Menu
Menu

Protes dan demonstrasi jang kita gelar adalah kelandjutan sikap dan pikiran kritis jang kita peladjari dan pupuk di bangku kuliah…


Oleh: Joss Wibisono |

Penulis dan wartawan lepas yang menetap di Amsterdam. Sebelum ditutup oleh pemerintah Belanda pada tahun 2012, selama 25 tahun ia bekerja pada Siaran Indonesia Radio Nederland di Hilversum, Negeri Belanda, dengan posisi terakhir redaktur senior. Tahun 2011 menjadi peneliti tamu pada Pusat Kajian Asia Tenggara, CSEAS, Universitas Kyoto di Jepang. 


Iswando terbangun oleh bunji air mengutjur dari keran dapur di sebelah kiri kamar tidurnja. Sesaat dia merasa tidak tahu di mana dirinja berada. Tapi menengok langit2 segera Iswando sadar, dia berada di rumah dosennja, di bilangan Kemiri, kota tempatnja menuntut ilmu. Di tempat tidur sebelah terbaring njenjak Harrie Surjawan, sahabatnja dari Bandung jang sedang berkundjung. “Tapi mengapa pagi2 begini dia sudah tjutji piring? Bukankah kita sudah sepakat bangun djam delapan dan berangkat sarapan djam setengah sembilan?” Begitu Iswando bertanja pada diri sendiri sambil melihat djam di tangan jang belum lagi menundjuk angka lima. Dikiranja Tiarma Saragih atau Ni Nengah Rimbun, dua sahabat lain jang tidur di kamar sebelah kanan, sudah bangun dan radjin2 mentjutji piring. Segera dia bangkit untuk meminta si orang radjin berhenti mengganggu tidurnja jang memang gampang terusik oleh suara2 jang tidak biasa didengarnja.

Betapa kaget Iswando tatkala mendapati bahwa ternjata bukan salah satu sobat perempuannja jang sedang sibuk di dapur, melainkan Katijem. Aneh, pembantu rumah tangga dosennja selalu datang sekitar djam tudjuh atau setengah delapan pagi. Djam empat sore biasanja dia djuga pulang.

“Astaga bu Kati, kenapa sudah datang? Ini belum lagi djam lima,” pertanjaan Iswando lebih terdengar sebagai protes.

“Ah, nuwun sèwu nak, anu, anu, ini tadi ibu bangun kepagian, terus berangkat sadja daripada ndak ada kerdjaan di rumah.” Katijem terdengar men-tjari2 djawaban, mungkin karena tidak mengira Iswando tiba2 berdiri di ambang pintu dapur. Dia djuga merasa perlu minta maaf, karena datang lebih pagi dari biasanja.

“Tadi ibu sudah buka pintu pelan2 supaja nak Wando tidak bangun,” Katijem terus berusaha mentjari pembenaran bagi keputusannja berangkat kerdja pagi2. “Tapi waktu tjutji piring, ibu lupa nak Wando tidur di balik tembok ini, maaf nak,” sekali lagi Katijem merasa perlu minta maaf. Alhasil pada pagi jang masih gelap itu kedua pihak saling bermaaf ria.

“Maaf, ini ada teman2 menginap, semalam hudjan lebat, mereka ndak bisa balik ke penginapan di asrama djalan Kartini. Djadi mereka minta menginap di sini, terus kita ngobrol sampai djam setengah dua bu,” Iswando sekaligus memberi alasan mengapa gelas dan piring masih berserakan di dapur. Djelas alasan jang terpeleset, karena sebenarnja Iswandolah jang meminta Harrie, Tiarma maupun Nengah supaja tidur di rumah dosen jang kini didjaganja. Belum berapa lama sendirian di rumah dosen jang terletak di pinggiran kota itu dia sudah dihinggapi bosan. Untung ketiga temannja setudju dan ketika lewat tengah malam lapar menjerang, mereka pesan bakmi kuah dan nasi goreng di warung pak Dullah jang sebenarnja tengah ber-siap2 tutup.

“Bu Rosinta memang pernah bilang nak Wando kadang2 akan kedatangan tamu menginap,” Katijem ingat pesan madjikannja jang baru dua minggu lalu berangkat ke Sydney mendjalani sabbatical alias tjuti untuk menulis buku. “Bu Rosinta bilang orang tua nak Wando akan datang dari Malang. Ija? Kapan?” Katijem terdengar lega karena Iswando tidak lagi mempermasalahkan kedatangannja jang begitu pagi.

“Wah belum tahu, bu. Bapak ibu lagi sibuk, tapi pasti dalam enam bulan ini mereka akan datang, mumpung ada penginapan gratis,” sedikit terkekeh Iswando menjahut. “Aku pengin tidur lagi, tulung bu Kati beres2 jang lain, asal djangan berisik”, katanja sambil melangkah kembali ke kamar tidur. “Oh ja, ndak usah repot2 bikin sarapan, kita nanti mau ke soto Esto,” katanja sebelum masuk kamar.

“Ada apa?” Harrie bertanja sambil membalik diri dari tidur tengkurapnja. “Bu Kati datang kepagian, ini belum djam lima,” Iswando terpaksa mendjawab, padahal dirasanja kantuk berat kembali hinggap. Sementara dia menjusup ke balik selimut, Harrie keluar kamar, “ke WC,” katanja. Untung sadja Iswando tidak mendengar lagi ketika Harrie kembali masuk kamar.

Dia sudah terlelap, djauh di alam tidur jang hanja terdjangkau oleh mimpi. Iswando melihat dirinja bergegas ingin masuk, dari pintu belakang, rumah Rosinta Damanik, dosen wali studinja. Ternjata kuntji tak ada di saku tjelananja, tidak djuga di saku badjunja. Dia ketuk2 pintu, tak ada djawaban. Melongok dari djendela dilihatnja Katijem terbaring di lantai, tjairan warna merah terlihat di kakinja. Kontan Iswando ber-teriak2 memanggil nama pembantu itu. Tapi dia dengar Harrie me-manggil2 namanja, djuga meng-gojang2 tubuhnja jang serasa lemas.

“Wando bangun, bangun. Pasti kau mimpi!” Dibukanja mata dan segera tampak sinar matahari sudah menerobos masuk kamar tidurnja. Ditengoknja djam tangan: tinggal beberapa menit lagi mendjelang djam delapan. Harrie tampak sudah berpakaian rapi dan tempat tidurnja djuga sudah ditata netjis. Aneh, kenapa dia tidak dengar Harrie menata tempat tidur? Segera Iswando bangun dan menemui dua teman jang lain. Selain sarapan di soto Esto, pagi itu mereka djuga berentjana ke toko Prakoso untuk memfotokopi beberapa buku jang kemarin mereka pindjam dari perpustakaan.

“Kita mesti sepakat pertemuan nanti akan membahas buku tertentu, dan usulku kita bahas Cornell Paper,” Harrie langsung tembak begitu melihat Iswando keluar kamar. Dia melandjutkan rentjana jang muntjul dini hari tadi untuk mengadakan pertemuan beberapa kelompok studi mahasiswa.

“Masak pertemuan dua hari tjuma ngomongin satu buku?” Ni Nengah Rimbun jang semalam setudju membahas buku, kini mulai memperdengarkan protes. Sebagai mahasiswa ekonomi ia ingin supaja teman2nja djuga bersikap kritis terhadap politik pembangunan jang selalu digembar-gemborkan pemerintah. “Pembangunan itu tidak lebih dari ketergantungan! Ketergantungan pada modal asing jang sering disebut bantuan. Buku ini membahasnja pandjang lebar!” Nengah mengangkat sebuah buku bersampul biru jang tengah dibatjanja.

“Bagaimana kalau kita landjutkan omong2 soal buku ini sambil sarapan?” Iswando bersuara atas nama perutnja jang mulai kerontjongan. Ia jakin bitjara sambil menanggung lapar akan ber-tele2, tidak akan selesai, semua jang terlibat pasti akan semakin keras kepala. Dan memang tak satupun dari tiga sahabatnja menjuarakan berkeberatan. Mengendarai dua motor, keempatnja bergegas ke warung soto Esto.

Kejakinan Iswando terbukti. Sambil melahap soto ajam jang dihidangkan di warung sisi kanan garasi bis Esto, dilengkapi krupuk karak, keempatnja tjepat bersepakat untuk membahas dua buku. Djadi buku2 jang diusulkan Harrie Surjawan dan Ni Nengah Rimbun akan dibahas bergantian. Satu porsi soto sudah tjukup untuk menggiring mereka pada kesepakatan ini, walau Iswando masih pesan sarèn alias darah ajam goreng, jang ramai2 mereka habiskan. Mereka bajar seribu seratus rupiah untuk sarapan jang tjukup menjegarkan itu.

Langkah berikut mentjakup dua perkara, memperbanjak dua buku jang akan dibahas serta membantu mereka jang kesulitan membatja buku2 bahasa Inggris. Tiarma Saragih menjatakan sanggup membantu mereka jang kesulitan bahasa Inggris. Sebagai anak diplomat jang menempuh sekolah menengah di Amerika dan Australia, gadis Batak ini fasih berbahasa Inggris, lisan maupun tulisan. Siapa jang butuh bantuannja dipersilahkan datang sehari lebih dahulu, supaja ada waktu untuk membatja sampai benar2 mengerti. Untuk memperbanjak buku, mereka berempat berangkat ke fotokopi Prakoso di djalan Pemotongan, tidak djauh dari djalan Langensuko tempat soto Esto. “Koh Tjhing Ping pasti akan bantu kita,” kata Iswanto penuh kejakinan.

Dia sudah berkenalan dengan Tan Tjhing Ping pada hari2 dia mendaftarkan diri mendjadi mahasiswa. Maklum dia mesti menjerahkan fotokopi banjak dokumen, bukan tjuma idjazah SMA, tapi djuga akte kelahiran dan surat berkelakuan baik, termasuk surat bersih lingkungan. Dosen pembimbingnja, Rosinta Damanik, mengandjurkan Iswando untuk menemui Tan Tjhing Ping jang waktu itu baru kembali dari Bandung. Sedjak itu segala matjam urusan fotokopi diserahkannja kepada koh Tjhing Ping, begitu Iswando memanggil salah satu teman awalnja ini. Dia tidak perduli pada keluhan orang bahwa fotokopi Prakoso tidak murah. “Walau mungkin mahal, hasilnja didjamin selalu djempolan,” kilah Iswando.

Tan Tjhing Ping tidak begitu sibuk ketika Iswando dan teman2nja masuk toko fotokopi Prakoso. Maklum hari masih pagi, belum banjak pelanggan jang minta dilajani. “Wah berempat nih, pasti banjak jang mesti difotokopi,” begitu sambutannja melihat Iswando masuk toko bersama tiga temannja. “Tjuma dua buku koh, tapi masing2 lima kali,” kata Iswando sambil menjodorkan buku2 jang akan digandakannja.

“Wow, Cornell Paper dan teori ketergantungan,” Tan Tjhing Ping terdengar paham bobot dua buku jang digenggamnja. Keduanja memang super kritis terhadap rezim Orde Baru jang sudah berkuasa selama 15 tahun, kalau itu dihitung sedjak menang pemilu 1971. Segera dia persilahkan keempat tamunja masuk, tidak seperti pelanggan lain jang, sambil menanti hasil fotokopi, biasanja tjuma bersandar di medja lajanan. Omong2 masalah peka seperti Cornell Paper djelas lebih aman di dalam, demikian perhitungan Tan Tjhing Ping. Nengah dan Tiarma jang dari tadi asjik berbitjara tanpa melibatkan pihak lain, tidak segera masuk. “Aku balik duluan ja,” mendadak Tiarma mengundurkan diri, “tidak enak badan,” katanja sambil minta kuntji motor.

“Apa ini buku2 wadjib?” Tan Tjhing Ping bertanja begitu mereka berada di dalam ruang tamu. “Enggak sih, koh,” djawab Iswando, “Kita akan bitjarakan buku ini dalam pertemuan bulan depan.” Tan Tjhing Ping segera sadar, “Ah, ini inisiatif kalian sendiri. Tjiamik, aku dukung sepenuhnja. Boleh tahu tjeritanja kenapa kalian bikin temu kelompok diskusi?” Harrie maupun Nengah berpaling pada Iswando. “Dia punja tjerita,” kata Nengah.

“Ja, selama ini kan udah muntjul kelompok diskusi di pelbagai kampus,” Iswando mulai pendjelasannja. “Terus Harrie datang ke sini, lihat2 kelompok kami. Kamu kan tertarik, Harrie. Apa katamu? Tjanggih?” Harrie tjuma mengangguk. “Tiarma djuga datang dari Djakarta, terus Nengah dari Jogja. Ja kita achirnja sepakat bikin pertemuan. Muga2 tjukup peminatnja.”

Tan Tjhing Ping mulai paham. “Djadi kalian ini masuk tahap landjutan dong. Landjutan dari sekedar kelompok diskusi kandang sendiri. Ketemu dengan kelompok diskusi kota2 lain,” dia terdengar optimis.

“Tapi kenapa sih koh Tjhing Ping mendukung?” Giliran Harrie Surjawan jang tergelitik melihat seorang Tionghoa pemilik toko fotokopi begitu bersemangat menjambut upaja mereka mengadakan temu kelompok diskusi. “Mahasiswa itu harus selalu kritis. Kalau mahasiswa tjuma mengikuti kemauan penguasa, maka hilanglah masa depan,” semangat Tan Tjhing Ping makin sulit dibendung. “Emangnja apa kemauan penguasa, koh?” Harrie djuga tak bisa membendung rasa ingin tahunja.

“Menteri pendidikan jang sebelum ini kan sudah menormalkan kehidupan kampus. Itu artinja mahasiswa dilarang menindaklandjuti sikap kritisnja, dan menteri pendidikan jang sekarang tinggal nerusin adja,” Tan Tjhing Ping terdengar semakin ketus. “Sebagai mahasiswa, kita di Bandung dulu bukan tjuma beladjar berpikir kritis, tapi djuga bertindak dan berperilaku kritis. Protes dan demonstrasi jang kita gelar adalah kelandjutan sikap dan pikiran kritis jang kita peladjari dan pupuk di bangku kuliah,” seolah ganti haluan Tan Tjhing Ping terdengar sabar supaja orang paham pendjelasannja.

“Djadi menurut koh Tjhing Ping sekarang ini pemerintah berhasil menghentikan upaja mahasiswa untuk menindaklandjuti pikiran kritis dengan tindakan kritis?” Giliran Iswando jang terdorong untuk memahami pernjataan si pemilik toko fotokopi. “Benar, itulah menurutku inti politik NKK/BKK rezim ini. Mahasiswa dilarang bertindak kritis. Dan itu berhasil, kan? Kampus sudah dinormalkan, tentu sadja normal dalam tanda petik. Tapi djelas rezim ini tidak akan berhenti di situ sadja. Pasti djuga akan mereka hentikan upaja mahasiswa untuk selalu berpikiran kritis,” kembali Tan Tjhing Ping menemukan semangatnja.

“Menariknja koh, Orde Baru kan ngakunja lahir dari apa jang menamakan diri Angkatan 66 jang kebanjakan mahasiswa. Itu paruh kedua 1960an, tudjuannja mendjatuhkan Bung Karno. Ternjata pada dekade 1970an, Orde Baru sudah anti mahasiswa ja, sampai2 mereka perlu menormalkan kampus segala,” Iswando achirnja berkesempatan menjuarakan pendapatnja sebagai mahasiswa sedjarah jang menekuni gerakan mahasiswa. Tan Tjhing Ping djelas tak mau ketinggalan.

“Dari awal, republik ini merupakan gagasan mahasiswa, paling sedikit kaum muda terpeladjar. Dari Soempah Pemoeda sebagai tonggak nasionalisme, terus para pemuda jang mentjulik Sukarno-Hatta supaja segera memproklamasikan Indonesia merdeka, itu semua gagasan dan tindakan pemuda. Itu jang perlu diingat. Makanja kalau sampai ada rezim jang anti mahasiswa, anti kaum muda, maka mereka sudah mengchianati republik ini,” Tan Tjhing Ping terdengar penuh pertjaja diri.

“Ah djadi aku paham nih kenapa koh Tjhing Ping mendukung upaja kami mengadakan temu kelompok diskusi,” Ni Nengah Rimbun men-tjoba2 menarik kesimpulan. “Supaja peran mahasiswa itu tidak terputus dan terus berlandjut, gitu kan koh?” Nada meninggi di achir utjapannja terdengar sebagai tantangan terhadap Tan Tjhing Ping.

“Bener banget,” si pemilik toko fotokopi terdengar semakin penuh kejakinan. “Orde Baru ini memang rezim jang tahu persis bagaimana mesti mematahkan gerakan mahasiswa, jaitu menghalangi kelandjutan. Pertama, menghalangi berlandjutnja pikiran kritis mahasiswa mendjadi tindakan kritis mereka. Kemudian setjara umum, menghalangi berlandjutnja peran mahasiswa dalem sedjarah republik, setelah mereka sendiri sebenarnja dibantu mahasiswa untuk berkuasa. Djadi mesti kita pertanjakan nih watak rezim jang tidak ingin kelandjutan ini.”

Sebagai mahasiswa djurusan sedjarah Iswando terdorong untuk mengudji sematjam penemuannja belum lama berselang. Tatkala berkundjung ke rumah salah seorang bekas tokoh PKI di Semarang, dia mendapati betapa berbeda buku2 kiri jang ditekuni generasinja dengan buku2 kiri jang diamatinja pada rak buku pak SU (begitu dia selalu menjingkat nama bapak tokoh PKI). Kalau kebanjakan buku2 pak SU adalah karja2 klasik marxisme seperti Marx, Engels, Lenin, Kautksy; maka buku2 jang dibatjanja adalah penulis2 zaman sekarang. Ada Louis Althusser, Étienne Balibar, Ralph Miliband dan seterusnja. “Adakah ini wudjud pemutusan kelandjutan itu koh?”

Tan Tjhing Ping terdengar ragu, “Wah terus terang aku nggak begitu mendalami literatur marxisme. Abis itu termasuk buku terlarang sih. Belum2 orang udah risi. Djangan2 nama2 jang kamu sebut itu adalah pemikir marxisme modern jang memang tidak pernah dikenal di sini. Abis marxisme sudah dilarang sih.” Tapi ia punja dugaan lain.

“Soal ganti edjaan, aku tjuriga djangan2 itu termasuk upaja pemutusan”. Iswando dan teman2 dibuat penasaran, “Gimana tjeritanja itu koh?” Hampir serempak mereka bertanja. Tan Tjhing Ping merasa tjukup bangga bisa membuat teman2nja jang lebih muda ini tampak penasaran.

“Kita tahu tanggal 17 agustus 1972 setjara resmi rezim Orde Baru memberlakukan edjaan baru jang disebutnja EYD. Sekarang edjaan ini sudah berlaku 13 tahun. Apa jang terdjadi? Orang sudah lupa pada edjaan Suwandi jang berlaku sampai tahun 72 itu. Bukan hanja lupa, bahkan generasi muda sudah ogah batja buku, artikel atau apapun jang ditulis dalam edjaan Suwandi dan edjaan zaman pendjadjahan. Mereka hanja mau batja barang tjetakan jang terbit dalam EYD. Tjoba apa nih artinja?” Bukan tjuma memantjing, Tan Tjhing Ping mengemukakan pertanjaannja dalam nada jang benar2 menantang. Karena baru kali ini Iswando dan teman2nja mendengar pendapat tentang perkara ganti edjaan itu, mereka djuga tjuma bisa ber-tanja2. “Apa koh?” Tanja Iswando, “Belum pernah dengar tuh soal edjaan ini.” Nengah memberanikan diri untuk men-duga2, “Kalau ini soal pemutusan, di mana ja pemutusannja?”

“Artinja tulisan2 lama tidak lagi dibatja orang, terutama generasi muda. Ini nih pemutusannja, tidak ada kelandjutan bahan batjaan. Generasi muda jang tidak dojan batja tulisan dalam edjaan lama, hanja akan membatja bahan2 batjaan terbitan Orde Baru. Selain terkena pemutusan edjaan, mereka djuga hanja akan mempertjajai versi Orde Baru, hanja karena terbiasa dengan edjaan itu. Sekarang rezim ini mulai mentjap periode demokrasi parlementer tahun 1950an sebagai periode demokrasi liberal Barat. Itu edjekan mereka, karena konon tidak tjotjok dengan Indonesia. Dan tidak ada jang membantahnja, karena orang memang sudah tidak tahu lagi bagaimana persisnja keadaan waktu itu. Gitu pemutusannja.” Tan Tjhing Ping terdengar makin tak terbantahkan. Dan Ni Nengah Rimbun memang tidak berniat membantah ketika dia bertanja tentang sesuatu jang lain.

“Dulu kuliah apa koh di Bandung?” Pertanjaan gadis Tabanan ini membuat Tan Tjhing Ping ter-sipu2. “Arsitektur, tapi ndak tamat. Aku ikutan protes mahasiswa Bandung tahun 1978, protes terhadap pentjalonan diri kembali orang kuat Orde Baru. Mereka bilang kami diamankan, tapi sebenernja dikriminalkan. Pemimpin kami diadili dan didjatuhi hukuman pendjara. Aku sempat ditahan, setelah sekitar setahun bebas. Tapi ternjata aku ndak boleh lagi kuliah. Dan harus kuakui aku sendiri sudah ketinggalan banjak. Achirnja kutinggalkan bangku kuliah, balik kampung, nerusin usaha fotokopi orang tua,” suaranja berubah melemah.

Semua terdiam. Kata2 seperti lenjap ditelan ketidaktahuan. Harus berudjar apa terhadap musibah lama jang baru mereka ketahui itu? Terbajangkah pada diri Iswando dan teman2nja jang sedang giat2nja menuntut ilmu bahwa suatu hari mereka akan putus kuliah?

Bajangan seperti itu mungkin sadja mengantjam bangkit, tapi Iswando jakin sejakin2nja Tan Tjhing Ping tak ada niat menggiringnja masuk djurang putus kuliah. Ia djuga tahu bahwa aktif dalam politik bukanlah djalan sesat bagi mereka jang begitu radjin menuntut ilmu. Pernah dia bitjara pandjang lebar dengan Tjhing Ping jang berpendapat bahwa berpolitik bukan tjuma anti Orde Baru. “Mendjilat rezim ini djelas djuga berpolitik,” kata Tan Tjhing Ping. Sedjak itu utjapan ini selalu merupakan pegangan Iswando. Ia sangat berharap teman2nja tjukup kritis dan tjerdas untuk paham ini semua.

“Djadi masing2 buku lima kali,” kata Tan Tjhing Ping memetjah kebungkaman. “Kalian gak perlu bajar semua, aku tanggung separuh. Sjaratnja aku ikut diskusi kalian. Gimana?” Iswando dan teman2nja terbelalak. Sama sekali tak mereka duga upaja mempeladjari hal2 jang tidak mereka dapat di bangku kuliah bisa mendapat dukungan begitu murah hati dari seorang pemilik toko fotokopi.

“Wah terima kasih banjak, koh. Pastilah engkoh kami undang dateng. Mungkin bisa tjerita suasana Bandung tahun 1970an. Aku jakin kita bisa beladjar banjak,” Iswando merasa ingin berudjar lebih banjak lagi, tapi hanja itu jang dapat dia lontarkan. “Aku senang kalian tetap ingin beladjar djadi kritis, karena mahasiswa kritis itulah jang mau dihindari penguasa,” djawab Tan Tjhing Ping. Mereka segera pamit, begitu melihat pelanggan mulai berdatangan di ruang sebelah.

Karena satu motor sudah duluan dibawa Tiarma, maka mereka harus gantian diangkut balik ke Kemiri. Pertama Iswando membontjeng Nengah naik vespa dosennja jang sekarang dikendarainja. Sebelum berangkat Nengah sempat menjatakan kagum pada Tan Tjhing Ping, dan diam sadja sepandjang perdjalanan jang kira2 makan waktu seperempat djam. Mungkin lantaran helm jang harus mereka kenakan. Ini peraturan baru jang kira2 djalan sebulan. Iswando tidak masuk rumah begitu Nengah turun. Ia ingin tjepat2 mendjemput Harrie jang menunggu di fotokopi Prakoso.

Seperti Nengah, Harrie Surjawan djuga tidak banjak bitjara. “Engkohmu ini luar biasa,” katanja. “Baru sekarang aku ketemu seorang Tionghwa jang begitu fasih bitjara politik,” udjar Harrie sebelum mengenakan helm dan duduk di bontjengan. Sesudah itu mereka tidak bitjara apa2. Berhelm djelas merupakan hambatan bitjara, mungkinkah karenanja ketjelakaan lalu lintas djuga akan berkurang?

Begitu tiba di rumah Rosinta Damanik, segera mereka dapati kedua teman perempuan sedang berdebat, lumajan sengit. Tapi mereka segera diam waktu Iswando bertanja ada apa. Djawaban tak segera datang. Tentu sadja baik Iswando maupun Harrie keheranan. Ada apa ini? Tidak betah diam lama, Tiarma Saragih angkat bitjara.

“Nengah tidak setudju aku bitjara sama kalangan tjowok, sama kalian. Katanja ini masalah tjewek,” Tiarma memulai pendjelasan dengan gusar menggumpal jang djelas gagal ditahannja. “Tapi menurutku ini lebih dari soal tjentil gitu. Ini soal kemanusiaan”, ia terdengar lebih serius. Iswando dan Harrie semakin diliputi tanda tanja. “Kemanusiaan jang ditindas lagi,” Tiarma kembali terdengar pahit. Lalu suaranja terdengar seperti rentetan peluru jang sulit dihentikan.

“Tadi itu aku pergi duluan karena harus ganti pakaian. Sama Nengah aku bilang djadwal bulananku datang. Padaku selalu begitu, tak ada tanda2, tahu2 ada bertjak di pakaian. Tuh aku sekarang terus terang, buka2an!” Tiarma melihat Iswando dan Harrie makin ber-tanja2 tentang apa persisnja ini semua? “Nah, sesampai di sini aku langsung ke kamar mandi, ganti pakaian. Mungkin karena naluri kewanitaan, bu Kati segera tahu. Dia bilang, wah mendadak ja, ndak kerasa. Terus katanja dia djuga begitu. Tapi katanja lagi sudah lama dia tidak haid, terachir sekitar setengah tahun lalu. Aku sempat bilang, wah sudah hampir purna nih tugas kewanitaan. Tiba2 dia mendekat dan bilang dirinja ketakutan. Wektu kutanja ketakutan soal apa, dia bilang takut dipasangi spiral. Siapa jang pasang? Katanja orang2 kelurahan. Hari2 ini mereka lagi sibuk me-njuruh2 wanita2 desanja ikut KB,” Tiarma tak sadar, penuturannja semakin menggebu.

“Gila! Bu Kati ini kan djanda, suaminja sudah lama meninggal!” Mendadak  Iswando memotong. “Dan dia sudah djarang haid lagi,” Nengah achirnja ikut bitjara, bahkan terdengar tidak sabar. “Itulah,” Tiarma terdengar djudes. “Kelurahan djuga tahu dia tinggal sama anaknja!” Iswando langsung mengerti, “Pantas dia dateng pagi bener tadi. Pasti lantaran mau menghindar orang2 kelurahan jang mau merampas kewanitaannja.”

“Persis!” Tiarma mengangkat djari telundjuk ke arah Iswando. “Program KB jang mau membatasi djumlah anak, ternjata tjuma merampas kewanitaan kaum perempuan. Padahal kewanitaan dan tubuh perempuan itu kan sesuatu jang pribadi sekali bagi kaum kami. Eee ternjata dirampas djuga. Aku tadi sudah bilang untuk sementara bu Kati tinggal di sini sadja, pasti Wando tidak keberatan.”

“Setudju, aku tidak keberatan. Kan kalian sore ini djuga balik ke kota masing2,” Iswando mengangkat ibu djari, menjambut djari telundjuk Tiarma. “Ah, aku ngeh sekarang kenapa kemarin bu Kati ndak mau pulang2. Katanja mesti beresin ini, beresin itu, rasanja dia memang terus tunda pulang. Baru sekitar djam tudjuh malem dia pulang.”

“Dia pasti gak bisa terus terang sama kamu Wando, abis kamu tjowok sih,” Harrie jang dari tadi diam tiba2 angkat bitjara. Iswando tersenjum ketjut, melangkah ke dapur menemui Katijem.

“Bu Kati tidur sini sadja, ja, ndak usah balik dulu. Kamar belakang kan selalu kosong. Nanti aku tjari Agus, aku minta dia ke sini,” kata Iswando pada pembantu dosennja sambil menjebut nama satu2nja anak Katijem. “Kalau bu Kati kasih tahu kelakuan orang2 kelurahan itu, pasti kemarin sudah aku minta gak usah balik dulu.” Katijem memperdengarkan kelegaan, “Terima kasih nak, ibu ini bener2perkewuh ngomong soal ini. Tapi memang orang2 kelurahan itu keterlaluan. Ibu kan gak punja suami lagi, apa perlunja spiral?”

Iswando masih ingin tahu lagi, “Tapi gimana bu Kati tahu mereka mau pasang spiral?” Tak tersisa lagi perkewuh atau keraguan pada diri Katijem, “Mereka sudah datang ke tetangga, nak. Tetangga kiri, Ngatirah ditanja apa sudah ikut KB, dia sudah lama ikut, karena anaknja sudah empat. Tetangga kanan, Suminten, djuga didatengi. Dia tetep dipasangi spiral, walau sudah tua dan ndak punja anak. Ngatirah bilang orang2 ini sudah dua kali datang ke rumah ibu, tapi kan ibu siang hari selalu di sini. Belum pernah kok mereka ketemu ibu, nak.” Merasa lega, Iswando tidak segan2 mengemukakan dugaannja, “Pasti mereka ini lagi ngedjar target bu, dalem setahun pengikut KB harus mentjapai djumlah tertentu. Ini kan sudah achir tahun, pasti lantaran belum dapet djumlah segitu, mereka kedjar2 orang.”

Katijem meng-angguk2, dan Iswando berlandjut. “Tapi ja itu, bu. Dengan ngedjar2 gitu, mereka paksa ibu untuk serahkan tubuh ibu. Djangan mau. Tubuh ibu adalah milik ibu. Bukan milik orang lain, djuga bukan milik negara. Tinggal di sini dulu adja,” Iswando melihat Katijem mengangguk. “Oh gitu ja, nak. Ibu sih risih rasanja dipasangi spiral gitu. Apa gunanja? Ibu sudah gak punja suami lagi”.

“Kalau menurutku, tjuma perempuan desa jang djadi sasaran,” Tiarma masih kesulitan meredam amarah dan djengkel. “Di kota mungkin ada jang mereka kedjar2,” dia sedikit ganti pendapat, “Tapi pasti tjuma kalangan tidak mampu. Perempuan kelas menengah dan jang lebih tinggi lagi pasti tidak akan diganggu-gugat.”

Keempatnja berunding lebih landjut menjiasati langkah2 selandjutnja. Mereka sadar, dengan larangan demonstrasi lantaran kampus konon sudah normal, maka terasa sekali betapa djauh djarak ilmu pengetahuan jang mereka tekuni di bangku kuliah dengan kenjataan se-hari2 jang kini mereka hadapi. Bagaimana bisa menentang pengedjaran perempuan desa? Teori apa jang bisa mendjelaskan Katijem jang di-kedjar2 untuk dipasangi spiral? Akankah mereka djuga sadar bahwa djarak itu sengadja dibuat oleh penguasa jang mulai mereka tjurigai? Ilmu pengetahuan jang mereka tekuni harus mengasingkan mereka dari kenjataan se-hari2, supaja mereka dan mahasiswa lain tidak protes dan berdemonstrasi seperti mahasiswa tahun 1970an.

“Kira2 apa pendapat koh Tjhing Ping, ja?” Iswando tiba2 teringat sahabatnja jang satu ini. “Sebelum ketemu koh Tjhing Ping, mungkin kita mesti mikir dulu apa unsur pemutusan dalam politik KB rezim ini,” Harrie pasang antjang2. “Wah ija, ja, kalau kita bisa tundjukkan aspek penghentian kelandjutan dalam perkara kedjar2an KB ini, pasti koh Tjhing Ping bakal seneng,” Iswando mulai paham kerangka berpikir temannja itu.

Sementara Tiarma Saragih tidak begitu paham pembitjaraan teman2nja (pasti lantaran dia tidak ikut omong2 dengan Tan Tjhing Ping, begitu dugaannja), Ni Nengah Rimbun menawarkan usul pertama, “Bagaimana kalau penghentian pemilikan tubuh perempuan?”

“Wah kalau itu sih kau djadikan Orde Baru penguasa djagat semesta,” tukas Harrie, “Apa enggak terlalu banjak kehormatan?” Iswando membela, “Siapa bilang gembong2 Orba tidak gila hormat?” Semua terbahak, termasuk Katijem. (*)

Amsterdam, kampung de Jordaan, tahun baru 2020

Untuk Annisa Rizky Miranti, Arya Adikristya dan peserta mata kuliah Bahasa Jurnalistik lain.

*Versi terdahulu jang djauh lebih pendek telah terbit sebagai tjerpen dengan djudul “Merampas kewanitaan” dalam harian Suara Merdeka, Semarang, edisi 26 djanuari 2020, halaman 15.


Joss Wibisono aktif menulis untuk pelbagai media massa, antara lain di dalam negeri seperti Tempo dan situs Tirto.id (Jakarta), serta Suara Merdeka (Semarang). Di luar negeri tulisan-tulisannya juga terbit dalam bahasa-bahasa Belanda, Inggris dan Prancis. Pada tahun 2012 kumpulan esainya terbit sebagai buku dengan judul “Saling Silang Indonesia Eropa”. Pada 2017 terbit kumpulan cerpen berjudul “Rumah tusuk sate di Amsterdam selatan” dan novel pendek “Nai Kai: sketsa biografis”. Sekarang sedang mati-matian menyelesaikan sebuah fiksi tentang kuburan massal di Andalucía, Spanyol selatan.


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
CERPEN – TENTANG SAJAK TAK CUKUP HURUF
CERPEN – NYANYIAN MAUT

Bagikan artikel ini ke: