Menu
Menu

kaukah yang cemas berjalan/ menuju riuh tahun baru?


Oleh: Shinta Febriany |

Bekerja sebagai sutradara dan penulis di Kala Teater. Buku puisinya yang telah terbit “Aku Bukan Masa Depan” dan “Gambar Kesunyian di Jendela”.


natal di dalam diriku

selamanya aku takkan muda
seperti hijau pohon cemara
tapi aku akan mencintai pertanyaan hidup
di dalam diriku.

harapan abadi di dalam pikiran.
di ujung daun-daun yang mengarah ke langit
yang bernama surga
yang bernama bahagia.

abad-abad yang memelihara janji tuhan
mengikuti tubuhku hingga desember ini
hingga desember berikutnya
hingga desember berikutnya lagi
hingga tanah menelanku nanti.

tidak apa.

tidak ada bintang di dalam saku baju.
tidak ada lilin di dalam tas.

anak-anak akan mengajari diri mereka
bahwa gelap adalah jalan melihat diri
yang terdalam, sebagaimana terang
adalah jalan melihat diri yang terdekat.

di antara para gembala
setiap orang mungkin tersesat.

oh kristus,
beri aku bir dan kisah orang-orang majus!
letakkan emas, kemenyan, dan mur
di pintu rumah setiap kelahiran dan kematian.

aku akan merayakan natal di dalam diriku
meski seluruh pertanyaan akan datang kembali.

makassar, 2019

.

aku dan lelaki pilu

kulihat kau
di dinding putih gading
berdiri di depan salib.

sepasang tangan bersilangan.
hidup telah terhenti.
kesepian tak perlu disebut lagi.

dua malaikat kecil di sisi kepalamu
melayang mengikat doa
tak ada derita yang lekat selamanya.

kulihat kau
bertelanjang dada setengah terkubur.
matamu tertutup.
kasihmu memeluk seorang asing di depanmu;
dadanya berdebur oleh rasa pilu.

london, 2018

.

percakapan dengan jacopo di cione

maria magdalena berbaju merah
berlutut di hadapan masa silam
yang bernyawa dan berwarna merah muda.

cangkul di tangan kiri
tapi aku tak mengenalmu
sebagai tukang kebun.

sahut maria dengan mata mendung.

sepasang tangannya menggapai
telah lama rindu menjelma badai
di tubuhnya.

biarkan aku menyentuhmu.
aku telah berjaga sepanjang waktu.

suara maria dingin dan kaku.

tiga pohon berdaun rimbun
di atas kepalanya tak bergerak,
menolak berbicara pada kenyataan.

maria magdalena berbaju merah
menemui bapa dengan dada bergemuruh.

noli me tangere.

london, 2018

.

pada suatu suasana lamban

jalan-jalan basah
meninggalkan gigil di sepatu.

langkah-langkah bergegas itu
kau tahu bukan milikmu.
ia milik waktu.

kau adalah suasana yang bergerak lamban
kehampaan yang dilekatkan pada puisi
seperti udara di sekeliling gereja st. philips
seperti jendela kaca berwarna burne jones.

tapi kau tiba jua
pada cahaya redup penginapan
meletakkan tubuh yang mabuk kesunyian
mengunyah dingin kentang di sudut kasur
tanpa penyesalan atau keinginan
untuk memanggil tuhan.

kau pejamkan mata
menyelesaikan hari minggu di pikiranmu
sebelum kenangan tumbuh di sana.

birmingham – makassar, 2018 – 2019

.

melepas desember

kukatakan tentang penantian
kepada hujan yang tiba terlambat.

di dalam bulan-bulan yang lewat
kemarau memanjang hingga 34 derajat celcius.

kekasih tak lelah bertanya,
mengapa kota belum jua basah?

dia ingin kuyup
menanggung demam dan batuk
juga semangkuk coto makassar
untuk menemukan arah
selain yang ditunjukkan debu.

hari-hari yang dibayangi ragu dan bahagia
membuat usia kian rapuh.

aku rebah oleh pikiran atas waktu
yang tak bisa kusentuh.

apakah kau masih di situ, desember?
mungkin aku telah siap untuk perpisahan.

makassar, 2019

.

hantu tahun baru

kaukah yang cemas berjalan
menuju riuh tahun baru?

hidup kan terus menyergap, sayang
memasang sepatu untuk kaki-kaki murungmu
untuk perjalanan gelap dan menikung.

kuberi kau krayon putih
gambarlah harapan dan perasaan kosong
di dalam sana.

setiap orang memiliki kesempatan
untuk meninggalkan.

bunyikan terompet lebih kencang.
nyalakan kembang api dan menarilah!

tak ada hidup yang tak memabukkan.

london – makassar, 2018 – 2019


Ilustrasi: Photo by Suhail Lone from Pexels

Baca juga:

PUISI-PUISI ANNISA HIDAYAT – PETANG MUSIM PANAS DI TEPI DANAU HARBURG

PUISI-PUISI TRISKAIDEKAMAN – GAUDEAMUS IGITUR

Bagikan artikel ini ke: