Menu
Menu

“Balada Supri” dibahas di Bincang Buku Petra. Masalah penyuntingan yang tidak serius menjadi sorotan.


Oleh: Maria Pankratia

Notulis.


Berapa banyak buku yang hendak kau baca tahun ini? Berapa banyak waktu yang ingin kau habiskan dengan buku sepanjang tahun ini?

Demikian pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada awal pertemuan Bincang Buku yang pertama di tahun 2020 kemarin di antara para peserta diskusi yang hadir.

Bincang buku Petra yang ketiga belas membahas Novel karya Mochamad Nasrullah, Balada Supri. Naskah novel Nasrullah ini menempati posisi ketiga Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2018. Adalah sebuah keharusan di Bincang Buku Petra untuk membahas kisah-kisah yang telah lolos kurasi Tim Juri Sayembara Novel DKJ dan Kusala Sastra Indonesia, selain kisah-kisah Penulis Indonesia lainnya.

Malam itu, Kamis, 23 Januari 2020, ada sembilan peserta yang hadir mengikuti diskusi yang berlangsung di Perpustakaan Klub Buku Petra.

Sebagai Pemantik, Ajen Anjelina membuka diskusi dengan memaparkan hasil pembacaannya.

Bagi Ajen, ini buku dengan kisah yang sangat menarik, sayangnya tidak melewati proses penyuntingan yang baik (keluhan yang sama datang dari hampir seluruh peserta yang mengikuti bincang buku malam itu). Ajen mengungkapkan, pada awalnya ia berpikir bahwa tindakan ini adalah kesengajaan penulis sebab ini adalah novel balada. Akan tetapi, setelah menemukan beberapa kesalahan penulisan, Ajen mulai  merasa terganggu; ketiadaan tanda petik mengacaukan mood membaca yang berusaha dibangun. Namun pada akhirnya, Ajen bisa menikmati cerita dengan alur yang mengalir sangat cepat, sehingga untuk beberapa saat ia bisa melupakan kekurangan tanda baca yang ia maksudkan sebelumnya.

Ajen menjelaskan, tokoh-tokoh di dalam buku ini diceritakan dengan baik. Kehadiran mereka tidak terbuang percuma, masing-masing memiliki fungsinya dalam cerita. Selain itu, empat generasi yang dituturkan di dalam novel ini dikisahkan dengan sangat lancar. Dari kisah Supri dan keluarganya yang terus mengalami pergolakan dengan orang-orang di sekitarnya, Ajen kemudian membuat simpulan bahwa, fenomena masyarakat Indonesia yang cenderung lebih membenci orang-orang sesama sukunya, yang kebetulan lebih maju, ternyata terjadi di berbagai daerah. Bukan hanya di Manggarai. “Kita lebih senang membenci tentangga yang sukses, padahal sama-sama orang Manggarai. Sementara pendatang dari daerah lain, terus bekerja keras dan jauh lebih maju, meninggalkan kita di belakang,” tutur Ajen. Barangkali, hal ini yang menjadi faktor utama sehingga penulis bisa menjadi juara ketiga dari Sayembara Novel DKJ 2018. Ia berusaha menunjukkan ketimpangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat kita.

Simpulan Ajen ini, mengingatkan saya pada tulisan Honing Alvianto Bana yang disiarkan di suaraamfoang.com pada tanggal 16 Februari 2020 dengan judul, Mental Feodal dan Sopan Santun Omong Kosong. Masyarakat feodal selalu menghasilkan manusia dengan dua tipe mental. Pertama, manusia bermental atasan, kedua manusia bermental bawahan.

Manusia tipe pertama selalu ingin ada di posisi atas. Juga ingin dihormati dan didengar oleh manusia tipe bawahan. Manusia tipe pertama ini juga, tidak suka jika ada sesamanya yang lebih maju atau lebih baik. Ia akan merasa tersaingi. Berbeda dengan manusia tipe kedua, ia selalu tidak punya rasa percaya diri dan merasa rendah diri. Mereka menerima dan betah ada di bawah. Mereka juga selalu dituntut untuk bersikap sopan oleh manusia tipe pertama, meski sedang diperlakukan secara tidak adil. Penjelasan ini persis seperti yang dialami Joko Tole ketika harus menghadapi masyarakat di kampungnya, yang telah dipengaruhi oleh kaum penjajah kala itu.

Hal lain yang menjadi sorotan dari Ajen malam itu adalah, bagaimana penulis menggambarkan proses bunuh diri tokoh utama, Supri Kumbang, dengan sangat detil. Sebagai seorang perawat jiwa Ajen berpendapat  bagian ini dapat menimbulkan trigger bagi pembaca tertentu. Pembaca yang mungkin saja pernah memikirkan ingin melakukan bunuh diri, atau orang-orang yang pernah mengalami trauma karena anggota keluarganya atau sahabatnya pernah melakukan tindakan bunuh diri. Penulis seakan-akan menggampangkan situasi depresi seseorang di dalam buku ini. “Ada baiknya, sebelum menulis hal-hal semacam itu, penulis melakukan riset terlebih dahulu,” tutup Ajen.

Hermin, peserta bincang buku Balada Supri yang mendapatkan giliran bicara setelah Ajen, merasa tidak begitu terganggu dengan kealpaan tanda baca atau kesalahan pengetikan di dalam buku ini karena ceritanya yang menarik dan mengalir deras. Bagi Hermin, selama ceritanya bisa dibaca lancar serta mampu dipahami, tanda baca adalah masalah kemudian. Atau dengan kata lain, bisa dengan mudah diabaikan.

Hermin kemudian menjelaskan hal menarik dari Balada Supri yang ia maksudkan sebelumnya, banyak sekali peristiwa yang terjadi di dalam buku ini, tetapi penulis mengacaknya sedemikian rupa. Ia tidak mengurutkannya berdasarkan kronologis. Penulis menggunakan teknik plot cerita sorot balik. Selain itu, keterlibatan makhluk-makhluk gaib di dalam kisah ini sebagai tokoh cerita, memberikan warna realisme magis yang tidak kalah menarik. Dialog-dialognya begitu konyol tetapi membuat kita memikirkannya kembali berulang-ulang. Dari kisah-kisah di dalam buku ini, kita juga bisa melihat bahwa, seseorang dengan mudahnya dibenci oleh orang banyak hanya karena stigma yang disebar dari satu orang ke orang yang lain.

Namun, meski mendapati dirinya menikmati kisah Balada Supri, Hermin menemukan ada hal lain yang cukup mengecewakan. Klimaks novel ini terkesan begitu terburu-buru. Tidak memuaskan. Supri Kumbang benar-benar laki-laki tidak tahu diri. Hilang muncul seenaknya, datang dan pergi sesukanya. Setelah sekian lama terpisah, pada akhirnya ia meminta untuk dikuburkan bersama-sama istrinya, Angsa Jelita. Jahanam!

Cici Ndiwa mendapatkan giliran selanjutnya. Dari pembacaannya terhadap Balada Supri, Cici menemukan empat generasi yang diceritakan di dalam buku ini, dilatari empat masa yang berbeda di Indonesia. Kisah Joko Telu terjadi di zaman Penjajahan Belanda, Joko Tole mengalami masa-masa pemberontakan di tahun 1965, sementara Supri Kumbang terjebak di zaman Orde Baru dengan kebijakan-kebijakan yang berusaha ia tentang melalui tulisan-tulisannya. Sedangkan Supri Burung, melewati tahun-tahun reformasi 1998 yang sulit, termasuk tidak bisa mendapatkan gadis Tionghoa idamannya, Angsa Mei.

Dari pembacaannya, Cici juga menemukan kesan bahwa buku ini sangat tidak menghormati privasi seorang perempuan, khususnya perihal keperawanan. Bagaimana Joko Tole tanpa tedeng aling-aling membuka rahasia malam pertama sahabatnya Si Gendut dan istrinya. Cici menemukan bahwa ia merasa kurang nyaman pada bagian ini.

Namun tidak demikian dengan Rio Hamu, peserta lain yang juga hadir mengikuti diskusi malam itu. Ketika mendengarkan hasil pembacaan Cici seperti di atas, ia justru mengaku nyaman-nyaman saja dan merasa Balada Supri sungguh-sungguh novel tentang dunia para lelaki. Febhy yang juga mengalami hal serupa dengan Cici, merasa ada wawasan baru yang akhirnya ditemukan melalui novel ini. Dunia laki-laki ternyata tidak sebagaimana yang selama ini dibayangkan oleh kebanyakan perempuan. Ada kerumitan, juga keruwetan lain yang—seperti juga para laki-laki sulit memahami wanita—terjadi di kehidupan mereka.

Memulai dengan kesannya terhadap sampul novel Balada Supri, Febhy Irene menyampaikan hasil pembacaannya. Bagi Febhy, sampul buku menginterpretasikan tentang laut dan kehidupan pesisir. Ia kemudian mulai menduga-duga, kisah masyarakat pesisir pasti mendominasi. Ternyata tidak demikian. Di bagian awal novel, Febhy mengalami kebosanan yang luar biasa. Memasuki bab dua, barulah ia mulai menikmati ceritanya yang ternyata mengalir lancar dan menyuguhkan banyak peristiwa.

Pada bagian Supri Kumbang begitu mengagung-agungkan tali yang hendak ia gunakan untuk membunuh dirinya sendiri, Febhy merasa seperti tengah membaca tutorial bunuh diri yang baik dan benar. Sangat detil. Sepakat dengan Ajen, Febhy melihat ini cukup berbahaya jika dibaca oleh orang yang sedang mengalami depresi, apalagi diperkuat dengan dialog-dialog antara Supri Kumbang dan Letnan Dongkel, salah satunya, “apa yang paling berani selain bernyali untuk mengakhiri hidupnya?”, seolah-olah bunuh diri adalah jenis uji nyali yang memiliki tantangan tersendiri bagi manusia.

Reynald Susilo yang juga hadir malam itu, memberikan pendapat lain terkait aksi bunuh diri Supri Kumbang tersebut. Dari kacamatanya sebagai seorang dokter, ia menyampaikan beberapa hal tentang kecenderungan bunuh diri seseorang. Bunuh diri sebenarnya puncak dari seluruh gangguan jiwa. Akan tetapi, terkadang, depresi bukanlah faktor utama. Ada jenis gangguan jiwa yang lain, yang disebut dengan maniak. Puncak dari maniak juga bisa menyebabkan seseorang memutuskan untuk bunuh diri. Seseorang yang telah melakukan semua kesenangan, akan berpikir, kesenangan apa lagi yang belum ia lakukan? Barangkali dengan mati, ia akan menemukan kesenangan baru.

Saya mendapatkan giliran selanjutnya untuk menyampaikan hasil pembacaan terhadap novel ini. Saya cukup tertarik dengan gaya bercerita penulis yang sangat lancar dan pada bagian tertentu menimbulkan hentakan, terutama dialog-dialognya yang cukup satire. Untuk beberapa hal, saya mengagumi cara penulis mengkritisi kehidupan sosial di lingkungan sekitarnya, khususnya di daerah-daerah di Indonesia melalui kisah Supri Kumbang dan keluarganya ini. Namun demikian, saya tetap tidak mampu memaafkan kepengrajinan penulis maupun editornya dalam menyunting buku yang masuk menjadi tiga besar Sayembara Novel DKJ. Sangat disayangkan memang.

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, Rio Hamu hadir dengan hasil pembacaan yang menimbulkan rasa heran sekaligus gelak tawa dari peserta yang lain. Rio mengaku, sangat menikmati balada ini. Ia menjelaskan, jika ada bagian-bagian yang tidak bisa dipahami oleh pembaca perempuan di dalam novel ini, maka sebagai laki-laki, ia memaklumi hal tersebut. Ia mengakui, ia bahkan tidak sadar bahwa tidak ada dialog dengan tanda kutip di dalam novel, pun fakta-fakta sejarah yang ditemukan oleh pembaca lain ketika berusaha memahami kisah yang dituturkan Mochamad Nasrullah ini. Makhluk-makhluk dunia lain di dalam cerita juga, tidak digambarkan sebagai pengganggu sehingga ia dengan mudahnya percaya terhadap peran mereka menghidupkan cerita. Di bagian yang mengisahkan Perompak Joko Telu, membuat Rio teringat pada kisah Kura-Kura Berjanggut yang sudah pernah dibahas di Bincang Buku Petra sebelumnya. Pada akhirnya Rio menyimpulkan, apa yang ingin disampaikan penulis di dalam buku ini, sesungguhnya adalah sesuatu yang cukup berat. Ide, peristiwa, dan tokoh-tokohnya yang memiliki beragam karakter. Akan tetapi, cerita dikemas dengan sangat ringan karena gaya bercerita penulis yang bagus.

Berbeda dengan pembaca lainnya yang terganggu dengan ketiadaan tanda baca serta kesalahan pengetikan, Armin Bell yang mendapat giliran berbicara setelah Rio mengungkapkan, ia juga terganggu dengan metafora-metafora di beberapa bagian dalam kisah Supri Kumbang ini. Ada metafora-metafora yang gagal dan tidak terlalu tepat digunakan.

Armin juga menuturkan, yang juga membuat buku ini ada di jejeran yang sama dengan penulis-penulis muda di Indonesia saat ini adalah, karena rujukan yang cukup kuat pada pola Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel García Márquez. “Beberapa penulis Indonesia akhir-akhir ini ‘memakai gaya’ yang sama dengan Gabo. Entah mereka mengaksesnya secara langsung, atau melalui versi terjemahan, atau bisa jadi melalui novel karya Eka Kurniawan, Cantik itu Luka. Banyak sekali yang belakangan ini, menggunakan Gabo sebagai patron dalam menulis,” paparnya.

Menurut Armin, menjadi penting sekali, karya-karya besar di dunia ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia karena akhirnya sangat mempengaruhi gaya kita bercerita. Hal tersebut yang membuat khazanah sastra kita menjadi lebih kaya lagi. Kemampuan seperti ini, hanya bisa didapat apabila kita merujuk pada bacaan-bacaan sastra yang benar. Karya sastra yang kira-kira sudah menjadi pola terobosan yang  bagus, dan Gabriel García Márquez tampaknya jadi favorit di Indonesia.

Hal lain yang juga dibahas Armin malam itu adalah tentang penyuntingan; novel ini sebaiknya tidak terbit dulu sampai penulis bertemu dengan editor yang baik. Armin mengakui, sebelum tiba pada dialog-dialog pasca Letnan Dongkel menyelamatkan Supri Kumbang dari aksi bunuh dirinya, ia ingin berhenti membaca karena ketidaknyamanannya membaca cerita tanpa tanda baca. Penulis sudah sangat pandai bercerita, akan tetapi pembaca malah dipertemukan dengan kekecewaan yang lain. Sebuah buku adalah juga warisan. “Bagaimana kau bisa berbangga, jika mewariskan sesuatu yang buruk kepada orang-orang setelahmu?”

Buku ini akan Armin rekomendasikan kepada pembaca lain jika dicetak ulang dengan baik. Dan, apabila tidak dicetak ulang, ia akan meminjamkan miliknya yang telah ia perbaiki tanda bacanya dan mencoret kalimat-kalimat tidak efektif yang terdapat di dalam novel Balada Supri ini.

Meskipun tetap merujuk pada Eka Kurniawan, dr. Ronald Susilo yang mendapat kesempatan terakhir berbicara malam itu, memiliki pendapat berbeda dengan Armin Bell. Menurutnya, sejak awal membaca novel ini, ia langsung tahu bahwa adegan di bab-bab pembuka mengambil persis bagian awal dari novel Lelaki Harimau. “Bunuh diri diceritakan di bagian-bagian awal, lalu alasan bunuh diri tersebut baru kita temukan di bab 26. Di bab tersebut kemudian dijelaskan kenapa Supri Kumbang ingin bunuh diri. Sama dengan Lelaki Harimau,” jelas Dokter Ronald.

Selain menemukan hal di atas, bagi Dokter Ronald, novel ini sesungguhnya sudah selesai di Bab 27. Tambahan bab selanjutnya, adalah pelengkap. Jika pun tidak ada bab 28-40, tidak akan mengurangi isi cerita. Menurutnya, 13 bab terakhir tersebut adalah cerita lain sebab terasa sekali bedanya dengan cerita-cerita pada bab sebelumnya. Semacam ditempel begitu saja. Penulis sepertinya berambisi untuk mengisahkan berbagai peristiwa di Indonesia yang melatarbelakangi tokoh-tokoh di dalam cerita ini. Hal ini justru ditutup dengan klimaks yang sangat terburu-buru. Namun demikian, outline empat generasi yang dikisahkan penulis melalui tokoh-tokoh dalam novel ini, cukup bagus. Tidak ada satu pun yang melanggar logika.

Mengomentari kesalahan penulisan dan ketiadaan tanda baca, dr. Ronald Susilo menyampaikan penemuannya: ada 172 kata yang keliru dituliskan, termasuk penulisan kata depan dan awalan yang seharusnya dipisah dan disambung. dr. Ronald kemudian menutup dengan: “sebaik apa pun ceritamu, jika dikerjakan dengan asal-asalan, pembaca akan menilainya sebagai karya picisan, seperti buku-buku silat stensilan zaman dahulu.”

Novel Mochamad Nasrullah ini mendapat BINTANG TIGA di Bincang Buku Petra malam itu.

Buku selanjutnya yang akan dibahas pada bulan Februari 2020 adalah, Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman karya A. Mustafa. Naskah novel ini menempati posisi kedua Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018. (*)


Baca juga:
– Cerpen Gabriel García Márquez: Seseorang Telah Mengacak-acak Mawar-Mawar Ini
– Puisi-Puisi Wawan Kurniawan: Di Museum Kehilangan

Bagikan artikel ini ke: