. Lebih lelah dari sebelumnya. Sirip lebarnya menggoyang laut yang sudah tenang. Lima meter tersisa. Aku berdiri. Empat meter. Tiga. Dua. Satu. Kuambil gancu lalu kutikam kepalanya. Dia tak berontak lagi. Jantungku melompat! Bukan main senangnya. Tapi saat kutoleh sekitar, berharap orang lain menyaksikan ini, ternyata hanya langit yang kosong dan laut yang datar terhampar.

Kuikat ikan itu, kubiarkan mengambang di samping perahu. Sebe pasti senang melihatku membawa ikan ini. Dia pasti tersenyum. Kubayangkan pintu rumahku akan terbuka dan kami akan menjual ikan ini sama-sama, lalu hari berangsur jadi gelap dan aku menutup mata. Aku tertidur lebih lelap dari biasanya.

Lirih kudengar Mamak menangis. Lalu samar kulihat punggung Sebe yang berdiri jauh. Ingin kudekati dia. Tapi tubuhku melayang di kulit air dan seutas tasi mengikat tanganku. Terang ganti gelap. Gelap ganti terang. Apakah aku masih tertidur? Apakah aku sudah terbangun? Hari berlalu di luar diriku. Kubayangkan mereka sedang mencariku, tapi kulihat pula mereka bersyukur karena manusia sepertiku akhirnya tak lagi membebani. Sebe tetap melaut, pergi ke masjid, dan Mamak tetap sibuk menjual nasi jaha.

*

Bayangan daun-daun ketapang berjatuhan di wajahku ketika sebuah perahu bertiang mendekat. Seorang lelaki tua berdiri di perahu itu. Janggutnya kelabu-putih. Ia memakai ikat kepala merah dengan dua ujung ikatan yang jatuh di kedua pipi. Perahunya tak menimbulkan riak sama sekali, seperti sebuah pisau yang membelah agar-agar. Berusaha kupahami dari mana ia muncul.

Dia menatap ikan itu. “Bisa nga angkat itu?”

Aku menggeleng.

Dia ikat perahu kami lalu melompat ke perahuku. Dengan pisau besar dipotongnya ikan itu. “Te harus utuh,” katanya, “yang penting lengkap.”

Aku tak mendebat, bahkan tak peduli. Kuterima itu layaknya orang mati yang sedang dimandikan. Pikiranku sudah bergerak ke arah lain. “Tete, boleh minta minyak? Sa punya so habis.”

“Ngana pulang ka mana?” Dia bertanya.

“Luwuk,” kubilang.

“Jauh butul! Parahu kecil te usah bapancing jauh-jauh,” katanya. Seolah tahu isi kepalaku, dia bilang, “Masih bisa bacari besok. Melaut itu seperti bajaga warung. Kalau ngana cuma buka seminggu sekali, te mungkin banyak pelanggan.” Dia memotong ikan itu jadi lima potongan besar. “Sa tarek saja nga pe parahu sampai Luwuk.”

“Tapi Tete pulang ke mana?”

“Te jauh,” jawabnya.

Dia menarik perahuku dengan tambang panjang di ekor perahunya. Sebuah layar dibentangkan di tiang itu, putih-merah, kusam dan berlubang di beberapa tempat, hanya menangkap angin tipis yang melintas. Perahu bergerak halus dan perlahan.

Perjalanan pulang amat panjang, tak kukenali satu pun penanda arah, hanya laut yang lapang dan matahari bercermin di atasnya. Mataku terus terjaga hingga matahari itu menguning. Pelan-pelan tampak di mataku lalu gundukan-gundukan hitam di atas horizon. Makin dekat, makin jelas: itulah perbukitan kota Luwuk. Bisa kembali kurasakan napasku. Namun separuh diriku seolah masih mengapung di luar sana, dengan kulit muka yang mulai terkelupas dibakar matahari.

Belum sampai tepi, dia lepas tali, “Lanjut dayung saja,” katanya. “So banyak orang batunggu. Bilang saja, ngana diantar Tua dari Seberang.”

“Tua, bawa jo ikan layarnya. Ambil semua!” Cuma ini yang bisa kutawarkan. Sudah cukup kubawa pulang diriku.

“Itu rezekinya ngana.”

“Atau Tua mampir jo dulu. Makan di rumah.”

“Te apa. Nga pulang saja. Nanti torang bakudapa lagi di laut.” Dia memutar layar, larut ke dalam malam.

Kutatap tepian. Dari sana bilah-bilah cahaya mengarah lurus ke lautan. Salah satu senter itu menyasar wajahku, kemudian yang lain mengikuti. Di sudut mataku kulihat siluet Mamak berlari. Dia mengangkat daster, meniti kayu basah di para-para, memanggil-manggil namaku tanpa henti di antara ombak yang menumbuk tepian. Beberapa orang menahannya agar tidak melompat ke laut.

Kutatap ikan itu, yang terbujur sepanjang perut perahu, utuh seperti baru kudapat pagi tadi. Lalu kucari-cari siluet Sebe. Kucari-cari sampai tipis mataku.[*]


Ilustrasi: Fish and Boat (M. C. Escher), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Mata-Mata – Cerpen Yin Ude
Putu – Cerpen Brigitta Winasis


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *