Kejahatan Saya dalam Novel Lamauri
14 Juli 2026| | 0 CommentItulah kejahatan yang saya temukan dalam novel Lamauri. Bukan di pengadilan. Bukan di tangan pembunuh. Kejahatan itu ada di tubuh perempuan …
Oleh: Yohan Mataubana |
Tinggal di Maumere. Saat ini menjalani studi Magister Filsafat di IFTK Ledalero. Bergiat di Komunitas Teater Aletheia. Bukunya Tanda Kurban yang Dinamakan Cinta (2024).
Kalau kau kuliah selesai dan punya pekerjaan, orang akan cerita kau pung nama dengan bangga. Tapi kalau yang begini, kuliah tidak selesai, hamil dan laki-laki tidak tanggung jawab, kau pung nama busuk orang cerita (Bataona, 2026:98).
Saya membaca beberapa kali kalimat ini dalam novel Lamauri (2026) karya Fince Bataona sambil mengingat-ingat nasib perempuan itu kalau sampai hamil lalu laki-laki tidak bertanggung jawab. Apakah dia akan membunuh janin itu? Mungkin dia akan membunuh dirinya dan janinnya? Atau dia tetap merawat dirinya dan janinnya?
Dari pertanyaan di atas, saya punya cerita.
Sebagai anak laki-laki di dalam suku, saya bertumbuh di tengah budaya yang sangat lantang berbicara tentang nama baik perempuan, tapi sangat diam saat perempuan sedang jatuh. Kerap saya mendengar ibu-ibu bergosip di dapur tentang “anak orang” yang hamil di luar nikah. Saya melihat bagaimana wajah mereka berubah dari rasa simpati menjadi jijik, dari diam menjadi menghakimi. Dan sebagai laki-laki, saya lebih banyak diam di sudut, menyerap semuanya tanpa bertanya. Saya belajar bahwa ada nama yang bisa dihancurkan hanya dengan cerita. Saya belajar bahwa saya juga bagian dari kerumunan yang membiarkan itu terjadi.
Lamauri adalah karya kedua Fince Bataona setelah sebelumnya menerbitkan berjudul Lamafa pada tahun 2017 silam. Membaca kisah-kisah Lamauri membuat saya saya bersimpati dengan tokoh Ina.
Dalam kisahnya, ia ditampilkan sebagai sosok yang menderita. Saat membaca, saya membayangkan ia duduk di kamar gelap. Perutnya mulai membesar. Adrian, kekasihnya, hanya bilang: “Kasih gugur. Beta kuliah belum selesai.” Saya membayangkan suara itu dingin. Saya membayangkan ruang kamar itu sempit, gelap, pengap. Lalu saya bertanya pada diri saya sendiri, Apakah saya, sebagai laki-laki, pernah menjadi Adrian? Mungkin bukan dengan perempuan hamil. Tapi dengan diam saya. Dengan sikap yang tidak mau tahu. Dengan cara saya berpaling ketika teman-teman bercanda tentang perempuan. Saya tidak pernah menyuruh siapa pun menggugurkan janin, tetapi saya juga tidak pernah menghentikan lelucon itu. Saya tidak pernah berkata: “Hei, ini tidak lucu.”
Itulah kejahatan yang saya temukan dalam novel Lamauri. Bukan di pengadilan. Bukan di tangan pembunuh. Kejahatan itu ada di tubuh perempuan yang diperintah “kasih gugur”, seperti mantra penghukuman yang diulang-ulang. Kejahatan itu ada di nama buruk yang diceritakan orang. Kejahatan itu ada di dalam diri saya juga (mungkin kamu), yang diam dan hanya mendengar.
Ada satu adegan dalam Lamauri yang membuat saya terdiam lama. Ina mengaku di depan orang banyak:
“Saya hamil. Dengan Adrian.”
“Apa? Lalu di mana Adrian?”
“Dia suruh gugurkan. Dia tidak mau tanggung jawab. Saya tidak tahu dia lagi.”
(Bataona. 2026:100).
Misalkan Ina adalah saudari saya, sudah saya berikan beberapa tamparan lalu mencari Adrian untuk dimintai tanggung jawab. Namun saya rasakan betul, bagaimana perempuan-perempuan berhadapan dengan kejujuran dan itu menyakitkan.
Saya tidak tahu apakah saya sekuat Ina atau tidak, dengan kepribadian saya yang tumbuh dalam ketakutan akan nama baik. Nama baik adalah segalanya di kampung saya. Saya diajarkan untuk menjaganya, untuk tidak mempermalukan keluarga, untuk tidak membuat orang tua menunduk malu. Dan ketika saya membayangkan menjadi Ina—hamil-ditinggal-dihakimi, saya tidak yakin bisa bertahan hidup. Mungkin saya akan memilih diam. Mungkin saya akan memilih mati diam-diam. Saya tidak tahu.
Yang membuat saya terus terganggu adalah saya membayangkan tubuh Ina dihantui oleh kalimat: “Beta pung masa depan karmana kalau begini?” Saya membayangkan ia menekan perutnya sendiri di malam hari. Saya membayangkan ia berdoa dengan air mata yang mengering sendiri seperti yang ditulis Bataona:
Entah sudah berapa lama saya membenamkan wajah di bantal hingga air mata seperti air musim kemarau. Mengering sendiri tanpa saya sadari. Saya tak kuasa bangun. Lemah lunglai seluruh tubuh. Tuhan, saya ingin mati saja. Saya tidak kuat hadapi ini, Tuhan. (Bataona, 2026:83).
Saya bukan perempuan. Saya juga tidak pernah dihakimi karena tubuh saya. Tetapi melalui Lamauri, saya diberikan ruang merasakan penderitaan perempuan. Saya mengenal rasa malu yang membungkam mulut. Saya mengenal rasa tidak berdaya di kamar gelap, ketika semua pintu tertutup, dan hanya bantal yang mendengar tangis. Di dalam novel inilah di saya bertemu Ina, perempuan yang diberkati sejumlah salib derita. Sampai di sini saya merasakan bahwa hidup terasa terlalu berat untuk dijalani.
***
Yang membuat Ina berbeda dengan bayang-bayang gelap di kepala saya adalah, ia tidak mati. Ia memilih mengaku. Ia biarkan nama buruknya menempel. Ia menerima janin yang ia kandung. Dan dalam kesadaran bahwa ia telah berdosa, ia tetap memberi ruang bagi Tuhan. Ia tidak memilih kematian. Ia memilih hidup, meski hidup itu penuh aib. Saya membaca itu dengan penuh iri. Saya iri pada keberanian yang tidak saya miliki.
Lalu ada bagian lain yang membuat saya tidak bisa berhenti berpikir. Tentang perempuan yang tidak lagi perawan, tentang janda, tentang bagaimana tetangga bergosip:
“Beh … itu perempuan bukan perawan jadi kau harus belis seperti anak gadis.”
“Sudah ada anak tu le. Syukur ada yang mau nikah.”
“Ama saja yang rugi lepas Lidya dan mau kawin dengan janda.”
(Bataona, 2026:124).
Saya membayangkan suara-suara itu. Terdengar di dapur, di jalan, di halaman rumah. Saya membayangkan Ina, atau perempuan mana pun yang menjadi bahan obrolan, tidak punya kuasa untuk menjawab. Mereka hanya menjadi cerita. Nama mereka dijadikan pajangan caption di media sosial tanpa izin. Tubuh mereka dibicarakan seolah-olah itu milik publik.
Sebagai anak laki-laki, saya sadari bahwa Lamauri sedang menyoroti bahaya gosip di lingkaran pertemanan. Perempuan yang baru saja pulang dari perantauan dijadikan bahan omongan. Perempuan “badan naik” dibilang hamil, perempuan jalan keluar malam dbilang perempuan tidak baik “jual diri”. Gosip-gosip semacam itu kerap terjadi untuk perempuan. Saya berpikir Lamauri benar, kejahatan terbesar ada di lidah saya (juga lidah kamu yang sedang membaca). Kejahatan itu ada di telinga saya (juga kamu) yang tidak pernah menolak mendengar gosip negatif.
Sejujurnya, saya menulis catatan ini bukan untuk menggurui. Saya menulis ini karena saya terganggu dengan novel ini. Saya membaca, dan saya melihat banyak bayangan. Bayangan Ina. Bayangan lidah-lidah yang menghakimi. Bayangan diri saya sendiri (juga kamu) yang diam. Dan di antara bayangan-bayangan itu saya bertanya: Siapa yang bisa selamat dari kejahatan yang tidak terlihat?
Lamauri tidak memberi saya jawaban. Tapi ia memberi saya ruang untuk merefleksikan dalam diam, dalam ketidakpedulian, dalam cara saya belajar bahwa nama baik lebih penting daripada nyawa. Dan bahwa saya harus sadar setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Jangan menghakimi!
Setelah membaca Lamauri, saya tidak ingin lagi menjadi pendengar yang diam. Saya tidak ingin lagi menjadi bagian dari kerumunan yang membiarkan nama buruk itu membunuh. Saya ingin, setidaknya, berbisik pada Ina atau pada siapa pun yang sedang dihakimi bahwa kamu tidak sendiri, aku di sini, aku mendengar.
Mungkin itu saja yang bisa saya lakukan, tetapi saya percaya, bagi seseorang yang sedang tenggelam dalam nama buruk, kata “aku di sini” adalah keajaiban kecil yang bisa menyelamatkan.[*]
Baca juga:
– Kepergian Kedua dan Bibir-Bibir Manusia Lain
– Dawuk: Kalajengking dan Ular dan Kita
