Puisi-Puisi Gody Usnaat – Sahabat Anana Pedalaman
10 Januari 2026| | 9 Commentsbola bulat buah gomo/ sahabat anana pedalaman/ pagi, dong pigi main/ lupa jalan masuk kelas
Oleh: Gody Usnaat |
Kini tinggal di Kampung Umuaf, Distrik Web, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Buku-buku puisinya: Mama Menganyam Noken diterbitkan Penerbit Kompas, Bertemu Belalang diterbitkan Penerbit JBS, dan Hari Minggu Bersamamu diterbitkan Penerbit Dusun Flobamora.
Melintas Jalan Kecil
setelah lama tunggu
guru
anana pulang
seperti anak ayam, jalan
lempar mata ke kiri-kanan
cari tempat hinggap
markus melintas jalan kecil dusun
yang depu lumpur saja
macam dahak begitu
dapa tanjakan, de ketemu
barisan semut
potong jalan, panjat ranting
menuju sarang
di kejauhan, kabut
gerak ke kaki tebing
terus, markus bikin jalan
masa depan
pelan seperti kura-kura punya gerak kaki
pergi dan tiba di rumah
(2025)
.
Di Dalam Kelas
di dalam kelas, saya ikan
mati di telaga
di luar sana
seperti anak-anak ayam kejar belalang
begitu sudah sapu teman-teman
saya tunggu guru, lama sampe
cemara dapa mati
(2025)
.
Mama di Kebun
di kebun, setiap pagi sampe siang lanjut sore
mama bersihkan rumput, kas gembur tanah
sampe mama dapa keringat biji jagung
di tanah, mama lepas petatas
dan tanam pisang dan tancap keladi dan tikam batang sayur lilin
masa depan yang senantiasa tumbuh subur
beberapa hari ini
saya ikut mama—ke kebun
keringat mama tetes
dapa tanah
di langit, awan gelap
malam hujan datang bermain
di kebun
(2025)
.
Anana dan Bola
bola bulat buah gomo
sahabat anana pedalaman
pagi, dong pigi main
lupa jalan masuk kelas
lonceng bunyi
bikin diri tuli
sekolah, trada guru dan buku
hanya bikin anana tambah
kalah
bola dapa tendang dari lukas
terbang melengkung
kas tinggal rumput
seperti kodok hijau lompat
penjaga gawang
tepis bola
(2025)
.
Mencintaimu
cinta serupa bahu mama
pikul satu ikat kayu kering
ko itu sudah, tungku
di dapur su dari lama tunggu
cinta kita, api
bakar kayu kering
bara panas bikin sampe
air di belanga mendidih
mari dikz
kita bikin janji:
dalam suka dan duka
dalam sehat dan sakit
sama-sama
jadi asap
jalan taputar sentuh atap dapur
singgah bukit dan gunung, tembus langit
walau hidup
sebagaimana berat kayu satu ikat
tapi mencintaimu
hidup rasa ringan
walau satu dunia baribut
di kota manusia banyak sibuk
tapi mencintaimu
rasa macam sa hidup di dusun tuale
hidup tenteram
(Ubrub, 2025)
Ilustrasi: Landscape with The Village Children (Efim Volkov), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Michael Djayadi – Cahaya Terakhir
– Puisi-Puisi Syeftyan Afat – Tidur di Dalam Mimpimu
– Puisi-Puisi Rika Prima Nanda – Saat Hari-Hari Terasa Seperti Kabut

gokillll kk
wahhhh, bagus puisinya masyaallah
wahhhh dari kerom ya, saya juga orang keerom
hilang arah demi cinta salah
cukup bagus cuma ada beberapa yang harus diperbaiki
Ulasan Puisi “Ubrub, 2025”
Puisi ini yang diberi judul “Ubrub, 2025”, tampaknya merupakan karya puitis yang mengangkat tema cinta dan komitmen dalam kehidupan sehari-hari. Ditulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya bebas dan metaforis, puisi ini menggunakan elemen-elemen dapur sebagai simbol untuk menggambarkan hubungan asmara. Saya akan memberikan ulasan analisis berdasarkan tema, gaya bahasa, struktur, dan kesan keseluruhan, dengan pendekatan tujuan namun apresiatif.
1. Tema dan Isi
Puisi ini secara utama mengeksplorasi cinta sebagai kekuatan yang mampu mengatasi tantangan hidup. Penggunaan metafora dapur—seperti tungku, api, bara, belanga, dan asap—menjadikan cinta sebagai elemen vital yang “membakar” dan “mendidihkan” kehidupan. Baris seperti “cinta kita, api / bakar kayu kering / bara panas bikin sampe / air di belanga mendidih” menunjukkan bagaimana cinta memberikan energi dan kehangatan, bahkan dalam kondisi sulit. Janji untuk bersama dalam “suka dan duka” serta “sehat dan sakit” mencerminkan komitmen abadi, yang dilambangkan oleh asap yang naik ke langit, melampaui batas duniawi.
Tema ini diperkuat oleh kontras antara beban hidup (“sebagaimana berat kayu satu ikat”) dan ringannya cinta, serta perbandingan antara kehidupan kota yang sibuk dengan ketenteraman dusun. Puisi ini optimis, menekankan bahwa cinta bisa membuat hidup terasa “ringan” dan “tenteram” meski di tengah kegaduhan dunia. Judul “Ubrub” (mungkin merujuk pada kata dalam bahasa daerah yang berarti “api” atau “bara”) dan tahun 2025 menambahkan nuansa futuristik atau spekulatif, seolah-olah puisi ini adalah ramalan atau harapan untuk masa depan.
2. Gaya Bahasa dan Bahasa
Bahasa puisi ini campuran antara bahasa Indonesia baku dan informal, dengan sentuhan dialek atau gaya percakapan (misalnya “ko itu sudah, tungku” yang terdengar seperti “kok itu sudah, tungku” atau “mari dikz” yang mungkin “mari dikit”). Ini memberikan kesan intim dan dekat dengan pembaca, seolah-olah puisi ini adalah ungkapan pribadi. Penggunaan kata-kata sederhana seperti “tunggu”, “bakar”, “mendidih” menjadikannya mudah dipahami, namun metafora yang kaya (api sebagai cinta, asap sebagai perjalanan bersama) menambah kedalaman filosofis.
Kekuatan utamanya terletak pada imajinasi visual yang kuat—pembaca bisa membayangkan adegan dapur yang hangat dan penuh harapan. Namun, ada beberapa kelemahan: bahasa terkadang terasa tidak konsisten, dengan baris yang pendek dan terputus-putus, yang mungkin membuat ritme terasa agak terburu-buru. Beberapa kata seperti “taputar” (mungkin “taput” atau “putar”) atau “sibuk” bisa diperbaiki untuk kecerahan, tapi ini tidak mengurangi daya tariknya.
3. Struktur dan Bentuk
Puisi ini menggunakan struktur bebas tanpa rima yang ketat, dengan bait yang panjangnya bervariasi. Ini cocok untuk tema yang mengalir seperti asap, memberikan kesan alami dan spontan. Pembagian menjadi bagian-bagian (dari deskripsi dapur hingga janji dan refleksi hidup) membuatnya mudah diikuti, meskipun beberapa baris terasa seperti puisi prosa. Panjangnya yang sedang (sekitar 20 baris) membuatnya ringkas namun padat, tanpa bertele-tele.
4. Kesan Keseluruhan dan Penilaian
Secara keseluruhan, puisi ini adalah karya yang hangat, romantis, dan penuh harapan, cocok untuk pembaca yang menyukai metafora sehari-hari. Ia berhasil mengubah rutinitas dapur menjadi simbol cinta yang abadi, menunjukkan kreativitas penulis dalam menghubungkan dunia fisik dengan emosi. Dibandingkan dengan puisi cinta klasik Indonesia (seperti karya Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono), ini lebih sederhana dan modern, dengan sentuhan lokal yang menjadikannya relatable.
Peringkat: 4/5. Puisi ini kuat dalam imajinasi dan tema, tapi bisa lebih halus dalam bahasa untuk meningkatkan dampaknya. Jika ini karya Anda, saya sarankan untuk bereksperimen dengan ritme atau membaca keras untuk memastikan alurnya lancar.
hai
bagus
Menghilanglah bagaikan debu
perasaan hangat yang dulu kurasakan
sekarang sudah tak ada arti
seperti butiran debu
yang hilang bagai tertiup angin
kini kau tlah menjadi kenangan
yang slalu ku mimpikan kala ku tertidur
bahkan kenanganmu bagai tinta permanen
yang meninggalkan bintik hitam slama lamanya