Menu
Menu

Separuh malam sudah berlalu, dan ia tidak mendapatkan apa-apa.


Oleh: Abdul Karim |

Lahir di Murung Raya, Kalimantan Tengah. Belajar menulis puisi, cerpen, dan artikel. Tinggal di Banjarmasin dan aktif berkegiatan di perpustakaan Warung Baca.


“Mereka memasak lenganku di dalam kawah selama tujuh hari tujuh malam, Tungeh. Mereka ingin mengambil Mandau yang tidak bisa mereka rebut dariku.”

Buhis: Pagi Sebelum Peristiwa Terkutuk itu Terjadi

Kita pernah menyusuri sungai ini hanya dengan berjalan kaki sampai ke hulu. Kita membuat pemukiman di sebuah hutan belantara—tempat kita pernah tersesat mencari diri sendiri—dan kelak orang-orang menamainya Nyarung Uhing. Setiap kali pulang dari Hulu Barito kita membawa kepala manusia yang kita potong dan merangkainya menyerupai rakit. Sungai berwarna keruh berganti merah darah. Bila musim kemarau menghalangi kita, kau menyiram batu kutukan lalu air sungai ini pelan-pelan pasang dan naik selutut hingga ke pinggang. Batu itu mulanya seorang laki-laki. Ia dikutuk jadi batu oleh istrinya karena berbohong.

Dulu tempat ini hanyalah hutan belantara, lalu datang sebuah perusahaan asing, perusahaan kayu. Kakekmu salah satu pekerja di sini. Mereka menebang pohon dan membawanya ke daerah lain entah ke mana. Kakekmu adalah pekerja yang punya banyak kepiawaian, dan karena itu ia dibelikan oleh pihak perusahaan sebuah mesin pemotong buatan China. Ia bekerja di perusahaan itu bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya ia mati saat menebang pohon besar: kakinya terperosok ke dalam sebuah lobang kecil saat hendak menjauh dari pohon yang sedang bergemeretak hendak tumbang, dan mesin pemotong yang masih menyala di tangannya mengoyak lehernya. Tak ada yang melihatnya saat peristiwa itu terjadi. Orang-orang menemukan mayatnya beberapa jam kemudian setelah darahnya mengering di tanah.

Puluhan tahun sebelum orang-orang perusahaan itu datang, ada satu peristiwa yang tak kalah penting. Orang-orang gunung melaksanakan upacara adat. Ada sepasang suami-istri, mereka punya anak masih bayi yang sudah cukup umur buat berayun saban kali hendak tidur. Di upacara adat itu ada banyak sekali arak dan tuak tinggal tenggak secara cuma-cuma. Lapak perjudian juga ada, itu pasti.

Laki-laki itu bernama Buhis. Istrinya sedang mencuci pakaian di sungai. Ketika pekerjaan istrinya selesai di malam hari, ia pergi dari rumah tanpa pamit dan meninggalkan anaknya yang masih tidur di dalam ayunan sendirian. Istrinya marah besar. Istrinya tahu bahwa ia pergi ke tempat upacara adat sedang berlangsung.

Lelaki itu menenggak arak dan tuak yang tersedia di sana. Perempuan dan laki-laki, tua dan muda menari—orang-orang dusun menyebutnya manasai—mengelilingi sangkai diiringi petikan kecapi dan syair karungut di rumah adat. Orang-orang berkerumun di lapak judi, musik dan tari-tarian mendadak berhenti. Ada seorang pemuda terkapar mengerang seperti seekor sapi yang lehernya disembelih. Tangannya bersimbah darah sambil menahan perut. Si pemilik lapak judi itu adalah pamannya. Ia berlari ke dalam salah satu rumah warga dan kembali membawa balok kayu ulin lalu memukulkannya ke kepala seorang lelaki gemuk yang sedang berdiri sambil menggenggam sebotol arak. Beberapa detik kemudian, sejumlah pemuda berlari menuju lelaki gemuk yang sedang terbaring dan berteriak kesakitan lalu memukulinya hingga wajahnya tak bisa dikenali lagi. Orang-orang mengira lelaki gemuk yang sedang mabuk itulah pelakunya. Padahal, aku tahu dan melihat sendiri siapa pelaku sesungguhnya.

Sungguh, benar apa yang dikatakan Ulak Tuwe. Kau usil dan nakal, Tungeh.

Di sela-sela keramaian upacara, Buhis menyadari bahwa istrinya akan marah bila ia pulang hanya membawa aroma tuak di mulutnya. Agar kemarahan istrinya tak tumbuh tambah besar, ia memutuskan berburu babi atau kijang di hutan sebelah gunung.

Separuh malam sudah berlalu, dan ia tidak mendapatkan apa-apa. Di hutan itu terlalu banyak binatang yang mirip monyet. Agar kepulangannya tidak hampa dan kemarahan istrinya bisa sedikit redam, ia memutuskan menangkap binatang yang mirip monyet itu.

Ketika tiba di rumah, ia melihat istrinya sedang menjahit. Di hadapannya ada lampu dari damar sedang menyala dan meletup-letup. Istrinya diam dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia mengikatkan binatang yang ia tangkap di hutan pada tiang tengah penyangga wuwungan. Ia tidur hingga esok pagi. Saat bangun, ia tak melihat istrinya. Ia hanya melihat sebuah ayunan yang tak bergerak. Ia mengira di dalam ayunan itu adalah anaknya, maka ia ayunkan saja tanpa melongok ke dalam ayunan.

Asap mengepul dari bawah. Menyelusup lewat sela-sela lantai dari kulit pohon besar. Di bagian dapur, tak seperti biasanya, tungku tak mengepulkan asap. Tak ada air dijerang. Tak ada apa-apa yang dimasak.

Istrinya datang membawa sayuran dibalut daun pisang. Dari sanalah kutukan itu bermula.

Hujan turun. Deras sekali. Pagi yang cerah tiba-tiba gelap. Petir menyambar, langit seperti hendak roboh. Angin bertiup kencang sekali. Pohon-pohon besar di bukit-bukit bergoyang hendak tumbang.  Ketika kekacauan cuaca itu usai, Buhis sudah teronggok menjadi batu. Maka jangan sekali-kali ada yang berani menyiram batu ini. Jika ada yang berani, bersiaplah air sungai akan menguap jadi bah yang tak terbendung oleh doa dan mantra jenis apa pun.

“Tapi kita terpaksa melakukannya karena kemarau terlampau panjang,” katamu. “Kalau tidak disiram bagaimana kita bisa membawa rakit-rakit keparat ini ke hulu Barito, sementara sungai ini hanya sebatas mata kaki kita, Demang.”

Malam Ketika Mereka Menyerangku

Sumpah adalah sumpah, dan kutukan tetaplah kutukan dan aku tahu aku telah melanggar sumpah. Sungguh, aku lapar sekali saat itu dan aku tidak menghiraukan apa yang kau katakan. Burung hasil buruan yang kau panggang itu telah aku makan habis, dan tidak membiarkan kepalanya tersisa barang sedikit pun. Saat aku hendak berburu dan, jika berhasil, hasilnya aku persembahkan untuk mengganti apa yang telah aku makan. Saat itulah mereka menyerangku. Jumlah mereka banyak sekali. Aku bisa saja bertahan dan melawan, tapi aku hanya membawa sumpit dan tak membawa tombak di lenganku atau Mandau di pinggangku. Tak ada apa pun yang bisa kugunakan buat melawan.

Sebetulnya, mereka berencana membunuhmu, Tungeh. Mereka tidak bisa membedakan kita. Wajah kita sama, tinggi tubuh kita juga sama, mereka tidak menyadari bahwa ada perbedaan di tubuh kita: Lebar dadamu seukuran tujuh jengkal orang dewasa, dadaku kurang dua jengkal dari milikmu. Mereka ingin membunuhmu karena kau nakal, kau usil. Senang sekali memotong leher orang yang tidak diketahui kesalahannya.

Kau ingat, ketika Ulak Tuwe mengajakmu menyusuri sungai Barito dari Marabahan menggunakan kapal yang berisi ratusan kelapa dan menjualnya di sungai Barito paling hulu, tapi karena kenakalanmu itu akhirnya Ulak Tuwe mengantarmu pulang dan kembali ke Rumah Betang yang sudah lama tak berpenghuni.

Bau busuk menyengat selama berhari-hari yang sangat mengganggu Ulak Tuwe dan Ulak Bawi itu ternyata berasal dari tempat penyimpanan ratusan kelapa. Kau menumpuk kepala orang-orang yang kau potong. Setiap kali ada orang sedang mandi sendirian, kata Ulak Tuwe, kau menyumpit mereka dari belakang, kau seret tubuh mereka ke semak-semak lalu menggorok leher mereka dengan semangat dan tanpa sesal sedikit pun di wajahmu. Ulak Tuwe, saat pertama kali melihat kau melakukan itu, terperangah tak habis pikir. Mengapa kau melakukannya?

Ada banyak sekali orang yang kau potong lehernya. Orang-orang yang ditinggalkan karena kau bunuh—keluarganya, juga para tetangganya—marah.

***

Saat kau menggendong tubuhku yang lemah sambil berlari, aku ingat malam itu, ratusan orang mengejar kita sambil membawa amarah dan dendam masing-masing. Kau berlari. Cepat sekali. Dengus napasmu serupa angin di puncak gunung. Kau lelah, dan terpaksa harus meninggalkanku di bawah pohon besar, akarnya yang timbul serupa dinding tebing masih sudi melindungi kita beberapa saat. Aku ingin sekali menyuruhmu berlari lebih cepat lagi, tapi mulutku cuma mampu sedikit terbuka mencari-cari udara.

Di bawah pohon itulah akhirnya mereka menemukanku terkulai lemah dengan luka yang membentang dari leher hingga ke perut. Mereka mengikat kaki kiriku dengan akar lalu menyeret tubuhku ke halaman depan Rumah Betang. Beberapa orang dewasa dan anak-anak mencoba melepaskan mandau di genggamanku secara bergiliran, namun tak pernah berhasil. Mereka tak tahu hanya ada satu cara mudah untuk melepaskannya dari tanganku, dan hanya kau yang tahu cara itu, Tungeh. Hanya kau.

Karena kewalahan melepaskan Mandau dari genggamanku, mereka akhirnya menyerah setelah berbagai cara telah mereka lakukan. Dari menggunakan akar yang diikatkan pada ujung Mandau lalu menariknya beramai-ramai secara tiba-tiba sampai menggunakan cara paling lembut: menyayat-nyayat lenganku dengan Mandau milik lelaki paling tua di dusun itu. Tetapi tetap tak berhasil. Cara terakhir yang mereka gunakan adalah memasak lenganku di dalam kawah sampai tujuh hari tujuh malam lamanya.(*)

Catatan Kaki:

Nyarung Uhing: nama seorang tokoh adat yang namanya digunakan sebagai nama sebuah hutan

Manasai: tarian adat Kalimantan Tengah

Karungut: syair/pantun yang dinyanyikan diiringi dengan alat musik kecapi. Biasanya dibawakan pada ritual adat.

Mandau: parang khas suku Dayak Kalimantan

Rumah Betang: Rumah adat Kalimantan Tengah

Wuwungan: bubungan rumah

Sangkai: semacam sesajen seperti lemang (beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu), daging ayam, dan lain-lain. Benda ini bisa ditemukan dalam upacara balian (penyembuhan).

 


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga: NYANYIAN MAUT

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *