Menu
Menu

Motojirō Kajii yang barangkali begitu gelisah sebelum atau ketika menulis “Di Bawah Pohon Sakura” itu, seperti tak membiarkan kegelisahan menjadi miliknya sendiri.


Oleh: Armin Bell |

Tinggal di Ruteng. Tulisannya yang lain dapat diakses di ranalino.id.


Bayangan mengerikan tentang pohon-pohon berdaun lebat, berbunga cantik, atau kedua-duanya yang saya punya adalah bahwa mereka mendapatkan itu dengan cara memakan daun-daunnya yang jatuh dan mengering di sekitar mereka. Daun-daun itu mengering-menyatu dengan tanah-menjadi humus, lalu dimakan pemiliknya sendiri melalui akar-akarnya.

Sedangkan, bayangan mengerikan tentang akar terjadi puluhan tahun silam. Saya masih kecil. Gemar makan buah. Suatu ketika, secara tak sengaja menelan biji jeruk. Segera terbayang: dari biji itu—yang adalah benih untuk pohon berduri—akan keluar akar, lalu tunas, lalu tumbuh menjadi pohon di dalam perut, semakin besar dan keluar melalui kepala atau telinga atau mulut lalu berbuah. Teman-teman saya akan memetik buah jeruk di daun telinga saya.

Saya menangis ketika memikirkannya sekian lama dan baru berhenti ketika akhirnya diberitahu bahwa benda-benda yang tak dapat diurai di dalam perut akan keluar utuh bersama tinja.

Keduanya mengerikan untuk alasan yang berbeda. Yang kedua tentu saja sebab saya masih anak-anak ketika mengalaminya, sedangkan yang pertama terjadi ketika saya memikirkan: apakah apa yang saya lakukan pada rambut dan kuku-kuku yang saya potong?

Tidak perlu memikirkannya dengan terlampau serius sebab kini ada yang lain tentang pohon-pohon. Ah, iya! Saya menyukai pohon-pohon. Yang berdaun lebat. Begitu menyukainya sehingga selalu berharap bahwa hutan-hutan tak ditebang-liar agar pohon-pohon tetap ada dan saya tetap menghirup udara segar di daerah pegunungan.

Saya menyukainya. Kerap juga membayangkan dengan sukacita pohon sakura yang mekar bunganya menjadi penanda musim semi di Jepang. Hal terakhir ini, saya kira, adalah salah satu alasan bawah sadar saya membeli beberapa karya sastra Jepang beberapa waktu terakhir, selain bahwa saya ingin mengenal lebih banyak karya-karya penulis di negeri itu selain Haruki Murakami.

Awal bulan ini saya membeli Lemon, buku tipis, berisi enam cerita Motojirō Kajii. Buku yang diterjemahkan (dari bahasa Inggris) oleh Bagus Dwi Hananto dan diterbitkan oleh Rua Aksara (2020).

Judul buku itu diambil dari judul cerpen Kajii paling terkenal yakni “Lemon”—…sebuah prosa puisi, cerita pendek tentang buah lemon yang diletakkan di aas tumpukan buku seni. Asahi Shimbun, surat kabar terkemukan Jepang pernah membahas betapa pentingnya karya ini bagi Jepang, khususnya pada para pembuda di sana (hal. 69). Itu cerpen yang saya kira agak gelap; butuh beberapa kali pembacaan.

Dan, cerpen kedua di buku itulah yang membuat saya memilih ‘pohon’ sebagai bahan Jangka kali ini. Judulnya “Di Bawah Pohon Sakura” (Under the Cherry Blossoms, alihbahasa ke Inggris oleh Boonie Huie, 2014), sebuah cerpen yang serentak menggelisahkan.

Di bawah pohon sakura ada mayat terkubur! Motojirō Kajii mengawali cerpennya itu dengan kalimat sepotong, yang juga menjadi keseluruhan paragraf pertama. Sepotong nan keji, rasanya begitu, setelah kau tiba pada paragraf kedua yang dibuka dengan hentakan: Ini adalah kenyataan yang mesti kau terima. Lalu cerita mengalir dan kau menjadi semakin gelisah sebab bunga-bunga pembuka musim itu mekar dari mayat-mayat yang diserap akar-akarnya.

Cerita mengalir terus, Kajii yang barangkali begitu gelisah sebelum atau ketika menulis “Di Bawah Pohon Sakura” itu, seperti tak membiarkan kegelisahan menjadi miliknya sendiri.

Dia lalu menggambar demikian: Mayat kuda, mayat anjing dan kucing, juga mayat manusia. Mayat busuk dikerubung belatung, dengan bau busuk tak tertahankan, yang cairannya keluar, begitu nyata dan murni. Pohon sakura itu seolah-olah gurita rakus yang terus-menerus meluaskan akar-akarnya. Seperti tentakel-tentakel anemon laut, akar-akarnya merengkuh cairan busuk itu (hal. 16-17).

Astaga! Mendadak pohon sakura menjelma sesuatu yang lain. Sesuatu yang agak sulit diberi nama. Sesuatu yang barangkali pernah saya dengar dari seseorang: kemegahan biasanya berdiri di atas cerita derita. Itukah alasan orang-orang sukses itu selalu mengundang decak kagum ketika mereka bicara tentang dakian panjang yang mereka lalui sebelum sampai di puncak?

*

Pada suatu misa sore, sebelum pandemi menyerang (membuat perayaan ekaristi mau tak mau harus dilakukan secara virtual), saya jadi petugas liturgi di Gereja Katedral Ruteng. Jadi lektor. Duduk begitu dekat dengan mimbar sabda. Pastor yang memimpin misa itu, mengutip seseorang dari buku yang pernah dia baca: “Ketika kau mendengar sebuah cerita, hidupmu tidak lagi sama.”

Saya memikirkan kalimat itu cukup lama setelahnya dan tentu saja setuju. Langkah kita ditentukan oleh cerita-cerita. Yang kita dengar, yang kita buat sendiri, yang kita ingin dengar (juga?).

Seorang teman memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai honorer di sebuah kantor dan mulai menjalankan toko kecil di rumahnya setelah mendengar kesaksian seseorang tentang omset di minimarket yang dikelolanya. Teman yang lain mulai mengelola akun yotube-nya secara lebih baik. Tentu saja setelah mendengar cerita tentang beberapa youtuber di dekatnya kipas-kipas uang hasil Adsense.

Dan, hidup saya rasanya sedikit berubah setelah membaca “Di Bawah Pohon Sakura”. Sedang berubah barangkali, sebab semua tak akan sama lagi setelah mendengar sebuah cerita, bukan?

Saya melihat gedung-gedung tinggi, kemenangan gemilang dan dirayakan dengan pesta dansa-dansi, orang-orang melangkah cemerlang dengan dasi warna-warni, bintang film sukses, pengembang start up yang mempesona, tanda tangan kontrak kerja bernilai miliaran; apakah yang ada di bawah kaki mereka?

Semoga bukan mayat-mayat, atau tulang-tulang berserakan, atau suara-suara tak terdengar, atau ‘kegelapan’. Sebab seharusnya, yang sedang mereka pijak adalah tanah yang gembur oleh tetes-tetes keringat dari tubuh mereka sendiri; Sekarang, ketiakmu pasti basah sama seperti ketiakku. Tidak perlu malu. Bagaimanapun itu tak selengket air mani. Lewat tanda itu, mari kita simpulkan melankoli kita (hal. 19).

Di Manggarai, jiwa-jiwa orang mati akan melakukan sesuatu jika tak mendapat perhatian yang layak. Nah! (*)


lustrasi: Photo by Gabriela Cheloni from Pexels

Baca juga:
Babak Baru
Masa-Masa Emas

Bagikan artikel ini ke: