Menu
Menu

Delapan Cara Mencintai Secara Ponu: (7) Panggillah kekasihmu dengan ingatan masa kecil: kusambi, kartupel, dan tanda tangan buku mingguan. Tuhan hadir di situ.


Oleh: Ricky Ulu |

Lahir di Dili, 27 Juli 1993. Sekarang bergiat di Komunitas Pohon Asam, Ponu.


Janji

Berjanjilah, sayang
kau akan berpuisi tentang ayam,
gewang dan tanah coklat supaya kelak
ada tempat untuk pulang
dan menemukan masa kecil terselip
setiap pagi di rebis bebak
dan celah-celah pagar.

Berjanjilah, sayang
ada nyanyi di pinggir
pantai sambil menunggu Bapak
datang membawa asin laut
di sekujur tubuh dan berulang kali,
terus dan terus kau jatuh
dalam peluknya, merasakan
debur ombak sebagai debar jantungmu

Tetapi kutunggu kau di sini,
di depan lopo, kuti gitar, jergen laru
berbalas pantun, sendiri saja dengan kenangan
sebab waktu tak lain buih
di bibir gelas, cepat hilang dan dilupakan

Maka aku mau berhenti mengingatmu
dengan rindu paling kemarau: panas,
merah dan menjalar sampai dalam
kaos longgarmu yang mengembang
oleh angin utara dan rapalan
mazmur dan syair minta hujan

Sstt, kaos longgarmu berkibar
ditiup angin masa kecil,
berkabar kalau ada mata air
putih dan penuh rahasia
tersembunyi di situ

.

Ketika Belajar

Kemarau yang memberi
Warna coklat pada langit
Malam yang pendiam mengajari
Perihal rindu tak lain bunyi
Patah pagar setelah teng tong teng tong
Bel sapi bergerak buru-buru, menjauh
Dari paragraf pertama puisi
Tentang kekasih dan pohon asam

.

Perjalanan

Aku mau mencuri aroma laut dari rambutmu
Menyimpan cara pulang paling rahasia
Supaya aku tahu ke mana
Harus berlayar ketika rindu sudah berkabar,
Mengibarkan arahmu sejak baris pertama
Semua puisiku.

Aku mau mencapai bibirmu ketika itu terjadi,
Mendengar kepak camar di atas ombak, apa saja
Yang biasa kauucap sekadar
Menghibur diri kalau hidup
Tak pernah selesai dengan cerita, lagu atau doa
Sebab senjata, uang, dan tanda tangan
Adalah Tuhan yang harus diserukan
Nama-Nya setiap hari, setiap kau gentar

Aku mau jatuh di dadamu setelah itu
Mendengar ombak memukul karang
Tujuan sudah dekat, pulang dan beristirahat

Di bawah pusarmu kuikat perahuku
Kutambatkan tujuanku di situ
Rebah, memasuki sudut terjauh
Dari tubuhmu, berbagi asin laut
Dan kasar pohon asam, sedikit cium
Yang ombak penuh buih

Sayang, perjalanan paling puisi
Adalah menyusuri tubuhmu
Menikmati senja di matamu,
Menjumpai banyak cinta tertinggal
Di lipatan lemakmu, mendapati mimpi tergantung
Di langit-langit mulutmu tak pernah disentuh
Oleh presiden dan guru agama

Percayalah, sayang, puisi
Paling romantis dibangun di atas tubuhmu

.

Cerita Ponu di Awal Maret 2019

tentang gelas terakhir yang diangkat
menuju langit untuk merayakan
musim hujan yang sembunyi
di celah jemari mama-mama
ketika khusyuk berdoa

sekadar menjawab pertanyaan paling api
__: ini tahun kita makan apa?

kami tetap kasih jalan gelas,
kami terus minum laru,
kami selalu membagi mabuk ini
sembari potong kecil-kecil
telinga babi yang dipanggang

sebab kecemasan tak pernah
punya kaki untuk memanjat
pagar rumah kami yang berwarna
kemarau dan hampir rubuh

dan Tuhan selalu menyimpan
mukjizat di atas pohon-pohon
gewang

supaya kami tetap ingat
mengangkat gelas ke arah langit
walau kehilangan musim penghujan
tapi surga sudah kami simpan di tutup botol
sopi paling menyala

.

Minggu di Ponu

Raung mesin rontok menjadi isyarat pertama
Akan kucintai Kau, Kristus
Selepas tanah mekarkan retaknya
Dan kali-kali kecil mencuci masa lalu
Dalam darah babi dan gelas-gelas laru

Cinta selalu terbuat dari kata
Sunyi dan menyimpan kejutan
Di antara perut ayam dan baris terakhir
Mantra pemanggil hujan

Maka ubahlah batu-batu ini
Menjadi matahari yang membakar
Punggung ini, tangan ini, lidah ini
Sebab tubuh adalah panggung nasib,
Mezbah pembubung doa-doa tentang hidup
Yang masih dipeluk dingin.

Jauhkan gerak mendung hitam, jauhkan gerak itu
Ketika derak patah ranting tak lain isyarat terakhir
Akan kucintai Kau, Kristus, selepas kemarau
Menjatuhkan kecemasan-kecemasan menguning
Di setiap halaman rumah yang disinggahi

.

Delapan Cara Mencintai Secara Ponu

(1) Gambarlah sebuah padang coklat, matahari di pucuk lontar, dan sandal yeye penuh debu. Hijau melingkar mata kaki.

(2) Tebe di pematang ketika rontok padi adalah puisi.

(3) Kau pernah menghafal suara anak babi yang kehilangan induk dan mencarinya di balik gewang?

(4) Kali kecil hanya berisi musim kemarau yang membatu. Putih dan panas.

(5) Kau tak perlu takut tersesat. Mata kekasih selalu mengawasi dari ranting-ranting asam.

(6) Jalan-jalan menuju kebun adalah lengan yang memberi pelukan berupa ucapan selamat pulang.

(7) Panggillah kekasihmu dengan ingatan masa kecil: kusambi, kartupel, dan tanda tangan buku mingguan. Tuhan hadir di situ.

(8) Bercerita di depan jergen laru sampai larut. Pelajaran menulis dimulai. Membaca di tengah malam bisa menyebabkan patah hati dengan tenang.


Ilustrasi: Foto Kaka Ited

Baca juga:
– Puisi-Puisi Giovanni A. L Arum – Di Ruang Pengakuan
– Puisi-Puisi Derry Saba – Berjalan di Tepi Doa

Bagikan artikel ini ke: