Menu
Menu

Kutatap ke atas, lampion-lampion ini tetap sama indahnya. Bahkan di sini, tempat lampion terakhir dipasang.


Oleh: Jein Oktaviany |

Lahir di Ciwidey. Aktif di group kepenulisan prosatujuh dan Kawah Sastra Ciwidey. Satu-satunya penulis di jeinoktaviany.wordpress.com dan di instagram @oktavianyjein.


AKU masih menatap lampion-lampion merah kecil yang digantung di sepanjang jalan ini, ketika kamu tiba-tiba berkata, “Kata Mami, sembilan-delapan begitu menyeramkan.”

Aku mengalihkan pandanganku pada matamu dan membayangkan ibumu ketika itu, mungkin persis sepertimu sekarang. Cantik dan tidak punya banyak keriput.

Kamu diam dan hanya mengunyah swike. “Setiap imlek, aku selalu ingat beberapa hal tentang sembilan-delapan,” ucapmu setelah kunyahanmu. “Apalagi malam ini. Malam Imlek pertama tanpa keluarga. Kesepian membuatku lebih teringat cerita-cerita itu. Apalagi sekarang, aku bersama pribumi! Haha.” Matamu menyipit ketika tertawa. Aku tersenyum melihat itu. Aku selalu menyukai matamu yang seperti garis horizontal itu.

Aku menjawab dengan segera, “Lihat sekitarmu! Hanya aku sendiri yang pribumi! Aku mengajakmu ke sini karena hal itu!”

Ketika menelponku siang tadi dan berkata dengan nada sedih bahwa kamu tidak jadi pulang ke Jakarta karena harus mengurus beasiswa S2-mu, aku merasa harus mengajakmu ke suatu tempat yang akan mengingatkanmu pada nuansa rumah ketika Imlek.

Kamu melihat-lihat ke sekitar. Melihat gerobak-gerobak makanan yang menjual daging babi, melihat sepasang kekasih yang berjalan sambil berpegangan tangan, melihat keluarga-keluarga yang duduk di tempat makan sambil bercengkerama.

“Mereka memang Cina, tapi mereka gakkan ngasih angpau! Argh! Tidak ada cuan tahun ini! Menyebalkan!” Kamu memasang wajah cemberut. Lalu kamu kembali memakan daging yang ada di depanmu. Berpura-pura kesal, atau memang kesal betulan?

“Kamu tadi mau cerita, kan? Ayo lanjutkan saja, daripada kesal begitu,” hiburku.

Dari sebelah kiri, terdengar musik memutar lagu lama yang kukenal tapi tak kumengerti artinya. Aku yakin itu adalah sebuah lagu romantis.

Kamu mengalihkan pandanganmu pada wajahku. Menatap satu titik di belakangku. “Kamu tahu apa yang terjadi pada saat itu, kan?” tanyamu, terdengar seperti retorika belaka.

Kamu tahu bahwa umurku barulah satu tahun di sembilan-delapan. Aku tidak tahu secara jelas kecuali dari buku dan beberapa artikel.

“Kamu tahu bahwa aku masih belum lahir. Jadi ini hanya cerita-cerita yang kudengar dari orang lain,” lanjutmu.

Aku memandang ke belakangmu, memandang seorang yang sedang memasak. Aroma masakannya menghampiri hidungku. Baunya tidak pernah kujumpai di rumah.

“Waktu itu orang-orang Cina dibantai, diperkosa. Barang-barangnya dijarah, toko-tokonya dibakar.”

Kutatap lagi wajahmu. Matamu tetap memandang satu titik di belakangku, seolah-olah dari sanalah cerita itu dimulai. “Selama tiga hari, keluarga besar kami berkumpul. Para pria berjaga-jaga membawa senjata. Para wanita memasak dan bersembunyi.”

Aku membayangkan sebuah rumah kokoh yang tidak terlalu besar. Berwarna putih pudar. Mungkin di tembok luarnya ada tulisan ‘Milik Pribumi’. Sedangkan di dalamnya, beberapa orang membawa senjata seperti ingin membuat kejutan pada gerombolan penjahat yang sedang dalam perjalanan. Para perempuan mungkin sedang memasak dalam hening sambil menggunakan cheongsam merah, persis seperti yang kamu kenakan sekarang. Ah, tidak, terlalu dramatis. Mereka pasti tidak punya waktu untuk berdandan, jadi mungkin hanya menggunakan kaos seadanya.

“Tapi keluargamu selamat, kan?”

Kamu mengalihkan pandanganmu ke arahku dengan cepat dan menjawab, “Selamat. Kerusuhan itu hanya lewat rumah kami.”

Aku tertawa, membayangkan orang-orang barbar yang membawa parang dan obor. Berteriak-teriak. Membakar segala yang terlihat asing di mata mereka. Namun, mereka melewatkan rumahmu. Mungkin karena ada tulisan ‘Milik Pribumi’ di gedung itu. Atau mungkin karena mereka semua tahu bahwa ada jebakan di rumah itu. Atau, ya, mungkin mereka hanya lelah saja dan memutuskan untuk lanjut. Mereka mungkin sudah punya banyak barang curian dari toko emas, dan sudah puas memerkosa perempuan-perempuan di jalan.

“Ketika Mami bercerita, aku membayangkan mereka semua benar-benar hanya lewat. Seperti kalo kita ke pom bensin dan terlalu banyak antrian. Kita lalu memutuskan, ‘ah pom yang di depan saja’. Seperti itu di bayanganku.”

Matamu kembali menjadi garis. Lagu yang berputar telah berganti menjadi sebuah lagu yang asing dan masih saja tak kumengerti. Namun dirimu seolah-olah bisa menikmati lagunya. “Tapi kalo aku tidak salah, ada keluarga jauh yang dibunuh di jalan. Mereka waktu itu dalam perjalanan menuju rumah kami untuk ikut berlindung. Namun mereka tidak pernah sampai. Sampai hari ini pun tidak pernah mengetuk rumah. Papi selalu menyimpulkan bahwa mereka dibunuh di jalan.”

Aku memandangmu lekat. Memikirkan bagaimana jika kamu yang ditangkap dan aku yang menunggu di rumah itu. Aku akan menunggumu terus sambil memikirkan hal-hal mengerikan yang terjadi padamu di luar sana. Aku akan berpikir bahwa kamu diperkosa di jalan. Benar-benar di jalan raya. Dilihat oleh orang lain, yang bahkan tak mencoba menghentikan perbuatan itu. Lalu kamu dibunuh di sana. Hartamu dirampas dan mereka tertawa. Sedangkan aku akan tetap menunggumu. Bertahun-tahun pikiranku akan dihantui oleh bayangan mengerikan itu. Sambil tetap menunggumu. Aku menggeleng-gelengkan kepala karena pikiran yang terlalu buruk itu. Kamu hidup di zaman ini. Sembilan-delapan, kamu belum lahir. Sedangkan aku masih mengompol.

“Katanya saat itu memang begitu berbahaya di luar rumah. Sekolah-sekolah Kristen diliburkan. Kata Koko, awalnya ia senang libur. Namun, mendengar cerita-cerita orang dewasa, melihat mereka membawa parang dan marah-marah, Koko ketakutan.”

Kamu tertawa-tawa, mungkin sedang membayangkan koko-mu yang menyebalkan itu ketakutan ketika ia kecil. Entah kenapa, aku tidak bisa ikut tertawa. Kamu menghabiskan makananmu, lalu mengajakku pergi, “Jalan-jalan, yuk?”

LAMPION ditata dengan indah. Jalanan ini penuh warna merah dengan ornamen kuning. Aku berjalan di bawah lampion-lampion itu. Kamu di sampingku, mengenggam tanganku. Aku memandang sekitar, benar-benar hanya aku seorang yang berkulit gelap. Perasaan terasing menyelimutiku. Seakan-akan aku sendirian. Menjadi minoritas. Ini jugakah yang kamu rasakan setiap hari?

“Kenapa keluargamu tidak pergi ke luar negeri saat itu?”

“Kamu bertanya apa?” Suara bising orang berbicara membuatmu tak mendengarkan pertanyaanku. Aku tidak sedikit pun mengerti perkataan mereka. Kebanyakan berbicara dalam bahasa Mandarin. Hanya beberapa yang menggunakan bahasa Indonesia. Aku merasa ini bukan tempatku.

“Heh! Tadi nanya apa?” tanyamu lagi.

Aku memperpendek jarak antara kepala kita, agar tidak perlu berkata lebih keras. “Kenapa keluargamu tidak keluar negeri saat sembilan-delapan?” Kubayangkan, di negara lain keluargamu pasti akan aman. Tidak perlu merasa terancam. Aku yakin, bahkan sampai saat ini, perasaan terasing dan terancam itu tetap ada. Harus kuakui bahwa negara ini terlalu rasis apalagi pada rasmu. Terlebih, politik membuat semuanya lebih kacau.

“Entah kenapa. Aku tidak diberi penjelasan itu sama keluargaku. Tapi sepertinya, karena mahal, deh. Keluargaku tidak sekaya itu. Dan kalo tidak salah, di bandara pun kacau banget. Beberapa tidak mendapatkan tiket. Mengerikan pokoknya.”

Aku kembali melihat-lihat sekitar. Tiba-tiba terbersit dalam kepalaku, apa salah orang-orang ini? Leluhurnya? Keturunannya? Kenapa saat itu mereka dibantai.

Kita masih berjalan entah menuju ke mana. Tiba-tiba badanmu bergetar dan kamu genggam tanganku erat-erat.

“Kenapa?” tanyaku. Kamu memandang ke arahku dan menggeleng. Tetapi wajahmu seperti orang yang sedang ketakutan. “Ada apa?” Aku memandang sekeliling, tidak ada yang aneh menurutku. “Ceritakan saja. Kenapa?” Udara dingin terasa mencapai tubuhku. Aku harus merokok.

Kamu tertawa.

“Tidak. Tidak ada apa-apa di sini. Hanya pikiran jelek di kepalaku. Bayangan menyeramkan.”

Aku mengambil kotak rokokku dari saku. Melepas tanganmu untuk sementara. Mengambil sebatang rokok.

“Aku pernah diberitahu hal menyeramkan,” katamu. Aku menyalakan rokok dan menatapmu dengan seksama. “Tak jauh dari rumahku, banyak sekali ruko-ruko yang dibakar.” Aku melihat api merambat pada rokokku, perlahan menjadi abu. “Waktu kecil, aku pernah mimpi buruk. Bermimpi rumahku dibakar, lalu aku mati jadi abu.” Aku menghisap dalam-dalam rokokku. “Lucu, kan? Aku yang masih bocah terlalu takut, sih.”

Aku mencoba tersenyum sambil mengeluarkan asap dari hidungku. “Sebenarnya, apa sih, yang membuat kalian dibantai? Mendengar ceritamu saja membuatku merasa itu barbar sekali. Sejarah yang begitu kelam. Lebih pas ada di film. Anehnya, aku jarang mendengar alasan kenapa hal itu terjadi. Tidak adakah kepastian mengenai alasannya? Hal sebesar itu tidak ada alasannya?”

Kuhisap kembali rokokku. Aku melihat ke depan, menerka-nerka apa sebenarnya jawaban dari pertanyaanku sendiri. Apakah aku yang kurang membaca sehingga tidak menemukan jawabannya? Di depan sana ujung jalan ini sudah terlihat. Perjalanan kita mungkin sebentar lagi akan selesai.

“Aku juga tidak tahu. Kan aku belum lahir. Hehe,” jawabmu bercanda. Mencairkan ketegangan yang kuciptakan. “Seingatku, tak ada yang benar-benar jelas alasannya. Kupikir kamu tahu isu populer tentang kenapa hal tersebut terjadi.”

Apakah yang kamu maksud sama dengan apa yang kupikirkan? Aku terdiam dan hanya merokok sambil menunggu penjelasanmu. Kita hanya berjalan, tidak saling tatap satu sama lain. Keheningan kita membuat kepalaku kembali serius menjawab pertanyaanku sendiri. Kutatap ke atas, lampion-lampion ini tetap sama indahnya. Bahkan di sini, tempat lampion terakhir dipasang.

“Sudah sampai ujung.”

Kita berbalik, memandang jalan penuh lampion dan orang lalu-lalang. Gerobak-gerobak penjual masih dikerubuti pembeli. Bahkan harum yang khas ini, yang mungkin saja harum masakan babi, seolah-olah mengikuti hidungku.

“Sekarang kita ke mana?” tanyaku memandangmu. Kamu balik memandangku. Musik Mandarin masih terdengar bahkan dari sini. Lagu lama itu kembali berputar. Kamu menyanyikan beberapa bagiannya.

“Aku juga tahu lagu ini, meski aku tak tahu artinya,” lanjutku sambil menghisap rokokku. Kamu tidak menjawab, hanya terus bernyanyi dengan suara yang lebih keras. Bahkan kamu mulai menari. Indah sekali. Dengan latar lampion-lampion dan bulan di atas sana. Kamu menari dengan choengsam merah, menyanyikan lagu Mandarin.

Lagu itu berakhir ketika aku menghembuskan asap rokokku ke atas. Aku bertepuk tangan dan kamu membungkukan badan seolah mengucapkan terima kasih.

“Judulnya Yue Liang Dai Biao Wo De Xin.” Kamu berkata menunjuk bulan, “Itu artinya.” Aku terheran. Kata sepanjang itu hanya berarti bulan?

Aku menatap bulan itu sambil menghisap rokok. “Itu artinya, bulan mewakili hatiku.” Aku menatapmu. Membuang rokok. Menginjaknya. Memegang tanganmu.

“Yuk, pulang!” ajakmu.

KAMU membeli banyak sekali makanan ringan. Salah satunya adalah kacang yang sedang kita kunyah.

“Oh ya, aku masih belum tahu kenapa kamu ingat tentang sembilan-delapan ketika Imlek.” Aku membukakan pintu mobil untukmu.

“Itu karena Cici,” jawabmu.

“Kenapa memang dia?”

“Saat hal itu terjadi, Cici sudah SMA. Sekolahnya diliburkan. Namun saat masuk sekolah, banyak temannya yang tidak masuk. Beberapa siswa meninggal. Beberapa siswi diperkosa. Beberapa lainnya tidak lagi tinggal di negara ini.”

Aku memakai sabuk pengaman.

“Pakai dulu sabuk pengamanmu!” ujarku sambil mengunyah kacang.

Kamu menuruti perintahku.

“Dari situ Cici jadi sadar. Dari cerita ke cerita itu. Betapa mengerikannya sembilan-delapan. Cici beruntung bisa selamat.”

“Lalu hubungannya dengan Imlek?” Aku mencoba mengeluarkan mobilku dari parkiran.

“Nah, awalnya Imlek bukanlah tanggal merah. Kami merayakan itu dengan sembunyi-sembunyi. Lalu tiba-tiba disahkan sebagai hari raya.”

Petugas parkir mengarahkanku untuk keluar dari sana.

“Jangan lupa, parkir itu kewajibanmu,” kataku mengingatkan bahwa biaya parkir ditanggung olehmu.

Kamu mengeluarkan uang dan memberikannya pada petugas parkir.

“Nah, Cici pernah berkata, ‘Pengakuan atas Imlek hanyalah sebuah permintaan maaf atas masa lalu. Kita tidak butuh ini. Kita lebih butuh keadilan atas masa lalu. Imlek itu malah semacam penghiburan saja. Malah seperti permen yang diberikan oleh penjahat pada anak kecil yang telah kehilangan segalanya, agar anak kecil itu tidak menangis, tidak punya dendam. Kita hanya dianggap seperti anak kecil itu. Padahal dirayakannya Imlek tidak sepadan dengan derita sembilan-delapan.’”

Saat mobil mulai melaju, aku melihat sekeliling.

Gerobak-gerobak di pinggir jalan pergi dengan tergesa-gesa. Orang-orang berhamburan. Kita sama-sama panik dan terheran. Apa yang terjadi?

Aku melihat ke belakang lewat kaca spion. Orang-orang berdatangan membawa parang dan obor, mengusir orang-orang di jalanan itu. Mereka merusak lampion. Membakar segalanya. Kamu ikut melihat lewat kaca. Wajahmu mendadak pucat pasi.

“Ganti baju di kursi belakang. Ada pakaianku di tas itu. Pakai hoddie-nya. Tutupi wajahmu!” teriakku.

Aku menancap gas sekencang-kencangnya. (*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
Cerpen Joss Wibisono – Menghentikan kelandjutan
Cerpen Aura Asmaradana – 2/11

Bagikan artikel ini ke: