Menu
Menu

Jorge Luis Borges adalah salah satu figur utama kesusastraan abad ke-20 dan disebut-sebut sebagai salah satu tokoh sastra pelopor aliran realisme-magis.


Oleh: Lutfi Mardiansyah |

Lahir di Sukabumi, 4 Juli 1991. Menulis puisi dan menerjemahkan karya sastra. Buku puisinya Di Tepi Rawi (Kentja Press, 2020) mendapat Anugerah Kawistara untuk kategori sastra “buku kumpulan puisi terbaik” dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat pada 2022. Buku puisi terbarunya berjudul Cermin Bercecabang (Cantrik Pustaka, 2025). Saat ini tinggal di Bandung bersama istri, anak perempuan, dan seekor kura-kura.


Alhambra

Alangkah menyejukkan hati suara gemericik air
bagi mereka yang jemu dengan hitam pasir,
alangkah menyenangkan tangan yang melingkar
pada lekuk-lekuk pilar marmer,
alangkah menggembirakan labirin air lentur
di antara pohon-pohon lemon,
alangkah mencerahkan irama sajak zéjel,
alangkah membahagiakan cinta dan pinta
dipanjatkan pada Tuhan yang esa,
alangkah membujuk kesuma melati.

Sungguh sia-sia sebilah simitar
di hadapan tombak jenjang melembak,
sia-sia jadi yang paling adiluhung.
Alangkah lega-leluasa merasa atau menerka, raja yang berduka,
bahwa keselamatanmu ada dalam sabda selamat tinggal,
bahwa suatu kunci petunjuk ‘kan menampikmu,
bahwa salib kaum kafir ‘kan menghapus purnama,
bahwa petang pelipur ini ‘kan jadi yang terakhir.

Granada, 1976

.

Tempaan

Ibarat seorang buta yang tangannya
meraba-raba tembok dan mengerling langit
perlahan, menggelisahkan, kurasakan
dari celah retakan malam
sajak-sajak hendak berdatangan.
Mesti kubakar kegelapan lapuk ini
di jantung api unggunnya yang jelah:
kata-kata bercorak ungu
pada ujung cambuk waktu.
Mesti kusisipkan sedu malam hari
ke dalam permata padat puisi.
Tak mengapa seandainya jiwa
melangkah telanjang dan sendiri seperti angin
asalkan semesta kecup nan gemerlap
tetap mendekap hidupku.
Malam adalah sehampar bentala lambak
‘tuk disebari sajak.

.

Belati

Untuk Margarita Bunge

Sebilah belati bersemayam di dalam laci.
Ia ditempa di Toledo pada penghujung abad terakhir. Luis Melián Lafinur
    memberikan belati itu kepada ayahku, yang membawanya dari Uruguay.
    Evaristo Carriego pernah menjamah benda itu.
Siapa pun yang melihat belati itu pasti ingin menggenggam dan memain
    mainkannya, seakan selama ini ia telah mencari benda tersebut. Dengan
    cekat tangan mencengkeram gagang yang telah menanti-nanti, dan bilah
    patuh itu menggelincir keluar-masuk selongsongnya dengan bunyi ceklik.
Bukan ini yang diinginkan belati itu.
Belati itu lebih dari sekadar struktur logam; seseorang membuat dan membentuk
    belati itu dengan tujuan tunggal dalam benaknya. Belati itu, dalam suatu cara
    yang baka, adalah belati yang semalam menikam seseorang di Tacuarembó
    dan belati yang menujami Caesar. Belati itu ingin membunuh, ingin serta-
    merta menumpahkan darah.
Di laci meja tulisku, di antara lembaran-lembaran manuskrip dan surat-surat
    lama, belati itu berulang kali mengangankan mimpi-harimaunya yang
    sederhana. Saat memegangnya, tangan jadi hidup sebab logam itu jadi
    hidup, merasakan dirinya sendiri, tiap kali digenggam, bersentuhan dengan si
    pembunuh yang untuk dialah ia ditempa.
Kadang kusesali hal itu. Daya dan niat tunggal semacam itu, begitu tenang atau
    lugu keangkuhannya, dan tahun-tahun berlalu, tanpa diacuhkan belati itu.

.

Catur

I
Di penjuru remang mereka, para pemain
Menyebar pion-pion lamban. Dan papan catur
Menawan mereka hingga fajar, dalam kompasnya
Yang sengit, di mana dua warna saling sengketa.

Di dalamnya, figur-figur itu memancarkan daya
Sihir: benteng Homerus, serta kuda
Langkas, menteri petarung, raja terbelakang,
Kuncung dengan gerak miring, dan bidak-bidak garang.

Tatkala para pemain telah pergi, dan
Waktu memupus mereka sama sekali,
Ritus itu takkan gentas.

Perang itu mula-mula berkobar di timur
Yang gelanggang terbukanya kini menjelma dunia.
Dan seperti yang lainnya, permainan ini tak terhingga.

.

II
Raja nan rawan, kuncung yang menyamping, dan menteri
Haus darah; benteng yang lempang, bidak-bidak cerdik—
Memintasi jalan setapak hitam-putih mereka
Menyergap dan mengusung perang.

Mereka tak tahu, tangan cerdik
Para pemainlah yang menyetir takdir mereka,
Mereka tak tahu, suatu ketegasan nan tekak
Menundukkan kehendak bebas serta jengkal mereka.

Tetapi para pemain itu pun tawanan
(Kata pepatah Omar) pada papan catur yang lain
Dari malam-malam hitam dan siang-siang putih.

Tuhan menggerakkan para pemain dan ia, sebuah bidak.
Ilah apa berada di balik Tuhan, yang berasal dari jalinan
Debu dan waktu dan mimpi dan mala?

.

Seni Puisi

Menatap sungai yang tercipta dari waktu dan air
Dan mengingat waktu adalah sungai yang lain,
Menginsafi sesungguhnya kita sirna bagai sungai
Dan wajah-wajah itu lebur laksana air.

Menyadari bahwa mimpi yang terjaga bukanlah tidur
Meski ia adalah mimpi yang lain, dan maut
Yang raga kita masuki dengan jeri adalah maut
Yang hadir setiap malam dan bernama tidur.

Mencerap di dalam hari atau di dalam tahun, simbol
Dari hari-hari manusia dan tahun-tahunnya,
Mengubah kekejaman di dalam tahun-tahun tersebut
Menjadi musik, gumam suara, dan simbol,

Menilik dalam tidur, dan dalam terbenam matahari
Kesedihan berwarna aurum seperti puisi,
Abadi dan geruh. Puisi
Kembali seperti terbit dan terbenam matahari.

Adakalanya di malam hari seraut wajah
Menatap kita dari kedalaman cermin;
Seni semestinya sebagaimana cermin
Menampakkan pada kita wajah kita sendiri.

Mereka mengatakan Ulysses, jelak dengan mukjizat,
Menyeka airmata cinta tatkala menampak Ithaca-nya,
Hijau sahaja dan sederhana. Seni adalah Ithaca
Keabadian hijau itu, bukan mukjizat.

Ia juga bagai sungai tak berujung-pangkal
Mengalir dan konstan dan adalah cermin tak tetap
Menyerupai cermin Herakleitos, yang sama
Dan beda, bagai sungai tak berujung-pangkal itu.

***

Tentang Jorge Luis Borges |

Jorge Luis Borges, lahir di Buenos Aires, Argentina, pada 24 Agustus 1899, adalah seorang penyair, penulis cerita pendek, esais, penerjemah, kritikus sastra, dan juga pustakawan. Borges sering disebut-sebut sebagai salah satu tokoh sastra pelopor aliran realisme-magis yang banyak memengaruhi penulis Spanyol-Amerika Latin seperti Gabriel García Márquez, Carlos Fuentes, José Donoso, dan Mario Vargas Llosa. Karya-karyanya antara lain Fervor de Buenos Aires (kumpulan puisi, 1923), Luna de Enfrente (kumpulan puisi, 1925), Historia universal de la infamia (kumpulan cerita pendek, 1935), Ficciones (kumpulan cerita pendek, 1944), El Aleph (kumpulan esai dan cerita pendek, 1949), El Hacedor (kumpulan puisi dan prosa pendek, 1960), El libro de arena (kumpulan cerita pendek, 1975), dan lain-lain. Bersama Samuel Beckett, pada 1961 Borges dianugerahi Formentor Prix oleh International Congres of Publisher; dan pada 1971 dianugerahi Jerusalem Prize. Di usia senjanya Borges mengalami kebutaan. Salah satu figur utama kesusastraan abad ke-20 ini wafat di Jenewa, Swiss, pada 14 Juni 1986.


Ilustrasi: The Dream (Odilon Redon), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Eugenio Montale
Epigram-Epigram Kallimakhos
Dunia, Seribu Tahun Kemudian – Cerpen Juza Unno


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *