Menu
Menu

Hanya terus kudengar panggilanmu/ seperti lamat-lamat kuhidu/         hangat hangus batu arang.


Oleh: Dedy Tri Riyadi |

Penulis yang juga praktisi periklanan dan marketing. Lahir di Tegal, sekarang mukim di Tangerang Selatan. Pernah menjadi Penyair Muda Berbakat situs sastra Basabasi, Penulis Puisi Terbaik situs sastra Litera dan Festival Literasi Tangsel. Buku puisinya yang berjudul Berlatih Solmisasi sempat masuk ke daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa. Tengah menyiapkan buku puisi bertema Tionghoa dan sebuah novel tentang suatu peristiwa di Banten.


Bunga-bunga yang Tak Ada di Sekitar Makam Ibuku

1. Anggrek

“Teruslah memanggilku.”

Aku meminjam selarik itu dari Sohrab
untuk merasakan kembali kehilangan ini.

Hidup sudah memakamkanmu
jauh ke dalam kenangan.

Tapi wangi tak mungkin hilang
dari udara, ia menjelma kelopak putih
dan imbau lirih, “Datanglah…”

Waktu hanyalah pengandaian sederhana
dari peristiwa mekarnya bunga. Kau di sana
tapi aku tak ada, atau sebaliknya—

hidup selalu akan memperlakukanku
selayaknya piatu. Dibiarkannya aku berjalan lurus
sampai pada suatu ruang terbuka:
dan tetap

            kau tak ada di sana.

Hanya terus kudengar panggilanmu
seperti lamat-lamat kuhidu
         hangat hangus batu arang.

2. Seruni

Dari caranya meledakkan dunianya,
aku percaya—hidup tak akan pernah hampa.

Ia menyebarkan renik-renik benihnya,
sebagaimana para nabi:

jatuh di selokan,
atau di rerumputan
di mana tikus dan kelinci sama besarnya.

Bahkan di sela bebatuan—
tempat ular tedung itu muncul lalu menghilang.

Saat matahari hangat dan angin kesiut,
ia menyahut, “Aku tak pernah kehabisan kata-kata.
Sebab firman, sumur tak pernah kering.”

Mahkota mungil itu tetap terbuka
di antara segala yang tak menunggu.

3. Cempaka

Tak pernah ada waktu untuk bermuram
di depan jendela.

Geletar pada kaca
mengantar yang bakal tiba.

Tidak—ia tak datang
dengan jubah menakjubkan,
hanya sebungkus kain
seolah tergesa menuntaskan doa.

Kau mungkin tak mengenalinya.
Ia ingin berada paling depan,
meski gugup.

Tapi sebelum sempat terlihat,
seseorang yang menyimpan harapan
diam-diam memintanya pergi—

dan ia pun hilang
ke dalam sesuatu
yang belum kita beri nama.

4. Seroja

Aku tak pandai merangkai bunga.
Bahkan bunga-bunga tak ada padaku.

Di lumpur ini,
Hidup terserak, tergeletak.
Tak ada yang ingin memungutinya.
Hanya kau muncul.

Aku ingin menamaimu—Harapan.
Meski sekarang bukan saatnya berharap
sebuah keajaiban.

Aku hanya merangkai apa yang ada:
hangat hangus, benih firman, gugup doa,
dan kuncup yang muncul dari lumpur.

Selebihnya, biarkan pintu itu
menentukan; kapan aku boleh masuk—

memenuhi panggilanmu.

2026

.

Tiga Hal yang Tak Kumiliki Saat Ini

1. Burung Balam

Sejak anak-anaknya terbang berperang,
lagunya lenyap dari udara.
Kertap sayapnya pun tak terdengar lagi.

Sarang kini ruang hampa—
tanpa asmara,
tanpa gerutu manja.

Malam demi malam,
suwung beringin kurung.

Hanya ada seekor kobra
setia menabur bisa.

2. Bunga Bakung

Gerumbul
di tepi jalan setapak itu,
kini milik biawak.

Di sana ia tak ragu
untuk muncul
dan berlama-lama
mengintai mangsa—

entah seekor balam,
atau telur ular.

Seandainya selain lantana,
mekar bunga bakung,
orang-orang memilih
jalan itu

menuju pantai.

3. Benih Bakau

Laut tumbuh
     seperti semak.
Pantai ini terus
     tergerus arus—

semakin hilang
jalan nelayan
       menjala ikan.

Sudah terlambat.
       Semua terlambat.
Meski kini
kau bawakan bagiku
benih bakau—

pulau ini hilang pukau.

2026

.

Overture

(Grave)

Bahkan sebelum tirai
di rumah tuhan dikoyakkan,
namamu sudah terdengar
seperti suara sesak napas
di dada Kayafas.

Nama yang dipanggil
              dengan harapan terkecil
sebelum diantar dengan himar muda
                             ke arah gerbang kota

sebagai tanda
bahwa tandan mekar,
jari-jari dedaunannya
                           terkembang

sebagai ganti doa
di rumah-rumah para ibu
yang anak-anaknya
                        mati berperang.

Nama yang menggenangkan lagi
warna dan wangi darah
diulas waktu. Tanda harus ada
yang menghunus pedang
dan memulai sebuah saga.

(Allegro)

Hosana!
Kini aku diperjalankan
sebagai seorang peziarah
di kota orang kalah.

Hosana!
Aku melihat mereka
duduk bersimpuh
seakan buta dan lumpuh
menunggu nasib disentuh.

Hosana!
Kudengar tongkat diketuk-ketuk
di atas lantai marmar
dan gemerincing lonceng
di pinggang imam
            seturut jalan menuju altar.

Tapi ini bukan kuil
atau istana,
hanya gubuk buruk
di mana orang tersengal
dan terbatuk
begitu tersiar
             kabar tentangmu.

Biarkan gerbang terbuka!

Dia meminta
agar yang tiba-tiba datang
dapat lekas pergi
dan kota kembali sepi.

Ah, gerbang memang
lubang jarum. Setiap yang lewat
    ditimbang, dihitung.

(Sforzando)

Jangan kau tuang
      anggur sekarang.

Seorang serdadu
masih melirik ujung seligi—
cukup sekali ditusukkan
mustahil ada yang bisa
tegak kembali.

Coba saja melempar batu,
menerka kapan batas
kita mengutuk nama itu?

(Coda)

Untuk sebuah nama

kau hadirkan bayang
membungkuk
           di tembok kota

atau mendengar
gerak rukuk dan sujud
      dalam aula istana.

Sebuah nama
yang mengoyak tirai
dan membuat gagap
Imam Kepala
seolah lupa
isi seluruh kitab.

2026

.

Catatan Penyair:

Sekian lama menulis puisi, saya selalu digelisahkan oleh banyak hal termasuk di luar soal menulis puisi. Kondisi kehidupan saya saat ini, rasanya sedang berada di titik terendah dalam hidup. Itulah mengapa saya mengais-ngais kembali, apa yang bisa dikumpulkan kemudian “dijual” untuk bisa bertahan. Semangat itulah yang saya gunakan dalam menulis tiga puisi yang saya kirimkan ke redaksi sastra Bacapetra beberapa waktu lalu.

Secara tema, ketiga puisi yang saya kirimkan yaitu “Bunga-bunga yang Tak Ada di Sekitar Makam Ibuku”, “Tiga Hal yang Tak Kumiliki Saat Ini”, dan “Overture” cukup beragam, tapi yang jelas cara pengerjaannya sama: hal kecil yang dihimpun ke dalam sebuah hal besar. Pengikatnya secara eksplisit ada pada judul, misalkan bagian nama-nama bunga diikat dengan judul “Bunga-Bunga yang Tak Ada di Sekitar Makam Ibuku” itu, atau “burung balam, bunga bakung, dan benih bakau” diikat dengan frasa “Tiga Hal” yang ada pada judul. Untuk “Overture” barangkali sedikit berbeda. Sebagaimana diketahui, overture adalah musik pembuka dari sebuah pertunjukan (drama). Dalam overture, terdapat bagian-bagian yang seolah menceritakan suatu peristiwa dengan alurnya dari awal, konflik, hingga bagian akhir. Masing-masing bagian dalam overture memiliki nama. Itulah yang saya bangun dalam puisi tersebut, dengan menyandarkan satu peristiwa yang terjadi di dalam salah satu kitab Perjanjian Baru sebagai alusi membangun ketegangan.

Ketiga puisi tersebut merupakan percobaan baru bagi saya dalam menulis puisi. Bukan benar-benar baru sebenarnya, karena di awal karir berpuisi, saya juga sempat menuliskan beberapa puisi dengan model seperti ini. Namun persoalan sebenarnya bukanlah sekadar nostalgia, tapi bagaimana sebuah penulisan itu benar-benar menyatu dan dapat menyampaikan pesan dengan baik. Karena puisi yang baik tentu puisi yang mampu menjalarkan getar sejak di awal sampai nanti setelah pembacaan berakhir. Bahkan setelahnya lagi.

Bagi saya pribadi, di tengah kehidupan yang makin rumit dan menyesakkan, berpuisi adalah satu-satunya cara untuk tetap bisa merasakan diri sebagai manusia yang berdaya secara jiwa. Paling tidak, berpuisi menghindari diri dari berpikir tentang putus harapan. Dan karena kondisi yang tengah terpuruk, saya mencari apa yang nyata tapi juga tidak nyata yang ada di sekitar hidup saya. Bunga-bunga dalam puisi saya tersebut, jelas sesuatu yang tak saya miliki secara harfiah, saya tidak menanam bunga di lingkungan tempat tinggal saya yang sempit. Demikian juga dengan burung balam atau benih bakau, tempat tinggal saya cukup jauh dari pinggir laut, dan saya pun bukan orang yang mampu membeli tiket pertunjukan opera. Namun, semua itu bisa dijumpai dalam kehidupan banyak orang.

Begitulah, lewat puisi, saya kais apa yang bisa saya kais, untuk disajikan sebagai suatu karya yang bisa dinikmati orang lain.


Ilustrasi: The Blue Window (Henri Matisse), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Semua yang Menyembul dari Balik Tirai – Widya Mareta
Hari-Hari adalah Perkabungan – Oliena Ibrahim
Bunga Iris Liar – Louise Glück


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *