Menu
Menu

Tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta pada novel Bek sebagaimana mencintai Ulid. Mahfud selalu bisa mengemas cerita yang menyentuh tanpa memaksakan kalimat-kalimat bernada melankolis.


Oleh: Hasvirah Hasyim Nur |

Lahir dan besar di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kini tinggal di Blitar bersama anak dan suami. Bekerja sebagai ibu rumah tangga dan sehari-hari berjualan pembatas buku di Marketplace. Senang membaca novel dan menulis ulasan ringkasnya.


Identitas Buku

Judul: Bek
Pengarang: Mahfud Ikhwan
Tahun Terbit: 2024
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 364 halaman
ISBN: 978-623-189-365-9

***

Menurutku, kita perlu mempunyai minimal satu penulis yang diidolakan pun dicintai gaya menulisnya. Beruntung, sebab aku sudah menemukannya.
Nama Mahfud Ikhwan pertama kali kudengar pada tahun 2014 ketika Kambing dan Hujan menjadi pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Selepas itu aku tidak pernah bisa berpaling lagi. Kulahap tulisannya yang tersebar di media, kubaca semua esainya di kolom rebahan Mojok.co. Meski memang benar bahwa belum semua bukunya sudah kutamatkan.

Tapi aku punya pembelaan. Seperti halnya mengoleksi buku dan tidak membacanya, bukan berarti kita benar-benar tak ingin mengetahui semua isi di dalamnya, tapi aku ingin memperlakukannya sebagai penolongku di masa-masa kritis. Ketika sedang jenuh dengan daftar bacaan yang ada, atau ketika Mahfud Ikhwan terlalu lama tidak melahirkan karya baru, aku selalu punya beberapa bukunya yang belum kubaca. Maka itulah saatnya.

Rasanya agak canggung ketika membaca Bek dan mendapati bahwa yang digunakannya adalah sudut pandang orang pertama. Kata ‘aku’ sudah terlalu akrab bagiku ketika membaca tulisan non-fiksi Mahfud Ikhwan. Maka ketika tokoh Isnan menarasikan dirinya sendiri dalam buku ini, aku tidak bisa melepas sosok Mahfud Ikhwan dalam bayangan: aku, Isnan, Bek, dan Mahfud Ikhwan adalah satu orang yang sama. Hampir membaca seratus halaman, barulah aku bisa berdamai bahwa Ulid adalah kisah yang lain, dan Bek harus dibaca sebagai karya fiksi. Bukan autobiografi.

Tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta pada novel Bek sebagaimana mencintai Ulid. Mahfud selalu bisa mengemas cerita yang menyentuh tanpa memaksakan kalimat-kalimat bernada melankolis. Semakin sederhana ia mengungkapkannya, semakin nyeri rasanya di dada. Memang tidak sesesenggukan Ulid, tetapi justru poin plus buku ini terletak di situ. Bagaimana mungkin seorang penulis bisa begitu lihai membuat tulisannya terasa begitu proporsional nyaris di segala lini?

Pembaca bisa dibuat tertawa geli dengan tingkah Isnan yang mengecek tiang listrik satu per satu atau ketika ia se-kepo itu akan istilah dan nama-nama pesepak bola yang didengarnya di radio, tetapi di waktu yang hampir bersamaan, mata kita bisa saja tiba-tiba berair karena terharu maupun sedih. Ini tidak terjadi hanya dalam satu atau dua adegan, tapi berulang, dan ini membuat perasaanku sebagai pembaca serasa dipermainkan. Dalam arti yang positif.

Aku selalu menyukai cara Mahfud menyusun dialog dalam novelnya. Proporsional, relate, nyata. Tidak ada kesan dibuat-buat. Ketika ada adegan mencuri air kelapa bersama Muslim misalnya, dialog yang dihadirkan memang sebagaimana mestinya apa yang terjadi di sana. Kita sebagai pembaca pun bisa lebih mudah membayangkan. Bahkan kadang terasa sekali adegan itu bermain di depan mata.

Namun, pada akhirnya buku ini tetaplah memiliki semacam garis pembatas yang hanya bisa dilalui oleh pembaca tertentu. Bukan soal isu, melainkan tema besarnya. Judulnya sendiri adalah Bek, maka praktis isinya tidak akan jauh dari sepak bola. Aku tidak mau bilang bahwa sepak bola adalah milik laki-laki, tapi aku juga tidak bisa memungkiri bahwa fakta di lapangan memang lebih banyak pemain bola, juga penggemar bola, adalah laki-laki. Maka novel Bek ini sebenarnya bisa dikatakan sangat segmented. Ia akan lebih menarik minat laki-laki dibandingkan perempuan.

Aku bisa bilang bahwa tulisan Mahfud, tentang apa pun itu, bahkan sereceh pepaya—receh dalam artian pandangan kita sebagai orang awam yang tidak terpikir untuk menuliskan hal serupa—bisa dengan mudah dinikmati dan membuat kagum. Namun sekali lagi, untuk membaca Bek, dibutuhkan kesabaran menghadapi bahasan-bahasan tentang bola yang kadang berada dalam narasi yang terlalu panjang. Aku bahkan mengacungi jempol pada diriku sendiri karena berhasil membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, adegan demi adegan, nama demi nama pemain sepak bola yang dijejalkan dalam satu dua kesempatan. Tapi sebenarnya, siapa pun kita, sedikit banyak bisa tetap menikmati adegan sepak bola yang dijejalkan. Karena hidup di belahan dunia mana pun, pasti ada satu atau dua momen yang membuat kita bersinggungan dengan sepak bola.

Dalam kasusku, hubunganku dengan sepak bola tidak pernah seintim itu. Tapi seperti umumnya warga Indonesia yang tidak gemar atau kadang-kadang saja menonton bola, aku juga punya ingatan yang cukup spesifik terkait bola. Barangkali tidak secara langsung tetapi melalui kejadian-kejadian di sekitarku yang melibatkan kerabat.

Membaca Bek membawaku pada Khamsah (bukan nama sebenarnya) yang tiada lain adalah sepupuku sendiri. Seperti saling kelindan dengan kisah Isnan di dalam buku ini, apa yang dialami Khamsah tidak jauh berbeda. Cinta mereka pada sepak bola mungkin sama besarnya, cita-cita mereka untuk menjadi pesepak bola mungkin sama tingginya, tapi seperti yang ditulis Mahfud, kita tak pernah bisa memilih mimpi:

“Orang-orang selalu bicara tentang cita-cita besar, tentang mimpi-mimpi tinggi. Yang tak pernah mereka bicarakan ketika bicara tentang mimpi adalah kita sebenarnya tak pernah bisa memilih mimpi kita; ia selalu datang sendiri. Yang lebih buruk, sesungguhnya kita tak pernah bisa mengendalikan dan mengatur di mana dan bagaimana mimpi itu akan berujung: kau bisa mimpi terbang dan kau bangun ketika menukik jatuh dan mati ….” (hal. 272).

“Jika menjadi bek atau bahkan pesepakbola profesional adalah sebuah mimpi, final yang tak pernah menjadi milik kami itu adalah tendangan di pantat yang melemparkanku dari dipan dan membangunkanku ketika keadaan belum menjadi terlalu buruk ….” (hal. 272).

Adik sepupuku Khamsah mewakili Kecamatan Lambandia ke tingkat kabupaten dalam ajang O2SN di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Saat itu dia berada di penghujung tahunnya sebagai siswa SMP. Meskipun tidak mendapatkan juara dalam laga yang diikutinya, seorang pelatih bisa melihat bakatnya dalam bermain sepak bola. Sang gelandang itu pun diberikan tawaran untuk masuk SSB (Sekolah Sepak Bola) secara gratis.

Momen-momen SMA yang dijalaninya sambil mengikuti latihan sepak bola di SSB tampaknya sudah semakin mendekatkannya pada impian sebagai pesepak bola profesional. Sebagai keluarganya, kami pun turut senang. Jika mendapat kabar dia akan ikut tur ke Sulawesi Selatan bahkan pulau Jawa untuk laga persahabatan, kami selalu merasa lebih bungah dari biasanya. Tapi tidak perlu menunggu waktu lama sebelum impian untuk tampil di televisi layaknya si kembar Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa terpupus. Setiap sore latihan fisik selama hampir empat tahun, mengasah kemampuan sepak bola hingga cukup layak untuk ikut audisi sewaktu-waktu, tetapi ketika sudah saatnya terbangun dari mimpi, semuanya akan hilang dalam sekejap.

Dalam kasus Khamsah, tentu saja faktor ekonomi yang menjadi penyebab utama. Setamat dari SMA, masa depan sebagai pesepak bola profesional sepertinya masih butuh waktu dan usaha yang lebih, sementara kondisi perekonomian orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan dua anak lain dan satu orang dewasa yang bisa dibilang menganggur dalam masa pelatihannya. Maka seperti sebagian besar anak muda di kampung kami, nama Antam di Pomalaa, atau tambang nikel di Morosi maupun Morowali jauh lebih menggiurkan dibanding menyepak bola sembari disoraki ribuan penonton dan disorot kamera dari berbagai sisi. Maka berangkatlah Khamsah ke Morosi, bergabung bersama ratusan ribu TKA asal China yang sudah lama menunggu kehadirannya.

Aku mungkin tidak pernah mendukung satu tim pun di liga sepak bola Indonesia. Tidak juga mengidolakan secara spesifik satu klub bola intenasional. Tetapi kalau ada tim sepak bola yang akan kudukung untuk pertama kalinya, pastilah tim yang diwakili Khamsah. Namun sayang sekali sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Sang gelandang kini sibuk mengoper tuas F-N-R pada wheel loader. [*]


Baca juga:
Dawuk: Kalajengking dan Ular dan Kita
Di Timur Matahari, dari Papua untuk Indonesia


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *