Menu
Menu

Sebagai masyarakat sipil sekaligus buruh tani mereka pun turut menyumbangkan kontribusinya kepada bumi Mangir.


Oleh: Gendra Wisnu Buana |

Dosen Telkom University. Co-Founder Spasi Creative Space.


Merah di seisi ruangan. Koreografi tari menampilkan dua kubu sedang berhadapan, saling serang. Tongkat dibolak-balik menjadi senjata dan perisai. Saling membentur. Kedebug. Pasukan jatuh untuk bangkit lagi. Sesekali gertakan tongkat bersengkarut dengan komposisi gamelan dalam suasana perang.

Balatentara Mangir, balatentara desa itu berhasil memukul mundur Mataram. Lampu padam.

Sebagaimana ciri khas garapan Teater Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD), teater kawakan asal Tegal, pembukaan pementasan selalu disajikan dengan sesuatu yang memikat dan mendebarkan. Seperti cinta pada pandangan pertama sepasang remaja. Lakon Mangir garapan Yono Daryono yang terinspirasi dari berbagai sumber, termasuk karya drama Pramoedya Ananta Toer, menjadi produksi ke-74 Teater RSPD. Telah dipentaskan pada Sabtu, 25 April 2026 lalu di Teater Arena, Taman Budaya Tegal.

Tulisan ini tidak berupaya menguliti pertunjukan tersebut. Penokohan, artistik, alur cerita, dan sebagainya biarlah dibahas oleh kritikus seni dan para seniman. Namun, terdapat sebuah fragmen dari lakon “Mangir” yang cukup menggoda pikiran terlebih karena momen yang bertepatan dengan peringatan Hari Buruh di awal Mei lalu. Hari yang dirayakan dengan jogetan dalam vibes kicau mania.

Buruh di Perdikan Mangir

Konsepsi tentang buruh dan civic society (masyarakat sipil) tergambar dalam tokoh Bandot (Fathur Rizki), Menot (Moh. Ali), dan Noyo (Ubaidillah) dalam garapan naskah dan sutradara Yono Daryono itu.

Menot dengan dialek Tegal, yang berkali-kali entah mengapa membawa gelak tawa penonton, tergesa-gesa mengajak Bandot untuk pergi ke alun-alun. Bandot menolak ikut. Ia memilih berleha-leha. Menot terus mendesak karena ini adalah perintah Ki Ageng Mangir: Semua pemuda di desa Mangir diwajibkan mengikuti latihan perang demi melawan Mataram.

Perbincangan itu kemudian membuat mereka bersitegang. Noyo mencoba meredam emosi mereka. Sia-sia. Menot bersikeras bahwa penolakan Bandot mengikuti latihan perang adalah sebuah pengkhianatan kepada Ki Ageng Mangir Wanabaya, penguasa perdikan Mangir.

Perdikan merupakan daerah otonomi (swapraja) yang takluk pada suatu kerajaan, tetapi dibebaskan dari kewajiban membayar upeti atau pajak. Pandangan lain mengartikan perdikan sebagai sebuah wilayah yang tidak berada dalam kekuasaan raja mana pun.

Pram kemudian menyebut perdikan Mangir sebagai republik desa. Karena rela mempertahankan wilayah mereka, yang hanya berjarak 20 KM di barat daya kerajaan Mataram (Kota Gede), demi menjunjung kehormatan dan martabat—sebuah kisah permusuhan yang menggambarkan proses mulai dari kekuasaan kecil hingga terbentuknya negara Mataram.

Wanabaya menolak membayar upeti kepada Mataram dan memilih perang demi republiknya, Menot mengamininya. Berbeda dengan Bandot dan Noyo yang mempersoalkan pembangkangan Ki Ageng Mangir terhadap Mataram. Menot memberi label pengkhianat pada Bandot dan Noyo. Mereka lantas mengelak. Menurut mereka, pertumpahan darah tidak seharusnya ada.

Sebagai masyarakat sipil sekaligus buruh tani mereka pun turut menyumbangkan kontribusinya kepada bumi Mangir. Jika Bandot tidak bertani, siapa yang akan memberi makan rakyat Mangir? Kusir dokar, penari ronggeng, serta dukun, semua memiliki jasa kepada republik. Karena semestinya membela republik memang tidak selalu dengan cara-cara yang heroik.

~ Pementasan "Mangir" | Foto: Dok. Teater RSPD Tegal

~ Pementasan “Mangir” | Foto: Dok. Teater RSPD Tegal

Buruh Seni

Persoalan buruh yang tersirat dalam pertunjukan “Mangir” membawa diskusi lanjutan mengenai nasib buruh di zaman kiwari. Penetrasi kapitalisme membawa kita terus bergantung pada pasar untuk melanjutkan hidup. Termasuk hidup para seniman. Seni menjadi komoditas yang terus digenjot oleh para pemodal melalui industri budaya.

Selain dari kegiatan berkesenian, kita tahu banyak seniman menyambung hidup hanya jika menjadi “buruh” dan memiliki kerja sampingan, seperti melatih siswa untuk ikut lomba, ikut proyek dalam sebuah event, menjual kerajinan tangan, jasa foto dan video, membuat mural di kafe maupun perkantoran, jualan kopi maupun makanan, dan lain sebagainya. Jasa-jasa yang diperlukan dalam kehidupan di masyarakat daripada karya seni itu sendiri.

Dalam pertunjukan “Mangir”, Teater RSPD Tegal telah mempertontonkan kepiawaian para aktor, musik, dan tari sekaligus membawa kembali angin segar dalam lanskap seni di Tegal. Tazkiyyatul Muthmainnah, Wakil Walikota Tegal, turun gunung untuk memainkan peran sebagai Kanjeng Ratu Mas dalam lakon Mangir. Sebuah langkah baik yang patut kita apresiasi.

Namun, keberpihakan pemerintah dan upaya pemajuan kebudayaan memerlukan tahapan lebih lanjut, seperti intervensi kebijakan yang berpihak pada pengarusutamaan budaya dalam perencanaan pembangunan kota termasuk juga nasib para “buruh” seni.

Kita dapat melihat contoh seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah. Mereka menetapkan kebijakan yang memikirkan keberlanjutan warisan seni tradisional melalui pertunjukan “Wayang Orang Sriwedari” di Taman Sriwedari, Surakarta. Setelah melalui perjalanan dan perjuangan yang panjang, para seniman yang setia menjaga warisan kesenian tradisional tersebut akhirnya memperoleh dukungan dari pemerintah. Setidaknya, para pemainnya kini memiliki penghasilan tetap karena berstatus sebagai ASN.

Sementara di Yogyakarta, kegiatan kesenian nyaris tidak pernah putus setiap bulannya, baik di Taman Budaya Yogyakarta maupun di berbagai ruang kebudayaan lainnya. Sebagian kegiatan difasilitasi oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dana Keistimewaan. Keberpihakan semacam itu memungkinkan kesenian terus tumbuh di tengah masyarakat, meskipun tentu kebijakan tersebut bukanlah satu-satunya model yang sepenuhnya ideal. Perihal keberlanjutan kehidupan seni tersebut penting terutama dalam menyiapkan ruang untuk bertumbuh bagi generasi selanjutnya.

Pada Sabtu, 2 Mei 2026 lalu saya berkesempatan pulang ke Tegal dan menemui beberapa kawan baik sebagai juri maupun penyelenggara dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat SMA/SMK di Kabupaten Tegal. Di sana, seperti juga banyak di daerah lain, tampak anak-anak muda penuh potensi bersemangat mengikuti perlombaan berbagai cabang seni yang selalu diadakan setahun sekali mulai dari tingkat daerah, provinsi, hingga nasional.

Setelah anak-anak diajak mencintai seni dan budaya daerahnya beberapa di antaranya barangkali akan terus nekat bercita-cita menjadi seniman. Kemudian kelak mereka akan kembali mempertanyakan nasib sebagai “buruh” seni yang hidup di kota-kota pinggiran. Buruh yang telah menyumbangkan kebanggaan atas kekayaan budaya Indonesia dan selalu berhadapan pada sebuah nasib: rela hidup (dan mati) berkali-kali demi republik ini. [*]


Baca juga:
Bertemu Pramoedya Ananta Toer di Bukan Pasar Malam
Pentas Teater X-Ray Mission: Melampaui Batas Panggung


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

3 thoughts on “Kisah Mangir dan Catatan Atas Nasib Buruh Seni”

  1. olivia sinaga berkata:

    gimana buat kirim tulisannya?

  2. Valino Lumasanay berkata:

    Halo saya ingin kerja untuk mendapatkan uang saya berharap pekerjaan saya bisa di terima

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *