Bumilale
17 Juli 2026| | 0 CommentDia dicerabut paksa dari kampung halamannya, dijadikan pelampiasan berahi, hingga akhirnya dicampakkan begitu saja di Bumilale.
Oleh: Lommie Ephing |
Sejumlah cerpennya terbit di beberapa majalah remaja Nasional. Novel pertamanya, Triangular Labyrinth terbit di Gramedia Pustaka Utama. Lommie adalah penulis terpilih dalam Sayembara Gerakan Literasi Nasional (GLN) tahun 2024 dan 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Novel keduanya, Namia Belum Pulang (PenerbitKita, 2026) bergenre fiksi sejarah. Dia juga aktif berkegiatan di komunitas Timur Menulis.
Renjisan embun di permukaan dedaunan belumlah kering betul ketika Ina Boi menggorok leher seekor babirusa dengan sebilah parang panjang. Darah kental sewarna fua loman[1] muncrat dan merembes ke tanah seiring erangan putus-putus hewan ungulata tersebut meregang nyawa. Hampir tak terdengar siutan angin atau suara gesekan daun detik itu. Bahkan seekor gagak di salah satu cabang pokok meranti merah pun bungkam tatkala menyaksikan ritual menukar nyawa pagi itu. Ina Boi selanjutnya berlutut di tanah lembap, bersimpuh sembari terus tanpa henti merapal mantra, menyebut―tanpa bersuara―nama-nama Na Leit[2] yang turun temurun dipercaya mampu menyembuhkan setiap keturunan mereka dari wabah penyakit mematikan.
Melalui mantra-mantra purba yang dikomat-kamitkan lewat angin dan udara, Ina Boi memanggil segenap roh para leluhur, memohon berkat demi kesembuhan cucunya tersebab sakit misterius yang menggerogotinya. Segala ramuan dari dedaunan penyembuh telah digodok dan dimantrai doa-doa oleh tetua adat, namun tanda-tanda kesembuhan tak jua hinggap di paras Muka Heren yang kian hari kian ringkih. Kulitnya yang sebelumnya bak porselen kian lepuh seperti habis dibakar hidup-hidup. Sanak kerabat menyebut sakit yang melumpuhkan remaja empat belas tahun itu tidak lain dan tidak bukan tersebab kutukan leluhur. Sehingga satu-satunya cara mencapai titik kesembuhan hanyalah dengan melakukan ritual Jiwa Filin[3]. Jiwa gadis remaja yang sakit-sakitan itu sedianya dipindahkan ke tubuh hewan babirusa sebagai tumbal. Setelahnya hanya ada dua pilihan; hidup lama sekali atau mati tak sampai beberapa hari.
Ina Boi lambat-lambat menyentuh kubangan darah babirusa dengan ujung jari, lalu dikecapnya sedikit dengan ujung lidah. Turun temurun darah babirusa atau ayam hutan dipercayai sebagai media persembahan kepada Opolastala[4] guna memuluskan ritual menukar nyawa. Perempuan Gebfuka itu bergeming, bibirnya yang merah bertangkup sepuhan sirih pinang sedikit bergetar seiring ingatan serta kilatan mimpi aneh beberapa tahun silam berkelebat. Sesuatu yang buruk akan datang, pikirnya. Ina Boi percaya, pekik panjang burung Guheba di keheningan tua selama tiga malam berturut-turut mengandung pertanda buruk.
“Segera kuburkan babinya!” seru Ina Boi pada Wai Roit sambil bersicepat menyeka sebulir embun yang terbit di kelopak matanya dengan punggung tangan sebelum lolos dan meleleh di pipinya yang kopong. Meski tak yakin cucunya akan memperoleh segenap restu leluhur, Ina Boi tetap menuntaskan segala ritual.
Dan benar saja. Tak ada keajaiban yang terjadi setuntasnya ritual dilakukan. Muka Heren masih saja terbaring selonjor kaku dan nyaris tak bergerak di sudut dipan. Tubuhnya kurus, sementara kulitnya kuning kecoklatan bak malai hotong siap panen. Kelopak matanya layu tak ubahnya pelepah daun pisang tua yang hanya menggelantung sebab enggan menanggal. Menyaksikan itu semua, Ina Boi hanya bisa mengurut dada seraya menyenandungkan inafuka[5], sambil berharap rasa sakit yang menggerogoti cucunya bisa sedikit berkurang tersebab nyanyiannya.
Jauh sebelum ini, sekiranya tak ada yang patut dikhawatirkan dari kondisi kesehatan cucunya. Tumbuh kembang Muka Heren boleh dibilang sama saja dengan kebanyakan gadis-gadis remaja Gebfuka lainnya. Semasa kecil gerakannya lincah sebab dikaruniai sepasang tungkai yang kuat. Jika beberapa anak seusianya kala itu masih lamban berbicara, Muka Heren bahkan sudah bisa melafalkan satu dua lirik lantunan inafuka meski terbata-bata. Meski memiliki warna kulit berbeda dengan anak-anak lainnya karena lebih putih dan cerah, Muka Heren tetap berperilaku sama seperti yang lain. Ketika masih bayi dalam gendongan, Muka Heren jarang sekali sakit dan tak rewel. Menangis pun jarang-jarang, sebab perutnya hampir selalu dibuat kenyang oleh susu segar yang langsung dikedot lewat puting susu babi di kandang mereka. Pun belasan kilo berjalan kaki membelah hutan belantara Buru setiap hari tak jadi soal baginya. Sejatinya, hutan adalah tempat bermain paling aman bagi anak-anak Gebfuka hingga dewasa. Hutan dan segala isinya selalu bisa memberi mereka persediaan makanan yang melimpah, memberi kehidupan yang layak, sekaligus kutukan keji bagi mereka yang melanggar.
Beranjak remaja, Muka Heren terampil meramu hutan, menanam ubi jalar, mengusir babi, hingga memanjat pohon kelapa. Ina Boi acap terbantu dengan kehadiran Muka Heren tersebab cucunya itu begitu penurut dan hampir tidak pernah membangkang setiap kali diberi perintah mengerjakan ini dan itu. Ya, Muka Heren tumbuh seperti laiknya anak-anak yang lain, secuil tanda-tanda akan terserang sakit parah pun tidak tampak sama sekali. Sampai suatu hari, lewat tengah malam buta, ketika suara uhu burung hantu terdengar bersahut-sahutan di kejauhan, Muka Heren mendadak menjerit dengan suara keras alih-alih dicekik seseorang dalam kegelapan, lalu tergelak, lalu meracau dalam bahasa yang tak mereka pahami.
“Lalu, sekarang bagaimana, Ina?” Wai Roit menundukkan wajahnya dalam-dalam di samping Ina Boi. Lelaki itu sungguh mencemaskan kondisi putrinya, sebab Muka Heren tak habis-habis mengeluh sakit perut dan mendapati segumpal darah beku mengalir keluar dari sela liang kemaluannya yang perawan. Setelah hening yang cukup lama mengisi udara, Wai Roit kembali mendongakkan wajah takut-takut. “Jadi benar, putriku sungguh-sungguh dikutuk oleh leluhur kita, Ina?”
Bibir Ina Boi terus membungkam. Entah bagaimana mengatakannya, namun besar kemungkinan segala tanda-tanda kutukan itu bermula dari keputusan Wai Roit bersikukuh mengawini salah satu perempuan berkulit putih, yang lewat penuturannya yang sedikit ngawur kala itu, sengaja dijatuhkan dari langit untuk dia peristri.
* * *
Hari itu, menjelang gelap Wai Roit muda dengan tubuh liat legam bermandikan asin keringat serta dengus napas tersengal-sengal tengah membawa pulang sesosok perempuan muda alih-alih seekor babirusa ke gubuk mereka laiknya memanggul hasil buruan besar. Sepanjang jalan orang-orang yang dia lewati terpukau oleh putih kemilau betis perempuan yang dipanggulnya. Ketika ditanya, dari mana ia menemukannya, Wai Roit menjawab dengan sengit bahwa perempuan itu sengaja dijatuhkan dari langit, dan boleh jadi sengaja diberikan Opolastala untuknya, dan dia berhak membunuh siapa saja laki-laki yang berani dekat-dekat atau menyentuh perempuan itu tanpa seijinnya. Wai Roit yang kala itu dengan letupan rasa bangga tak berkesudahan mengatakan bahwa leluhur telah menjawab segala doa yang dia haturkan siang malam untuk segera memperoleh istri.
Sementara itu, Ina Boi yang petang itu tengah sibuk mengupas dan membersihkan ubi jalar di pinggir sungai kecil setinggi mata kaki ketika tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan salah satu perempuan Gebfuka. “Ina, cepatlah pulang. Wai Roit membawa pulang Hian[6].”
Ina Boi terkesiap, lalu bergegas mengakhiri kesibukannya mencuci ubi jalar. Setiap langkah kaki yang diseret di tanah menyimpan semacam gundukkan keresahan di benaknya. Entah kebodohan apa lagi yang dilakukan putra bungsunya kali ini sampai ia harus membawa pulang mayat manusia?
Semua orang Gebfuka terlihat berdiri mengerubungi hasil buruan Wai Roit dengan penuh minat ketika Ina Boi muncul di kejauhan. Tak seorang pun bergumam apalagi mencoba membangunkan si perempuan yang terkulai layu di tanah, kecuali Wai Roit. Lelaki itu seakan tak habis-habis menjamah tubuh dan menghaturkan harap agar si perempuan bisa lekas sadar setelah ia mengguncang-guncang tubuh kakunya berulang kali. Namun tetap sama saja, perempuan bertungkai jenjang tersebut tak ubahnya seekor anak babi yang tak berkutik usai dihunus sebilah tombak tepat di bagian kepala.
“Untuk apa kau membawa pulang mayat perempuan ke permukiman kita?” Itulah kalimat pertama yang tercetus dari bibir Ina Boi usai meludahkan cairan warna merah sirih pinang di tanah, persis di samping rambut perempuan yang ia duga telah menjadi mayat itu. Sama seperti yang lain, Ina Boi pun mengira perempuan muda yang tergeletak persis di depan mulut gubuk itu sudah mati beberapa menit sebelum ditemukan Wai Roit.
“Aku mau mengawininya, Ina!” empat kata itu terucap begitu saja dari bibir Wai Roit, dan belum pernah seumur hidupnya dia merasa seyakin hari itu.
Ina Boi dengan suara sarkas kembali meludah di tanah. “Kembalikan jasad itu ke tempat di mana kau menemukannya. Atau langsung kau kubur saja, terserah di mana pun, asal jauh dari permukiman kita.”
“Tapi dia belum mati, Ina,” sela Wai Roit, tetap bersikukuh.
“Kalau begitu kubur saja dia hidup-hidup!”
Wai Roit kontan kehilangan keahliannya membantah, kecuali suara-suara menggerundel aneh dan samar-samar sebagai bentuk penolakan. Tapi lelaki itu tak punya pilihan selain kembali memanggul perempuan itu di pundaknya yang kukuh, lantas membawanya menjauh dari permukiman. Sebagai lelaki yang telah matang secara seksual, Wai Roit sedikit terluka egonya mendengar perintah ibunya. Memang apa salahnya jika ia kawin? Toh semua kawan-kawan sebayanya sudah kawin-mawin dan beberapa bahkan sudah beranak-pinak laiknya babi. Opolastala pun memberinya restu. Wai Roit kesal dengan apa yang menggerogoti isi kepalanya detik itu. Dia menjadi sangat-sangat marah.
Ya, Wai Roit pantas marah. Sudah lama sekali ia mendambakan kehadiran seorang wanita berbaring di sampingnya, terlebih kala malam mendesirkan dingin di setiap inci kulitnya yang telanjang, sementara rasa kesepian dalam dadanya kian menggenap. Bujang itu merasa sudah tiba saat di mana kemaluannya menemukan pasangannya. Cukup sudah ia merasa tersiksa karena kesulitan mengontrol salah satu insting paling purba dalam dirinya manakala daging ama wakan[7] miliknya membengkak di waktu-waktu tak terduga. Lebih-lebih Wai Roit sudah muak hanya mengocok kemaluannya sehari-harian. Ia tak bisa selamanya merancap terus menerus. Ia ingin hidup seperti mendiang ayahnya; kawin dan punya keturunan sebanyak yang bisa dihasilkan oleh babi-babi di hutan-hutan Kayeli.
Setelah kelelahan berjalan belasan kilo sambil memanggul tubuh perempuan di pundak, Wai Roit memilih merebahkannya di bawah pokok batang pohon besar, tepatnya di sela-sela akar pohon besar yang menyerupai sekat-sekat dinding. Kini di sekelilingnya tak lagi tampak apa pun selain gulita. Suara dengung nyamuk menyebalkan terdengar begitu jelas. Lelaki itu lantas memotek beberapa ranting dedaunan di dekatnya untuk mengusir kawanan nyamuk-nyamuk lapar yang bergerombol hendak menyuntik kulit mulus si perempuan lalu mengisap darahnya.
Nyaris semalaman Wai Roit tidak tidur demi menjaga si perempuan itu dari tidurnya, sekaligus berjaga-jaga dari kemungkinan kemunculan binatang buas yang mengintai dalam kegelapan. Lelaki itu yakin betul, tubuh perempuan yang berbaring di hadapannya belumlah menjadi jasad seperti yang dicetuskan Ina Boi, sebab nadinya jelas-jelas masih berdenyut meski sangat lemah. Wai Roit tidak lagi peduli. Ia yakin tidak ada yang salah dengan keputusannya. Tidak ada yang namanya kutukan atau semacamnya, pikirnya. Jalan hidupnya sudah tertulis, begitu pun dengan perempuan itu, dan leluhur hanya tinggal mengawasinya saja dari langit tanpa perlu mencampuri segala hal yang menjadi keinginannya.
Entah dorongan dari mahluk tak kasatmata mana, Wai Roit begitu ingin sekali mendekat dan menciumi kulit leher si perempuan. Mendadak ia diperhadapkan dengan ledakan napsu berahi dan dingin menggigit dalam satu waktu. Lantas dia memberanikan diri menelusuri tubuh perempuan yang berpendar dalam gulita itu dengan kekar jemarinya. Begitu dekat, hingga berdebarlah jantung Wai Roit ketika dihadapkan pada gundukan daging kenyal di dada perempuan itu. Lelaki itu kemudian menangkup salah satu gundukkan lalu menghirup dalam-dalam aroma lembut berbaur keringat samar-samar yang menguar dari balik selapis kaus tipis si perempuan. Dalam gelap wajah lelaki itu seketika memerah, dan keringat di sekujur badannya melimpah. Tanpa sadar, segumpal daging di puncak zakarnya membengkak. Sejurus kemudian Wai Roit mendapati dengus napasnya yang memburu berbaur suara-suara lenguhan babi di kejauhan.
* * *
Berselang sehari setelah ritual Jiwa Filin, Muka Heren didapati mati kaku di dipan. Kelopak matanya yang layu mengatup sebaik-baiknya kelopak kecubung menguncup. Kini, tak ada lagi ceruk air mata yang saban malam menggenang di sana tersebab sengatan rasa sakit misterius.
Pagi-pagi sekali, tak jauh dari gubuk mereka yang reyot, Ina Boi dan Wai Roit mulai sibuk menggali tanah untuk mengubur jasad Muka Heren. Satu demi satu tanah keras itu berguguran dihantam ujung runcing tombak Wai Roit. Batu besar yang mengendap keras di bawah lapisan tanah pun berhasil dicongkel dan dikeluarkan. Sebelum petang jasad Muka Heren selesai dikubur tepat di bawah pohon meranti merah. Mereka percaya, orang-orang yang sudah mati akan bereinkarnasi menjadi pohon, atau bebatuan besar. Dan Wai Roit sengaja memilih meranti merah sebagai wujud reinkarnasi putrinya kelak.
Hingga berhari-hari, di depan makam putrinya, Wai Roit tergugu menanggung luka batin tak berkesudahan. Menyaksikannya, Ina Boi serasa ditampar pemandangan serupa berbelas tahun silam. Kala itu Wai Roit terisak pedih di depan makam istrinya, Ngwai Fina yang meregang nyawa usai melahirkan Muka Heren.
Ngwai Fina―entah siapa sesungguhnya nama aslinya. Jelasnya, sebelum memilih bungkam selamanya perkara asal-usulnya, Ngwai Fina sempat bercerita bagaimana dia dicerabut paksa dari kampung halamannya, dijadikan pelampiasan berahi, hingga akhirnya dicampakkan begitu saja di Bumilale[8].[*]
Keterangan:
[1]Fua Loman = Sirih Pinang.
[2]Na Leit = Nama-nama leluhur orang-orang Tanah Pulau Buru (Gebfuka) yang tak boleh sembarangan disebut.
[3]Jiwa Filin = Ritual prosesi pertukaran nyawa manusia dengan hewan,
[4]Opolastala = Tuhan
[5]Inafuka = Nyanyian/lantunan sejarah leluhur.
[6]Hian = Mayat.
[7]Ama Wakan = Sebutan untuk kemaluan pria dalam bahasa Buru.
[8]Bumilale = (Bahasa Buru): Tanah besar; tanah yang luas.
Ilustrasi: The Dream in The Witch House (Kim Prisu), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Melayat – Cerpen Ilda Karwayu
– Testimoni – Cerpen Yudhi Herwibowo
