Menu
Menu

“Wow. Ayahmu makin mengerikan.” Ibu merangkulku, memandangi pohon kepala. “Tertarik untuk tinggal dengan Ibu sekarang?”


Oleh: Surya Gemilang |

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Ia telah lulus dari Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Buku-bukunya antara lain: Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2019), Icy Molly & I (novel, 2022), dan Mama Menelepon dari Neraka (kumpulan cerpen, 2023). Cerpennya masuk nominasi Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2022.


Pohon itu tumbuh di halaman belakang rumahku, tampak serupa pohon mangga, tapi pohon mangga tidak berbuah kepala. Awalnya hanya ada satu kepala di sana, tak lama menjadi dua, lalu tiga, lalu terus semakin banyak.

Sebelum pohon kepala ada, dinding bata abu-abu di halaman belakang hanya setinggi leherku, dan sambil bermain kelereng aku bisa melihat segerombolan mahasiswa berjalan melewati belakang rumahku, membawa spanduk-spanduk dan meneriakkan nyanyian marah. Suatu Sabtu Ayah membawa para tukang untuk meninggikan dinding halaman belakang, katanya: “Mungkin ada maling di antara para mahasiswa itu, bukan?” Para tukang membangun dinding setinggi atap rumahku, dan halaman belakang menjadi teduh terkubur bayangan dinding; pot-pot tanaman hias dipindahkan ke halaman depan agar tak kekurangan sinar matahari.

Beberapa hari setelah dinding selesai ditinggikan, sepulang sekolah, aku mendapati Ayah berjongkok di halaman belakang, mengubur sesuatu dengan sekop tanah kecil. “Ini biji pohon kekayaan,” jelas Ayah. “Kau akan berkuliah di luar negeri kelak. Kau tidak perlu berdemo.” Ayah pun menarik pisau dapur yang terselip di pinggang, dan menyayat telapak tangannya tanpa meringis, dan meneteskan darah ke biji yang ia tanam. “Berapa nilai ulanganmu tadi?”

“Tujuh puluh lima.”

“Tolong jangan buat Ayah sia-sia mencari uang.”

Esok paginya, telah tumbuh sebatang pohon di halaman belakang, langsung setinggi pohon mangga berbuah lebat. Hanya daun-daun teratasnya yang lolos dari bayangan dinding dan terpapar cahaya matahari langsung.

***

Ayah berganti pekerjaan setelah pohon itu tumbuh, tapi aku tak tahu apa pekerjaan barunya. Semula ia berangkat ke kantor setelah memboncengku sekolah; kini ia berangkat pada pukul sembilan malam dan selalu memakai kemeja serta celana panjang hitam.

Aku bertanya apa pekerjaan baru Ayah, seraya membukakan gerbang untuk motornya lewat. Tak ada satu pun tetangga di luar rumah; kawanan laron terbang di sekeliling lampu-lampu jalan.

“Banyak yang terluka gara-gara demo,” balas Ayah, menyalakan mesin motor. “Ayah harus memastikan jumlah orang yang terluka semakin sedikit.”

“Ayah polisi?”

“Agak mirip.” Sejenak Ayah meraba saku celana, mungkin memastikan kunci cadangan rumah tidak tertinggal. “Tidurlah.”

Ayah pun berangkat, lalu aku mengunci gerbang dan pintu depan dan berbaring di kamar. Aku ingin menjadi polisi. Jika gagal, menjadi agak mirip polisi pun tak masalah. Tapi apa setiap orang yang agak-mirip-polisi selalu bekerja malam?

***

Ayah membangunkanku untuk sekolah. Aku melangkah ke kamar mandi, melewati jendela yang menghadap halaman belakang, dan tampaklah, di dahan nomor tiga dari bawah, kepala pertama tumbuh di pohon itu. Aku mendekat untuk melihat lebih jelas. Itu kepala seorang perempuan. Mata dan mulutnya terbuka lebar. Di pipi kirinya ada dua tahi lalat. Luka di lehernya mengucurkan darah, seakan ia habis dipenggal kemudian digantung di dahan―tapi ia bukan dipenggal: rambutnya bukan dililitkan ke dahan, melainkan tumbuh dari dahan seperti tangkai buah.

“Buah itu bukan untuk dimakan.”

Aku menoleh ke belakang: Ayah telah berdiri di pembatas pintu.

“Kepala siapa itu, Yah?”

“Misalkan ada buah mangga tumbuh di pohon kita, mangga siapakah itu? Mangga kita, bukan?”

Ayah memboncengku ke sekolah dan kami melewati belakang rumahku dan berpapasan dengan segerombolan mahasiswa yang marah.

Di sekolah aku bercerita tentang pohon itu kepada beberapa temanku dan tak ada yang percaya. Bu Guru sama saja. Orang-orang bodoh adalah orang-orang yang menolak percaya, kata Ayah entah kapan tepatnya.

Sepulang sekolah, setelah berganti pakaian, aku mengadukan hal ini ke Ayah. Ayah mengecilkan suara televisi dengan remot hingga teriakan para demonstran di berita tak terdengar, lalu membalas, “Maka berhentilah bercerita. Banyak hal yang tak perlu diceritakan, setuju?”

Aku tidak mengerti maksud Ayah.

Di televisi, seorang pria kribo mengayun-ayunkan bendera dengan satu tangan seraya memegang pengeras suara dengan tangan lain dan meneriakkan sesuatu. Entah kenapa banyak demonstran yang kribo. Aku tidak akan berdemo; aku menyukai rambut cepakku; aku tidak menyukai rambut si Kribo.

“Ada ulangan tadi?” tanya Ayah.

“Besok.”

“Masuk ke kamar.”

Aku melihat si Kribo lagi keesokannya sebelum mandi untuk berangkat sekolah. Awan di atas rumahku mendung, tapi cahaya matahari tampak menyilaukan di timur. Si Kribo di halaman belakang rumahku―pada dahan yang paling rendah. Mata dan mulutnya terbuka lebar, luka di lehernya mengucurkan darah seperti kepala si Perempuan Bertahi Lalat―bedanya, kini, darah dari leher perempuan itu sudah jauh lebih sedikit, seperti tetes air dari baju yang hampir kering, dan kulit wajahnya seputih terigu, sedang area lehernya keunguan pudar.

Terdengar seseorang melangkah cepat memasuki halaman belakang: Ibu. Tumben.

“Wow. Ayahmu makin mengerikan.” Ibu merangkulku, memandangi pohon kepala. “Tertarik untuk tinggal dengan Ibu sekarang?”

“Ibumu tidak bekerja.” Ayah menyusul kemari. “Tidak ada uang jajan darinya.”

“Kau suka tinggal bersama kepala-kepala itu, Nak?” tanya Ibu.

Entah. Aku tak terlalu menyukai keberadaan kepala asing. Tapi, toh, mereka diam. Mereka tidak akan mengganggu saat aku bermain kelereng atau apa pun.

“Waktunya pulang,” sambung Ibu, sebelum aku selesai berpikir. Ibu menarik tanganku untuk pergi, dan Ayah menghalangi kami di pembatas pintu.

“Kau memaksanya bolos?” kata Ayah, tersenyum.

Ibu berlutut hingga wajahnya sejajar denganku. “Kau boleh libur hari ini. Besok dan besoknya lagi juga. Kau akan pindah sekolah, jauh dari sini.”

“Bolos bukan hal baik―benar, kan, Nak?” Ayah mengelus kepalaku. Lalu ia menatap Ibu dengan jarak wajah begitu dekat, kukira mereka akan berciuman. “Bagaimana jika ia bersekolah seperti biasa hari ini? Silakan jemput ia nanti―ia boleh menginap paling lama tiga hari. Oke? Tiga hari di sini, tiga hari di rumahmu, dan berulang terus seperti itu.”

“Oke,” balasku, saat Ibu baru membuka mulut. Telingaku akan berdenging kalau mereka ribut terus.

Ibu melempar tatapan mengancam pada Ayah dan menggandengku pergi. Kami melewati jalan di belakang rumah dan berpapasan dengan segerombolan mahasiswa yang marah―dan Ibu menarik tanganku agar langkahku semakin cepat.

Tiba di gerbang sekolah, Ibu berkata, “Sepulang sekolah nanti, temui Ibu di kantin. Hanya Ibu. Paham?”

Aku mengangguk.

Tapi sepulang sekolah, Ibu tidak ada di kantin. Di salah satu bangku duduklah Ayah. Ayah berkata bahwa Ibu berubah pikiran; aku baru akan menginap di rumah Ibu mulai besok. Ayah pun memboncengku pulang, dan kami melewati sebuah jalan yang kosong, di mana rambu-rambu bertumbangan dan sebuah ban meleleh di tengah jalan dan baunya mengerikan. Aku ingin mengabarkan ke Ayah bahwa nilai ulanganku tadi sembilan puluh―tapi, dari pantulan wajahnya di spion, sepertinya Ayah sedang tak ingin diajak bicara. Aku dan Ibu sudah dari lama belajar untuk tak mengajak Ayah bicara jika ia tampak tak ingin bicara.

***

Ayah memburu-buruku untuk membantunya sebelum berangkat bekerja: ia harus berangkat dua jam lebih cepat. Aku mengiris bawang merah dan putih sementara ia memotong-motong dada ayam; aku menyiapkan alat-alat makan di meja makan sementara ia mulai memasak; aku mencuci alat-alat masak dan makan sementara ia pergi ke halaman belakang.

Terdengar seorang pria menjerit―aku refleks menjatuhkan sendok yang kucuci ke wastafel. Suaranya dari halaman belakang. “Pembunuh!!!” teriak pria itu―dan mendadak suaranya tertahan. Seperti mulutnya disumpal. Itu bukan suara Ayah. Tapi siapa yang berada di halaman belakang selain Ayah?

“Ayah!” panggilku.

Terdengar jeritan wanita―dan mendadak suaranya tertahan juga.

Aku menutup keran, melangkah ke halaman belakang. Lututku gemetar. Dari jendela, membelakangiku, tampak Ayah tengah berjongkok di bawah pohon kepala, mengikat ujung sebuah kresek hitam besar berisi sesuatu. Kepala si Kribo dan si Perempuan Bertahi Lalat sudah tak ada di pohon.

“Sekadar hadiah untuk teman-teman kantor,” jelasnya tanpa menoleh.

Ketika Ayah berangkat bekerja, rumah para tetangga sudah tertutup dan tak ada yang beraktivitas di luar rumah, padahal matahari baru terbenam. Dan, Ayah memakai jas hujan merah muda, meski tak ada pertanda hujan. Aku enggan bertanya kenapa; Ayah bergerak terlalu cepat karena buru-buru berangkat. Ditambah lagi, perhatianku terpaku pada kresek hitam di cantolan motornya, yang mengeluarkan suara, Mmmppph! Mmmppph!

Esok paginya ada lebih banyak kepala di pohon kepala. Mencapai belasan. Mata mereka membelalak, mulut mereka menganga, leher mereka mengucurkan darah; rumput-rumput di bawah pohon jadi jauh lebih gelap. Tak satu pun kepala yang kukenal.

Terdengar angin berembus kencang, tapi aku tak merasakannya, mungkin karena terhalang dinding. Tapi jelas ada angin kencang: daun-daun di puncak pohon kepala bergoyang. Salah satu kepala, di dahan yang paling tinggi, dibungkus kresek hitam dan terayun-ayun oleh angin. Bagian bawah kresek itu robek sehingga darah bisa bercucuran ke tanah; ayunan kepala tersebut membuat ada tetes darahnya yang terlontar ke piamaku. Kepala siapa itu?

“Kau melihat ada burung gagak?” kata Ayah, tahu-tahu sudah di pembatas pintu.

Aku menggeleng.

“Bagus. Cepatlah mandi.”

Aku berlalu ke kamar mandi, dan teringat berita yang kutonton beberapa bulan lalu: Seorang wanita ditemukan tewas di halaman belakang rumahnya, dan mayatnya sudah membusuk, dan sekawanan burung gagak mengerubunginya. Kenapa tidak ada seekor gagak pun yang menghampiri pohon kepala? Selain gagak, mayat sang wanita dikerubungi sepasukan lalat―tapi kenapa tak ada lalat di halaman belakang rumahku?

***

Ayah berangkat bekerja. Aku mengunci pintu, memakai jas hujan hijau, membawa senter ke halaman belakang. Dinding halaman menimpa separuh bulan. Aku memberdirikan senter dengan menyandarkannya ke batang pohon kepala, sinarnya menyorot ke atas, menyusup di antara dedahan dan reranting dan dedaun. Lalu aku memanjat. Di dalam kepungan dedaun, tercium amis rumah jagal. Dengan cepat jas hujanku terkena tetesan darah dari kepala-kepala. Tetesan darah juga membuat kulit pohon licin dan beberapa kali kakiku terpeleset. Sampailah aku di dahan tertinggi. Dahan di mana tumbuh kepala berbungkus kresek hitam. Angin mengibarkan ujung jas hujanku; beberapa tetes darah dari kerudung jas hujan mendarat di wajahku. Bulan tampak utuh dari sini.

Aku telungkup di dahan, menjulurkan tangan sejauh-jauhnya, untuk melepas ikatan kresek hitam itu. Dan aku refleks menahan jeritan. Kresek hitam yang basah oleh darah terjun ke dahan di bawahnya lalu tersangkut di sana.

“Ibu …?” ucapku terbata. Tidak ada jawaban. Kepala Ibu terayun-ayun pelan, mungkin karena tertiup angin, mungkin karena aku gemetar dan membuat dahan ini bergetar.

Aku sudah berfirasat bahwa aku akan menemukan kepala Ibu di sini. Tepatnya sejak jam pulang sekolah tadi, sejak aku menemukan Ayah di kantin dan bukan Ibu.

Aku menjulurkan ujung telunjuk ke pipi Ibu, menyentuh-nyentuhnya, dan Ibu tetap tak bereaksi.

Angin kencang bertiup, rasanya seperti serangga-serangga es merayap ke balik pakaianku. Angin kencang mengayunkan kepala Ibu lebih liar, mengibarkan ujung jas hujanku lebih liar, dan daun-daun sungguh berisik. Aku mengeluarkan gunting dari saku. Aku memotong rambut Ibu, dan kepala itu terjun menghantam dahan di bawahnya, lalu terpental dan berdebum ke tanah.

“Anakku …?” kata Ibu lirih, hampir tertutup desir angin dan gemerisik daun-daun.

“Ibu!?”

Aku cepat-cepat turun dari pohon dan mengarahkan senter untuk mencari kepala Ibu. Kepalanya berguling-guling sendiri dan menabrak ujung kakiku, wajahnya menghadap daguku.

“Anak bodoh!” pekik Ibu, wajahnya berlumur tanah-campur-darah. “Ayahmu akan tahu kau memetik kepala Ibu!”

Tetes darah dari atas mengetuk-ngetuk kerudung jas hujanku, lalu menetes ke pipi dan dahi dan dagu Ibu. Kepalaku kesemutan, rahangku mati rasa.

“Makan kepala Ibu,” sambung Ibu. “Kau tidak bisa menyembunyikan kepala Ibu! Kau harus membunuh ayahmu, atau ia akan membunuhmu!”

Memakan kepala Ibu? Penglihatanku mengabur dan pipiku memanas. Aku memungut kepala Ibu dengan mencengkeram rambutnya. Telingaku berdenging. Ibu meneriakkan sesuatu lagi dan telingaku berdenging. Aku membawanya ke kamar. Di mana lagi aku harus menyembunyikannya selain di kamarku?

***

Ada yang menepuk-nepuk pipiku: Ayah. Aku terkesiap. Aku lupa mengunci pintu.

“Sempat ke halaman belakang semalam?” Ayah tersenyum. Cahaya matahari belum tampak dari celah gorden. Aku menggeleng. “Baik. Ayo sarapan.”

Ayah menggandengku dan cengkeramannya menyakiti pergelangan tanganku. Ayah menggandengku bukan ke ruang makan. Tapi, ke halaman belakang. Ayah mengeluarkan senter dari saku dan menyorot pohon kepala. Semakin banyak kepala, semakin banyak darah berhujanan. Pasti mencapai puluhan.

“Tunjuk satu kepala,” kata Ayah.

Aku ingin bertanya kenapa aku mesti menunjuk, tapi Ayah pasti sedang tak menyukai pertanyaan. Aku menunjuk kepala seorang pria gimbal.

Tiba-tiba, tangan kanan Ayah berubah menjadi hijau dan kasar. Persis batang pohon. Ia mengarahkan telapak tangan ke kepala si Gimbal, seakan hendak mencekiknya dari jarak jauh. Lalu, jari-jemarinya yang hijau dan kasar memanjang ke udara serupa sulur, membelit sekujur kepala si Gimbal, dan, dalam satu sentakan, memetik kepala itu dari dahan.

“Iblis!!!” si Gimbal sontak memekik.

Jari-jemari serupa sulur itu memendek, mengantarkan kepala si Gimbal ke telapak tangan Ayah, dan tangan Ayah kembali normal.

“Iblis! Turunkan aku!”

Dalam satu gigitan lebar, Ayah mengoyak area pelipis dan mata kiri si Gimbal semudah menghajar daging semangka. Si Gimbal menjerit; Ayah mengunyah cepat dan darah bertumpahan dari sela bibir dan akhirnya ia menelan.

“Jika ada kepala yang jatuh,” jelas Ayah, “Ayah harus langsung memakannya. Mereka akan berisik jika terlepas dari pohon.”

Aku muntah. Mataku berair. Aku menutup mulut dan gelombang muntahan selanjutnya memenuhi mulutku. Pahit. Amis. Aku bisa merasakan daging kepala di mulut. Darah dan daging amis. Aku berlari ke kamar mandi dan membuang muntahan ke lantai, lalu muntah sekali lagi, lagi, lagi. Dan, terdengar pintu kamarku dibuka.

Ayah mencari kepala Ibu ….

Tanpa membilas muntahan di lantai, aku melangkah gontai ke hadapan pintu kamarku yang tertutup. Entah pintu itu dikunci, entah tidak: aku enggan mencoba. Dari dalam terdengar Ayah membuka pintu lemari dengan kasar. Lalu ia membuka laci demi laci dan menjatuhkannya ke lantai.

Kau harus membunuh ayahmu, atau ia akan membunuhmu!

“Bocah! Cepat kemari!” teriak Ayah dari kamar.

Aku berlari ke halaman depan―aku harus kabur―aku menggapai gagang gerbang: masih tergembok―di mana kuncinya? Para tetangga belum tampak di luar rumah. Langit masih gelap. Pakaian-pakaian di jemuran berkibar. Aku ingin memekik tapi suara terjebak di batang leherku.

Pintu kamarku dibuka dengan kasar. Langkah beratnya terdengar mendekat.

Kau harus membunuh ayahmu, atau ia akan membunuhmu!

Langkah berat Ayah semakin dekat. Ia akan membunuhku. Aku tak bisa kabur ….

Ayah keluar dari pintu depan. Matanya nyalang. Urat-urat di punggung tangannya bertonjolan, persis seperti detik-detik sebelum ia menamparku karena nilai ulangan yang buruk. Tapi kali ini ia akan lebih dari menampar. Aku tak bisa kabur ….

Kau harus membunuh ayahmu, atau ia akan membunuhmu! teriak Ibu lagi, dari dalam perutku.

Aku menyembunyikan kedua tangan di punggung. Ayah terus mendekat―aku tak bisa bernapas. Kedua tanganku pun menjadi kasar. Hijau dan kasar. Persis batang pohon. Aku tak akan kabur.

Aku tak bisa kabur ….

***

Di pohon kepala, di titik bekas tumbuhnya kepala Ibu, tumbuh kepala Ayah. Rongga matanya bolong. Rahangnya patah ke kiri. Dari balik dinding halaman terdengar derap langkah dan nyanyian marah parah mahasiswa. Seekor gagak mendarat di dahan tertinggi. Ia berkoak, lalu beberapa ekor gagak lainnya datang. Aku mendengar dengung lalat melesat di samping telingaku. Kepala Ayah terayun-ayun pelan.[*]


Ilustrasi: A Tree of Life (Marc Chagall), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Menghentikan kelandjutan – Cerpen Joss Wibisono
Kasalabra – Cerpen Erwin Setia


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

11 thoughts on “Pohon Kepala”

  1. Irsy Rati berkata:

    Dari kalimat pembuka, sudah bisa menduga bahwa ini cerpen baguss.. suka banget dengan world buildingnya yg secara tidak langsung menggambarkan sebuah “periode kelam”. Cant wait for the next story, thorr!!!

  2. jiniee berkata:

    aku terus berusaha memahami makna cerpen ini, semakin terus ku baca, semakin bisa ku pahami bahwa ini sesuatu yang lebih mengerikan dari “pohon kepala’ itu sendiri. salut si sama penulisnya

  3. ashakim berkata:

    terima kasih atas bacaannya!

  4. Dwi Febrianti berkata:

    Aku pas baca ngeriiii banget bagus”

  5. Henny Megasari berkata:

    Ada rasa ngeri dan penasaran ketika membaca cerpen ini.

  6. risad berkata:

    bagus sangat menyenangkan saat dibaca

  7. tiasnurviani berkata:

    pohon kepala, di titik bekas tumbuhnya kepala Ibu, tumbuh kepala Ayah. Rongga matanya bolong. Rahangnya patah ke kiri. Dari balik dinding halaman terdengar derap langkah dan nyanyian marah parah mahasiswa. Seekor gagak mendarat di dahan tertinggi. Ia berkoak, lalu beberapa ekor gagak lainnya datang. Aku mendengar dengung lalat melesat di samping telingaku. Kepala Ayah terayun-ayun pelan.

  8. eca berkata:

    sangat bagus cocok untuk anak tk dan sd, bisa menjadi alternatif dalam belajar

  9. Cahya berkata:

    sangat luar biasa. Berimijinasi di dalam setiap kata-kata.

  10. cerpen ini menyentuh hati dan bermakna

  11. mayda berkata:

    sangat bagus dan menyenangkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *