Menu
Menu

Hotel Prodeo berlatarkan situasi menjelang akhir era Orde Baru menuju era Reformasi yang genting dan tidak teratur.


Oleh: Hermina Patrisia Nujin |

Tinggal di Ruteng dan bekerja di Klinik Jiwa Renceng Mose sejak 2017.


Identitas Buku

Judul: Hotel Prodeo
Pengarang: Remy Sylado
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009
Halaman: 1.016 Halaman

***

Remy Sylado. Mendengar nama penulis yang satu ini saya tidak perlu bertanya-tanya lagi siapa gerangan dia? Karena novel “Hotel Prodeo” yang ingin saya ulas kali ini adalah novel keduanya yang saya baca setelah “Kerudung Merah Kirimizi”.

Hotel Prodeo diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada bulan Juli tahun 2010 dengan ketebalan yang cukup menakjubkan. 1.016 halaman. Sebuah novel yang menceritakan seorang tokoh, Dharsana. Lebih lengkapnya Kombes DB Dharsana, yang membawa dendam dari masa lalunya ketika harta warisan sang ayah terpaksa dijual kepada ayah dari suami Jeng Retno, yang juga adalah selingkuhannya. Akibat terlilit utang, Dharsana semakin bersemangat untuk menghalalkan segala cara agar dapat merampas tanah itu kembali.

Selain itu, dalam novel ini, kehidupan pribadi Dharsana juga diceritakan sangat kacau. Ia rela meninggalkan istrinya yang lumpuh demi menikahi janda kaya raya ibu kota beranak satu yang ditinggal mati suaminya, seorang Duta Besar Prancis di Indonesia. Lantas, itu tak juga cukup bagi Dharsana, ia masih berselingkuh dengan wanita-wanita lain di luar sana, termasuk ibu dari kekasih anak tirinya. Kebiasaan inilah yang membuat nama depan Dharsana ditambah singkatan DB alias ‘doyan banget’ pada lobang wanita. Ia dan selingkuhannya memiliki kesepakatan “bersenang-senang dalam bekerja, bekerja dalam bersenang-senang”. Statusnya sebagai seorang ABRI sekaligus anggota DPR-RI kala itu, membuatnya angkuh dan menyalahgunakan kekuasaannya untuk memuluskan semua rencana yang dicita-citakannya. Dengan cara keji sekalipun. Dari situlah pangkal kejahatan Dharsana beranak-pinak dan ikut menyeret orang-orang terdekatnya serta menimbulkan trauma sana-sini.

Berlatarkan situasi menjelang akhir era Orde Baru menuju era Reformasi yang genting dan tidak teratur seperti unjuk rasa besar-besaran mahasiswa agar ‘penguasa permanen’ saat itu bersedia mundur ditambah pembantaian etnis Tionghoa, membuat novel ini rasanya hidup dan benar-benar nyata. Saya dapat langsung menikmatinya karena pada bagian awal telah disajikan konflik menegangkan antara Dharsana dengan anak tirinya yang menggunakan obat terlarang. Meski dalam kenyataannya dalam masyarakat hal ini lumrah terjadi, akan tetapi hal yang tidak disangka-sangka, perseteruan ini berakhir pada pembunuhan anak tirinya oleh Dharsana. Perselingkuhan Dharsana yang kemudian diketahui oleh si anak tiri menyebabkan ia semakin menggebu-gebu untuk segera menghabisinya. Hal ini membuat rasa sedih dan bingung campur aduk dalam hati saya. Memanfaatkan motif overdosis serta melibatkan pacar sang anak, anak tirinya dibuat seolah-olah mati di tangan sang pacar. Hal ini menyebabkan sang pacar mengalami gangguan jiwa dan memutuskan bunuh diri karena terus diliputi rasa bersalah. Tabiat buruknya ini tentu saja tidak dapat dibenarkan oleh kaca mata moral mana pun.

Perkembangan karakter tokoh Dharsana terus memburuk dari hari ke hari, baik dalam kehidupan perkawinan maupun dalam lingkungan keluarga. Ironisnya sikap tokoh utama tidak berubah sama sekali sampai akhir novel meski ia telah menerima getah pahit dari rentetan kejahatannya, yaitu hukuman seumur hidup di hotel prodeo alias penjara. Ia justru membuat orang-orang yang bersinggungan dengannya ikut membuat kejahatan. Kejahatan memang selalu menular. Seperti selingkuhan kesayangan Dharsana, Jeng Retno yang menghabisinya tanpa ampun melalui tangan-tangan yang dahulu dipakai Dharsana untuk membunuh suami Jeng Retno. Istrinya, ibu Intan, yang selama ini terkenal sangat sabar justru yang mengirimkannya ke Nusakambangan demi membalas kematian anaknya Marc, serta kelakuan kasar Dharsana meski ia sudah memohon untuk diberi kesempatan kedua.

Harus diakui, plot novel ini menarik karena sangat rumit dan sulit ditebak sejak awal. Struktur cerita yang bersambung dan maju secara kronologis, serta konflik yang kompleks dengan titik terangnya yang dibuka perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit dengan halus. Membuat saya membuka halaman demi halaman dengan cepat sehingga tidak disadari novel setebal 1.016 halaman ini, tuntas saya baca hanya dalam tempo dua hari saja dikurangi waktu aktivitas harian rutin.

Kehadiran tokoh-tokoh pelengkap dalam cerita yang juga tak kalah seru dari tokoh utama sebut saja; Marc si anak tiri Dharsana, Jeng Retno selingkuhan Dharsana, ibu Intan istri kedua Dharsana, si Cina James Winata yang awalnya diajak kerja sama oleh Dharsana, Rahmat Wirjono sahabat Dharsana sekaligus atasannya yang akhirnya mengingkari sumpah setia mereka saat persidangan, serta Juminah si pengacara cerdas dan Tuminah kembarannya yang adalah seorang polisi wanita sigap. Keduanya mengambil peran penting untuk memecahkan misteri pembunuhan keji yang dilakukan Dharsana. Novel ini juga menambah pengetahuan saya sedikit banyak dalam bidang hukum serta beberapa penggunaan kosakata bahasa Indonesia yang selama ini keliru saya gunakan.

Salah satu dialog singkat di dalam novel ini yang sangat menarik dan memotivasi saya dalam menjalani hari-hari ke depan adalah, dialog antara ibu Intan dan pak James Winata di prosesi kematian Marc. Begini: “Kalau ibu merasa ada sesuatu yang mesti ditempuh akibat duka cita ini, jangan ditunda-tunda. Sebab setiap penundaan selalu beresiko mengubah anak domba menjadi anak harimau.” Bagi saya, akhir dari novel ini sangat memuaskan. Semua misteri terpecahkan dengan baik dan sistematis, sehingga membuat saya lega ketika mengetahui Dharsana akhirnya menerima karma dari semua tindak-tanduknya selama ini.

Jika berkesempatan bertemu Remy Sylado, saya ingin sekali bertanya bagaimana ia membuat cerita serumit ini. Saya sempat berpikir novel ini akan membosankan pada bagian tengah hingga akhir karena konflik terlalu cepat disajikan di awal. Namun demikian, rupanya saya keliru. Konflik di awal itu justru melahirkan konflik-konflik lainnya hingga akhir cerita. Penulis berhasil menggambarkan karakter para tokoh. Tokoh protagonis seperti Ibu Intan terus mempertahankan sifatnya dengan memperjuangkan kebenaran hingga di pengadilan, sementara tokoh antagonis seperti Dharsana yang benar-benar berperilaku buruk seperti penjahat kelas kakap.

Sama dengan Kerudung Merah Kirmizi yang membuat saya berdecak kagum hingga akhir, Hotel Prodeo juga ‘melakukannya’. Dari segi isi, novel ini juga hampir sama yakni tentang kerakusan yang berakhir pada pembunuhan. Saya jadi teringat ungkapan seorang penulis muda pada suatu malam, tokoh-tokohnya harus mati agar ceritanya tetap berjalan. Pada Hotel Prodeo ini tindakan pembunuhan sejak rencana, eksekusi, hingga akhirnya sampai pada titik terang penyelesaian kasus diceritakan dengan begitu alot dan lebih terperinci. Hanya saja pada bagian Dharsana mulai menjalani persidangan, saya merasa ada yang kurang. Harus saya akui bagian itu adalah yang cukup panjang dan berbelit-belit. Untuk membuktikan Dharsana bersalah, semua pihak bekerja keras mencari bukti, persidangan harus ditunda berkali-kali.

Ketika membaca bagian tersebut, saya teringat akan kisah saudara teman saya yang terkenal suka mabuk-mabukkan jika mengikuti berbagai macam acara di kampung mereka. Mulai dari acara permandian, sunatan, nikahan, sampai kenduri ia akan selalu mabuk. Namun, bukan berarti ia adalah pengacau. Tak pernah sekalipun ia membikin kacau acara meski sudah menenggak banyak sopi. Jika kepalanya mulai terasa pusing ia akan segera pulang untuk tidur.

Pada suatu malam kejadian naas tak terhindarkan. Ketika hendak pulang dari acara nikahan, ia dihadang sekelompok pria dan dituduh sebagai pemabuk yang suka mengacaukan acara. Meski berulang kali ia menjelaskan, orang-orang itu tidak memercayainya. Mereka mengeroyoknya hingga pingsan. Selama dua hari berikutnya, teman saya dan keluarganya menunggu itikad baik orang-orang tersebut untuk meminta maaf. Akan tetapi, nihil. Hingga seminggu kemudian, teman saya menyerahkan kejadian ini pada pihak berwajib. Namun disayangkan, orang-orang itu tetap acuh tak acuh, bahkan seolah-olah keberadaan mereka disembunyikan oleh keluarganya masing-masing. Saudara teman saya mengikuti berbagai tahapan dan harus sabar menunggu kurang lebih satu bulan untuk memperoleh keadilan. Lagi-lagi saya ingin katakan, saya akan membaca karya dari Remy Sylado pada kali berikut karena kisahnya terasa dekat dengan kehidupan di sekitar kita saya.

Novel Hotel Prodeo sungguh mengajarkan saya, baik dari ide cerita maupun dari tokoh-tokoh yang dikisahkan. Tentang bagaimana “ala bisa karena biasa”. Jika terbiasa berbuat baik maka seseorang seterusnya akan selalu berusaha berbuat baik, dan rela melakukan apa pun demi mencapai kebaikan itu. Begitu juga bila terbiasa berbuat kejahatan, semua cara akan dilakukan bahkan jika harus merugikan orang lain agar mencapai kepuasan. Hal itu akan menjadi seperti candu, kemudian meracuni kita. Terus menggerogoti kita sampai habis. Dan bukan mustahil, kita juga menjadikan kejahatan tersebut seperti tulah pada orang-orang di sekeliling kita, orang-orang terdekat sekalipun.(*)


Baca juga:
– Lengking Burung Kasuari: Wajah Papua yang Lain
– Sepanjang Jalan Satu Arah: Kekuasaan dari Segala Arah

Bagikan artikel ini ke: