Menu
Menu

Menghadapi cerpen seperti “Singgah di Sirkus” karya Nukila Amal bisa jadi kesempatan bagi kita untuk berhenti sejenak dari “membaca sebanyak-banyaknya” lalu beralih ke “membaca sebaik-baiknya”.


Oleh: Marcelus Ungkang |

Pengajar sastra di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Bergiat di Komunitas Teater Saja dan Klub Buku Petra Ruteng


Sebuah cerpen bisa mengusik bukan karena kisahnya, tapi justru karena sukar dibaca. Kita bisa menemukan pengalaman itu dalam cerpen “Singgah di Sirkus” karya Nukila Amal (2005). Namun, sebagai fiksi berkarakteristik pascamodern, apakah cerpen ini benar-benar meninggalkan tradisi modern?

Sebagaimana makna kata “singgah”, cerpen pertama dalam kumcer Laluba ini memberikan kita pengalaman spasio-temporal. Namun, ada yang khas dalam pengalaman itu. Bangunan cerpen ini bak penggelembungan semantik kata “singgah” dalam pelbagai ukuran. Kita seperti diajak bergerak (singgah) dari suatu tenda ke tenda lain dalam dunia sirkus, tetapi yang terasa dalam pergerakan itu bukan terpenuhinya proses dari satu titik ke titik lain, tetapi justru ketidakpastian dan ketidakselesaiannya. Melalui narator, kita seperti dihadapkan pada elaborasi kata “singgah” dengan kedalaman bervariasi. Latar, misalnya, tidak sekadar jadi tempat-waktu berlangsungnya peristiwa, tapi justru menjadi hal yang diobservasi.

Ia pergi membeli gulali. Berlama-lama di depan gerai, sambil minum soda ia menonton pembuat gulali memutar benang-benang halus merah muda, hingga menjelma gunung-gunung kapas yang tampak empuk. Ia terpukau. Ia memesan gulali berkali-kali. Setiap kali pula, wajahnya mendekat, matanya coba mengikuti gerak untaian gulali. Sia-sia, ia hanya menatap lebur ketakberbentukan yang melingkar sela-menyela. Setiap kali pula, ia menatap pupil mata pembuat gulali, dan tangan yang bergerak seolah punya sepuluh mata pada tiap ujung jari. Ia ragu mana yang lebih memukau, pembuat gulali atau gulalinya. Sebab perempuan itu buta.

Ia ingin berputar seperti gulali.

Dengan lidah kelu hampir mati rasa oleh manis dan bibir dan ujung jari berubah merah, ia menyeruak di antara para pengunjung, sembari berkesimpulan, dari semua tempat di sirkus, yang paling menyenangkan adalah gerai gulali.

Tapi ia keliru. Itu disadari kemudian. Ketika ia menatap rumah cermin untuk pertama kali.

Menonjolnya aspek spasial dalam cerpen ini bahkan terefleksikan sampai ke level diksi. Kita baca kutipan berikut (hlm. 5-6).

Sejak kemarin senja, ia sering menepikan rambutnya ke belakang telinga.

“Menepikan rambutnya”, selain menghindari klise “merapikan rambut” dan membawa gambar mental baru dalam benak pembaca, koheren dengan “tema” singgah. Cerpen ini seolah mengingatkan kita kembali pada gagasan modern bahwa dalam sebuah karya bagus “yang makro” dapat dicari jejaknya dalam “yang mikro”, dan sebaliknya.

Karena kuatnya aspek spasial, menurut saya, cerpen ini lebih baik dimasuki daripada dibaca dalam arti konvensional, misalnya, untuk mendapatkan konten, makna terdalam, konflik yang berujung pada klimaks, atau plot twist yang mencengangkan. Fiksi pascamodern menantang cara membaca yang yang memperlakukan teks semata sebagai objek konsumsi. Pembaca, sebaliknya, dituntut untuk menjadi kokreator. Pertanyaan: bagaimana caranya?

“Singgah di Sirkus” tidak terlalu bertumpu pada tipografi teks untuk menggambarkan sirkus secara spasio-temporal. Ada dua kemungkinan lain untuk masuk dalam sirkus sebagai pengalaman meruang-mewaktu yang khas: (1) melalui kalimat, (2) mengenali fungsi disnarasi dalam cara kerja naratif. Dua kemungkinan tersebut mengikuti cara berpikir pascamodern bahwa pembacaan ini tidak dalam rangka menghasilkan pembacaan menyeluruh. Ulasan menangkap secara fragmentaris hal-hal yang mungkin luput dalam diskusi cerpen ini.

Spasialitas Kalimat

Meski berkarateristik pascamodern, cerpen ini masih meneruskan tradisi modern tentang keterjalinan yang makro dengan yang mikro. Namun, Nukila mengambil jalan relatif berbeda. Ia tidak memadukan tema (makro) dengan fitur-fitur intrinsik (mikro) macam karakter(isasi), konflik, plot, atau latar, tapi justru menggunakan sintaks (kalimat). Artinya, kalimat tidak difungsikan hanya untuk menarasikan dan mendeskripsikan “singgah di sirkus”, tapi mensimulasikan kondisi spasio-temporalnya melalui sintaks.

Untuk memahami bagaimana kalimat difungsikan ganda seperti itu, kita bisa merujuk buku Artful Sentences: Syntax as Style karya Virginia Tufte (2006). Tufte menggunakan A Portrait of the Artist as a Young Man  karya James Joyce sebagai contoh.

He watched their flight: bird after bird: a dark flash, a swerve, a flash again, a dart aside, a curve, a flutter of wings.

Kalimat di atas, menurut Tufte (253), tidak hanya merekam burung terbang secara mana-suka. Lebih dari itu, sintaksnya merupakan simulasi proses terbang.

Dalam cerpen “Singgah di Sirkus” kalimat bisa dipandang sebagai organisasi spasial karena kata atau frasa pada dasarnya menempati wadah fungsional (subjek, predikat, objek, keterangan) dalam urutan tertentu. Fungsi-fungsi itu juga memiliki fleksibiltas terbatas untuk dilakukan permutasi. Fungsi keterangan, misalnya, dapat diletakkan di depan subjek, setelah subjek, atau di belakang objek, tetapi tidak bisa setelah predikat.

Cara familiar lain mengenali ruang dalam kalimat adalah melihat jarak antara kata-kata. Namun, cara ini terbatas karena satu kalimat dapat terdiri dari satu kata, satu frasa, dan satu fungsi. Kalimat “Keluar!”, misalnya, terdiri dari satu kata, satu frasa, dan satu fungsi (predikat). Baca-tulis menjadi pengalaman spasio-temporer saat kita memproses kata demi kata dari kiri ke kanan, atau sebaliknya dalam aliran waktu.

Kita baca kutipan berikut.

…. Di antara terang matahari panas, rumah cermin itu seakan mengumpulkan gelap dalam dirinya dengan dingin. Meruang keterpisahan. Tampak beberapa pintu, ia mengelilingi beberapa bangunan untuk menghitung jumlahnya. Delapan pintu berbeda. Ia masuk lewat salah satu pintu, tiba di sebuah lorong selebar rentang tangan. Dinding cermin di kanan kiri. Ia membanyak tak berhingga.

Lorong itu berbelok bercabangan ke sana-ke mari. Beberapa kali ia menjumpai dirinya ada dalam ruang cermin bentuk kubus. Entah ada berapa, semua tampak sama. Di sana, empat dinding sisi memantulkan dirinya, kiri kanan depan belakang. Begitu banyak dirinya, ia tak lagi tahu mana dirinya yang sejati. Bagai berada dalam ulu hati sebuah berlian cemerlang, tersasar dalam labirin sejuta cahaya berpantulan. (hlm. 6)

Konstruksi kalimat-kalimat di atas, menurut saya, tidak hanya menggambarkan rumah cermin, tetapi apa yang bisa dialami secara spasial saat singgah sirkus: pilihan rute, lalu lintas yang tersendat, disorientasi arah, dan anonimitas dalam keramaian (duplikasi). Pemenggalan-pemenggalan kalimat, pelesapan subjek, atau pengelolaan tanda baca dalam cerpen ini berkontribusi terhadap pengelolaan kalimat sebagai tata spasial.

Disnarasi

Salah satu konsep yang kurang populer di Indonesia dalam pembahasan naratif adalah disnarasi. Konsep yang dikembangkan oleh Gerad Prince dalam artikel “The Disnarrated” (Narrative Theory: Critical Concepts in Literary and Cultural Studies, 2004) bisa berguna untuk memahami bagaimana tema sebagai yang mayor berkelindan dalam hal-hal yang kelihatannya sepele.

Secara sederhana disnarasi mengupas hal-hal yang urung dinarasikan: sesuatu yang seharusnya terjadi, tapi tidak terjadi; sesuatu yang tidak terjadi, tapi mungkin saja. Kita lihat disnarasi dalam “Singgah di Sirkus” berikut (hlm. 5). Saya tebalkan bagian yang jadi fokus.

Ia menghampiri sebuah mesin pencapit dalam kaca. Ia menempelkan mukanya pada kaca kotak capitan, menatap dengan mata besar segala yang bertaburan sedap di dasar. Sesaat tergoda. Jika koin dimasukkan, capit besi itu akan terbuka seperti cakar monster jahat, turun menuju serakan cokelat dan beberapa permen akan terangkat cakar, mungkin jatuh kembali ke dasar. Ia mengurungkan niat, meniupkan nafasnya pada permukaan kaca, menggambar spiral, dan berlalu. Ia berada di sana bukan untuk hadiah.

Menurut Prince (hlm. 301) “Disnarasi bisa, terutama, berkontribusi bagi pengembangan tema (ilusi dan realitas, yang tampak dan yang sejati, keterikatan dan kebebasan, imajinasi dan persepsi, atau, tentu saja, tema dari naratif itu sendiri), dan ia bisa membantu menciptakan suspens dan untuk mengartikulasikan naratif dalam artian hermeutik (dalam novel detektif, misalnya, kemungkinan pelbagai solusi dan solusi semu yang diajukan dikontraskan dengan solusi sebenarnya);…”. Jika demikian, apa fungsi hal yang batal di atas bagi pengembangan tema cerpen ini secara keseluruhan?

Kalimat “Ia berada di sana bukan untuk hadiah” menciptakan ilusi seolah-olah ada tujuan utama dari perjalanan tokoh ke sirkus. Namun, sampai akhir kita tidak menemukan alasan atau tujuan utama sang tokoh mampir di sirkus. Disnarasi itu berfungsi menegaskan tema “singgah”: wilayah-antara titik awal dan tujuan utama.

Untuk memperjelas, kita bisa meminjam salah satu adegan dari film Sicario (2015). Dalam adegan pertemuan antara Kate dan para pimpinannya, kamera sempat menyoroti tokoh Matt Graver yang menggunakan sandal dalam rapat resmi. Sandal itu bisa dilihat sebagai teknik karakterisasi, bisa pula soal bagaimana hal sepele macam sendal di antara orang berdasi dan berjas berkontribusi terhadap pengembangan tema besar perang melawan mafia narkotika melalui jalur tidak resmi (ilegal).

Ulasan Memasuki Cerpen Singgah di Sirkus Karya Nukila Amal

Penutup

Dari segi sejarah, fiksi pascamodern salah satunya merupakan reaksi terhadap pemakaian bentuk-bentuk fiksi yang dinilai sudah usang atau lelah menggotong cerita. Meski begitu, fiksi pascamodern tidaklah berarti keterputusan total dari fiksi modern. Tidak relevan juga membuat peringkat seakan-akan fiksi pascamodern lebih tinggi derajatnya daripada fiksi modern. Fiksi pascamodern, dijelaskan Nicol dalam Cambridge Introduction to Postmodern Fiction (2009), memiliki sifat kesekaligusan (doubleness). Fiksi pascamodern, misalnya, meneruskan nilai-nilai realis dan sekaligus mengobok-oboknya. Ia ibarat orang yang makan dengan lahap sembari mengomeli, memarodikan, menyadari pelbagai bumbu yang dicecap, atau mengkritisi masakannya. Ironis memang. Bagi orang yang senang makan (membaca) dengan tenang, bagian terakhir mungkin terasa menjengkelkan.

Menghadapi cerpen seperti “Singgah di Sirkus” bisa jadi kesempatan bagi kita untuk berhenti sejenak dari “membaca sebanyak-banyaknya” lalu beralih ke “membaca sebaik-baiknya”. Peralihan skema itu bisa jadi kesempatan bagi kita untuk mempertanyakan kembali asumsi-asumsi pembacaan atau konvensi di pihak pembaca. Dikatakan begitu karena asumsi-asumsi pembacaan inilah yang jarang diperiksa kembali dan diandaikan begitu saja. Sebagai akibat, tidak jarang pembaca meninggalkan bacaan dan menimpakan sebab kegagalan berinteraksi semata-mata pada “kerumitan” teks.

Konvensi barangkali seperti figur Hamelin, karakter dongeng yang dipinjam pada bagian penutup cerpen ini. Kita mengikuti konvensi seperti anak-anak yang mengikuti suara suling Hamelin. Namun, seperti yang digambarkan dalam cerpen ini, anak-anak itu mengikutinya “…dengan melompat menandak menari hampir melayang.” Kadang kita memperlakukan konvensi seperti itu.(*)


Infografis:Daeng Irman

Baca juga ulasan lainnya:
– GERAKAN SENTRIFUGAL DALAM MAMA MENGANYAM NOKEN
– CATULLUS: KELEMBUTAN DAN KOMPLEKSITASNYA
– SEPULUH LOMPATAN PUITIK PUJI PISTOLS

Bagikan artikel ini ke: