Menu
Menu

Semua orang mau berbuat baik. Hanya saja tidak semua orang dapat melakukan semua hal.


Oleh: Armin Bell |

Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra, Ruteng. Tulisan lainnya dapat diakses di: www.ranalino.id.


Ketika akan menulis untuk Jangka edisi April ini, saya sedang membaca sebuah buku yang ditulis oleh Mark Manson.

Sebelum akhirnya berhasil membeli dan mulai membaca buku berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (Grasindo, 2018) itu, saya membaca dan menikmati dengan sungguh Dunia Telah Merampas Banyak Sekali Kegembiraan Saya, sebuah tulisan menarik dari Puthut EA. Jauh sebelumnya, saya memutuskan berhenti nonton tivi (Indonesia) dan ‘meng-update diri’ melalui media daring (yang saya sukai) saja. Juga berusaha mengurangi kehadiran saya pada banyak hal yang sebelumnya saya (pikir) sukai.

Lebih jauh lagi sebelumnya, Dorothea Rosa Herliany menerbitkan buku puisi yang, hemat saya, judulnya bersemangat sama; apakah kesibukan memikul seluruh dunia akan membuat kita—semua orang atau hal atau benda—menjadi baik? Apakah dengan mau berbuat baik pada segala hal membuat hal-hal itu benar-benar baik? Hadeeeh… pertanyaan macam apa ini? Bagaimanapun, buku berjudul Kill The Radio – Sebuah Radio Kumatikan (Indonesia Tera, 2001) adalah salah satu buku puisi yang saya nikmati; juga penggalan berikut ini:

[s]esudah lagu pertama, kita matikan saja. menikmati kesunyian
lebih lepas, ketimbang menoleh dari kenyataan yang tak pingsan
: sebelum keterkoyakan itu usai direnda tangandusta. (Sebuah Radio, Kumatikan — fragmen ke 2).

Lalu ketika mengerjakan catatan ini saya ingat lagi beberapa tahun silam. Ketika sedang merasa begitu hebat. Karena terlibat dalam segala hal: bergabung di klub sepak bola, aktif pada kelompok-kelompok kategorial di gereja, menjadi master of ceremony, menjadi juri, menyanyi, menari, mencari pacar, mencari tahu tentang pacarnya pacar, makan-makan, merumuskan jawaban yang tepat untuk pertanyaan “kapan nikah?”, kritik sana kritik sini, ikut penghijauan, menyesalkan sedikitnya jumlah orang yang membaca buku, terlibat dalam diskusi-diskusi kebudayaan, menjadi pemerhati televisi, dan lain-lain.

Pada bagian awal, hal-hal demikian terasa begitu menyenangkan. Betul. Bukan karena merasa telah menjadi bagian dari gerakan-gerakan positif (kecuali soal pacar tadi, tentu saja). Tetapi karena saya senang bertemu orang lain. Dan merasa penting karena telah menjadi berarti bagi bangsa dan negara. Aseli. Saya merasa demikian. Bukankah membangun bangsa dan negara ini harus kita mulai dari komunitas kecil?

Kemudian tibalah saya pada malam-malam panjang. Waktu di mana saya menyesal. Karena tak berhasil tampil maksimal. Maksudnya, tak ada satu pun dari sekian kesibukan itu yang membuat saya berhasil menjadi ahli. Saya bisa main sepak bola memang, tetapi ya tidak lolos seleksi klub kabupaten. Demikian juga menjadi MC. Ikut tanam pohon di Golo Lusang juga begitu: setelah tanam, selesai. Tak ada kunjungan berikutnya. Bikin taman baca untuk meningkatkan jumlah pembaca? Sudah dilakukan. Tetapi ternyata modal semangat saja tidak cukup. Saya sadar, mengelola yang demikian butuh keahlian. Perencanaan. Dan lain sebagainya.

Atau sesungguhnya, saya sadar, menguasai/bergiat di terlampau banyak hal sama artinya dengan asal ikut ramai: tidak menghasilkan apa-apa. Harus ada yang dilepas. Barangkali seumpama satu obat yang dipromosikan dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit, yang ternyata tidak berhasil menyembuhkan apa-apa. Atau seperti baju kaos all size yang tidak all size. Bagaimana mungkin baju yang fit di Chris Rock dapat dikenakan The Rock (Dwayne Johnson) dengan nyaman? Meskipun mereka sama-sama rock, mereka tetap butuh ukuran kaos yang tepat untuk masing-masingnya. Bukan all size.

Suatu ketika, saya memutuskan untuk mengurangi keriuhan pekerjaan-pekerjaan itu. Memilih yang paling dapat saya lakukan. Menyerahkan hal-hal selain itu kepada yang memang paling tepat melakukannya. Siapa saja. Saya pilih jalan satu arah saja. Pilihan yang kemudian saya sesali karena akhirnya membuat saya tiba pada malam-malam panjang yang lain. Berpikir: perbuatan baik apa yang paling dapat saya lakukan? Lalu bersedih. Sekian lama merasa mampu berbuat baik di banyak hal, ketika memutuskan menekuni satu saja di antaranya, saya tiba pada kesadaran bahwa saya tirada apa-apanya. Pada satu hal itu.

Namun keputusan telah diambil. Harus dipertanggungjawabkan. Bagaimana caranya? Ah …

Sebelum sampai ke sana, saya ceritakan saja apa yang akhirnya saya putuskan sebagai (sebut saja) fokus baru itu. Menulis. Karena saya senang membaca. Kata orang-orang, menulis adalah hal yang paling dekat dengan kegemaran membaca. Selain pamer buku yang kita baca di instagram dan facebook, tentu saja. Saya toh pernah menulis dan sempat merasa begitu jago melakukannya—ketika masih siburibuk pada semua hal tadi. Hanya saja, ketika menjadikannya sebagai ‘kegiatan tersisa’, saya lantas sadar bahwa saya bukan siapa-siapa.

Tersisa satu pilihan saja. Belajar. Dua pilihan, barangkali. Belajar dan belajar. Pokoknya begitu. Tidak segera menjadikan saya ahli, tetapi telah membuat saya merasa senang. Waktu yang terpakai untuk belajar menulis membuat saya berhasil mengabaikan hobi-hobi saya yang lain. Juga tidak mengabaikannya. Maksud saya, dengan menulis saya tetap menyapa hal-hal yang saya sukai tidak harus dengan melakukannya. Saya bisa menulis tentang sepak bola, bukan?

Secara perlahan, tulisan saya ada di ruang publik. Dipuji, dikritik, diabaikan. Kemudian bikin buku. Yang tentang Leon mencari ayam pedaging itu. Diperbincangkan, dipuji, dibeli teman yang tidak membaca tetapi memutuskan membeli hanya karena kasihan, ditertawakan; saya pikir menulis telah cocok dengan saya. Harusnya, jika dilakukan secara terus menerus dan bertanggung jawab—dengan terus belajar—saya akan sangat baik suatu saat. Yang itu, nanti saja. Karena tidak semua pilihan (untuk fokus) berorientasi pada menjadi ahli. Kadang hanya agar kita tidak berusaha memikul seluruh dunia. Membebaskan diri dari niat berbuat baik dalam semua hal (agar dipuji).

Mark Manson pada bab pertama bukunya bercerita tentang Charles Bukowski yang meninggalkan pekerjaannya sebagai penyortir surat di kantor pos dan menjawab tantangan sebuah penerbitan yang berminat pada tulisannya. Bukowski menjawab tantangan sang editor: “Saya hanya bisa memilih satu dari dua pilihan—tetap bekerja di kantor pos dan bakalan sinting… atau tetap di luar sini, menjadi penulis, dan kelaparan. Saya lebih memilih kelaparan saja.” (Manson, hal. 2).

Sementara Puthut EA pada artikelnya menulis: Ada puluhan ribu persoalan sosial di luar sana. Semua itu akan terus terjadi kalau saya ikuti maupun tidak saya ikuti. Saya pilih saja yang kira-kira saya bisa punya kontribusi untuk menyelesaikannya. Pilihan yang saya kira membahagiakan sekali. Yang sebaiknya dipilih semua orang kecuali oleh yang ingin menambah panjang daftar curriculum vitae mereka dengan terlibat di semua jenis kegiatan.

Dorothea Rosa Herliany dalam Sebuah Radio, Kumatikan—fragmen 23, kepada XG, menulis:

[s]ebenarnya, apakah yang kita perebutkan?
hingga kuyup tubuh ini, hingga letih kita, oleh
keinginan-keinginan kosong

Bisa saja keterlibatan kita pada begitu banyak kegiatan bukan keinginan-keinginan kosong. Kita benar-benar melakukannya, berbuat baik, karena sangat ingin mengubah dunia sekitar kita. Yang kosong mungkin justru kemampuan kita melakukannya. Tidak benar-benar kosong. Agak kosong. Karena begitu. Semua orang mau berbuat baik. Hanya saja tidak semua orang dapat melakukan semua hal. (*)

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *