Menu
Menu

Aku bersumpah demi kelewang pusaka ini dan demi rahimku sendiri, tak akan kubiarkan kisah pengorbananmu menjadi asing bagi telinga dan hilang dari ingatan seluruh anak cucu Bes Ma’tani.


Oleh: Mariano Sengkoen |

Suka membaca karya-karya sastra, baik novel, puisi, cerpen, juga esai. Pernah bergiat di Komunitas Sastra Filokalia, suka menulis puisi, cerpen dan esai. Kini menetap di Malang.


I

Tak usah kau gelisah. Aku, kakakmu, adalah petarung yang gagah berani. Ayah kita, Am Le’u telah mewariskan segala kebajikan laki-laki sejati kepadaku. Ia telah hidup dalam kebenaran dan kebaikan, sehingga ia disegani dan disenangi pula. Seluruh keturunan Bes Ma’tani akan mengenal dan menyebutnya ksatria. Ksatria tahu kapan, di mana, dan kepada siapa mesti mengayunkan kelewang atau melayangkan belas kasih. Dengan segala kemampuanku, aku telah menghidupi berbagai warisan kebajikan itu. Am Le’u telah mengajariku agar tak menjadi lemah karena meninggalkan kekuatan, juga tak menjadi lalim karena menanggalkan belas kasih.

Ketika semalam orang-orang Haubanat menyerang rumahmu, aku tahu mereka telah dengan sengaja mengorek luka lama untuk menyatakan perang. Kau tentu tahu rutinitasku saban malam; duduk bersila di depan Hau Teas dan merapalkan mantra pelindung kampung Bes Ma’tani. Selama berabad-abad, mantra itulah yang mengubah kampung kita menjadi padang rumput selepas senja, sehingga setelah menyeberangi sungai Taup Tuka, para penjahat yang ingin menyerang kita tak akan menjumpai sasarannya dan lantas pulang dengan tangan kosong.

Mantra itu diwarisi Am Le’u dari Am Lekus ayahnya yang mewarisinya dari Am Sako ayahnya yang juga mewarisinya dari ayahnya, dan seterusnya dan seterusnya, sampai kepada Am Mataus, leluhur pertama orang Bes Ma’tani. Dengan cara itulah kita memanggil para leluhur untuk menurunkan perlindungan kala kita tertidur, seperti seekor induk elang menyelimuti anak-anaknya dengan kedua sayapnya.

Mantra itu telah menenteramkan malam-malam kita, sampai ketika penangkal mantra itu diketahui orang-orang Haubanat.

Kuharap kau tak akan melupakan kejadian itu; perseteruan Am Le’u, dengan adiknya, Am Tafin, untuk memperebutkan kelewang peninggalan Am Lekus. Perseteruan yang terjadi pada waktu upacara pemakaman Am Lekus itu telah membuat seisi kampung Bes Ma’tani menjadi gelisah. Pasalnya telah tersiar kabar bahwa Am Lekus meregang nyawa di ujung mata kelewang yang pangkalnya digenggam Am Le’u. Pembunuhan itu terjadi di sungai Taup Tuka, pada suatu malam dengan bulan yang hitam sebagian.

Atas kabar itulah Am Tafin bersikeras untuk menjadi penghunus kelewang Am Lekus pada upacara pemakamannya. Bagi Am Tafin, Am Le’u terlalu hina untuk menjalankan ritual pemakaman itu; mengitari peti Am Lekus tujuh kali sambil mengacungkan kelewang dan meneriakkan ‘tap ne naen, nes na nabal.’Tetapi keputusan para ama dan meo tak berpihak pada Am Tafin. “Angin bertiup tak kenal asal juga arah,” begitu kata mereka, “dan sampai ketika ada rumah yang tiba-tiba roboh tanpa sebab apa pun, barulah boleh kita menunjuk mata.” Maka demikianlah terjadi, Am Le’u tetap menjalankan ritual itu. Tentu Am Tafin tetap tak terima dan memilih pergi meninggalkan Bes Ma’tani.

Am Tafin meninggalkan Bes Ma’tani dengan membawa pergi Faut Piob. Masih jelas tergambar di kepalaku bagaimana sore itu, sebelum ia pergi, Am Tafin menghadap ke kerumunan orang-orang Bes Ma’tani, menundukkan kepala sebentar untuk menghormati Am Lekus, lalu terus membungkukkan badan, menepuk tanah tiga kali, menggaris tanah dengan jari telunjuknya dan mengucapkan sumpah maut itu; “Biarlah di garis ini kubatasi tubuhku,” ia berkata dengan tangis yang tak tertahan, “dan tanah akan menepuk nyawaku tiga kali jikalau kubiarkan kakiku melintasinya.” Dari Faut Piob itulah kelewang pusaka ini dibuat. Dan sebagaimana nafas seorang anak terletak di bawah telapak kaki ibunya, demikian pulalah Faut Piob terhadap kelewang pusaka Bes Ma’tani.

Barangkali selamanya kita tak akan tahu ke mana Am Tafin pergi dan tinggal, hingga pada malam itu, ketika orang-orang Haubanat berhasil menerobosi mantra pelindung Bes Ma’tani, masuk ke kampung kita, dan membunuh Am Le’u. Kita pasti akan tetap nyenyak tertidur seandainya meo itu tak datang membawa salah seorang penyerang yang berhasil ditangkapnya. Meo itu memanggil-manggil Am Le’u dan kita terbangun. Tetapi Am Le’u tak pernah bangun lagi, sebab kelewang pusaka Bes Ma’tani telah tertancap di dadanya.

Dari tawanan itulah kita tahu bahwa sepuluh orang Haubanat telah diutus Am Tafin untuk membunuh Am Le’u. Ia telah mengusap mata mereka dengan air rendaman Faut Piob, sehingga segala mantra untuk menyembunyikan kampung kita tak mempan atas mata mereka. Cerita tawanan itulah yang membuat kita tahu bahwa selepas kematian Am Lekus, Am Tafin tinggal di Haubanat. Atas dasar kisah itu pulalah tak ada sedikit keraguan pun dalam hatiku bahwa para perampok yang telah menyerang rumahmu adalah orang-orang Haubanat. Kepada mereka aku akan menghunus kelewang dan menuntut pertanggungjawaban.

II

Tak pernah ada dendam atau rasa padamu yang bersarang dalam hatiku, kakakku. Aku bersumpah, demi para leluhur yang mendiami bukit Fautmnasi. Aku selalu menghormati dan mencintaimu. Am Le’u telah berpesan sejak kita masih kecil bahwa sebagai keturunannya kita mesti saling menopang hidup seperti pohon-pohon talas merayapi lereng-lereng bukit.

Semuanya ini tak akan terjadi andaikata sebagai pewaris kelewang pusaka Bes Ma’tani kau tak ditimpali larangan meninggalkan kampung. Lumbung kita selalu terisi dan lambung kita tak pernah gelisah, sebab sungai Taup Tuka memeluk Bes Ma’tani dengan penuh kasih sayang dan tak habis-habisnya mengalirkan diri sepanjang musim. Kau akan hidup dengan segala berkat leluhur atas Bes Ma’tani, makan dari tanah, minum dari sungai dan bernapas dari daun-daun pepohonan.

Tetapi sebagai adikmu, aku boleh meninggalkan kampung dan mengenal dunia luar. Aku boleh pergi untuk belajar bagaimana cara manusia-manusia lain mencintai alam dan saling menyejahterakan diri. Demikianlah sejarah mesti dihidupi dalam perjumpaan antara kebenaran yang telah kita hidupi dan kebenaran yang dihidupi orang-orang lain. Maka setelah mendapat restumu aku meninggalkan tanah ini, meyeberangi sungai Taup Tuka, memunggungi pohon-pohon dan pergi mengembara.

Dalam pengembaraan itulah aku pergi ke Haubanat. Kau tentu tahu, sejak kecil aku selalu dekat dengannya. Sebagaimana kau dididik Am Le’u tentang kebajikan-kebajikan seorang kakak, demikian pulalah aku dengan Am Tafin. Selepas kematian ibu, aku lebih banyak menghabiskan masa kecilku dengannya, tinggal di rumahnya, belajar darinya dan lalu merasa lekat dengannya. Maka ketika salah seorang komplotan pembunuh Am Le’u tertangkap pada malam naas itu, aku tak benar-benar percaya pada omongannya. Bagaimana bisa kita gampang percaya pada seorang penjahat sialan daripada kepada saudara ayah kita sendiri?

Di Haubanat aku bertemu Am Tafin. Ia sudah renta, hidup sendirian di sebuah gubuk kecil, di bawah sebuah pohon beringin yang teduh dan mencekam. Aku pasti akan menangis iba melihat itu semua jika saja ia tak mengatakan bahwa memang demikianlah keinginannya. Sebab baginya tak baik bagi seorang buangan untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan tuan tanah yang telah bermurah hati menerima dan menampungnya.

Di gubuknya itu Am Tafin mempelajari banyak rahasia alam, membuat mantra, menyembuhkan penyakit, meramu obat-obatan, melatih seni bela diri serta mengajari teknik berperang untuk orang-orang Haubanat. Demi melihat semua itu, dan mengalami bagaimana orang-orang Haubanat menghormati dan mencintainya, aku yakni bahwa para leluhur yang berdiam di bukit Fautmnasi selalu menyertai dan merestuinya. Aku pun menjadi lebih yakin bahwa perampok sialan itu telah menipu kita. Aku memutuskan untuk hidup bersama Am Tafin di gubuk itu, belajar darinya dan mengulangi segala kenangan masa kecilku bersamanya.

Aku juga telah melihat bagaimana orang-orang Haubanat tekun berlatih kelewang, mempelajari seni bela diri dan menyusun berbagai taktik perang. Kampung itu hanya dilalui sebuah ekor kecil sungai Taup Tuka, tanah mereka tak sesubur tanah kita dan pohon-pohon di sana tak sehijau hutan-hutan kita. Mereka tak pernah kekuarangan meski juga tak semakmur orang-orang kita. Mereka mencukupi hidup dengan apa yang ada dan melindungi hati mereka dari penderitaan karena menginginkan lebih daripada apa yang ada. Karena itulah mereka giat memperkuat diri dan siap berperang kapan saja demi mempertahankan hidup hingga titik darah yang penghabisan.

Aku kemudian pulang ke Bes Ma’tani, dengan memikul keinginan terakhir Am Tafin sekaligus sumpahku sendiri. Ia ingin mati dan dikuburkan di tempat di mana para leluhur kita telah dimakamkan, dan aku telah bersumpah akan melakukan apa saja demi mewujudkan keinginannya itu. Tentu kau tahu, ia tak bisa kembali ke sini, kecuali jika rantai pewaris kelewang pusaka Bes Ma’tani telah putus. Kau tak punya anak, dan itu berarti Am Tafin hanya bisa kembali ke sini setelah kematianmu.

Kau tak punya anak, dan tentu orang-orang Bes Ma’tani mulai lebih menghormati aku. Sejak kepulanganku aku lebih sering hidup di rumahmu daripada rumahku sendiri. Orang-orang Bes Ma’tani melihat keakraban kita dengan penuh kebahagiaan, sebab sudah seharusnya seorang calon pemimpin mendekati sang pemimpin agar tertular kharisma. Ketika kau menghabiskan waktu berhari-hari di hutan untuk berburu madu, aku tetap tinggal di rumahmu, meramu obat-obatan, menyembuhkan orang-orang sakit, juga mengajari pengetahuan-pengetahuan baru. Aku tetap tinggal di rumahmu, bersama istrimu.

Semakin lama aku semakin tak kuat membatasi diri dan akhirnya tertular cintamu pada perempuan itu. Aku terperangkap pada kekaguman akan ketabahannya menjadi hidup tanpa anak, juga ketekunannya melayanimu sebagai seorang istri. Mungkin kau tak pernah tahu, tetapi kemandulan perempuan itu telah menjadi bahan pergunjingan orang-orang sejak lama. Entah siapa yang memberitahu mereka, orang-orang itu percaya bahwa istrimu adalah perempuan mandul. Kau adalah penerus pusaka dan para leluhur tak mungkin mewariskan tradisi dan sejarah pada seorang laki-laki dengan fungsi kelamin yang cacat.

Beberapa pergunjingan itu sampai ke telingaku dan berakhir dengan teguranku kepada orang yang mulutnya mengeluarkan gosip murahan itu. Tetapi kita tak bisa menghentikan pikiran yang hidup di kepala orang. Maka lama kelamaan aku justru merasa tertantang. Aku merasa tertantang untuk mengungkap kebenaran dan membela istrimu. Maka setiap kali kau pergi berburu madu, aku membelainya dan kami saling melingkupkan tubuh. Kami saling melingkupkan tubuh dan pada suatu pagi aku mendapatinya mual-mual. Ia mual-mual dan ia tersenyum kepadaku. Ia tak berkata apa-apa tetapi aku tahu bahwa aku akan menjadi seorang ayah.

Itulah awal segala intrik ini, kakakku. Inilah jalan yang mesti kami tempuh untuk menyelamatkan janin di dalam perut istrimu. Dengan menyelamatkan janin itu kami akan meneruskan sejarah dan tradisi Bes Ma’tani. Sesungguhnya, dengan menegakkan ekor, seekor kot-kotos telah berkicau di dahan pohon jambu di depan rumahku sejak empat hari lalu. Para leluhur di Fautmnasi telah memberi kabar kematian, dan barangkali sekali Am Tafin akan meninggal dunia. Maka demi memenuhi keinginan terakhir sekaligus sumpahku padanya, kau harus mati.

Demikianlah pagi ini aku datang kepadamu dan mengarang cerita tentang perampokan rumahku. Aku memanfaatkan ingatanmu pada Am Tafin, dan begitulah yang kemudian terjadi. Tanpa curiga apapun, kau memastikan dengan segera bahwa orang-orang Haubanat telah mengulang perbuatan jahat mereka dan mengajak kita berperang. Maka kini kau akan pergi membalaskan dendam adikmu. Dengan membawa para meo dan semua laki-laki berjakun di Bes Ma’tani, kau akan pergi untuk menegakkan kelewang dan menegaskan martabat.

Namun tentu kita akan kalah. Telah lama kuamati, kau tak pernah lagi berlatih tempur dan mempelajari taktik perang. Laki-laki kita sudah terlalu lama hidup dalam damai dan kemakmuran sehingga tumpul nyali dan naluri mereka untuk menggorok leher musuh. Tak usahlah berharap pada para meo yang kini tinggal nama besar tanpa kecakapan memainkan kelewang. Tetapi orang-orang Haubanat telah lama bertekun dalam latihan seni bela diri dan taktik perang. Dan sebagaimana selalu diingatkan kepada kita, para leluhur di bukit Fautmnasi lebih memilih kebenaran daripada gengsi dalam menentukan keberpihakan serta menurunkan restu.

Kita akan kalah, kakakku. Kita akan kalah dan kau akan mati. Kita akan kalah, dan masa depan Bes Ma’tani akan tetap lestari.

III

Suamiku, apapun yang akan terjadi padamu, aku akan selalu mencintaimu. Sejak hari ini rasa hormatku padamu akan bertambah lagi sebab kau akan mati dengan kelewang teracung di tangan kananmu. Jika perempuan mati dalam kesetiaan, laki-laki sejati mati dalam pengorbanan. Am Le’u dan seluruh pewaris kelewang pusaka Bes Ma’tani akan bangga padamu, dan di bukit Fautmnasi pesta ronggeng akan digelar untuk menyambut kedatangan jiwamu.

Kau tak tahu, tetapi kini aku sedang mengandung pewaris tradisi dan sejarah Bes Ma’tani. Meski ia tak tercipta dari benihmu tetapi ia akan hidup dengan segala cinta dan kebajikan yang telah kau titipkan pada ingatanku. Kelak adikmu mungkin akan menjadi suamiku, tetapi aku akan tetap mengganggap anak ini sebagai kepunyaanmu. Dan walaupun orang-orang Bes Ma’tani akan mengetahui kebenarannya, aku tetap akan menceritakan pada anak ini bahwa kau-lah ayahnya. Sebagai seorang ibu aku berhak memutuskan laki-laki siapa yang harus diketahui anakku sebagai ayahnya.

Sesungguhnya beban ini tak akan mudah kutanggung. Sejak niatan membunuhmu kuketahui, aku sering menangis. Kau pernah hampir saja memergokiku pagi itu, ketika air mataku berderai di tepi tungku saat memasak bose untukmu. “Asap kayu kemiri selalu tebal dan perih,” aku berkilah. Meski kau seorang bijak, rahasia perempuan tak selalu utuh terungkap. Sebagaimana Usi Neno telah menganugerahkan rahim bagi kami untuk menyembunyikan seorang manusia dari dunia, demikianlah kami punya seribu satu cara untuk menyembunyikan rahasia agar hidup tetap berlanjut dalam damai. Selama-lamanya, tak akan mudah laki-laki membaca air mata kami.

Aku tak pernah mencintai adikmu. Sungguh, aku tak akan pernah mencintainya. Semua ini terjadi karena kenekatan semata. Ia ingin menyelamatkan mukaku dan aku ingin menyelamatkan masa depan kelewang pusaka Bes Ma’tani. Maka kami saling melingkupi satu sama lain, dan benih seorang manusia mulai menelungkup di perutku. Kenekatan itu pula yang memaksaku setuju pada pilihan untuk menumbalkanmu demi menumbuhkan anak ini. Tentu kau akan menganggap kenekatan ini sebagai kebodohan. Tak apalah, memang sudah begitu nasib sebuah kenekatan, menempati ruang tipis antara cinta dan kebodohan.

Tetapi aku tak bodoh untuk memberitahukan yang sebenarnya kepadamu. Kau pasti akan menghunus kelewang dan menyarungkannya kembali dengan darah adikmu. Sebab kelewang yang telah meninggalkan sarungnya harus pulang bersarang dengan membawa darah. Lalu aku akan mengandung anak ini dengan perasaan tertekan, sehingga ia akan lahir dengan jiwa yang kerdil. Seburuk-buruknya aku, aku tak akan mengizinkan kelewang pusaka Bes Ma’tani jatuh ke tangan seorang manusia berjiwa kerdil. Atau barangkali kau akan membunuhku juga, dan itu lebih buruk lagi sebab kau akan membunuh pewaris kelewang pusaka Bes Ma’tani.

Adikmu pernah menceritakan padaku cerita Am Tafin padanya tentang peristiwa kematian Am Lekus. Ia telah menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana kelewang yang dipegang Am Le’u menikam perut Am Lekus dalam duel di sungai Taup Tuka. Sebagaimana para ama dan meo, Am Tafin tahu bahwa duel itu hanya latihan, dan kematian Am Lekus hanya kecelakaan semata. Tetapi mereka kebingunan memutuskan perkara, sebab kejadian itu baru pertama kali terjadi. Lagipula mereka takut tertimpa musibah apabila salah menuduh seorang pewaris kelewang pusaka. Maka ketegasan Am Tafin mereka patahkan dan akhirnya Am Tafin pergi meninggalkan Bes Ma’tani.

Semestinya kau sadar ketika adikmu menceritakan bahwa Am Tafin masih hidup. Seluruh turunan Bes Ma’tani tahu bahwa kelewang yang dihina akan memburu penghinanya hingga ke dalam tanah. Jika Am Tafin belum mati itu berarti kelewang Bes Ma’tani tak memburunya sebab ia memang tak bersalah. Seharusnya kau mengirim utusan untuk memanggilnya pulang dan menggelar hel fef maputu untuk menarik pulang tepukan tangan pada tanah, menghapus garis batas dan mengembalikan Am Tafin ke Bes Ma’tani. Bagaimanapun ia adalah adik Am Lekus, ayahmu sendiri.

Namun kau telah jauh tenggelam dalam dendam atas kematian Am Le’u. Kau tak tahu bahwa pada hari itu kawanan pembunuh Am Le’u telah lebih dahulu menyusup ke dalam kampung di siang hari, sehingga mantra pelindung kampung pada malam hari tak berlaku atas mereka. Itu berarti mereka bukan kebal mantra karena air rendaman Faut Piob. Mungkin juga mereka bukan orang-orang Haubanat. Mereka memang perampok yang hanya ingin mencari dan mencuri harta, yang kemudian harus menikam Am Le’u karena ia terbangun dan memergoki aksi mereka.

Aku tak peduli dengan sumpah adikmu pada Am Tafin. Aku juga tak peduli pada kabar kematian yang terdengar dari kicauan Kot-kotos di rumah adikmu. Tetapi aku tahu segala intrik ini, aku tahu bagaimana semuanya akan terjadi, aku tahu bahwa kau tak akan pulang dengan selamat. Orang-orang Haubanat tak pernah berhenti berlatih perang dan orang-orang kita akan mudah dikalahkan. Faut Piob masih ada di tangan Am Tafin dan kau akan bertarung tanpa bantuan segala mantra pelindung. Oh suamiku, andaikan selama ini kau tak pernah lupa berlatih kelewang.

Kini semuanya telah terlambat. Orang-orang Haubanat akan bangga menuliskan sejarah dengan darahmu. Namun ketahuilah ini kekasihku, seluruh keturunan Bes Ma’tani pun tidak akan melupakan kisah kepahlawananmu. Aku bersumpah demi kelewang pusaka ini dan demi rahimku sendiri, tak akan kubiarkan kisah pengorbananmu menjadi asing bagi telinga dan hilang dari ingatan seluruh anak cucu Bes Ma’tani. Selamanya setiap anak laki-laki Bes Ma’tani akan menepuk dada menyebut namamu dan anak perempuan akan menyisir rambut dengan cerita tentang kebesaranmu.

Terimalah cinta dan kebanggaan, hormat dan doaku untukmu. Aku akan merindukan hari-hari kita yang panjang dan tentram. Kepada anak inilah akan kucurahkan seluruh cintaku, cintaku yang akan selalu satu dan tak tergantikan, hingga ajal menjemput dan membawaku pulang ke bukit Fautmnasi, ke pelukanmu. Maka dengan mengangkat kelewang pusaka Bes Ma’tani kurelakan kepergiamu. Pergilah kekasihku, pergilah menuju takdirmu. Berperanglah dengan gagah berani, dan matilah sebagai ksatria Bes Ma’tani.(*)

Keterangan:

[1] Hau Teas : kayu bercabang tiga yang menyanggah sebuah lempeng batu, ditancapkan di depan rumah suku orang Dawan dan digunakan sebagai tiang penghormatan dan persembahan korban untuk para leluhur.

[2] ‘Tap ne naen, nes na nabal’ : ‘Sarung berganti, tetapi isi kelewang tinggal tetap’ (terjemahan bebas). Kata-kata yang diungkapkan seorang putra sulung dalam ritual pemakaman ayahnya menurut tradisi orang Dawan, sebagai pernyataan komitmen untuk meneruskan sejarah dan tradisi.

[3] Ama : sebutan untuk para pemangku adat, pemimpin subklan dalam hierarki kepemimpinan suku Dawan.

[4] Meo : sebutan untuk panglima perang dalam tradisi orang Dawan.

[5] Kot-kotos : burung Decu (Saxicola Capatra).

[6] Bose : sebutan untuk makanan orang Dawan, terbuat dari bulir jagung tanpa kulit ari yang direbus.

[7] Usi Neno : sebutan orang Dawan untuk Tuhan.

[7] Hel fef maputu : ritual dalam upacara perdamaian orang Dawan, untuk menarik kembali omongan, sumpah, atau kutukan yang pernah diucapkan.


Baca juga:
– Cerpen: PERCAKAPAN PENGHUNI MAUNTEF
– Cerpen: MEG DAN PRIA-PRIA BRENGSEK
Dari Rumah: HIKMAH

Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Bagikan artikel ini ke: