Menu
Menu

Kepergian kedua Irul ke Jerman berbeda dengan yang pertama. Yang berbeda adalah masa lalu yang ditinggalkan dari setiap perjalanan itu.


Oleh: Alvi Jaimun |

Reineldis Alviana Jaimun. Biasa disapa Apik atau Syair. Alumnus Universitas Nusa Cendana jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah bergabung di komunitas Secangki Kopi Kupang, Performance Art, dan Komunitas Tuli Ruteng. Hobi: membaca dan menulis puisi.


Bincang Buku Petra ke-74 dilaksanakan pada tanggal 26 April 2025 lalu. Novel karya Amanatia Junda berjudul Kepergian Kedua dibincangkan oleh sembilan anggota Klub Buku Petra Ruteng yang berkesempatan hadir malam itu.

Dalam 105 halaman, Kepergian Kedua bercerita tentang Irul Walidain, seorang perantau dari Jawa Timur di Jerman yang terus menghadapi pergolakan karena masalah keluarga yang menghantui pilihan-pilihan hidupnya. Pergi jauh dari kampungnya di Jawa Timur nyatanya tidak membuatnya menemukan kedamaian.

Berawal dari Irul menerima pesan WA dari keluarganya bahwa sepupunya Indah hamil di luar nikah, dilanjutkan dengan penolakan keluarga Irul terhadap kehadiran bayi yang dikandung Indah tersebut, Irul memainkan peran utama sebagai cucu lelaki satu-satunya Trah Jauhari: ia diharapkan menikahi Indah untuk menyelamatkan nama trah Jauhari.

Arsy Juwandi sebagai pemantik diskusi membaca buku ini sebanyak tiga kali. Banyaknya rentetan peristiwa dalam novel ini kurang mengesankannya. Ia menemukan kisah sebuah keluarga yang lekat dan taat dengan budaya patriaki, tetapi saat bersamaan mendatangkan malapetaka. Contoh, tokoh Indah dipersalahkan keluarga atas kehamilannya di luar nikah. Atau Irul sebagai cucu laki-laki dari trah Jauhari diberi mandat untuk mengurusi masalah kehamilan Indah.

Menurut Arsy untuk mengubah pembacaan patriaki atas novel ini, cerita harus lebih banyak bergerak dari Indah. Namun posisinya yang dijadikan korban semakin membuat novel ini terkesan sebagai lanjutan wacana patriaki. Arsy kemudian mengajukan pertanyaan untuk semua peserta: seberapa dekat tema ini dengan kehidupan kita orang Manggarai?

Setelah Arsy, Lolik Pahur, mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng menyampaikan hasil pembacaannya. Ia membaca buku ini dalam waktu dua hari. Ia merasa sedikit kebingungan dengan judul novel ini, tetapi kemudian menafsir jika yang dimaksud dengan ‘kepergian kedua’ adalah keberangkatan Irul yang kedua kali ke Jerman.

Tokoh yang menarik untuk Lolik adalah Irul, karena tokoh ini diceritakan harus bertanggung jawab terhadap anak yang bukan anaknya. Menurut Lolik, hal ini terjadi karena tampaknya di budaya timur, tidak ada yang namanya kepentingan pribadi. Yang ada hanya kepentingan keluarga, sosial, atau kelompok. Sementara itu, hal yang membingungkan menurut Lolik adalah ending dari novel ini. “Indah harus diceritakan di mana ia berada di akhir novel,” ucap Lolik.

Giliran Ayu Bons menganalisa Kepergian Kedua. Menurutnya, novel ini berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga Jawa, yang tidak jauh berbeda dengan kehidupan keluarga di Manggarai: menghadapi tantangan kehamilan di luar nikah dan berjuang untuk mengatasinya, terutama dari rasa malu. “Karena biasanya keluarga besar yang malu,” ujar Admin Program Klub Buku Petra ini. Lebih lanjut ia merefleksikan cerita ini ke dalam kehidupan keluarganya. Sebagai anak perempuan, ia merasa lebih diperhatikan atau dijaga oleh kakak-kakak dan saudara-saudaranya dibandingkan oleh orang tua.

Saya mendapat giliran setelah Ayu. Saya berbagi melalui realita-realita pengalaman pribadi dan menyoroti perlakuan keluarga terhadap tokoh Indah. Indah tampak mendapat diskriminasi berlapis atas peristiwa yang menimpanya. Ia dipersalahkan sekaligus juga tidak didengarkan. Dalam keluarga saya, perempuan juga sering tidak diberi hak bersuara. Hanya laki-laki yang diberi hak untuk bersuara dan mengambil keputusan. Saya juga menyinggung cerita hilangnya Pakde Darto yang dibawa lari oleh Noni Belanda. Hal ini tidak masuk akal di cerita, tetapi kalau dikaitkan dengan hidup harian di budaya timur, hal itu bisa jadi hal yang cukup lumrah terjadi.

Hasil pembacaan berikut disampaikan oleh Gregorius Reynaldo. Tim Kerja Klub Buku Petra yang akrab disapa Rey ini menyukai sekaligus tidak menyukai Perjalanan Kedua. Ia tidak menyukai buku ini karena terlalu banyak nama atau tokoh yang dirasa tidak fungsional dalam cerita. Hal ini mengganggunya. Selain itu, ia juga menemukan lompatan cerita yang kasar. Menurutnya banyak bagian cerita yang tidak selesai dan tidak berfungsi dengan baik.

Tetapi Rey juga menyukai buku ini. Ada banyak kisah yang menurutnya bisa dipelajari, misalnya dari sikap Irul mengurusi Indah. Ini membuatnya melihat dirinya sendiri dalam Irul. “Semakin dewasa kita semakin tidak lari jika ada masalah,” ujarnya. Selain itu, novel ini menggunakan hampir semua indra dalam menguraikan kisah. Misalnya di paragraf-paragraf awal. Penulisan yang mampu melibatkan banyak indra membantu pembaca menikmati novel dengan lengkap: dilihat, didengar, dirasakan, dicecap. Ia menyukai pemaparan seperti itu.

Meski demikian Rey tetap membayangkan bahwa novel setipis ini seharusnya lebih fokus ke tokoh-tokoh utama. Dalam kaitan dengan banyak peristiwa atau tokoh yang tidak berkembang, Rey menilai bahwa itu adalah strategi penulis untuk menghindari karakter pahlawan dalam novelnya. “Kadang-kadang laki-laki seperti Irul tidak mampu menjadi pahlawan meski ia punya potensi untuk itu,” tutupnya.

Setelah Rey, giliran Frans Posenti menerangkan refleksinya atas novel karya Amanatia Junda ini. Menurut Bapa Frans yang adalah anggota tertua Bincang Buku Petra, perjalanan ke tempat yang sama, berapa kali pun dilakukan akan selalu menghasilkan pengalaman yang berbeda. Demikianpun kepergian kedua Irul ke Jerman; berbeda dengan kepergiannya yang pertama. Yang membuatnya berbeda adalah masa lalu yang ditinggalkan dari setiap perjalanan itu. Meski demikian, masa lalu itu juga kadang tidak bisa dilepaskan seperti yang dialami Irul. “Tokoh Irul pergi supaya bebas dari keluarga, tetapi setiba di Jerman ia masih membawa keadaan keluarganya yang penuh masalah.”

Hal lain yang digarisbawahi Bapa Frans adalah keberadaan surat untuk pembaca yang berada di belakang buku. Menurutnya penulis tampak berusaha melibatkan pembaca dalam cerita ini: perbaiki posisi dudukmu, tempelkan punggungmu senyaman mungkin. Ceritaku baru saja dimulai.” Ia jadi teringat Robertus Fahik, penulis buku Ilona Mendengar dengan Mata yang mengatakan jika fiksi dan fakta digabung akan menjadi faksi. Dalam kaitannya dengan novel Perjalanan Kedua, keberadaan surat untuk pembaca menjadi fakta yang berusaha disisipkan penulis dalam karya fiksi ini. Lebih lanjut, baginya, penulis seperti mengajaknya untuk tidak melihat hidup secara hitam-putih. Hidup selalu penuh warna, meski tetap penting setiap orang harus punya orientasi seperti yang dimiliki Irul. “Ia menerima situasi keluarganya, tetapi tidak menghalanginya untuk menemukan hidupnya sendiri di Jerman.”

Berikutnya giliran Opin Sanjaya. Menurut Opin, penulis novel ini tidak memiliki referensi yang cukup tentang Jerman. “Irul seharusnya bisa tampil sebagai tokoh Indo-Jerman yang mempunyai cara pikir yang lebih terang atas masalah yang dihadapi keluarganya,” ujar Opin. Ia menilai Irul hanya dijadikan tokoh yang tabah dan kuat (duck syndrome), sehingga Opin justru berharap agar cerita ini lebih panjang dengan konflik yang diperoleh dari ketegangan antarbudaya, Indonesia dan Jerman, yang dialami Irul. “Novel ini akan kaya kalau penulis jeli memanfaatkan keunggulan Irul sebagai manusia lintas-budaya.” Meski demikian Opin tetap menyukai buku ini karena peristiwa-peristiwanya dekat dengan kebudayaan orang Manggarai.

Gonza Thundang memberikan pendapatnya setelah Opin. Gonza yang adalah seorang perupa dan desainer grafis di Klub Buku Petra ini langsung memulainya dari sampu. Sampul novel tampak mengambarkan manusia yang tidak berwajah dengan sapuan warnah putih dan oranye. Menurutnya, cover ini menggambarkan karakter Irul sebagai anak yang tabah. “Anak yang tabah jarang memperlihatkan wajah di depan banyak orang.” Lebih lanjut ia menilai jika warna oranye identik dengan musim gugur, yang sebenarnya bermakna perubahan. “Irul tidak pernah pergi. Ia justru menetap.” Gonza menganjurkan agar judul novel ini seharusnya ‘kepergian keempat’, karena Irul tidak pernah menemukan tempat untuk mencurahkan pikirannya. “Selain itu warna oranye identik juga dengan warna transisi yang bermakna petualangan, ” tutupnya. Gonza juga melihat cerita ini belum selesai dan harus diperpanjang lagi.

Kesempatan berikutnya diberikan kepada Grace Katharina. Grace yang sehari-hari mengelola Kedai Buku Petra ini memulai pembacaanya dengan menyebut rentetan masalah yang terjadi dalam novel Kepergian Kedua. “Dimulai dari sengketa tanah antara kakek dan nenek, lalu masalah uang nikah Maya antara Pakde Mar dan Pakde Dar, masalah hadiah mobil BRI, Irul putus sekola, perselingkuhan Bude Suci dan pengacara, perselingkuhan Pakde Dar dengan Hantu Noni Belanda, hilangnya Pakde Dar, kehamilan Indah, rumah hantu, dan terakhir adalah Indah yang hilang.” Rentetan masalah ini membuat Grace menyukai pernyataan ibu Irul di halaman 35: hidup ini selalu dalam marabahaya, sewaktu-waktu di sini bisa gempa, nggak mustahil mendadak Indonesia diserang penjajah lagi…. Menurutnya sekuat apa pun kita berjuang untuk berada di zona nyaman, akan selalu ada distraksi dari luar yang membuat posisi kita tidak nyaman.

Menurut Grace, Amanatia belum mampu melangkah lebih jauh dari kerangka menulis cerpen dari buku pertamanya. Sebagai novel pertama, novel ini dipenuhi dengan rentetan peristiwa yang menggantung. Terkesan, peristiwa-peristiwa dimasukkan begitu saja, padahal Irul dengan latar belakang yang lebih kaya seharusnya bisa jadi penengah atas masalah keluarga. Hal yang sama terjadi dengan Indah yang dianggap berprestasi, solehah, dan cantik. Atau tokoh Pakde Dar yang hilang bersama hantu Noni Belanda meski ia seorang yang taat beragama. Atribut-atribut itu tidak dimanfaatkan dengan baik oleh penulis.

“Latar belakang tokoh bisa menjadi senjata untuk mengembangkan cerita, tetapi dalam kenyataannya (di dalam novel ini) mereka tidak berbuat apa-apa,” ungkap Grace. Lebih lanjut ia menilai, tokoh-tokoh dalam novel ini banyak mengalami ketimpangan karakter. Artinya deskripsi tentang jati diri mereka, tidak sesuai dengan peristiwa-peristiwa cerita.

Kesempatan terakhir diberikan kepada Jesy Rodriques. Siswi SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng ini melihat, untuk buku setipis 105 halaman, terlalu banyak masalah yang dipakai sebagai bahan bakar cerita, juga terlalu banyak tema yang berusaha disisipkan penulis. Terhadap sampul buku, Jesy melihat cover tersebut bermakna siklus kehidupan yang tidak memiliki ujungnya.

Bincang Buku Petra malam itu berakhir dengan pemberian 3 Bintang pada novel Perjalanan Kedua karya Amananti Ajunda.[*]


Baca juga:
Masa Lalu Rusia dalam Novel Halo Moskow
Singgah di Pelabuhan Milik Nh. Dini Bersama-sama


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

2 thoughts on “Kepergian Kedua dan Bibir-Bibir Manusia Lain”

  1. Umybae03 berkata:

    Meninggalkan bekas luka yang dalam ,namun susah untuk dimaafkan

  2. Utuh Karya jaya berkata:

    Menikmati bertanya yg santai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *