Menu
Menu

Aku berniat menyebut singa putih. Dalam imajiku, aku berdiri, menerangkan alasannya, dan melihat mereka mengangguk-angguk kagum.


Oleh: Baron Yudo Negoro |

Seorang buruh di Semarang. Cerpen dan esainya pernah dimuat di media nasional. Pemenang lomba “Menulis Dongeng Batik Nusantara”, diselenggarakan oleh Museum Batik Indonesia dan Kemdikbud pada Oktober 2021.


Ini ketiga kalinya. Dua tahun silam–kali pertama, Bapak membicarakan singa putih lewat telepon dan kemungkinan datangnya malaikat maut yang, menurut keyakinannya sendiri, bersiap untuk menjemputnya. Aku telah lama menganggap singa putih dongeng belaka. Tapi, karena Bapak sering batuk sepanjang percakapan, aku memutuskan mengambil cuti dan membawa anak-istri pulang ke kampung, yang ternyata hanya untuk mendapati Bapakku kangen cucu.

Kini, yang menelepon bukan Bapak, melainkan Ridho, kawan sekampungku dulu. Ia mengatakan bahwa akhir-akhir ini Bapak menjalani hari-harinya dengan menyedihkan, terbaring di kasur saja, tubuhnya menyusut sampai menyerupai batang lidi. Aku menanggapi sebagaimana orang menanggapi hujan mendadak.

“Kau tahu, yang kedua kalinya, dia cuma mau mengajakku memancing di tambak. Percayalah, paling cuma demam biasa. Kemungkinan terburuk, tipes,” kataku.

“Katanya, aku yang harus bicara padamu. Suaramu tak ramah kalau dia yang bicara. Kau tahu, dia melihat singa putih. Seminggu sebelumnya!” kata Ridho.

“Masih saja membicarakan itu,” kataku. “Baiklah. Akan kubicarakan dulu dengan Ratri.”

Setelah percakapan terputus, aku melangkah ke kamar putriku, Alin, dan mengintip sejenak. Ratri istriku telah memeluknya dalam tidur yang damai. Aku menutup pintu perlahan dan menuju sofa, berniat melanjutkan serial televisi yang telah kutetapkan akan kutamatkan malam itu. Namun niat itu batal sebab aku tak bisa berhenti memikirkan Bapak.

“Ah!” gerutuku, sambil mematikan televisi dan melemparkan remot ke sudut sofa.

Setelah sekian lama, mengapa omong kosong itu kembali diungkit, pikirku, sambil menggaruk kepala. “Singa putih,” kataku pada diri sendiri, lalu terkekeh singkat.

.

Kau tahu, Pembaca Budiman, sejak Ibuku meninggal, aku dan Bapak hidup berdua di sebuah kampung di Jawa Timur, di rumah berdinding bata yang berdiri tak jauh dari sungai, hutan, dan perbukitan. Bapak, yang mulanya dikenal sebagai pengajar ngaji, pengisi khotbah Jumat, dan pengumandang azan, lambat laun mengubah ruang tamu kami menjadi tempat orang-orang menumpahkan keluh kesah. Mereka pulang dengan lega, meninggalkan “amplop”. Dengan cara itulah ia menghidupi kami.

Semua bermula dari pengakuannya yang menggemparkan kampung: bahwa ia, dengan mata kepala sendiri, telah melihat sosok singa putih di hutan. Tak seorang pun tahu, apakah makhluk itu tak kasat mata, atau singa sungguhan dengan taring tajam dan selera yang tak pilih-pilih, termasuk mengoyak daging manusia.

“Tidak berbahaya. Yang penting, kita sama-sama saling jaga,” kata Bapak suatu malam, kepada bapak-bapak yang dituakan di kampung kami.

Usiaku enam tahun kala itu, dan aku mengintip dari balik jendela saat mereka duduk bersila di teras rumah, beralaskan tikar, menyimak Bapak dengan keseriusan rapat negara. Dan maksud dari “saling menjaga”, kupahami di kemudian hari.

Aku ingat duduk di bak pikap, menjaga tunas-tunas pohon yang diborong dari kota, sementara Bapak menyetir. Setibanya di lapangan kampung, warga menyalami dan mencium tangannya, menurunkan tunas-tunas itu, lalu berbondong-bondong membawanya ke hutan. Bapak memanjatkan doa, mereka mengamini, dan bersama-sama menanam pohon-pohon muda itu. Pada minggu-minggu tertentu, mereka bahkan mendaki bukit, membersihkan reruntuhan lumpur dan bebatuan dari sungai kecil.

Kami pernah menyusuri hutan berdua. Kami memunguti ranting-ranting dan dahan mati, memindahkannya ke jalan setapak. Rasa heran mendorongku bertanya, untuk apa semua ini dilakukan.

“Dia tidak suka jejak manusia,” kata Bapak. “Kau lihat saja. Air bersih, udara segar, tanah subur. Bahkan sumur kita tak pernah kering. Kau kira itu ulah siapa? Ya, singa putih. Karena itu kita harus jaga rumahnya,” sambungnya.

.

Aku percaya sepenuhnya. Bagaimanapun, usiaku baru delapan tahun. Pengetahuan apa yang kumiliki untuk menolak keyakinan itu? Namun, Pembaca Budiman, izinkan aku mengatakan bahwa luka pertamaku justru tumbuh dari kepercayaan kenaifan itu.

Sekolahku terletak jauh dari kampung, harus menyusuri sungai hingga ke jalan utama kota, lalu menaiki bus ke utara. Aku satu-satunya murid yang menempuh perjalanan serepot itu. Pada suatu hari, ejekan teman-temanku tak lagi tertuju pada sepatu butut, seragam lusuh, atau tasku yang ditambal kain. Dan semua bermula dari satu pertanyaan dari guru kami. “Siapa pahlawanmu?”

Sementara murid lain menyebut ayah, ibu, atau kerabat dekat mereka, aku menanti giliranku dengan harapan yang ternyata terlampau tinggi. Aku berniat menyebut singa putih. Dalam imajiku, aku berdiri, menerangkan alasannya, dan melihat mereka yang selama ini mengejekku mengangguk-angguk kagum. Namun, semua tak seperti yang kubayangkan.

Tawa mereka meledak. Beberapa terpingkal sampai terjungkal ke belakang, sebagian melonjak-lonjak di bangku, memukul-mukul meja seperti kera liar, dan remasan kertas beterbangan ke arahku. Seorang murid bahkan beringsut hanya untuk mendorong kepalaku dari belakang.

“Kembali ke tempat dudukmu!” teriak guruku.

Di bangku, duduk sendiri, aku menahan diri untuk tidak menjatuhkan martabatku dengan meneteskan air mata. Namun, Pembaca Budiman, dadaku bergetar aneh. Seperti kepanasan. Seolah-olah ada api di dalamnya. Dan saat aku mengira mereka telah selesai denganku, mendadak seorang murid semacam menyadari siapa aku.

“Oh, aku tahu. Kau anaknya Pak Karmin, bukan?”

“Pak Karmin?” Murid lain mengernyit.

“Karmin Kampung Waru!”

“Yang dukun itu?”

Sejak itulah mereka memanggilku “Karmin”, “Dukun”, atau “Singa Putih”.

Jika kau bernasib lebih mujur, semisal anak orang berada, kau mungkin merengek ke bapakmu, memohon dipindahkan ke sekolah lain. Tapi, aku bukanlah kau. Aku anak dari Pak Karmin. Sialnya lagi, setelah enam tahun kulalui dengan murung dan terasing, aku kembali bertemu bocah-bocah yang sama di SMP dan SMA. Mereka menyebarkan kisahku, menertawakannya lagi dan lagi sambil bergurau, “Hati-Hati, dia ahli santet.” Atau, “Hati-Hati, dia ahli pelet.”

Pernah suatu ketika kesabaranku habis. Mereka mencemoohku di kantin. Tanpa pertimbangan, kulemparkan sambal soto, sehingga seorang di antaranya menjerit-jerit karena matanya bagai terbakar, dan merasa perlu membenamkan kepala ke ember penuh air. Seorang memukulku, aku membalas, kami pun berguling-guling di samping kantin, di tanah berlumpur yang lengket dan bau.

Aku pulang membawa oleh-oleh berupa sepucuk amplop–Bapak dipanggil karena pertengkaranku. Aku terpelanting oleh tamparannya.

“Memalukan,” katanya sambil meremas surat itu.

Darahku mendidih.

Mungkin karena aku beranjak dewasa. Mungkin karena aku terlampau lama menelan semuanya sendiri. Leherku menegang, rahangku mengeras, dan otot-otot tanganku mengencang.

“Bapak yang memalukan. Yang Bapak lakukan, semua omong kosong itu, semua memalukan,” kataku. Aku lalu menutup pintu, tak membiarkan seluruh dunia masuk ke kamarku.

Sore berikutnya, Bapak menghampiriku. Ia meminta maaf dan mengatakan bahwa ia tahu apa yang menimpaku selama ini; seorang tetangga, katanya, memiliki keponakan yang selalu satu sekolah denganku.

“Ada sedikit tabungan,” katanya dengan lembut dan sorot mata redup. “Setelah SMA, kau bisa ke Surabaya.”

Aku merasakan penyesalan mendalam darinya. Namun, tahun-tahun berat yang kulalui rasanya terlampau mahal untuk ditebus dengan cara seperti itu.

Memang, aku merasa lega saat kuliah di Surabaya. Setahun sekali aku pulang, itu pun dua hari saat Lebaran. Setelah lulus, aku bekerja di perusahaan swasta, bertemu Ratri, dan menjalin hubungan serius. Namun, ketika Bapak bertemu orang tua Ratri di Surabaya dan membicarakan singa putih, aku meninggalkan meja makan tanpa berkata-kata karena merasa sangat malu. Ratri menyusulku.

“Kau mestinya bangga, Raf,” kata Ratri.

“Ya. Bangga. Tentu saja aku bangga,” kataku. “Bapakku pembohong dan aku sangat bangga!”

Itulah luka yang kuniatkan sebagai luka terakhirku.

***

Hari-hari berikutnya, Ridho kerap menelepon, tetapi tak satu pun kujawab. Aku tahu maksudnya, membicarakan kondisi Bapak, memintaku pulang hanya untuk mendapati urusan-urusan remeh. Hingga suatu sore, sepulang kerja, kudapati Ratri duduk di bangku kayu teras dengan tangan tersilang. Ia menatapku seperti menatap seorang musuh.

“Aku ditelepon,” katanya. “Kita harus pulang kampung.”

“Oh.”

“Bapak kritis. Kau bahkan tak tanya siapa yang meneleponku.”

“Ridho, bukan.”

“Dokter!”

“Itu Ridho.”

Ratri bangkit dengan kasar hingga kaki bangku berderit. “Kalau kau tak mau pulang kampung, biar aku dan Alin sendiri.”

Aku memanggilnya, tetapi ia telah masuk ke rumah. Maka, tanpa pilihan lain, aku menuruti maunya. Kami pun berkemas-kemas, berangkat malam itu juga. Sepanjang perjalanan, Ratri diam dalam kemarahannya, sementara Alin bermain ponsel di bangku tengah.

.

“Ratri, tunggu,” kataku, tetapi ia terus melangkah masuk ke rumah.

Tentu saja, aku tak punya pilihan selain menuruti Ratri. Kami pun berkemas-kemas, kemudian berangkat malam itu juga dengan mobil.

Semestinya aku berhak marah, tetapi Ratri tampak sangat geram. Sepanjang perjalanan, ia membisu dalam kemarahannya, sementara Alin hanya bermain ponsel di bangku tengah.

Menjelang pagi, saat kami baru sampai di Situbondo, kabar duka datang: Bapak telah tiada dan akan dimakamkan keesokan harinya. Ratri menangis terisak, berkali-kali mengusap air mata, menggumamkan kalimat, “Kau akan dihantui penyesalan.”

Aku menunggu datangnya kesedihan. Namun yang muncul hanyalah perasaan asing dari bagian dalam diriku yang telah lama padam. Ratri tak mungkin mengerti bagaimana menjadi orang yang hidup tanpa ibu, menanggung kebohongan bapaknya, tersisih, dijauhi, dan dikucilkan hanya karena siapa bapaknya.

Kami mengikuti seluruh prosesi pemakaman. Aku ikut menggotong keranda, sebagaimana Ratri minta, dan berniat pergi sebelum malam. Angin membuat bambu berderap dan dedaunan berguguran, sementara kerudung putih Ratri berkibar. Ia berjongkok dan menabur bunga, sementara aku hanya berdiri di samping Alin yang menatap entah ke mana.

Usia Alin sembilan tahun, tumbuh dengan kecantikan paras seperti ibunya. Dan ia terus menatap entah ke mana.

“Kenapa, Sayang?” tanyaku sambil berjongkok.

Lalu, Alin mengangkat tangan dan menunjuk jauh ke arah hutan. Aku pun mengernyit, melihat sesuatu.

“Ada singa putih, Pa,” katanya. [*]


Ilustrasi: Diolah dari Lion and Tortoise (Eugene Delacroix). Sumber: WikiArt.org.

Baca juga:
Kiamat di Rumah Kecil – A. Waritz Rovi
Nikosia – Saadi Youssef


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

16 thoughts on “Singa Putih”

  1. Valdy berkata:

    penuh dengan pesan moral

    1. Mutiara noya berkata:

      aku suka cerpen ini 👍👍

  2. Valdy berkata:

    cerita sederhana namun tersimpan begitu banyak pesan moral

  3. jejeee berkata:

    the story is very cool, berbeda dari cerita lain, apalagi alurnya, cool.

  4. jejeee berkata:

    Cerita seru, apalagi kalo dibaca saat bosan

  5. Marzx berkata:

    Ini Cerita bagus banget menurut saya

  6. Keysa berkata:

    Kerennn, seru ituu ceritanyaaa

  7. sangat bagus cerita nya

  8. wawww sangat bagus cerita nya

  9. Purple berkata:

    ceritanya seru, bagus

  10. Jamaludin berkata:

    iya betul bagus banget

    1. lala berkata:

      waww saya sangat sukaaa keren

  11. Azzahra CitraIfanika berkata:

    bagus banget

    1. nia berkata:

      ceritanya seru

      1. Agung berkata:

        sangat bagus

      2. Keyla maulidina berkata:

        seru sekali ceritanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *