Menu
Menu

Monumen Luka adalah semacam salah satu ikhtiar penyair untuk menggambarkan bahwa keberadaan manusia sesungguhnya adalah untuk berjuang.


Oleh: Bonefasius Zanda |

Pendidik di SMA Katolik Regina Pacis Bajawa. Bisa berjumpa lewat akun Facebook; Bonefasius Zanda.


Identitas Buku

Judul: Monumen Luka
Penulis: Gusty Fahik
Penerbit: IRGSC Publisher
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 72 Halaman
SSBN: 978-602-50912-0-9

***

Secara umum 41 puisi yang termuat dalam buku “Monumen Luka” yang ditulis oleh penyair Gusti Fahik sangat gamblang menggambarkan tentang perjuangan hidup yang seharusnya dan perjuangan yang palsu.

Untuk perjuangan hidup yang bermartabat, selalu mengandaikan ada luka, darah, dan air mata. Sedangkan perjuangan yang dibaluti topeng kepalsuan, selalu menonjolkan sikap melukai.

Pertama, terluka. Terluka biasanya selalu diidentikkan dengan orang-orang kecil. Hampir dalam semua aspek hidup, orang-orang kecil acapkali berada pada posisi yang tak berdaya. Bahkan, disengajakan untuk diletakkan pada medan yang dipenuhi onak dan duri. Dan pada akhirnya dapat dipastikan, luka akan selalu menghampiri kehidupan mereka (orang-orang kecil).

Tak heran jika di negeri kita tercinta, yang katanya sudah merdeka ini, hukum selalu tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Yang minoritas kerap dijadikan tumbal kepentingan politis destruktif bagi kaum mayoritas. Yang mayoritas sesuka hati menekan kaum minoritas. Semisal, larangan untuk tak boleh mengucapkan selamat Natal, atau larangan untuk tak boleh beribadah dan membangun tempat-tempat ibadah. Yang berkulit hitam selalu menjadi objek rasisme dari orang-orang yang merasa dirinya paling suci. Realitas destruktif ini, hanyalah sebagian kecil dari sejuta luka yang seringkali melanda hidup dan kehidupan kaum minoritas dan orang-orang kecil lainnya.

Gusty Fahik, menurut saya, seperti sedang melegitimasi bahwa orang-orang kecil adalah kumpulan orang-orang yang terluka dan selalu mengalami luka itu; melalui puisi “Pengungsi”: “Karena ini tanah buangan, Tuhan melupakan nasib kami” Ia bertutur mengawali kisah/“Tujuh belas tahun mengeja hidup di barak pengungsian/masihkah Jakarta menaruh peduli?” getar suaranya, melawan resah/“Seumpama politik, cinta akan membuatmu/Berkhianat bekali-kali,”Kisah berakhir/Lalu diam yang panjang/Bersama pahit yang hening/Singgah di terik siang”.

Selanjutnya, penyair Gusty Fahik kembali dengan sangat tegas menggambarkan tentang nasib hidup dan kehidupan orang-orang yang selalu mengalami luka itu melalui puisinya yang berjudul “Kaki-kaki Berdarah”: “Seisi kota gempar/banyak tapak terukir di kota/di jalanan/di trotoar/di lapangan/di halaman masjid/di dalam gereja/di kantor bupati/di mana-mana/di segala/Tapak-tapak merah/tapak-tapak darah/diukir kaki-kaki telanjang/yang berdarah-darah/Seisi kota gempar/seisi kota bertanya/Kaki siapa?/kaki tak berkasut/kaki gelandangan?/kaki pemulung?/kaki pengungsi?/Kaki-kaki berdarah/kenapa kau usik/Kota ini?”

Kedua, melukai. Jika dikaji dari perspektif agama dan sosiologi, maka sikap dan tindakan melukai baik secara fisik maupun psikologis antar-sesama manusia tidaklah dibenarkan. Namun pada faktanya, ajaran-ajaran humanis itu sering berbanding terbalik.

Apa yang diajarkan dan diharapkan, tak sejalan dengan ranah praksis. Kerakusan akan kuasa, uang, jabatan dan tawaran akan hal duniawi yang begitu kuat, seringkali membuat sekelompok orang berani melukai sesama hingga menghalalkan segala cara.

Semisal, menjadi pribadi atau pemimpin yang hanya manis di bibir, gunakan lidah dan bibir untuk mencibir hingga pada pemberian janji dan cinta palsu.

Tentang perihal melukai dan terluka ini, sangat jelas digambarkan oleh penyair lewat puisinya yang  berjudul “Menjelma Bibir”: “Di negeriku/segala sesuatu menjelma bibir/tak henti meracau/melayangkan cibir/para petinggi hingga televisi/semua menjelma bibir/obrolkan pertiwi/sampai urusan lendir/bicara presiden hingga presiden/sebatas igau dalam tidur galau”.

Ketiga, perjuangan. Hidup adalah perjuangan. Oleh karena hidup itu adalah perjuangan, maka Monumen Luka adalah semacam salah satu ikhtiar penyair untuk menggambarkan bahwa keberadaan manusia sesungguhnya adalah untuk berjuang. Berjuang yang dimaksudkan penyair yakni, perjuangan yang tak harus melukai satu sama lain. Sebaliknya, haruslah perjuangan yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Jika boleh saya menghubungkan dengan karakter penyair, maka saya hanya mau katakan bahwa, Gusty Fahik adalah seorang penyair yang bukan hanya hebat menulis, melainkan seorang pribadi yang sungguh peka, reflektif, kritis, serta berani berjuang secara kolektif, dalam membongkar berbagai realitas buruk yang terus menghimpit orang-orang kecil.

Ketika kebanyakan orang berjuang melawan ketidakadilan hanya lewat dunia menulis tanpa keterlibatan secara fisik, Gusty Fahik justru sebaliknya. Perjuangan lewat menulis, juga terlibat dalam berbagai kelompok sosial sudah menjadi bagian dari hidupnya. Realitas humanis ini dilakoninya sejak mengenyam pendidikan di STFK Ledalero-Flores-NTT hingga saat menempuh pendidikan magister-nya di Jogjakarta. Bahkan saat ini, sebagai salah satu anggota KPU NTT, Gusty Fahik terus melibatkan dirinya dalam berbagai kegiatan sosial kemanusiaan. Tak heran, jika hidupnya dimaknai sebagai sebuah panggilan perjuangan kemanusiaan hingga keabadian.

Oleh karena itu, perjuangan terhadap nilai-nilai harus dimaknai sebagai panggilan hidup yang terus diperjuangkan tanpa henti. Darinya, panggilan perjuangan butuh kepekaan, keberanian dan semangat kolektif sebagaimana dipertegas lewat puisi “Manifesto Panggilan (2)”: “menjadi abu yang bakal menyebar/ke delapan mata angin/agar dunia dapat mengenalMu/seperti anak-anak mengenal ayahnya”.

Panggilan terhadap perjuangan harus dimaknai dalam kata dan perbuatan secara berkelanjutan. Hal ini menjadi amat penting, sebab dalam realitas hidup ini, jarang sekali kita menjumpai orang yang berlomba-lomba terluka karena memperjuangkan kebenaran. Kebanyakan orang lebih suka menghidupi sikap melukai demi menggapai kepentingan yang sempit, baik secara individu maupun melalui kelompok tertentu.

Akhirnya, bersama keyakinan penyair bahwa perjuangan untuk menggenggam kebenaran itu haruslah melibatkan cinta sesama yang tulus, maka sangatlah tepat jika Gusty Fahik memberikan aroma cinta, kasih dan harapan pada bagian yang lain dari Monumen Luka itu sendiri.

Tentang ini, penyair Yoseph Yapi Taum, yang dipercayakan oleh Gusty sebagai penulis esai pembaca, menegaskan bahwa bagian lain dari Monumen Luka itu, adalah berbicara tentang cinta pada kekasih hati, ibunda, semesta dan Sang Khalik.

Di akhir tulisan sederhana ini, saya ingin mengajak kita semua, untuk segera berhenti memaknai hidup ini dengan saling melukai, hanya karena dirasuki oleh kemilau hal-hal duniawi yang fana.

Marilah memaknai hidup ini, sebagai sebuah panggilan humanis yang terus diperjuangkan hingga keabadian. Dan untuk memperjuangkannya, kita butuh campur tangan sesama, juga Sang Pencipta.

Perjuangan, sebagaimana disalurkan melalui panggilan hidup kita masing-masing, akan indah pada waktunya apabila kita semua selalu melakukannya dalam semangat cinta. Melibatkan cinta tulus bagi sesama, dan juga ketulusan cinta kepada Tuhan, hingga jantung kita tak berdenyut lagi. Itulah hidup dan perjuangan.(*)


Baca juga:
– BALADA SUPRI, NOVEL BAGUS YANG BURU-BURU DITERBITKAN
– PENTAS CIPTA KARYA DAN EKOSISTEM TUMBUH BERSAMA PENONTON

Bagikan artikel ini ke: