Menu
Menu

Dekat dan Nyaring bukan hanya sebundel cerita atau kisah bagus. Buku ini bersaksi.


Oleh: Dinda Indah Asmara |

Mahasiswi yang menetap di Malang. Sedang bergelut dengan skripsi sembari menyalurkan kegemaran membaca novel-novel yang terpajang di rak perpustakaan kota.


Identitas Buku

Judul: Dekat dan Nyaring
Pengarang: Sabda Armandio
Penerbit: Penerbit Banana (2019)
Halaman: 110 Halaman

***

Tidak ada heroisme, tidak ada tokoh utama, tidak ada yang lebih penting dibanding yang lain. Semua penting, semua adalah tokoh utama, dan terutama semuanya berjuang. Entah untuk terus bertahan tinggal di Gang Patos yang semakin terdesak, entah untuk hidup yang teramat brutal. Bercerita tentang penghuni-penghuni terakhir Gang Patos. Gang pinggiran kali yang ditinggalkan penghuninya untuk hidup yang lebih baik, katanya. Kisah orang-orang biasa. Saya rasa, itulah yang ingin disampaikan Sabda Armandio.

Dekat dan Nyaring adalah karya Dio pertama yang saya baca. Melalui narasinya, kita akan dipertemukan dengan para penghuni Gang Patos. Mereka adalah Edi, Idris, Kina, Nisbi, Anak Baik, Aziz, Wak Eli, serta seorang penulis yang sama sekali bukan penghuni gang itu, Dea Anugerah. Bersama mereka kita akan diajak untuk mengintip kehidupan orang-orang biasa selama sehari saja. Sehari tapi penuh cerita, dari yang asyik-asyik sampai sangat tragis.

Dio membangun tokoh-tokohnya dengan begitu menarik. Meski mereka adalah orang-orang biasa namun mereka tak benar-benar biasa. Hal ini langsung bisa kita temukan ketika membaca halaman pertamanya, ketika Edi menangkap seekor ular sanca yang kemudian ia potong-potong seukuran kantong teh. Daging ular itu lantas ia olah menjadi daging asap serta minyak sanca yang ia palsukan sebagai minyak kobra, sebab harganya lebih mahal. Ia menjalani pekerjaan yang sama sekali tak biasa, bahkan bisa dibilang aneh. Kapan lagi, di zaman sekarang kita menemui seseorang yang menjual daging ular asap dan minyak kobra palsu?

Tapi pekerjaan tak biasa itu tentulah muncul karena ada sebabnya. Dan, sebab itu apalagi jika bukan untuk bertahan hidup. Karena hidup mereka begitu sulit sehingga cara-cara biasa tak akan cukup utnuk membuat Edi dan penghuni Gang Patos lain bertahan. Alasan yang sama juga digunakan Edi ketika mengajak Nisbi untuk menjual ganja palsu dari daun bokor yang dikeringkan. Ajakan yang awalnya ditolak mentah-mentah oleh Nisbi. Menjual ganja saja sudah haram, apalagi memalsukannya? Meski akhirnya Nisbi mengiyakannya, dengan berat hati dan perasaan khawatir akan mengkhianati langganannya. Tentu apalagi alasannya jika bukan untuk bertahan hidup? Ia butuh uang, untuk makan, bayar listrik, dan menyekolahkan Anak Baik, anak tunggalnya yang sampai novela ini habis tak diketahui apakah ia laki-laki atau perempuan. Lagipula itu tak begitu penting. Dio mungkin hanya ingin menceritakannya sebagai anak-anak yang polos, yang serba ingin tahu, dan yang tumbuh dengan segala kebrutalan hidup.

Nuansa kemiskinan memang amat terasa dalam novela Dio ini. Kita akan menemukannya dalam banyak kalimat, dalam setiap langkah atau dialog tokoh-tokohnya. Salah satunya adalah kalimat yang menggambarkan malam pertama Idris, penjual regulator tabung gas dan teman baik Edi yang selalu menguarkan aroma lavender dari tubuhnya. Di malam pernikahannya dengan Kina, ia melakukan senggama di atas sofa. Kita juga akan menemukan narasi lain yang kuat dengan narasi kemiskinan seperti guyonan sarkas Edi yang ditujukan pada Nisbi berikut ini :

“Kau bukan perokok, jantungmu pasti sehat dan kau nggak minum alkohol, ginjalmu akan laku cepat. Aku punya kenalan orang yang pernah menjual ginjal kirinya untuk naik haji, dan dia masih hidup sampai hari ini dengan satu ginjal.”

Dio menyampaikan narasi soal kemiskinan itu bukan dalam ketidakberdayaan. Sebaliknya, ia menyampaikannya dengan semangat tak mau kalah. Hal ini misalnya tampak pada kalimat:

“Idris pekerja yang gigih, sebab bisa dibilang hanya kegigihan yang bisa menyelamatkan hidupnya di kota besar.”

Lantas diikuti oleh gambaran soal seberapa gigih Idris, yaitu :

“Ia berkeliling membawa regulator gas sambil membawa tabung gas tiga kilogram…”

Kalimat itu tentu begitu pahit sebenarnya. Berkeliling kota menjual peralatan tak habis pakai macam regulator gas yang tak laku setiap hari, ditambah membawa tabung gas tiga kilogram pula! Sekali lagi, tak ada rengekan sama sekali di sana. Hanya ada penolakan untuk kalah.

Hal yang sama, soal penolakan untuk kalah dan pasrah, juga tampak pada kata-kata Nisbi :

“Edi, aku bahkan nggak tahu dengan apa aku bisa membayar tagihan listrik bulan ini.”

Kalimat itu kemudian dijawab Edi dengan :

“Itu masalah mudah. Kita curi saja listrik dari lampu jalan di depan. Kau tak perlu lagi memusingkan tagihan listrik.”

Kita tidak bicara moral atau baik benar soal pencurian listrik, yang dibicarakan disini adalah betapa besar semangat bertahan penghuni Gang Patos, semangat bertahan terhadap hidup yang begitu brutal.

Kisah para penghuni Gang Patos ini semakin indah ketika disuguhkan dengan kehangatan yang terjalin di antara mereka. Dio menyajikan semua ini dalam narasi dan adegan yang sederhana. Misalnya dengan kasih sayang yang ditujukan Edi pada Aziz, kesabaran dan nasehat-nasehat Wak Eli untuk Anak Baik, persahabatan Edi dengan Idris, serta kasih sayang semua penghuni gang kepada Aziz. Semua itu disampaikan dalam narasi yang sederhana namun begitu manis.

Gang Patos adalah cerita tentang ruang hidup yang semakin didesak oleh pembangunan, dan semua itu nyata, terus, serta massif terjadi di sekitar kita. Gang yang terletak di bantaran kali itu diapit oleh gedung pertokoan tiga tingkat setengah jadi, sebuah bangkai bis dalam kota, sebuah swalayan yang buka 24 jam, dan perumahan Permata Permai Residence. Kecuali bangkai bis itu, segalanya serba bagus, serba megah, dan gang itu menjadi anomali. Karena itu, penghuninya terus dibujuk dengan halus atau kasar untuk pergi, supaya tempat itu bisa diganti bangunan yang lebih bagus. Gang Patos adalah kondisi ruang hidup kita saat ini.

Membicarakan Dekat dan Nyaring, membicarakan orang-orang Gang Patos, mau tak mau juga ikut berbicara soal Tamansari, Kulon Progo, Petani Kendeng, Lakardowo, Tegalrejo, dan segala ruang yang dihancurkan oleh negara dan korporasi demi hasrat lancarnya investasi dan tatanan negara maju yang bullshit luar biasa, juga jangan lupa, membicarakan Dekat dan Nyaring artinya juga membicarakan kehidupan yang makin dipersulit oleh mereka yang berkuasa. Sebab, di depan segala hal yang katanya serba maju itu, hidup jadi begitu tak penting nilainya.

Dekat dan Nyaring serta Gang Patos, saya akui, mengingatkan saya pada Tamansari. Mungkin perlu diceritakan di sini, belum lama ini, RW 11 Tamansari , digusur. Penggusuran ini terjadi akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2019. Tamansari, sama seperti Gang Patos, adalah tempat tinggal yang begitu melekat, akrab, dan dekat dengan penghuninya, yang lantas dengan semena-mena digusur paksa oleh negara dengan narasi kota layak huni, kota bersih, dan segala omong kosongnya. Sama seperti orang-orang biasa di Gang Patos yang memilih bertahan dengan segala macam bujuk rayu untuk pergi, orang-orang biasa di Tamansari juga mati-matian mempertahankan ruang hidupnya. Walau banyak air mata dan rasa sakit di sana. Ada tangis anak kecil yang merindukan rumahnya, ada yang memar tangannya karena digebuki aparat, bahkan ada yang sampai pingsan karena tekanan psikis yang dialaminya. Mereka semua kehilangan banyak hal karena negara yang sama sekali tak peduli hidup rakyatnya. Tapi mereka juga berani melakukan apa pun untuk tetap tinggal di rumah yang membesarkan mereka.

Hal yang sama juga dilakukan oleh para petani Kulon Progo yang tanah pertaniannya digusur dan diganti dengan bandara yang tak bisa memberikan mereka makan, atau petani Kendeng yang para perempuannya begitu berani menolak pembukaan pabrik semen di tanah mereka, sebab akan merusak air bawah tanah yang menjadi hidup dari pegunungan kapur. Kita juga tak boleh lupa pada Lakardowo, desa di Mojokerto yang dirusak oleh pabrik pengolahan limbah, membuat penduduknya benar-benar menderita, juga Tegalrejo para petani yang berani melakukan reclaiming tanah yang memberikan mereka kehidupan. Juga, banyak kisah serupa lainnya yang tanpa kita sadari terus menerus terjadi setiap hari. Entah itu semassif penggusuran atau bahkan orang-orang yang makin sulit mencari makan karena negara tak berpihak pada mereka, namun terus berjuang setiap hari.

Semua kisah itu, bagaimanapun sedih dan getirnya, benar-benar terjadi, bahkan terus menerus terjadi, seperti mata rantai yang tak kunjung putus membuat sesak dada dan sedih hati. Namun semua itu juga adalah bukti, bahwa orang-orang biasa, bagaimanapun sulitnya hidup mereka sebab tekanan datang dari berbagai sisi dan tak henti-heti, tak akan menyerah dan kalah. Mereka akan terus berjuang dan bertahan setiap hari.

Dekat dan Nyaring karena itulah jadi begitu penting. Buku ini bukan hanya sebundel cerita atau kisah bagus. Buku ini bersaksi. Ia bersaksi soal perusakan ruang hidup, keterdesakan, dan penyingkiran-penyingkiran yang dibawa oleh pembangunan. Ia bersaksi soal bagaimana orang susah payah menyambung kehidupan, tapi tetap tak mau kalah dan menyerah, dan yang paling penting, buku ini merekam berbagai hal yang biasanya dianggap kecil, tak nampak, dan terabaikan, narasi-narasi orang biasa, menjadi suatu hal yang begitu berharga untuk diketahui. Buku ini telah membantu kita untuk tahu, dan lantas mengingat kehidupan orang-orang biasa. Narasi yang biasanya terabaikan karena mungkin dianggap terlalu biasa, kecil, dan tak penting. Kisah orang-orang biasa yang tak kita sadari adalah bagian dari kita atau bahkan mungkin hanya bisa kita intip sedikit saja, Dio bicarakan, sebagai sesuatu yang sangat dekat namun juga begitu nyaring bersuara di dekat telinga kita.

Karena itu, novela ketiga Dio ini menjadi bacaan yang begitu berkesan untuk saya di awal tahun ini. Membaca buku ini tidak bisa tidak, telah memaksa saya untuk menjadi lebih peka dan perasa dengan apa-apa yang terjadi di sekitar saya. Bahwa ternyata segala hal adalah pertarungan, sebuah pertarungan brutal yang tak pernah usai dan meskipun selalu ada yag tersisihkan tapi mereka bertahan dan menolak kalah sekuat tenaga. Membaca Dekat dan Nyaring, juga telah memaksa saya untuk semakin kritis memandang keadaan. Saya memahami bahwa dalam pertarungan itu tidak ada suatu hal yang bebas nilai. Kita harus berpihak, dan semoga saja saya sebagai seorang manusia bisa dengan tepat mengambil sikap dan keberpihakan. Semoga. (*)


Baca juga:
– Puisi-Puisi Boy Riza Utama – Kepulangan Seorang Martir
– Puisi-Puisi Surya Gemilang – Situasi-Situasi Batas

Kirim tulisan Anda ke redaksi@bacapetra.co.

Bagikan artikel ini ke: