Menu
Menu

Komunitas Teater Saja bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Literasi Sastra (UKM Litera) Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng menggelar pentas Cipta Karya.


Oleh: Rini Kurniati |

Tinggal di Ruteng. Menyukai matematika dan anak-anak. Alumni UNIKA Santu Paulus Ruteng. Bergiat di Komunitas Teater Saja.


Karya kreatif seyogyanya dihasilkan dari proses yang kontinu. Berlangsung terus menerus, agar karya yang dihasilkan menjadi sebuah karya yang matang, bersamaan dengan itu terus bertumbuh, mampu memberi cita rasa sesuai dengan berbagai kondisi, seperti waktu maupun audiens.

Untuk tujuan inilah, Komunitas Teater Saja bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Literasi Sastra (UKM Litera) Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng menggelar pentas Cipta Karya yang dilaksanakan di Aula Missio Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng, pada Sabtu, 14 Desember 2019. Pentas ini merupakan yang pertama kalinya diselenggarakan sebagai salah satu cara mewujudkan ekosistem pertunjukan yang sesungguhnya dan berkelanjutan di masa yang akan datang.

Beberapa karya seperti Musikalisasi Puisi, Monolog, dan Dramatisasi Puisi dipentaskan malam itu oleh Komunitas Teater Saja dan UKM Litera. Karya-karya yang dipentaskan antara lain, Musikalisasi Puisi karya Berno Beding, Deklamasi Puisi “Pesan Pencopet untuk Pacarnya”, Dramatisasi Puisi “Sajak Orang Lapar” karya WS Rendra, semuanya dibawakan oleh Para Pegiat Seni dan Sastra UKM Litera. Sementara itu, Komunitas Teater Saja mementaskan beberapa karya, antara lain: aransemen lagu “Lanjar Laing” oleh Narto, Monolog “Bayangan Rindu dalam Kopi Buatan Ibu” oleh Ugi Suharjo, Pembacaan Puisi “Manusia Pertama di Angkasa Luar” oleh Elgy Ramut. Sebuah lagu berjudul “Lagu Malam yang Panjang”, ciptaan Marselus Ungkang dan Rista Damu juga dibawakan malam itu oleh Narto diiringi gitar oleh Yobin. Monolog berjudul “Yang Terambil oleh Kabut” menutup rangkaian pementasan malam itu. Monolog garapan Marcelus Ungkang ini dibawakan oleh Rini Temala.

Pementasan sastra yang diselenggarakan pada malam Minggu ini diakhiri dengan diskusi pasca-pementasan yang kemudian juga membahas tentang bagaimana membangun ekosistem pertunjukan sastra. Peserta diskusi adalah Para Pegiat Komunitas Teater Saja, Koordinator dan Mahasiswa/i Anggota UKM Litera, serta para penonton yang malam itu hadir menyaksikan pementasan. Marcelus Ungkang (Penggiat Komunitas Teater Saja), Berno Beding (Koordinator UKM Litera), Maria Pankratia (Pemerhati Seni dan Pengelola Klub Buku Petra) juga terlibat. Diskusi ini, secara tidak langsung, membuka ruang bagi kedua komunitas dan para audiens untuk saling belajar, bertanya, atau membagikan pengalaman tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses penciptaan karya kreatif.

Diskusi yang dilaksanakan setelah pementasan karya berakhir, juga membuka ruang kritik bagi para penampil yang disampaikan oleh para penonton maupun juga dari setiap anggota masing-masing komunitas; bahwa karya sesungguhnya tidak lepas dari hal-hal yang perlu diperbaiki. Seperti saat pertunjukan, pada bagian mana para penampil mulai kehilangan perhatian audiens, bagaimana properti dapat digunakan sebagai penanda pergantian karakter, macam-macam grafik konflik dalam pementasan sehingga pertunjukan menampilkan tempo yang menarik seperti musik dan karya seni lainnya, penataan panggung, penghayatan peran, dan lain sebagainya. Sebagian besar perihal yang didiskusikan malam itu, cukup banyak berkaitan dengan hal teknis yang berlangsung di panggung pementasan.

“Kegiatan ini diselenggarakan untuk membangun ekosistem teater. Kontinuitas kegiatan seperti ini adalah upaya untuk membangun kultur, tidak hanya pegiat, karya, tetapi juga perspektif audiens dan aspek teknis dari pertunjukkan itu sendiri,” jelas Marcelus Ungkang. “Harapannya, dari pertunjukan seperti ini, levelnya semakin baik, baik penampil maupun juga penonton. Proses seperti ini membuat kita berkembang bersama audiens,” lanjutnya.

Bernardus Tube Beding, Koordinator UKM Litera mengungkapkan bahwa pementasan karya cipta ini merupakan awal yang baik untuk membangun ekosistem sastra. “Kegiatan pentas karya cipta kolaboratif ini merupakan suatu awal harapan bagi dunia sastra di tanah Nuca Lale. Masyarakat Manggarai, khususnya kaum muda, dapat membangun budaya atau ekosistem pertunjukan sekaligus menumbuhkan budaya menonton teater sebagai bagian dari budaya populer, sehingga tidak ada lagi pemikiran bahwa pementasan sastra adalah kegiatan kuno dan membosankan,” kata Dosen asal Lembata ini.

Sementara itu, bagi Maria Pankratia, pementasan malam itu masih jauh dari kata memuaskan. Ia menyampaikan kekecewaannya karena baru mengetahui tentang pementasan ini pada pagi hari tanggal 14 Desember 2019. “Saya pikir, jika ingin membangun ekosistem bertumbuh bersama penonton, sejak masa persiapan seharusnya penonton dilibatkan melalui publikasi yang serius dan sering, sehingga mood penonton telah terbentuk sejak jauh hari. Masa-masa penantian itu akan terjawab di panggung pementasan ketika menyaksikan pertunjukan”, jelas Maria.

Arsy Juwandy yang merupakan salah satu Alumni STKIP Santu Paulus Ruteng dan Anggota UKM Litera di zamannya, menyampaikan apresiasi juga kekecewaannya ketika melihat jumlah penonton yang hadir sangat sedikit. “Saya tertarik dengan ekosistem teater. Seperti saat kuliah dulu, setelah pertunjukan, selalu ada evaluasi seperti diskusi yang sedang dilakukan saat ini. Ini sangat bagus. Hanya saja saya kecewa, entah kenapa jarang sekali kita temukan pada pementasan karya seperti ini kursi-kursi penonton akan terisi penuh. Seperti malam ini, penontonnya tidak banyak. Harapannya, suatu saat ada lebih banyak penonton yang datang menyaksikan cipta karya seperti ini,” tutur Arsy.

Malam itu, seluruh rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama Para Pegiat Komunitas Teater Saja, UKM Litera, dan Penonton yang telah menyaksikan pementasan serta mengikuti diskusi pasca pementasan hingga selesai.(*)


Baca juga: SEMUA ORANG MAU BERBUAT BAIK, HANYA SAJA …

Kami menerima tulisan seputar kegiatan-kegiatan kesenian di komunitas Anda untuk rubrik SEKITAR KITA. Kirim ke: redaksi@bacapetra.co. Syarat dan ketentuan pengiriman tulisan dapat dibaca di tautan ini.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *