Kumcer Keluarga Oriente: Tragedi, Gangguan Jiwa, dan Isu Fatherless
4 Februari 2025| | 4 CommentsSaya menyadari, tampaknya benang merah dalam kumcer Keluarga Oriente adalah tokoh utama yang punya luka masa kecil.
Oleh: Ajen Angelina |
Buku pertamanya berjudul Surat-Surat Habel dan Veronica (Basa Basi, 2019). Dosen di Universitas Katolik St. Paulus Ruteng. Anggota Klub Buku Petra.
Kumpulan cerpen Keluarga Oriente adalah buku fiksi pertama yang saya baca enam bulan terakhir. Akhir-akhir ini saya banyak baca buku nonfiksi dan puluhan artikel penelitian. Kenyataan yang sedih, karena saya berjanji pada diri saya di masa lalu untuk minimal membaca karya fiksi sebulan sekali.
Setelah membaca buku ini saya kembali disadarkan mengapa membaca buku fiksi itu penting dan mengimbangi bukunonfiksi. Buku fiksi menggambarkan atau memberi contoh baik tentang real life atau menghidupkan teori. Membaca nonfiksi terutama self-help book memberimu pengetahuan, tetapi karya-karya fiksi memberi gambaran atau praktik pengetahuan tersebut.
Kok bisa? Baik, saya coba jabarkan …
Selain kumcer Keluarga Oriente karya Armin Bell, saya juga membaca Atomic Habits dan Homecoming, dua-duanya adalah buku self-help yang ditulis psikolog dan psikiater dari USA. Dua buku itu mengajarkan tentang perilaku, tekad, mengubah hidup, dan menyembuhkan trauma masa kecil. Membaca kedua buku itu memberi saya wawasan dan juga motivasi untuk berubah. Sementara itu, pada saat yang sama, ketika membaca 12 cerpen dalam Keluarga Oriente saya menemukan bahwa cerpen-cerpen Armin Bell ini memberi contoh nyata bagaimana trauma, kebiasaan dan kepribadian yang buruk mempengaruhi jalan hidup seseorang.
Mari kita bahas Keluarga Oriente lebih dalam …
Setelah membaca 12 cerpen dalam buku ini, saya coba mencari benang merah dari cerpen-cerpen itu, dan saya dapati: benang merahnya adalah tragedi dan gangguan kejiwaan.
Tragedi, terutama tentang masa kelam Indonesia, seperti G30S bisa ditemukan dalam cerpen “Puisi Apa yang Kau Tulis Setelah Hari Ini?”. Selain itu juga adalah cerpen yang mengambil kerusuhan ’98 sebagai latar, yakni “Ingatan”, “Keluarga Oriente”, dan “Orang Terakhir”. Kerusuhan di Dili, Timor Timur adalah tragedi lain yang ada dalam kumpulan cerpen ini, yakni pada cerpen “Carlos”. Tragedi alam sebagai akibat ulah manusia bisa dibaca di cerpen “Nada-Nada yang Rebah” dan “Foto Hutan”. Sedangkan tragedi para seniman dibicarakan dalam cerpen “Monolog di Penjara”, “Bertemu Kura-Kura” dan “Rahasia-Rahasia”.
Sementara itu, beberapa cerpen lainnya dalam buku ini memuat unsur gangguan jiwa, seperti dalam “Keluarga Oriente”, “Hari Minggu”, dan “Suatu Hari di Rumah Idrus”.
Saya tidak membahas lebih banyak tentang tragedi, tetapi membaca cerpen ini cukup menambah pengetahuan saya karena setelahnya harus melakukan pencarian tentang banyak tragedi di Indonesia yang Armin Bell singgung dalam cerpen-cerpennya. Saya hanya akan membahas beberapa hal yang dekat dengan saya sebagai seorang pengajar keperawatan jiwa, yaitu gangguan kesehatan jiwa.
Pada cerpen “Keluarga Oriente” ada Hilda yang mengalami depresi dan Martin Oriente yang tampaknya mengidap narcissistic personality disorder (NPD). Di cerpen ini kita bisa melihat bagaimana Orde Baru (masa-masa Indonesia dipimpin oleh Soeharto) meninggalkan luka jiwa dan raga pada Pedro, terutama karena kematian Ibunya. Di cerpen “Hari Minggu”, si penulis mengalami gangguan psikosis karena teman khayalannya seolah hidup; Ibunya yang depresi dan bunuh diri. Sementara Idrus dalam cerpen “Suatu Hari di Rumah Idrus” jelaslah mengidap skizofrenia. Saya ingat pernah membuat ulasan tentang cerpen ini dulu di Petra: Idrus memiliki harga diri yang rendah—yang merupakan penyebab banyak gangguan jiwa.
Jika kita membaca dengan cermat, ketiga cerpen di atas mempunyai kesamaan yaitu tokoh-tokohnya mempunyai orang tua yang “tidak molor (tidak becus)”. Hilda yang depresi dan bunuh diri dalam “Keluarga Oriente” adalah anak dari seorang Ayah yang otoriter dan mengidap NPD. Sementara itu, tokoh penulis dalam cerpen “Hari Minggu” memiliki ibu yang depresi dan Ayahnya menghilang sejak dia berusia lima tahun. Idrus dalam “Suatu Hari di Rumah Idrus” memang tak dijelaskan ke mana Ayahnya pergi. Tetapi Idrus digambarkan tidak mampu melakukan pertukangan sederhana—yang biasanya diajarkan seorang ayah—bisa diasumsikan fatherless.
Saat menulis ini, saya menyadari tampaknya benang merah di cerpen ini adalah tokoh utama yang punya luka masa kecil, yang salah satunya disebabkan karena kemiskinan.
Balik lagi ke tiga cerpen yang mengulas tentang gangguan jiwa tadi. Fatherless atau absennya Ayah pada anak, baik perempuan maupun laki-laki, membuat seseorang tidak percaya diri dan rentan mengalami masalah kesehatan jiwa. Tak lantas menggeneralisasi semua anak yatim. Fatherless bahkan terjadi juga pada anak yang punya Ayah secara fisik tetapi tidak hadir secara psikologis.
Penelitian mengungkapkan budaya patriarki di Indonesia mempengaruhi cara pandang dalam membesarkan anak; Ibu bertanggung jawab dalam mendidik anak dan ayah bekerja mencari nafkah. Fatherless ini memiliki pengaruh terhadap kesehatan dan perkembangan anak. Buku Homecoming mengungkapkan tentang kondisi ketidakhadiran ayah pada usia todler dan preschool meningglkan luka batin yang lumayan parah pada anak dan anak tumbuh jadi pribadi yang people pleaser, oversharing, dan memiliki risiko tinggi kecanduan game, judi, pornografi, alkohol, dan napza. Buku kumcer Keluarga Oriente banyak memberikan saya insight dan menyadari betapa susahnya menjadi orang tua yang baik, dan berharap sebelum menikah seseorang harus membekali dirinya dengan hal penting itu. Karena itulah saya merasa betapa pentingnya membaca buku fiksi bagi perkembangan fisik dan psikologis kita.
Namun jika diminta memilih cerpen mana yang paling saya suka dalam buku ini, saya akan memilih “Carlos”.
Saya membaca cerpen ini dua kali dan harus rehat beberapa hari untuk mencermati maknanya bagi saya. Saya menyadari satu hal tentang hal ini: betapa saya dan orang Manggarai kebanyakan suka sekali oversharing tentang hal yang sebenarnya tidak penting bahkan pada orang asing yang baru ditemui. Seperti Carlos.
Carlos bertemu si Aku pertama kali di pesawat dan kemudian menceritakan peristiwa pembantaian Cova Lima—yang saya baru tahu saat baca cerpen ini, yang saya google dan tidak baca lebih lanjut karena serem sendiri dengan kejahatan bangsa ini. Saya sendiri pernah seperti Carlos, bisa dengan gampang oversharing hal tidak penting yang seharusnya tidak perlu diceritakan. Ada beberapa penyebab oversharing dan yang paling sering adalah karena self-esteem yang rendah dan trauma. Carlos dalam cerpen ini jelaslah memiliki trauma mendalam sebagai saksi pembantaian Cova Lima. Oversharing adalah caranya mengobati trauma; ditambah kenyataan bahwa kejadian itu seperti ‘diredam’ sehingga generasi berikutnya seperti lupa bahwa hal itu pernah terjadi. Membaca cerpen ini membuat saya banyak berpikir tentang diri sendiri dan trauma dan juga betapa negeri ini punya banyak luka.
Yang jelas, membaca “Keluarga Oriente” adalah pengalaman membaca yang menarik. Saya pikir saya harus sering-sering membaca fiksi bagus. Buku kumcer ini juga mengajarkan saya untuk kembali memproritaskan kesehatan jiwa dan fisik saya, seperti juga selalu diingatkan dalam lagu Indonesia Raya: Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya. [*]
Tulisan ini sebelumnya dibacakan pada Bincang Buku Petra, Sabtu, 30 November 2024.
Baca juga:
– Melihat Lokalitas dalam Nadus dan Tujuh Belas Pasung
– Rumah, Tak Selalu Bikin Betah

masih kurangnya support system bagi penderita kesehatan mental bisa jadi dorongan untuk kita untuk memahami sudut pandang dari segala sisi yang bisa kita dapat di buku fiksi
Terkadang kita juga bisa baca buku non fiksi
Sama aku juga sukanya carlos
Bagus dan memotivasi