Menu
Menu

Dari dalam sana, tampak sebuah reruntuhan dari tumpukan batu-bata yang sudah doyong ke laut. Reruntuhan itu adalah benteng Lodewijk.


Oleh: Pramudya Utari |

Seorang guru dan penulis. Menerbitkan kumpulan cerita pertamanya secara independen: The Swan of Paradiso (2015). Novel pertamanya Fantasmagoria (2020) bersama Gramedia Pustaka Utama. Menyelesaikan pendidikan di Universitas Airlangga dan Universitas Terbuka. Saat ini ia aktif mengajar dan merintis komunitas baca Planetari Book di kampung halamannya.


Tepat tujuh hari setelah kematian bapakku, aku menggantikannya menjadi nelayan terhormat. Bapakku bukan buruh siapa pun, ia bekerja mandiri dengan peralatannya sendiri. Perahu kelotok bertenaga diesel yang baru-baru ini ia cat ulang warna biru-putih di badan serta bendera merah-putih yang ia tancapkan di ekor perahu sehingga berkibar syahdu di tengah terpaan angin laut juga secoret tulisan hitam di antara cat baru itu yang berbunyi: ‘bersedih tanpa kata-kata’, terasa amat menyesakkan dada. Apalagi setelah tahu, Bapak meninggal tersambar petir saat sedang melaut.

Orang kampung bilang tindak lakunya adalah gugus firasat yang kerap terjadi 40 hari sebelum ajal menjemput seseorang. Termasuk tulisan melankolis di badan perahu itu. Tak seperti nelayan lain yang menuliskan kata-kata motivasi cenderung nakal dan jenaka, laiknya jerit hati supir truk dengan frasa-frasa inspiratif pada bak truk mereka, bapakku memilih kalimat menyedihkan itu yang menghapus tulisan ‘Janda Muda Alhamdulillah’ sebelumnya. Aku tak habis pikir, nasib bapakku ada di mantra yang ia titahkan sendiri. Ia meninggalkanku, anak lelaki yang baru lulus SMA, tola-tole tak paham dunia kerja, serta seorang ibu tiri yang masih muda. Lebih cocok menjadi kakak, atau pacarku. Ia yatim piatu sejak kecil, putus sekolah saat masih SMP, mencari kerang, mengais udang grago di tepi pantai, menjualkan hasil tangkapan para nelayan, apa pun ia kerjakan untuk menghidupi diri sendiri. Bapakku iba, gadis berkulit legam terlalak sinar matahari yang kini berusia dua puluh tahun itu ia nikahi beberapa bulan lalu. Tak ada alasan lebih bijak selain menjadikannya istri. Menjadikannya anak angkat sudah kelewat dewasa, orang berpikir anak angkat itu akan ia gauli sendiri. Menjadikannya menanu? Aku masih terlalu muda. Bapak tak berniat mengawinkanku dalam waktu dekat. Dengan sekejap, gadis itu menggantikan posisi ibuku yang terenggut virus mematikan pada paru-parunya tiga tahun lalu. Rumah lengang, dapur tak lagi mengepul adalah keseharian kami. Beli nasi bungkus ke warung atau masak nasi di kuali sesekali, bebas, tak jadi masalah. Semenjak ada dia, dapur kami selalu sibuk, menguarkan aroma gurih dari terasi yang dibakar, serta rasa umami dari lauk-pauk yang ia sajikan.

Kini semua tahu apa yang sedang kuhadapi. Aku, pemuda berusia delapan belas tahun yang baru saja menjadi yatim piatu dan putus sekolah, harus menjaga martabat istri almarhum bapakku yang janda muda itu. Semua bungkam, peristiwa kali ini memang tidak untuk bahan candaan.

Selesai mengisi tangki diesel dengan lima liter solar, kutarik tali starter dan melajulah perahuku menuju tengah laut. Kutengok ember hitam berisi udang kecil untuk umpan, sebotol besar air putih, dan sepaket makanan di wadah tertutup—bekal bikinan ibu tiriku. Beberapa saat aku terpana. Kubuka kontainer bening itu berisi nasi putih hangat, ikan layur goreng tepung, telur ceplok, ote-ote, sambal tomat dan lalapan mentimun. Entah harus bersyukur atau mengeluh, janda muda itu benar-benar bertingkah seperti ibuku.

Ombak jinak mulai terasa mengombang-ambingkan perahuku. Kubelokkan tuas ke arah pelabuhan. Kapal tongkang berisi tumpukan kontainer, kapal besar pengangkut pasir hitam dari pulau seberang, serta pemandangan bangunan nyaris seluruhnya abu-abu, di tengah kepungan awan putih, muncul cerobong-cerobong mengembuskan asap menembus udara.

Konon, pulau kami ini sebentar lagi akan disulap menjadi Singapura. Hamparan tambak serta pemukiman seluas 32.000 hektar akan berubah menjadi peradaban baru yang menjanjikan. Pelabuhan internasional akan memboyong putri duyung dan pangeran berkuda dari negeri di dunia. Mereka akan menempati hotel, perumahan mewah, dan pacuan hibur di pinggir pantai. Aku tak kaget jika suatu saat nanti akan ada kapal pesiar mangkir di atas hotel pengintai langit nun di seberang sini. Kami sendiri akan dikemanakan? Aku tak tahu. Yang kutahu hari ini adalah waktunya mengais ikan di laut untuk menyambung hidup hari demi hari.

Bangunan abu-abu itu semakin dekat dengan pandangan mataku. Manusia berseragam soga, dewangga, dan merah jerau, berpelindung kepala aneka warna sesuai jabatan mereka, berkaca mata hitam penuh, merambat di seutas tali yang seperti tersambung ke langit, merayap di gundukan batu kapur gamping sampai wajahnya ikut kuning. Manusia itu tampak seperti semut kecil yang bekerja untuk sang ratu di sarang besar yang cerobongnya mengepulkan asap siang-malam tiada henti. Konon, yang bisa tembus kerja di dalam sana, gaji sebulannya bisa untuk memborong mutiara begitu mudahnya. Aku menelan ludah, aku rela menjadi semut warna warni atau rangrang sekalipun jika berita itu benar adanya. Sudah sejak lama tiram pinctada yang cangkangnya mirip rumah ‘Jinny oh Jinny’ itu musnah dari laut kami. Beberapa rumah mungkin masih menyimpan fosilnya untuk hiasan meja.

Kumatikan mesin diesel, bunyi klotok-klotok itu pun berhenti. Kulemparkan jaring beserta sedikit umpan ke area sekitar kami. Saat bapak masih hidup, aku sering ikut melaut dan tidak banyak gunaku selain teman bicara bapak dengan pertanyaan-pertanyaan bocil.

Setelah beranjak remaja, aku hampir tak pernah ikut lagi dan memilih nongkrong di warung sambil menumpang Wi-Fi. Muskil rasanya, apa yang kukerjakan hari ini hanyalah artefak memori masa kecil bersama bapak, tak juga kulihat dari gelagatnya untuk mewariskan pekerjaan ini padaku, lalu putra satu-satunya yang tak banyak guna kini melayang-layang di lautan luas bersama satu-satunya harta peninggalan yang jadi beban. Uji nyaliku menjadi tulang punggung satu KK.

Aku bengong mengamati begitu kontras kondisiku dan semut pekerja bertutup kepala warna warni di seberang sana. Satu-satunya kesamaan kami adalah sama-sama melanjutkan hidup. Beranjak dewasa ini kontan membuatku tak lagi nyaman mengingat apa yang telah berlalu. Namun, kenangan itu melekat bagaikan bangsat yang mencuri masa mudaku untuk menjadi bapak jilid dua. Di tengah gelombang tenang mendayu seperti ini, bapak bercerita tentang hantu-hantu di pulau kami. “Le, pulau kita ini sebenarnya kaya sekali. Kalau matamu mau melek sedikit, coba arahkan matamu ke sana, pakai ini,” ia menyerahkan teropong monokuler padaku, dari dalam sana, tampak sebuah reruntuhan dari tumpukan batu-bata yang sudah doyong ke laut. Reruntuhan itu adalah benteng Lodewijk.

“Bapak pernah bertemu dengan jenderalnya.” Gigi-giginya menyiratkan tawa bangga.

“Jenderal apa, Pak?” tanyaku.

Ia isi paru-paru dan bersiap menceritakan kisah mistisnya itu, yang sampai sekarang terdengar seperti dongeng momok belaka.

“Kau tahu, Le. Bapak ketemu hantu Willem Daendels di benteng Lodewijk, tepatnya di sumur tua yang masih aktif sumbernya. Saat itu bapak sengaja menepi ke benteng karena terik matahari super sengat. Ada jalan setapak ke arah atas benteng kira-kira berjalan 500 meter sampailah kita di lapangan luas yang ditumbuhi pohon lencir. Di sana bapak disambut kera abu-abu yang bulunya gondrong. Mereka jinak saja nggak gigit atau gemerayap brutal. Kawanan kera itu pun menjauh karena bapak nggak bawa makanan. Ada satu pohon yang menyedot atensi bapak, ukurannya besar, batangnya melebar ke bawah seperti katuk randu. Pohon itu jenis meranti yakni cinereus sloot yang sebelumnya sudah dinyatakan punah. Rupanya, ia masih ada di sini, di tanah kita. Jangan sampai orang-orang tahu kalau itu pohon bernilai jual tinggi. Bisa buat ranjang tidurmu, atau pintu rumahmu. Bapak yakin, selagi orang-orang kita masih menjadi penduduk asli pulau ini, pohon, sumur, dan kera-kera itu tetap di sana. Jika tidak, bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata.”

Rupanya bapak sudah menaksir suatu hal yang tak baik akan terjadi di masa mendatang. Aku ingat betul kata-kata itu.

“Bapak duduk bersandar di bawah pohon meranti sambil menutupkan kain sarung ke muka, tidur ayam sebentar. Tetiba sebuah suara suitan dari arah sumur itu menggaung memanggil nama bapak dengan bunyi ‘r’ terlampau cetho. Ramli! Rramli! Rrramli!!! Ia panggil bapak tiga kali dan huruf ‘R’ itu seperti bergetar di senar gitar.”

Dudukku menegak, cerita mulai terdengar seru.

“Lelaki bule berambut hitam, beralis tebal, serta pakaian karnaval dengan hiasan ronce keemasan di masing-masing bahu pada setelan beludru gelap itu mendekati bapak. Bukan main takutnya. Siang bolong begini masa ada orang mau main sirkus di tempat begini?” Bapak terkekeh menertawakan isi kepalanya sendiri.

“Rrramli! Welkom terug, Rrramli!”

Bapak ternganga dengan apa yang terlihat. Celinguk kanan celinguk kiri hanya ada kera sibuk dengan kawannya serta bapak seorang di bawah pohon. Melihat itu bapak taksir ya hanya bapak dan kera makhluk hidup bernyawa di sana.

“Hantu itu persis kayak manusia, cuma kelihatan agak buram saja karena pakaiannya sudah usang. Bapak terpaku di situ. Daendels turut duduk bersila dengan sepatu karnaval sebetis yang seperti melekat dengan kulitnya. Ia menceritakan sebuah asal-usul yang katanya bapak harus tahu. Mengapa saya? Tanya bapak padanya. Karena kamu yang punya telinga, katanya. Alleen jij hebt oren, ulangnya lagi dengan bahasa Belanda”.

Sepanjang menanti jala-jala terisi ikan, bapak mengisahkan petuah dari hantu jenderal VOC kepadaku yang masih kanak-kanak. Sesekali aku menanggapi dengan ‘oh’ dan ‘ah’, serta anggukan, berlagak paham dengan ceritanya.

Pulau ini awalnya menyatu dengan laut lepas, berseberangan dengan selat Madura. Suatu fenomena alam menghasilkan sedimen lalu membentuk sebuah daratan yang lambat laun membesar dan meluas lalu jadilah pulau ini di antara benteng Lodewijk. Konon, pulau ini disangga oleh ular besar jelmaan seorang pangeran yang bucin kepada putri Solo. Pangeran itu tak berhasil menaklukkan hati sang putri lalu ia bertapa menjadi seekor ular besar sampai selamanya dan menjadi batu melingkar mengelilingi pulau ini. Satu hal yang tak dapat kupungkiri, kondisi masyarakat kami saat ini memang mewakili bentuk ular itu. Terbagi menjadi tiga yakni kepala, perut, dan ekor. Desaku berada di kepala ular. Di kepala ada otak dan indra vital. Pantas bapakku cerdas sampai harus diwangsit oleh hantu Jenderal Hindia Belanda dengan sebuah pesan rahasia. Masyarakat kami semacam anggota eksekutif yang menyumbangkan ide untuk dieksekusi oleh bawahan. Masyarakat desa Tengah berada di perut ular. Seperti halnya perut yang kita tahu, bentuknya lebih besar dari kepala, lumbung makanan ada di sana. Dari yang kuperhatikan, masyarakat desa Tengah memang kaya-kaya. Mereka gemar berhias dan pengumpul harta benda. Tuan tanah, pemilik modal, filantropi, berpusat di titik itu. Terakhir dan paling unik, masyarakat desa Pinggir. Seperti namanya, pemukiman mereka di pinggir pantai dan sungai. Mereka ulet, gesit, persis ekor ular yang meliuk-liuk. Mereka bahkan mempunyai bahasa sendiri untuk percakapan sesamanya. Berjarak tak kurang dari lima kilo, tetapi gaya bicara dan karakter kami bisa dibilang cukup mencolok. Saat bercakap dengan kawan dari desa ini, terkadang aku seperti turis. Meski perputaran uang tak banyak dan taraf hidup rendah, tetapi mereka kompak luar biasa. Satu rumah masak sayur asam, satu RT ikut masak menu yang sama. Satu RW ada yang meninggal, satu desa turun tangan memberi bantuan duka cita.

Jenderal VOC itu berdiri di depan bapak. Dengan ekspresi garang ia mengatakan, “Hantu yang kau hadapi bukan aku, tentara Belanda, atau Inggris. Selesai sudah dosa masa lalu.” Ia mendekat dan semakin lekat sampai bikin bapak bergidik. “Hantu itu ada di depanmu.” Ia buang pandangan ke lautan jauh. Bapak menyeringai, mengomel di dalam hati. Tentu saja hantu itu ada di hadapannya, tetiba Daendels menghilang menuju sumur tua dan tak pernah kelihatan lagi. Bapak termenung di bawah pohon meranti, seekor tokek berkulit biru bernama william jatuh ke bahu Bapak dan membuyarkan halimun yang baru saja terjadi. “Ini tokek kerdil adalah Willem yang lain.”

Sejak saat itu bapak tak mau berhenti menjadi nelayan. Matanya terus mengawasi lautan luas. Kalimat terakhir dari hantu Willem Daendels tereskalasi dalam pikirannya. Pernah kutengok bilik kamar kerja bapak bertempelkan kertas bekas kalender tahun-tahun sebelumnya yang penuh coretan tangan:

Minggu Pon, 5 Jumadil Awal 1954.

Tidak ada sembilang hari ini, hanya manyung, belanak, dan rajungan kesasar.

Kamis Pahing, 4 Syawal 1955

Sehari setelah Idulfitri, tambak-tambak jebol. Air bah setinggi 2 meter menghancurkan tanggul. Rungkad!

Baru kemarin kutengok lagi bilik yang bercampur jala dan jaring serta ember bau amis untuk mencermati kembali tulisan-tulisan bapak yang mengantarkanku pada keadaan hari ini.

Sebuah musibah terjadi dan merugikan banyak orang di pulau ini, salah satunya kawan baik bapak bernama Maedi yang sudah lama menjadi petani tambak. Malam itu bulan purnama, bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri. Maedi menyabet sarung, senter, rokok keretek, dan telepon ringkas lalu memasukkan barang itu ke dalam saku celana kargo pendek kecuali sarung. Ia tak peduli dengan tamu yang hendak menyambung silaturahmi atau sekadar pinjam seratus. Ia kayuh sepeda kumbang menuju tambak berukuran empat hektar yang selama ini menjadi tumpuan hidup. Tanggul telah tertelan air, tambaknya tenggelam. Ikan chanos yang ia besarkan seperti anak sendiri kabur entah ke mana. Berkhianat lalu minggat ke tambak tetangga atau memerdekakan diri ke sungai dan laut lepas. Maedi mematung. Bapak yang sudah lebih dulu datang menyorotkan lampu senter ke wajah Maedi yang pucat pasi persis ikan basi.

“Ada hantu muncul dari sungai,” ungkap Maedi sembari menolehkan kepalanya ke arah sungai yang kini sudah jadi satu dengan tambak miliknya. Ia berkata terbata-bata. “Hantu itu hitam, berbulu. Semakin mendekat semakin besar kayak genderuwo. Kakinya panjang, matanya pekat, mulutnya menganga meneteskan bau busuk. Saya ketakutan dan sembunyi di balik sarung. Lamat-lamat sosok itu berwujud lain, menjadi kepulan asap yang meluruh di atas tambakku. Ya Tuhan, tambakku…”

Bapak menggamit Maedi yang terduduk di tanah lempung menuju gubuk. Ia tenangkan kawannya itu dengan menyodorkan sebatang kretek yang bersambut.

“Saya sudah lebih dulu berada di sini, sejak pagi, saat kalian masih asyik Lebaran dan makan ikan besar dimasak godok uyah asin sama sambal petis. Informasi ini barangkali akan mengecewakan genderuwomu. Tapi percayalah, apa yang kau lihat itu bukan hantu golongan jin dan sebangsanya.” Tampak dari air muka Maedi seperti rasa cegek yang tak terbantahkan.

Bapak menyesap kretek, berbicara dengan kawannya tanpa saling pandang. Tatapan mereka sama-sama lurus, sesekali menunduk dan melinting apa pun benda di dekatnya. Begitulah cara lelaki berkomunikasi di pulau ini apabila topik pembicaraan sudah sangat serius.

“Sudah lama laut kita sakit. Semenjak rombongan orang-orang bertopi rimba datang permisi untuk menanam bibit bakau dari kantung plastik itu. Tengok sekarang, bakau itu tumbuh merapat tanpa perlu campur tangan manusia. Siapa menanam apa, setelah potong pita usai sudah pesta. Mereka ke mana? Tak tahu rimbanya, tinggal topinya. Bakau menghujam di dasar tanah dengan sukarela. Selain glodok dan concong yang bersembunyi di antara kakinya, ada pula tumpukan popok dan ampas rumah tangga. Garis pantai kita sudah melewati kodrat. Menerjang daratan, merobek tanggul. Ia sudah tak jinak lagi, kawanku.” Bapak menepuk bahu Maedi. Kecemasan menyeruak dari wajahnya. Ia tak bertanya apa yang selanjutnya terjadi, mereka sudah sama-sama tahu.
“Solusi?” tanya Maedi dengan wajah lugu.

Bapak hampir menggaplok kepalanya. “Bukan urusanku!” Ucapnya sengit.

“Benar, ini urusan mereka yang sudah digaji.”

“Untuk apa mereka punya otak dan kursi?” tambah bapak berkumur.

Sembari menyaksikan air yang masih menggenang, pikiran mereka terus sibuk memikirkan jalan keluar dari musibah itu.

Bapak genggam ucapan terakhir Willem Daendels. Hantu itu bukan ia dan negara negara penjajah, hantu itu ada di sini, di antara benteng ini, di tengah-tengah kami, sedang melahap pelan pulau kami.

“Saya sudah lihat dan baca itu kabut hitam datang bersama hujan bulan Mei, Juni, November, dan Desember. Saat itu cerobong pabrik abu-abu mengeluarkan asap hitam. Kau tahu apa isinya? Amonia. Ia menjalar ke laut, tersangkut di awan pembawa hujan lalu ambyarlah bumbungan awan gelap dari langit menjatuhi pulau ini. Perhatikan tambakmu. Muncul buih kekuningan di pinggir waduk, berbau menyengat menusuk isi lambung, serupa kentut manusia gua yang seratus tahun menahan berak. Bukan main baunya. kabut itu yang kemudian meracuni nener sampai mati semua, ikan chanos susah tumbuh besar tanpa bantuan pakan dan pupuk. Hasil kebun jadi kuntet, ternak ayam pada sakit. Ini bukan sekadar hujan, Maedi. Potongan ranting dan daun si api-api tak cukup menjadi ramuan penawar tanah kita yang sudah beracun. Laut kita memuntahkan mualnya bersama gelondongan sampah yang menggasak bibir pantai. Saya pun tak tahu lagi, dalam sepuluh tahun ke depan akan bagaimana nasib kita bila begini-begini saja.” Maedi terkesiap atas penjelasan bapak yang sudah seperti guru IPA. Agaknya ada rasa geram, putus asa, serta ketidakberdayaan dalam ungkapan itu.

“Mau mengharap ke siapa kita? Dari zaman Kartolo sampai Mulyanto hanya dijanjikan saja beton kaki ayam. Tetrapod, pemecah ombak, penangkal abrasi, apalah itu istilahnya, bukan sulap bukan sihir. Itu yang kita butuhkan saat ini. Rela kau jual tambakmu untuk ditukar dengan tabung beton kaki empat yang dihampar di pinggir pantai supaya selamat tambak lainnya?”

Maedi menanggapi dengan sewot, “Moh! Kok soro pool!”

Cerita Bapak berhenti sampai situ. Sampai tewas mengenaskan di tengah laut pun bapak tak pernah menyaksikan beton berkaki empat menjadi berhala yang akan menjaga pantai kami. Entah siapa yang abang-abang lambe rambusa. Kukira, orang-orang kita memang gemar cakap belaka. Mereka alergi baca kitab, pura-pura suka saja. Gemar menebar cerita lidah ke lidah sehingga jadi dongeng tak berkesudahan. Bersilat ngalor-ngidul tak jelas juntrungannya. Kenyang sudah aku hanya dengan mendengarkan saja.

Perutku berbunyi kriut, rasa lapar mengetuk lambung. Kubuka kembali tutup plastik bening bekal ibu tiriku. Kumakan dengan lahap masakannya dengan penuh perhitungan. Berapa waktu yang ia butuhkan untuk menggoreng layur, mengolah sambal, mengiris mentimun. Berapa uang yang ia sisihkan untuk kami makan. Aku kini jadi matematis. Awan mendung bergumpal di atas sana dengan amat cepat. Aku bergegas menarik jala dan memindai delapan ekor nila bongsor di antara ikan kiper. Barangkali inilah yang dirasakan bapak tiap kali melaut. Hasil tangkapan tak sebanyak dulu. Tidak ada sembilang hari itu, tidak pula hari ini. Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata. Kutarik tali starter dan bergegas putar balik sebelum air tumpah dari langit. Hatiku berdebar, jantung memompa deras, sinar di langit menyambar-nyambar, suara gelegak memecah telinga. Langit semakin gelap dan laut berubah hitam. Cuaca mendadak dingin menggigit kulit. Aku masih terapung di tengah laut, kutundukkan badan setengah telungkup dengan tatapan siaga. Kubelokkan tuas sampai sembilan puluh derajat agar melaju ke pingggiran. Perahuku menukik dan menerjang. Para nelayan di depanku sudah bertengger di buritan. Mereka lambaikan tangan menyeru untukku segera menepi. Tak boleh ada yang mati tersambar hari ini. Kutambah laju mesin dan memecah gelombang. Melaju perahuku sampai ke tepian. [*]

**
Catatan:
– “Bersiap kecewa bersedih tanpa kata-kata” diambil dari judul cerpen Putu Wijaya.
– Allen jij hebt oren (Belanda): Hanya kamu yang punya telinga.
– Moh! Kok soro pool! (Jawa): Nggak mau! Kok susah amat!
– Abang-abang lambe rambusa (Jawa): Pemanis bibir belaka/tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya.


Ilustrasi: The Ruins of The Genoese Fortress (Yuriy Khymych), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Cerpen: Sebelum Kita Membakar Jembatan
Cerpen: Lagu Malam yang Terpenggal


 

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

4 thoughts on “Hantu-Hantu Benteng Lodewijk”

  1. Sili Suli berkata:

    Keren banget mbak Utari

  2. D. Hardi berkata:

    Akhirnya nongol lagi. Sedap betul ini. Asli.

  3. bettres berkata:

    sangat bagus

  4. zaahirah berkata:

    sangatt baguss sekali saya sukaa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *