Novel Lusifer! Lusifer!: Persoalan Nama, Cara Beriman, dan Gaya Penulisan
31 Januari 2025| | 3 CommentsPersoalan Mawarsaron dalam Lusifer! Lusifer! karya Venerdi Handoyo adalah juga persoalan psikis.
Oleh: Opin Sanjaya |
Guru Bahasa Indonesia di SMAK St. Klaus, Kuwu. Berasal dari Tenda, Ruteng.
Lusifer! Lusifer! adalah judul novel yang dibincangkan dalam Bincang Buku Petra ke-64 di Perpustakaan Klub Buku Petra pada hari Jumat, 7 Juni 2024 malam.
Ketika membaca judul itu, kita seperti mendapat peringatan bahwa kita harus hati-hati karena ada iblis yang datang. Kita harus cepat lari menuju halaman pertama untuk mencari tahu rupa dan bentuk iblis yang digambarkan Venerdi Handoyo.
Di halaman pertama, narator langsung menggambarkan ritus pengusiran lucifer dari remaja Mawarsaron oleh sekelompok pendoa yang dipimpin oleh diaken Yesaya Metuselah.
Yuan Jonta menjadi pemantik. Ia ditemani Armin Bell, dr. Ronald Susilo, Grace Djerta, Beato Lanjong, Lolik Apung, Tino Mbagur, Randy Ladja, Arsy Juwandi, Tommy Hikmat. Selain itu, ada Galdi, Lolik Pahur, Dini, Ningsi, Febi, Deri, Oce, dan Trisno dari Unika Santo Paulus Ruteng yang menambah keseruan malam penuh refleksi itu.
Nama sebagai Identitas
Yuan Jonta membuka diskusi dengan menyoroti nama Mawarsaron dan Singa Yehuda dalam novel Lusifer! Lusifer!.
“Kalau teman-teman perhatikan, nama mereka dipilih sebagai julukan yang dipakai untuk Yesus Kristus. Tetapi Mawarsaron harusnya ditulis pisah (Mawar Saron), dalam cerita ini ditulis sambung, yang secara teks disebabkan oleh kesalahan pengetikan di Kantor Catatan Sipil,” tutur Yuan.
Penamaan tokoh yang demikian menggugah Yuan untuk mencari tahu arti Mawar Saron. Hasil pencarian Yuan menunjukkan bahwa istilah Mawar Saron pernah dipakai dalam Kitab Suci, tetapi berdasarkan penelusuran para ahli, kata Mawar Saron adalah kesalahan penerjemahan dari kata Ibrani havatzelet yang berarti umbi bunga seperti bawang. Arti Mawar Saron yang benar adalah Bunga Tulip Liar.
Lebih lanjut, Yuan mengungkapkan jika nama bisa menguak relasi orang tua dan anak. Dia mengajukan pertanyaan tentang sejauh mana orang tua dapat memberi nama dalam era liberalisme informasi saat ini, di mana banyak referensi tersedia untuk memilih nama. Dia menekankan pentingnya diskusi tentang batasan agar nama anak tidak menjadi beban hidup. Yuan merujuk pada Mawarsaron dan Singa Yehuda; bahwa meskipun mereka berasal dari keluarga yang taat agama, anak-anak tersebut terlihat tidak menyukai nama mereka sendiri. Ia menyimpulkan adanya krisis identitas dalam diri anak-anak, dimulai sejak mereka diberi nama. Mereka sudah diarahkan untuk menjadi orang lain.
Armin Bell mencoba menanggapi kasus inisiasi pada anak ini dengan mengisahkan pemberian nama pada generasinya. Menurutnya nama anak seringkali bereferensi pada agama Katolik dan tradisi Keluarga Manggarai. Secara agama mengambil nama santo/santa. Secara budaya, mengambil nama leluhur, yang jika anaknya sakit-sakitan sejak cear cumpe, kemungkinan nama itu diganti.
Armin melihat namanya sendiri yang diambil dari Santo Robertus Bellarminus yang adalah juga seorang pujangga gereja dan melihat peluang bahwa dirinya juga sebaiknya dekat dengan dunia yang dihidupi santo pelindungnya itu.
Pengalamannya sebagai anak dibenturkan lagi dengan pengalaman sebagai orangtua. Armin memliki putri sulung bernama Rana. Ia mengakui jika nama rana diambil dari istilah fotografi, menunjuk tirai di depan sensor kamera yang tetap tertutup hingga tombol kamera diklik. Setelah diklik untuk mengambil foto, rana akan terbuka dan membiarkan cahaya masuk lewat lensa, sehingga sensor terpapar cahaya. Setelahnya, rana tertutup kembali dan gambar tercipta.
“Dan saya ceritakan kepada Rana tentang nama itu. Harapannya dia bisa seperti mata kamera yang menangkap dunia lalu menceritakannya ulang menjadi sesuatu yang lebih baik.”
Namun, meski ia menaruh harapan, ia juga pasrah karena baginya anak, mengutip Khalil Gibran, adalah panah. Setelah mereka lepas dari busur, mereka akan memilih sendiri sasarannya.
Saya coba ikut dalam diskusi tentang inisiasi ini.
Menurut saya, pemberian nama anak pada zaman ini makin modern. Menurut para orang tua, nama diberikan agar anak dapat mengenang leluhur atau tradisi keluarga. Sebagai contoh, nama saya sendiri. Sanjaya. Terkesan ‘Jawa’, tetapi ternyata merupakan akronim dari nama nenek dan kakek saya. Nama depan saya, Fransiskus, juga dipilih agar saya selalu sadar akan identitas sebagai seorang Katolik. Tetapi saya melihat bahwa saat ini, orang tua cenderung memberi nama anak untuk menatap masa depan, meletakkan harapan besar pada anak tersebut, alih-alih mengacu pada tradisi.
Arsy Juwandi hadir juga untuk menimpali kasus ini. Di lingkungan tempat ia bekerja, ia menemukan fenomena anak yang merasa nama mereka tidak enak diucapkan, sehingga memunculkan penggunaan nama samaran karangan teman-temannya. Menurut Arsy, ini merupakan bentuk penolakan anak terhadap nama yang diberi orang tua mereka. “Orang tua sering memberikan nama dengan maksud dan tujuan tertentu, meskipun anak tersebut tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, ada kalanya nama yang diberikan terasa aneh di telinga teman-teman atau tidak sesuai dengan karakter pribadi anak tersebut,” papar Arsy.
Dirinya teringat sebuah tulisan di Mojok.co pada 2019, yang menyebutkan bahwa orang Manggarai atau Flores sering memberi nama yang melampaui zamannya. Pada awalnya, ia merasa tulisan itu salah, tetapi kemudian menyadari bahwa ada nama-nama yang tidak memiliki referensi dari kitab suci atau nenek moyang, dan nama-nama ini berpotensi dibuli oleh teman sepermainan.
Dalam kaitannya dengan identitas, menurut Beato Lanjong, nama adalah identitas yang disematkan dari luar yang menciptakan persepsi diri tertentu, meskipun yang diberi nama tidak menginginkan nama itu. “Seperti nama Singa Yehuda. Tokoh Singa Yehuda sendiri seperti tidak menghendaki nama itu karena bertolak belakang dengan sikap hidupnya,” komentar Beato.
Orang terakhir yang mengomentari nama sebagai identitas adalah Tommy Hikmat. Sejauh pengetahuannya, orang Kristen Protestan memang selalu menggunakan nama-nama yang ada dalam Perjanjian Lama untuk anak-anak mereka, karena kedekatan dan intensitas mereka dalam membaca dan merenungkan Kitab Suci. Dalam buku ini, nama karakter-karakter yang dipakai juga menunjukan fanatisme mereka pada ajaran agama. Melalui nama, mereka diajarkan untuk selalu mengikuti berbagai aturan agama, kadang secara sangat hitam-putih.
Logika Beriman
Hal yang cukup banyak menarik perhatian peserta adalah cara tokoh-tokoh menghidupi agamanya. Beriman yang berlebihan membuat mereka melihat semua hal dengan sudut pandang agamais. Cara pandang itu menurut Yuan ditemukan dalam bagian diagnosa kehamilan Mawarsaron yang oleh orang tuanya dianggap disebabkan oleh roh jahat.
“Orang tua Mawarsaron begitu bertumpu pada langit sampai mereka lupa kalau mereka berpijak di bumi,” tutur Yuan. Adapun lusifer sebagai entitas, menurut Yuan, sangat jauh dari pengalaman langsung. Namun agar cerita menjadi masuk akal, Venerdi menyiasatinya dengan cerita tindakan eksorsisme terhadap Mawarsaron yang sedang menjerit karena sakit melahirkan. Yuan menyimpulkan bahwa secara simbolik hal itu diinterpretasikan sebagai tertutupnya mata manusiawi oleh kepercayaan yang berlebihan terhadap Tuhan.
Kepercayaan berlebihan ini dilihat Armin Bell mirip dengan Extra Ecclesiam Nulla Salus dalam sejarah Gereja Katolik. Menurutnya sikap ini membuat orang tua Mawarsaron tidak mau mendengarkan anak mereka. Bagi orang tua setiap masalah dapat diselesaikan dengan doa.
“Padahal doa akan menyelesaikan masalah kalau kita juga ikut berjuang. Masalah tentang Mawarsaron dan Singa Yehuda akan terselesaikan kalau orang tuanya berdoa dan mendengarkan mereka bicara dan tidak setiap saat langsung bilang: kembalilah kepada Tuhan. Tuhan di tengah dunia yang profan seperti ini kan bisa kau temukan di banyak hal,” tutur Armin.
Sepakat dengan Armin, beberapa mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng; Trisno, Lolik Pahur, Galdi, Dini, Ningsi, Febi, Deri, dan Oce juga mengomentari peran agama dalam kehidupan.
Trisno menyoroti fanatisme agama mendorong tindakan ekstrem yang dilakukan oleh para pendoa terhadap tokoh Mawarsaron. Menurutnya, tindakan ini muncul bukan karena Mawarsaron benar-benar kerasukan, melainkan akibat fanatisme kepercayaan yang memicu perlakuan tidak manusiawi terhadap sesama. Ekstrem lain dari peristiwa ini menurut Lolik Pahur adalah hidup beragama membawa risiko berupa tanggung jawab sebagai umat beragama. Selain beriman secara fanatik, ada juga orang yang beriman secara pasif dengan tidak menunjukkan tanggung jawab terhadap keyakinannya.
Menurut Galdi dan Dini, penulis novel ini menghadirkan 3 karakter melalui tokoh yang religius seperti orangtua Mawarsaron, tokoh yang skeptis seperti Markus Jonathan, dan tokoh yang abu-abu seperti Mawarsaron. Keduanya sepakat, jika tokoh Markus Jonathan mengalami kebingungan dan keresahan tentang diri dan lingkungannya, yang kemudian membuatnya mempertanyakan berbagai aspek, termasuk imannya: apakah doa dapat menyelesaikan masalah seperti soal matematika? Dalam diri Mawarsaron hal itu menciptakan anggapan jika ia adalah anak yang tidak diinginkan.
Oleh Ningsi, Febi, dan Deri persoalan agama dikaitkan dengan komunikasi di dalam keluarga. Tekun beragama seharusnya diikuti dengan membaiknya komunikasi di dalam keluarga. Yang terjadi di dalam novel ini, orang tua Mawarsaron tampak memandang agama sebagai kebenaran tunggal, sehingga posisinya lebih penting dari hubungan di dalam keluarga.
Adapun Oce, melihat cara kerja bahasa roh yang dipakai dalam cerita eksorsisme ini amat membingungkan. “Saya masih perlu cari tahu bagaimana bahasa roh bisa dimengerti,” tutupnya.
Menjawabi tanggapan umum tentang agama, dr. Ronal Susilo melihat persoalan yang menimpa Mawarsaron sebagai persoalan medis. Menurutnya Mawarsaron tidak mengalami kerasukan tetapi mengalami baby blus syndrome. “Seseorang yang mengalami baby blus syndrome hormonnya menurun, daya tahan mentalnya berkurang. Jika tidak ditangani secara medis akan mengarah ke depresi atau minimal gangguan kecemasan. Baby blus sindrome dialami sebelum hamil, selama hamil, dan pasca hamil, sehingga perlu pakai obat penenang, bukan pakai eksorsisme,” tegas Ronald.
Oleh Lolik Apung, persoalan Mawarsaron juga adalah persoalan psikis. Menurut Lolik ada cara beragama yang mengukur iman dari kekayaan.
“Ketika keluarga Mawarsaron sedang miskin, mereka menganggap dirinya sendiri belum beriman. Hal ini membuat mereka menunda atau menolak proses kehamilan janin Mawarsaron. Agama melarang mereka hamil dalam kondisi yang miskin. Karena penolakan tersebut, Mawarsaron mengalami luka batin sejak dalam kandungan, yang kemudian menyebabkan ia mengalami gangguan jiwa/kerasukan setan,” tutupnya.
Teringat Film dan Gaya Penulisan
Beberapa peserta tampak berusaha berdiri pada posisi Venerdi. Mereka berusaha memahami teknik-teknik dan logika cerita yang dibangun Venerdi Handoyo.
Ketika membaca Lusifer! Lusifer!, Grace Djerta teringat film The Omen yang berkisah tentang anak lusifer dan satu film lainnya tentang seseorang yang dirasuki oleh 16 roh jahat. Kedua film ini membuat Grace mengajukan gugatan tentang mengapa perempuan sering dikaitkan dengan hantu dalam berbagai cerita. Dalam kisah-kisah kerasukan, perempuan juga sering menjadi sosok yang dirasuki. Greis juga mempertanyakan apakah ketatnya pemilihan perempuan dalam jemaat memiliki alasan yang sama dengan asosiasi perempuan dengan hantu atau kerasukan, yang mungkin berhubungan dengan konsep dosa asal.
Randy Ladja yang turut hadir dalam diskusi malam itu menjawab pertanyaan Grace ini dengan mengungkapkan novel ini membawanya pada film Agora (2009). Film ini berkisah tentang seorang filsuf perempuan bernama Hipatia yang diasingkan oleh gereja Katolik. Randy menjelaskan bahwa kemunculan filsuf perempuan tidak bisa diterima pada zaman itu ketika budaya Yunani kuno, menguasai kebudayaan dunia. Gereja Katolik yang dipengaruhi budaya Helenis itu membatasi gerak perempuan, termasuk dalam membaca kitab suci. Mereka kemudian menyingkirkan Hipatia dari posisinya sebagai dosen di salah satu agora, sebab ia mengajar laki-laki, sesuatu yang tidak lazim pada zamannya.
Asosiasi lain juga diungkapkan oleh Opin Sanjaya. Membaca novel ini seperti membaca “Metamorfosis” karya Franz Kafka. Dalam cerita Kafka, ia awalnya mengira bahwa tokoh Samsa benar-benar berubah menjadi kecoak, tetapi kemudian menyadari bahwa perubahan tersebut sebenarnya merupakan gambaran gangguan mental yang sangat berat. Hal serupa ia rasakan saat mengikuti perjalanan tokoh Mawarsaron, yang menurutnya juga mengalami gangguan mental yang luar biasa. Sebagai seorang guru, pengalaman ini memberinya pelajaran penting tentang berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata kepada anak-anak, karena ungkapan-ungkapan tertentu, seperti menyebut “kau mengandung anak lusifer,” termasuk dalam bentuk kekerasan verbal yang dapat berdampak serius.
Adapun Tino Mbagur, peserta yang berasal Komunitas Penggiat Seni Rupa dan Desain Manggarai Timur mengungkapkan bahasa dalam novel ini sangat friendly bagi pembaca sepertinya, sehingga novel ini tidak jenuh untuk dibaca. Terkait teknik penulisan, ia menemukan penggunaan teknik foreshadowing, yakni memberikan petunjuk atau bocoran yang membangkitkan rasa penasaran kepada pembaca. Ia juga menilai, penulis novel, Venerdi Handoyo, mampu mengemas tema fanatisme agama dengan cara yang menarik.
Diskusi pada malam itu terbilang ramai karena dihadiri 19 peserta. Peserta sepakat memberikan bintang 4 pada buku Lusifer! Lusifer! tersebut. [*]
Baca juga:
– Menyemai Benih Rekonsiliasi di Bawah Kubah Pegaten
– Grace Tioso Menulis Cerita sebagai Usaha Melawan

menurut saya, nama memang merupakan sebuah pemberian dari orang tua atau kerabat-kerabatnya. Jadi mau ngga mau sang anak harus menerima suatu pemberian nama tersebut🙏
Luarbiasa
Sangat ena dibaca