Anak Hilang
7 Juli 2026| | 0 Comment“Tolong!!! Anak yang hilang telah ditemukan!” Samidin menyerahkan tubuh anak yang membiru kepada ayahnya yang berlarian pilu.
Oleh: Hadi Rahman |
Lahir dan tumbuh besar di Kutai Barat, Kalimantan Timur, Hadi suka menggambar dan pula menulis. Hadi pernah mewakili Kalimantan Timur di Pekan Seni Mahasiswa Nasional XVII dan sekarang menjadi bagian dari keluarga besar Komune TerAksara Indonesia.
Anak itu hilang, Pamung Kerewau meneriaki ayahnya. “Anakmu diculik Uwoq Pelot, segera cari ke hutan dekat danau tempatnya biasa bermain.”
Berbondong-bondong orang bertelanjang kaki, menyusuri rumput jangang yang gatal. Paha dan betis mereka memerah, gatal tak terhingga.
Pamung Kerewau mengulum pinang sirih dan meludah, “Jangan sampai lewat subuh, pastikan yang pertama menemukannya adalah ayahnya sendiri!”
Berbekal senter, dengan tongkat kayu mereka menyibak rerumputan jangang yang tingginya sedada. Anak itu mungkin hilang tenggelam dalam rumput-rumput yang lebat, lemas menunggu bantuan.
Sementara, Samidin mengambil jalan yang berbeda. Ia menyusuri pinggiran danau mati, satu-satunya tempat yang bersih dari rerumputan jangang yang gatal. Samidin tidak ingin paha dan betisnya memerah karena gatal. Senternya ia arahkan ke sana ke mari, ke dalam air yang gelap.
Pamung Kerewau memimpin pencarian sesekali berteriak memberikan arahan. Sudah puluhan kali mantra ia ucapkan, datuk ninik leluhur ia panggil, Pamung Kerewau, tak ingin kalah malam ini. Puluhan tahun ia menjadi dukun, ilmu dan firasatnya tidak pernah salah, ia sudah dekat. Anak itu pasti ada di sana, mungkin pada rerumputan atau bisa saja di dalam danau mati yang gelap itu.
Samidin naik ke gundukan kecil dari gulungan rumput jangang yang saling membelit. Matanya yang sedikit rabun, melihat riak kecil di danau mati. Sekelebat bayangan manusia melompat masuk ke rerumputan di seberang danau. Samidin ragu, jadi ia mulai mendekat ke ke sumber riak.
Naas, baru sepuluh langkah ia jatuh terperosok ke dalam air. Samidin pandai berenang, bersungut-sungut sebab sebelah sandalnya menyangkut di dasar lumpur. Ia menggapai senternya, lalu mengobok-obok air. Samidin berhasil menemukan sandalnya sekaligus sesuatu yang lembut di dasar air.
Samidin membeku sejenak, perlahan ia arahkan cahaya senternya ke dalam air yang masih menari bersama lumpur. Mata rabunnya menangkap, sosok aneh mirip boneka manekin terbaring setengah tenggelam dalam lumpur yang pekat di dalam sana.
“Tidak ada manekin yang lunak,” Samidin bergumam sendirian, menelan ludah dan menarik tangan yang terus bergerak mengikuti riak air.
Ia merasakan sesuatu yang lembut dan dingin, telapak tangannya menyusuri setiap senti yang ada. Samidin takut setengah mati, suara rumput-rumput yang tersibak semakin kuat terdengar di sekelilingnya dan teriakan Pamung Kerewau memekakkan telinganya.
“Tolong!!! Anak yang hilang telah ditemukan!”
Samidin menyerahkan tubuh anak yang membiru kepada ayahnya yang berlarian pilu tak peduli gatalnya duri-duri kecil rumput jangang.
Samidin syok, duduk di atas rumput-rumput yang rebah. Harun, sahabatnya datang dengan menepuk bahunya.
“Tenangkan dirimu sejenak.”
Samidin memandang Harun, ia tampak berantakan dan basah. Keduanya, sahabat masa kecil namun lama tak bersua sejak Samidin ke kota untuk sekolah dan Harun menghabiskan waktunya untuk menoreh pohon-pohon karet.
Sebulan lalu saat baru saja pindah.
“Ayo, kita buka kebun! Sekarang aku sudah punya ilmunya,” kata Samidin yang baru berjumpa kembali dengan Harun.
Harun diam tak menanggapi, lama, sampai ia berucap, “Pernah dengar tentang Uwoq Pelot?”
“Ya, Nek Lelung dahulu pernah bercerita.”
“Kisah tentang dirinya dan kakaknya yang nyaris diculik? Puluhan kali aku dengar itu saat dirimu di kota,” ia menyandarkan tubuhnya ke daun pintu rumah. “Nek Lelung terus menceritakan itu, mungkin ia pikun atau kesepian. Sampai mati pun rumahnya tak pernah tersalurkan listrik dari perusahaan yang mengepung kampung.”
Samidin diam tak menjawab, ia ikut bersandar di dinding rumah.
“Setelah itu, anaknya pindah dan rumahnya dibiarkan terbengkalai, sekarang sudah rubuh, bersama rumah Paman Aleng, Kek Siur, dan Lahit.”
“Aku ingat Lahit, dahulu kita sering bermain bersama di sekitar pohon cempedak samping rumah Paman Aleng.”
“Berarti kau tentu kau ingat, saat dirinya tenggelam di danau bekas tambang itu?”
“Ya, kata Nek Lelung itu karena Lahit diculik oleh Uwoq Pelot.”
“Diculik?” tanya Harun pelan.
“Itu kata Nek Lelung, setelah kita mengambil rebung di belakang rumahnya, tidakkah kau ingat? Saat itu kakiku tertusuk paku balok,” jawab Samidin sambil menunjukkan bekas luka di telapak kakinya yang sudah sangat lama mengering.
Harun diam sebelum berdiri dan berseru lantang, “Lantas hantu itu menyamar menjadi siapa? Ayahnya? Bukankah telah mati tertimpa kayu saat membuka lahan untuk tambang? Ibunya? Yang pergi dan tak kembali lagi? Atau Paman Aleng? Satu-satunya kerabat yang masih tersisa tapi jadi wakar malam oleh perusahaan, lalu mati tertusuk karena melindungi Caterpillar yang solarnya hendak dicuri oleh saudara sepupunya sendiri?!”
“Jangan kuat-kuat mengucapkan namanya!” Hardik Samidin. Ia takut menyebutkan nama hantu itu berulang kali. Konon, hantu akan datang setiap kali seseorang menyebutkan namanya.
“Lalu, kuburan anak-anak kecil yang mengelilingi kampung kita ini juga ulah Uwoq Pelot?!”
Samidin hanya mengangguk sambil mengangkat bahu, Harun membenci jawaban yang tak pasti. Ia menggebrak dinding kayu rumahnya yang memang sudah lapuk. “Apa yang ingin kau tanam di tanah yang pupuknya mayat anak-anak ini?!”
“Palawija!”
Harun tergelak, Samidin terlalu lama merantau sampai tidak melihat pohon-pohon puti, jengan, ipil, lomuq, tumbuh ringkih seukuran ibu jari kaki.
“Maukah orang-orang kota memakan hasil bumi yang pupuknya mayat-mayat manusia?”
Samidin menunjuk hilir kampung, arah danau mati yang selama ini hanya jadi tempat warga melepas sapi dan kerbau untuk merumput karena banyaknya rumput jangang yang tumbuh di sana.
“Kita bisa ubah danau itu menjadi keramba ikan.”
Harun menepis ucapan Samidin dengan kipasan tangan, “Airnya beracun, lubang tambang yang airnya bekas mayat anak-anak tenggelam! Tanah kita kotor, Sungkir kemarin datang menawar kebun karet bapakku untuk dijual saja ke perusahaan tambang, tidak ada masa depan di sini.”
Ia lalu dengan kasar melompat langsung ke tanah tanpa menuruni anak tangga, ia tak peduli. Baginya, Samidin hanya membual. Begitu pula Samidin yang menganggap Harun terlalu keras kepala. Keduanya memang jarang sepakat meski telah bersahabat belasan tahun.
“Kak, benarkah Lintang meninggal karena diculik hantu?” Marsinah membuka pembicaraan di meja makan, membuyarkan lamunan Samidin.
Seharian penuh Samidin memagut koyo, Marsinah sejak pagi sudah memijit dan mengeroknya, membuat punggungnya penuh dengan goresan merah yang tampak menyakitkan. Ia tahu, suaminya memang tidak kuat menahan dingin malam.
Rumah mereka sederhana, rumah panggung peninggalan orang tua Samidin yang ia renovasi sedikit. Tidak ada perabotan mewah, selain televisi tabung.
Suami istri itu duduk menghadap piring mangkuk yang berisi ikan asin kering dan tumis pakis, Samidin memang tidak bernafsu makan. Ia mendorong piring kaleng itu pelan, berusaha agar tidak menyinggung hati istrinya yang sudah bersusah payah memasak untuknya.
“Mungkin, tapi Marsinah tak perlu khawatir,” Samidin menggenggam lembut tangan istrinya. “Yang sudah terjadi, biarlah sudah terjadi, besok bibit-bibit ikan untuk keramba akan datang, Harun juga akan membantu.”
Marsinah mengangguk, mengelus-elus perutnya yang semakin besar. Anak mereka sebentar lagi akan lahir, telah pula diberi nama, Erai Bolump.
Harun menjual kebun karet bapaknya untuk menjadi modal keramba. Meski keras kepala, ia tahu jika Samidin serius hendak mengembangkan usaha di kampung mereka.
Namun, Samidin merasa tak nyaman, kampung ini agaknya semakin sepi. Atau, mungkin memang hanya perasaannya, seperti seorang tamu dalam realita pahit kutukan sang perantau. Seorang asing di tanah orang dan seorang turis di tanah sendiri.
Besok, bibit-bibit ikan memang akan datang. Nila, bawal, dan patin, semuanya akan masuk ke keramba kayu yang ia dan Harun buat berhari-hari lalu pula. Tetapi Samidin masih tidak bisa menghilangkan rasa tidak nyaman itu. Suara gong dari hulu kampung terus terdengar, ia masih bisa merasakan rasa dingin dari mayat anak Sungkir semalam. Lebih-lebih ia tahu, meski dalam kegelapan malam sekalipun. Matanya memang sedikit rabun, tetapi sesosok manusia yang melompat ke dalam rumput-rumput jangang itu terus muncul dalam kepalanya. Lebih, Harun masih tidak menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sedari tadi.
“Kenapa bajumu basah semalam?”
Harun hanya diam, sangat lama sampai-sampai bulu kuduk Samidin meremang.
“Dalam cerita Nek Lelung, Uwoq Pelot bukanlah hantu jadi-jadian seperti Uwoq Peras dan Kuyang, mereka hantu hutan, makhluk alami yang diciptakan Tuhan.”
Samidin masih menatap mata Harun lekat-lekat. “Harun, kenapa bajumu basah semalam?”
Harun menghela napas, “Hantu itu yang memang menculik anak Sungkir, Pamung Kerewau sudah memastikan itu kan?”
“Aku akan kembali ke kota.”
“Kenapa?”
“Kita penjahat!”
“Tidak!”
“Aku dan Marsinah akan pergi!”
“Kenapa?!”
Samidin berdiri, kerutan lelah di wajahnya kali ini terlihat. Terukir jelas di tengah temaramnya cahaya lampu berwarna kekuningan di teras rumahnya. Bulu kuduknya meninggi disertai rasa takut yang semakin menjadi-jadi. Ia menunjuk Harun langsung di depan muka sahabatnya itu, rahangnya mengeras.
“Karena dirimu yang menenggelamkan Lintang anak Sungkir kemarin!” [*]
Ilustrasi: Head of Drowned Man (Théodore Géricault), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Panakkok Gana
– Hantu-Hantu Benteng Lodewijk
