Puisi-Puisi Novan Leany – Ingatan yang Patah di Simpang Jalan
20 Juni 2026| | 0 Commentjendela yang memberi separuhtubuhnya diangkut ke truk-truk sawit menuju ingatan yang patah di simpang jalan
Oleh: Noval Leany |
Seorang penulis dan peneliti. Menulis puisi dan esai yang telah terbit di berbagai media massa dan meraih sejumlah penghargaan. Emerging writer dan perwakilan Kalimantan Timur pada Makassar International Writers Festival 2024 dan Majelis Sastra Asia Tenggara 2025. Buku puisinya Dingin Kenangan Anak Batang: Huma, Cinta, dan Tragedi diterbitkan Interlude. Saat ini ia adalah bagian Komune TerAksara dan Mangata. Juga, mengajar di salah satu kampus dan sedang menempuh studi doktoral di Yogyakarta.
Panggil Aku, Ibukota
waktu tak memberi izin kau menjalar
persis kelok bayang separuh ulin
ingin tumbang ke perigi adalah
kita, serupa tiang-tiang warung
cuma bertapa memikul lembaran
berisi raut lima puluh wajah
seorang anak sembari berkata,
“aku kearifan, usai terusir
dari tempat tinggal kita, batu,”
pernah terkenang seorang anak tak kau kenali
yang membuat perahu kertas dari lembaran itu,
untuk dilarungkan ke kanal kemudian
mahakam jadi jalur persimpangan
segala pertanyaan menimbun
secabang sunyi masa kecilmu
tetapi seseorang masih
di sana, bermain gelincir
gemanya berkepak
mendayung uap tongkang
serupa gumpalan hari-hari
lebur dalam tubuh usia
dan kau tahu angin jantan itu
pernah berhembus
dari bait Korrie
lantas apalah lagi, toh
rumah cuma sepetak QRIS
dan tanda pengenal, setiap pagi
kota jadi kwitansi kosong dan kita
berserah menunggangi kemacetan
demi menengok langit terhimpit.
Tengadah. Seperti mencari jalan
longgar pada sesak cemas
dalam rongga dada
“apa kau mengenalnya, di ujung sana
nafasnya sengal meniup peluit dan
tak henti meniru nyiur melambai-lambai,
tapi tak jua kunjung sampai.”
suatu saat kita pun jua,
akan bertengkar tentang
pantun apa yang santun
disampaikan, sebelum
pengantar pidato
akan dibacakan,
untuk menyapa mereka
dan bertanya, ”Siapa
di antara kalian menjadikan
lemang sebagai sarapan?”
sesaat mereka ingat
penyesalan, “Ia adalah tubuh kami
dalam kukus matahari demi berkorban
menyembuhkan kemanakan
reda dari demam.”
tengok secabang sungai itu menelan banyak wajah
bertebaran, dari lembaran perahu kertas yang kau kenali,
kumal dan letih, tanggal di batu-batu dan pernah
kau panggil ia sebagai kearifan
2025
.
Menolong Kupu-kupu
tak seorang pun mengerti mengapa
kupu-kupu singgah di bahunya, meski lamban
persis sore menipis perlahan serupa kesabaran
dan anak itu termangu di ayunan
terbayang pasang-naik ke pangkuan,
wajah-wajah mereka
masih lalu lalang dalam kepalanya
mirip sein hauling pengangkut batubara
sedang dendam adalah basah jalanan
seusai badai dan Bengkirai
tumbang ke tengah
memenggal batas nasib persis pejabat
tidur di ruang rapat telungkup
di ujung tepi;
mendengkur tentang hutang hutan
perusahaan mirip cicit Jangkrik ingin melompat
ke ilalang
mungkin, sebuah dusun lahir dari
pangkal lumpur sawah yang menempel di siku-siku
anak-anak sekolah usai membawa tubuh terlipat
dalam tumpukan Ompreng
“aku sisakan susu, roti, dan doa untuknya,” kita semua
tahu, ia menyimpan
nama-nama asing yang terapung-apung
dalam suara lemah persis
denting lonceng,
yang tak dapat dipastikan memanggilnya datang
pada hari minggu, apa itu pendeta kita,
mungkin,
anak itu tak lagi bisa berlari
sebab,
napas terlalu berat di dada
mengangkut berita penangkapan
bapaknya
dan kebencian itu, berpijar
dalam ingatan persis pita reflektor
pada kemeja penambang
saat malam minim
cahaya seperti iman
”ambil lenganku, singgahi perih
dari sari bunga atau getah,”
ayunan bergoyang
ranting dengan tali putus sebelah; sesuatu
yang menolak ingin melorot ke pangkuan
seperti air mata yang sia-sia
ia masih termangu, dan tahu dadanya
juga penjara, menjeruji warna
pada potret keluarga
(mana lebih merah antara
kita, tanah, dan darah)
“kupu-kupu, ini lenganku,
selamatkan bapak, aku ingin berlari.”
2025/2026
.
Sebelum Mencari Bidara
kabar kematian jatuh ke jantung ladang saat lumbung
derita masih dikandung dalam perut masa lalumu. orang-orang
bermata tojok itu menyebutnya jendela yang memberi separuh
tubuhnya diangkut ke truk-truk sawit menuju ingatan yang patah
di simpang jalan, mana letak petilasan terakhir mendiang? kandua
raya, di urat riam tempat anak-anak mengumpulkan kesedihan di antara
batang bambu, segala pertanyaan dikukus jadi lemang, dan tangan
kota tak pernah menyuapinya makan. sebab, hati kita umbu pahit
seperti pegawai desa, menyelipkan sunyi dalam tumpukan map dan
mesin ceklok, tapi siapa peduli? angin rindu yang masam pada bisik
persinggahan di balik daun telinga gadis senoni. kau bertanya,
apa arti luka di antara kita; tirai digeser mempersilakan matahari
menginjak potret mempelai, walau perlahan, atau jalanan basah
dan pohon-pohon mati muda, selain nama kita, tumbang memenggal
tepi kesakitan? kabar kematian jatuh ke jantung ladang seperti
kaki-kaki sore yang lelah melarikan diri dari renyai gerimis persis
seorang ibu menggendong malam di belikatnya sambil mencari-cari
namamu, yang mendendam pulang
2025
Ajarkan Kami, Cara Membuat Bencana
“beri kami bencana,”
anggap saja kedua mata kami
ini lubang hidung, persis pintu gua
yang meruntuhkan debu ke masa remajamu,
suara-suara lemah bertengkar
tentang ulat dalam sebiji jambu
seperti diam-diam
memperbincangkan cara menebang
pohon di ruang rapat
seperti nama tuhan yang kami
sembunyikan dalam kepala
seperti buta kawah tambang
di tengah perkotaan
yang melelapkan seorang
bocah perenang
maka, di kota, tawamu
hanyalah spatula dan rinjing
yang berdebat di gerobak nasi goreng,
saat kampung makin gelap seperti bawah panci,
sebagaimana kami, menyimpan masa depanmu
pada kerak di dasar dandang
“ini mimpi biru sudah kalian ganti;
sekardus mie, telur ayam, dan kesedihan
yang instan,”
hidup adalah daun muda, juga ilalang
yang menelantar ke kaki-kaki kota
dan halaman rumah kami tak lagi
terbaca: sepeda tersandar
di pagar, kotak surat
kehilangan bahasa
dan sunyi pada sepasang
kursi tamu
mau apalah lagi,
rumah-rumah seperti bangkai lembu
dan rasa haus pada bayi
menggigit tidur kami
sedang, jasad seorang ibu
tergeletak persis bukit sawit,
lengannya memeluk tanah seperti
tak sempat mengungkap tanya,
“apa arti bencana.”
tapi, siapa pun tak mengerti matanya, dulu
seperti muara sebelum hujan dan
memukat seperti teratai tercerai-berai
yang bermekaran di fajar dadamu
padahal, kalian tahu,
semua jendela bisu, tersisa
bocah perempuan mengusap uap pada kaca
sambil memainkan bayang wajah
dan sesekali, ia menyimpuni nama
ayahnya di antara lumpur
dan reruntuhan atap
seperti menyerah
oleh suara pada langit
yang runtuh, untuk memaksanya
berdiam diri dari hari kemarin
yang gemeretap
“tuhan, beri kami bencana.”
2025
.
Bapakung I
kau tak bertanya mengapa kemarau
makin ngengat di tubuh kita, dan
kehilangan adalah kemeja lembab
adalah dingin yang menarik usia
bahwa hujan tak sampai ke tanah
seperti tawamu, ingatan runtuh
dipenggal suara mesin gergaji
di ujung rimbun bengkirai, tapi
kau tak mengelak meminjamkan
tubuhmu dari lubuk sungai penuh
perahu dan lanjong menggelepar
ditinggalkan: akulah beras, sekerat
pisang, dan labu mencari-cari
tungku laparmu yang retak,
dayung-dayung patah menyapu
sedihmu mirip peti moyangmu
dibenamkan ke air dan kau tak bertanya,
mana yang sampai berlabuh
lebih dulu antara air mata
dan bayanganmu
sendiri, adalah kenangan
yang lumpuh persis
tunggul tiang bendera
di ujung kota
yang membatu
2026
.
Bapakung II
aku bulan pada pagi
dan hal pertama yang paling menunggu
adalah bayang matahari tertuang
di jendela sunyi itu, dan langit
sejelang gelombang gagal
menenggelamkan batas petang
mengapa lengan kita yang menyembunyikan kumbang
tak jua menumbuhkan bunga-bunga?
pinjamkan tubuhmu dari bau daun
dan keheningan: aku keputusasaan
bagai lengan ranting
menanti runtuh, sesaat
seekor belalang
memanggul kesedihan
di atasnya, sedang kau
cuma melayu dengan
ilalang menyapu-nyapu
tebing waktu
yang sejak lama
dihuni burung hantu
pergilah, pergi,
rindu seakan bukit murung
yang jauh menghimpit
gelisah dalam dadamu,
bagai malam menyerahkan
wajahnya yang sakit
seperti dedaunan kering
terbakar dalam tubuhmu:
menguar asap masa lalu
menyemak mata kita
mengapa lengan kita yang menyembunyikan kumbang
tak jua menumbuhkan bunga-bunga?
2026
.
Catatan Penyair:
Sependek perjalanan kepenulisan ini, tema-tema sejarah, budaya, dan sosial yang menemani masa kecil saya, boleh dikata cukup dominan dalam puisi-puisi sederhana ini. Selain itu, kalaupun sebagian mengatakan bahwa puisi-puisi saya selalu kritis, seakan-akan mengambil posisi yang “berlawanan dan bertentangan” di tanah kelahiran saya sendiri, posisi ini saya sadari, dan menurut saya memang harus ada yang memilih posisi itu. Karena apa pun posisinya, semua memikili peran besar dalam mengangkat kebesaran peradaban di tanah kelahirannya. Meskipun, suatu saat saya pun akan dilupakan ataupun gagal memberi ruang pada puisi untuk persoalan-persoalan yang jauh dari dalam dan tentang diri saya sendiri.
Ilustrasi: The Face Behind the Window (Toyen), dari WikiArt.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Michael Djayadi – Mencintai Pagi yang Dingin
– Puisi-Puisi Baitiyah – Mengenakan Pakaian Kecemasan
– Puisi-Puisi Gody Usnaat – Sahabat Anana Pedalaman
