Putu?
7 November 2025| | 12 CommentsPada papan penutup ini terdapat pipa besi pendek yang menjadi sumber bunyi putu. Tanpa menoleh, Pak Bejo sudah bisa merasakan kehadiranku.
Oleh: Brigitta Winasis |
Tumbuh besar di Solo, Jawa Tengah. Belajar Sastra Indonesia dan Cultural Studies.
Setiap malam, antara pukul tujuh empat dua hingga delapan lebih tiga, akan terdengar suara yang menandakan saatnya kudapan manis penutup hari. Seperti jam beker atau bel sekolah yang menandakan aktivitas dimulai, bunyi uap putu yang konstan pada kunci E tersebut memberi sinyal aktivitas mengudap sebentar lagi. Aku akan berdiri di depan pintu indekos, menghitung berapa kali kunci E berubah menjadi E# saat ia semakin dekat. Seharusnya, kunci uap putu akan naik setengah menjadi E# setiap kali terkena jalan berlubang yang ada di penghujung gang—masing-masing berjarak dua ketukan. Setelah itu, akan kembali ke kunci E seperti biasa sampai tiba di depan pagar indekos.
Pak Bejo—penjual paruh baya berkulit legam dan berkantong mata tebal—akan menyandarkan gerobaknya pada penyangga kayu di bagian depan. Ia segera membuka batang-batang bambu yang menyumbat papan penutup berlubang yang diletakkan di atas dandang. Pada papan penutup ini terdapat pipa besi pendek yang menjadi sumber bunyi putu. Tanpa menoleh, Pak Bejo sudah bisa merasakan kehadiranku. Ia menyapa dengan satu kata, yang sebetulnya formalitas belaka.
“Putu?”
“Putu.”
“Biasa?”
“Biasa.”
Ia sigap menjejalkan adonan tepung beras bercampur kelapa ke dalam puntung bambu, tak lupa akan isian gula jawa secukupnya, lalu menempatkannya di atas lubang-lubang uap. Setelah sepuluh puntung bambu berisi adonan terpasang, tanpa kehilangan momentum, Pak Bejo mengelap daun pisang dan melipatnya sebagai wadah pembungkus. Efektif. Efisien. Tak kehilangan satu napas pun.
Aku menukar uang sepuluh ribu dengan bungkusan itu, dan menggumamkan terima kasih. Demikian setiap hari berakhir selama dua tahun aku tinggal di indekos itu.
Namun, pola kunci itu mulai berubah. Atau setidaknya demikian, menurut pendengaranku yang terlatih pelajaran musik pada saat bersekolah dulu. Kunci E# sebagai penanda lubang jalan muncul tidak lagi hanya tiga kali, tetapi bertambah. Awalnya empat kali, lima kali, tujuh kali, hingga mencapai puncaknya tiga belas kali. Jaraknya pun tak lagi pasti, tetapi beragam dari seperempat hingga dua ketuk. Pada lubang tertentu yang terlalu dalam, bahkan terdengar kunci F# menjerit nyaring. Lubang pada jalanan itu semakin melebar dan terisi kerikil pecahan aspal. Sesampainya di depan pagar indekosku, Pak Bejo menambah satu ritual baru: menyeka keringat dengan handuk yang tersampir di lehernya. Ia kepayahan mendorong gerobaknya melewati halang rintang, sementara genggaman tangannya tampak semakin liat.
“Pu-tu…?”
Kali ini pertanyaannya agak terengah.
“Putu.”
.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun satu bulan, Pak Bejo libur. Aku menunggu-nunggu hingga delapan lewat tujuh belas, tetapi kunci E konstan tak kunjung terdengar. Padahal sudah kubayangkan, mengudap putu yang panas beruap—wangi kukusan puntung bambu terawetkan dalam bungkusan daun pisang, adonannya padat saat digigit… lalu pyar! Lelehan gula jawa meledak di mulut. Malamnya aku akan bermimpi dengan rasa legit yang tertinggal di lidah, menempel hingga ke gigi bungsu. Namun, Pak Bejo tak kunjung datang mewujudkan nina bobo-ku.
Pak Bejo masih libur hingga beberapa pekan kemudian. Aku mencoba bertanya ke penjual sate yang keliling di pagi hari, sampai ke penjual nasi goreng yang keliling selepas tengah malam. Juga ke penjaja mie ayam yang berjualan di sore hari. Mereka tak mampu memberi jawaban pasti, tetapi satu hal tampak jelas. Semakin hari, terlihat roda gerobak mereka semakin usang, karetnya menipis dan penuh tambal. Si penjual sate bahkan beralih kembali ke menyunggi keranjang sate, karena gerobaknya semakin tak layak pakai setelah rodanya bengkok terperosok lubang di jalan. Gerobak itu pun akhirnya dijual seikhlasnya. Satu per satu penjaja keliling mulai pamit, tak lagi sanggup menghadapi jalanan berlubang. Di antara mereka, hanya Pak Bejo yang tak diketahui juntrungannya.
Malam itu pukul setengah tujuh, sedikit lebih awal daripada biasanya. Tiba-tiba terdengar kunci E yang sudah kutunggu lebih dari satu bulan itu. Kunci E yang merdu, seperti rinduku yang selalu pada gigitan legit kue putu. Aku melonjak girang! Aku segera berlari ke depan pintu, tak sabar mengudap putu… tapi tunggu. Kunci E itu terlalu konstan, tak terdengar variasi E# atau bahkan F# seperti biasanya. Ia terlalu stabil seperti napas dingin Pak Bejo.
Ragu-ragu aku beranjak keluar. Lewat sebuah mobil pickup yang dicat hijau pandan. Di sisinya tertera cap Lucky Putu, dengan tulisan mungil di samping yang hampir tak terbaca. Part of Dhahar Group. Di dalam bak pickup duduk Pak Bejo menghadap dandang. Ia mengenakan seragam hijau bergaris putih, seperti satu rekan lain yang duduk bersamanya. Di bagian atas kap mobil terpasang speaker besar… dari sana kunci E yang terdengar bisa begitu stabil.
Mobil pickup berhenti di depan indekosku. Tanpa menoleh, Pak Bejo masih bisa merasakan kehadiranku.
“Putu?”
[*]
Ilustrasi: My Road I (Mikalojus Konstantinas Ciurlionis), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Larao – Cerpen Sayyidati Hajar
– Membunuh Katak – Cerpen Armin Bell

Sebagai informasi, saya belajar secara otodidak dalam industri hiburan, namun saya jarang menghasilkan karya karena keterbatasan akses
Cerita ini sungguh memukau. Sebagai seorang penulis cerpen amatir, saya merasa masih banyak yang perlu dipelajari. Cerita ini telah menginspirasi saya kembali
Ringkas, ringan, tetapi meninggalkan makna.
cerpen ini sangat bagus untuk dibaca karena mudah dimengerti👍🏻
ceritanya sangat bagus dan mudah dimengerti
hahaha ceritanya sangat indah dan mudah dicerna. Penantian yang sangat megah.
sangat menarik
Wahhh speechless
menarik
cerita ini sangat rinci dan banyak, itu membuat cerpen tersebut terlihat bagus.
Woawww Sangatt baguss
wowwww….ceritanyaa sangatt baguss serta menarik untuk di baca untuk semua kalangan baik anak anak maupun orang dewasa