Menu
Menu

Esai Luis Sepúlveda ini berjudul “Ombre su Isla Negra” dari bukunya Ingredienti per una vita di formidabili passioni (Ugo Guanda Editore, 2013: 21-23).


Oleh: Mario F. Lawi |

Buku-buku puisinya adalah Memoria (2013), Ekaristi (2014), Lelaki Bukan Malaikat (2015), Mendengarkan Coldplay (2016) dan Keledai yang Mulia (2019). Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.


Berita kematian Penyair Pablo Neruda menghampiri kami warga Cile seperti gelombang tsunami yang meluluhlantakkan kehidupan kami.

Berawal pada 11 September 1973, kengerian tersebut menemani kami sebagai bayangan terburuk dan ketika kami mengetahui bahwa Pablo kami telah meninggalkan kami, kami merasakan bahwa kesunyian yang dahsyat ikut bergabung bersama kengerian tersebut, karena bagi kami warga Cile Neruda adalah saudara, karib yang kami kenal dekat melalui keramahtamahan Isla Negra-nya.

Bayang-bayang kematian Sang Penyair mulai menghilang jauh sejak Manuel Araya, orang yang dipercaya oleh Juventudes Comunistas de Chile sebagai sopir dan bertanggung jawab atas keselamatan Neruda. Manuel Araya adalah saksi langsung atas fakta-fakta yang mempercepat kematian Sang Penyair, tetapi kesaksian beraninya disembunyikan bayang-bayang yang diciptakan kediktatoran, keraguan istri Neruda dan sekelompok “teman” Neruda yang dipertanyakan, yang mengaku sebagai para penulis biografi—tetapi hanya buku-buku biografi yang disahkan rezim. Bahkan tidak ada gunanya menyebutkan mereka yang, untuk sejumlah prebenda, untuk sejumlah kedutaan, menjadikan diri mereka pelayan sejarah resmi, sejarah yang ditulis oleh para pemenang.

Neruda adalah protagonis besar dari pergerakan sosial Cile, puisinya dibuahi udara Cile dan Amerika Latin, kecemasan keadilan yang lahir saat fajar invasi bersenjata (yang lain menyebutnya “penaklukan”) negeri dan mencapai ekspresi maksimalnya dengan hadirnya kaum proletariat yang terorganisasi, berbudaya dan aktif dari seluruh benua Amerika. Neruda adalah ahli waris langsung para pemimpin penting kaum pekerja seperti Luis Emilio Recabarren dan Elías Laferte, dan pertemanannya yang mengagumkan dengan Salvador Allende telah menciptakan sebuah hubungan antara seorang pemimpin dan seorang cendekiawan yang menentukan haluan Revolusi Cile.

Dapatkah Anda membunuh seorang penyair besar seperti Neruda?

Memarodikan Thomas de Quincey, dapat kita katakan bahwa ada banyak cara untuk membunuh seorang penyair, tetapi mentalitas yang keji dan sangat tercela dari militer Cile membuat mereka menghindari pembunuhan secara terang-terangan, penembakan Federico García Lorca, dan memilih taktik pembunuhan penuh teka-teki sebagai rahasia negara dan untuk mengalihkan perhatian pada saat paling genting, seandainya taktik pertama tidak berfungsi.

Dan sebagai tambahan terhadap apa yang telah kita temukan, baik untuk disampaikan bahwa mereka mulai membunuh Pablo Neruda sejak pertama kali sayap kiri Cile, Partai Demokratik Kristen dan imperialis AS memutuskan untuk mengakhiri pemerintahan populer yang dipimpin Salvador Allende, berapa pun biayanya.

Kepekaan Neruda tidak asing terhadap usaha negara untuk mengatasi sabotase berkelanjutan, demonstrasi yang menuntut kudeta, provokasi terus-menerus dari fasisme Cile di hadapan rakyat dengan keinginan demokrasi kuat yang sepenuhnya ingin menghindari perang sipil.

Ketika, pada tengah hari 11 September 1973, pesawat-pesawat angkatan udara Cile mengebom istana Moneda, ketika suara metal tenang Salvador Allende memasukkan sang sahabat presiden ke dalam galeri orang-orang paling terpuji dan kengerian fasisme mengambil alih Cile, tepat pada saat itulah Pablo kami mulai meninggal.

Mungkin penyelidikan yang teliti pada jasadnya akan menemukan jejak beracun para pembunuhnya, tetapi tak ada autopsi yang bisa memberikan hasil yang lebih lengkap dan pasti dari baris puisi César Vallejo ini: “Su cadáver estaba lleno de mundo.”—Jasadnya penuh dengan dunia. (*)


Tentang Luis Sepúlveda

Luis Sepúlveda lahir di Cile pada 1949 dan tinggal di Spanyol. Bukunya yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah novelet berjudul Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (Marjin Kiri) dari versi Spanyol Un viejo que leía novelas de amor.

Esai di atas diterjemahkan Mario F. Lawi dari esai Sepúlveda berjudul “Ombre su Isla Negra” dari bukunya Ingredienti per una vita di formidabili passioni (Ugo Guanda Editore, 2013: 21-23), terjemahan Italia Ilide Carmignani atas versi Spanyol buku berjudul Escritura en Tiempos de Crisis.

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *