Menu
Menu

Meg menyabar-nyabarkan diri menjadi perempuan simpanan karena ia percaya nasihat picisan bahwa cinta butuh pengorbanan.


Oleh: Fitriana Hadi |

Desainer grafis yang tertarik pada isu-isu gender, feminisme, dan budaya populer. Saat ini menetap di Sewon, Bantul, Yogyakarta.


Meg duduk di kafe sambil membaca Sputnik Sweetheart karya Haruki Murakami. Bukan hal besar, kecuali buku yang sedang ia baca itu bergambar sampul seorang perempuan Jepang telanjang sedang telungkup di atas kasur.

Meg sadar dalam keseriusannya membaca, sudah beberapa kali pengunjung lain mencuri pandang ke arahnya. Seorang ibu muda yang datang bersama anak balita bahkan melihat Meg dengan tatapan yang mengingatkannya pada hantu Suzzanna saat memantau pria calon korbannya dari luar jendela.

Ia pakai kaus hitam dengan kerah baju lebar, rok hijau lumut dengan motif polkadot putih selutut, stoking hitam tebal, dan sneakers putih. Padanan pakaian yang membuatnya cukup percaya diri bahkan ketika membaca Sputnik Sweetheart berkover perempuan telanjang di tempat umum. Meg tidak punya rencana Senin siang itu—ia baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai desainer di sebuah penerbit indi karena selingkuh dengan pacar pendirinya.

Ia tidak sepenuhnya salah. Waktu si pria menembak Meg, seminggu setelah resmi diterima di penerbit itu, ia sama sekali tidak tahu bahwa si pria sudah berpacar. Kenyataan itu baru diketahuinya dua bulan kemudian ketika suatu malam ia terpaksa kembali ke kantor karena handphone-nya tertinggal. Begitu membuka pintu ruangan dan menyalakan lampu, ia terkejut mendapati bos dan pacarnya sedang saling tindih dengan tubuh setengah telanjang di sofa ruang tamu.

Ketiganya berada di situasi yang canggung, tetapi Meg dengan kemampuan bersikap wajar yang paripurna mengucap “maaf”, mematikan lampu, menutup pintu, dan pulang dengan dada yang sesak. Esoknya ia masuk kerja dan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Malamnya ia minta putus, tetapi si pria memohon-mohon untuk tetap bersamanya dan mengumbar janji bahwa ia akan memutuskan si bos dalam waktu dekat.

Meski marah dan kecewa, Meg tahu ia mencintai si pria. Maka, hubungan mereka tetap berlanjut. Meg menyabar-nyabarkan diri menjadi perempuan simpanan karena ia percaya nasihat picisan bahwa cinta butuh pengorbanan. Di kemudian hari, ia sadar bahwa dirinya betul-betul goblok.

Janji tinggal janji. Ketika perselingkuhan mereka terungkap, pria malang yang cukup beruntung itu memilih memperbaiki hubungan dengan si pendiri penerbitan sebab sumber penghidupannya sebagai editor berasal dari perusahaan kecil itu. Ia mencampakkan Meg di hari kedua sesudah Meg resmi menjadi pengangguran. Mereka bertemu di tempat parkir kos-kosan Meg yang lengang karena itu malam minggu. Dengan penjelasan yang bertele-tele dan permintaan maaf berkali-kali, akhirnya, selain resmi menjadi pengangguran, Meg resmi menyandang status jomlo—status yang belakangan dianggapnya lebih baik dibanding pelakor.

Meg kesal dan sedih. Namun, di sisi lain ia justru merasa lega lepas dari hubungan yang cara kerjanya mirip panci presto itu. Tidak ada lagi lakon pura-pura-biasa-saja-saat-berinteraksi-di-kantor-tapi-saling-membelit-dengan-sangat-liar-di-kamar-kos. Atau, kucing-kucingan kala kencan di luar—yang bahkan harus dimulai dengan “adegan” Meg dan mantannya yang berjalan dari arah berlawanan dan bertemu di suatu titik untuk kemudian dilanjutkan dengan ngopi singkat atau nonton film di bioskop paling jauh.

Perasaan itulah yang membawanya menikmati es cokelat dengan topping whipped cream yang banyak dan donat almond di kafe siang itu, tempat di mana dua tahun kemudian terjadi insiden kala bekas pacarnya disiram kopi panas oleh si pendiri penerbit karena tidak mau bertanggung jawab setelah menghamilinya. Sebenarnya, mantan pacar Meg bukannya tidak mau bertanggung jawab. Ia masih terkejut mendengar kabar bahwa spermanya berhasil membuahi sel telur pacarnya sehingga tidak bisa berkata apapun. Ia rada menyesal karena tidak mendengarkan si pendiri penerbit untuk memakai kondom karena sudah diburu nafsu—dan ejakulasi begitu saja seperti pipa air bocor.

Pada akhirnya, si pendiri penerbit menggugurkan kandungannya lewat praktik aborsi gelap yang ditemukannya dari poster Telat Bulan di tiang-tiang listrik dan lampu lalu lintas. Melihat gumpalan janin tiga bulan yang baru ditarik dari tubuhnya dan ditempatkan di ember bekas cat membuatnya mual dan trauma hingga mengalami depresi yang cukup parah. Karena itu, penerbitan yang sudah berusia lima tahun di tangannya tutup usia.

Waktu itu, Meg sudah bekerja di kota S dan baru diberi proyek mendesain kemasan minuman merk terkenal. Ia punya wajah yang manis dengan pipi tembam, bola mata besar yang agak juling, dan dagu lancip yang ujungnya bergeser sedikit dari garis tengah philtrum di atas bibirnya. Maka, di tempat kerja baru itu beberapa pria coba mendekatinya. Seorang yang sudah beristri bahkan mendekatinya lebih agresif dari siapa pun: setiap pagi menaruh setangkai mawar di atas meja Meg; setiap siang selalu mengajaknya makan bersama; dan setiap sore selalu menawarinya tumpangan pulang.

Meg, meski tidak menampik bahwa si pria beristri cukup tampan dan mapan, tidak ingin terjebak pada masalah yang sama. Ia menolak halus semua perhatian dari si pria beristri: setiap bunga mawar yang didapatkannya dikumpulkan pada jambangan umum di meja rapat; ia selalu makan siang bersama kelompok perempuan; dan pada akhirnya membeli sepeda motor bekas untuk transportasi.

Kesal karena cintanya tidak berbalas, suatu sore, ketika untuk kesekian kalinya Meg menolak tawaran makan malamnya dengan alasan lelah bekerja, si pria beristri memaki-maki dengan pisuhan-pisuhan paling kasar yang pernah didengar Meg: perempuan sok jual mahal, perempuan calon perawan tua, perempuan tidak laku, sampai pelacur kecil karena telah menjatuhkan dirinya dalam godaan, terutama karena ia yakin Meg sudah tidak perawan. Satpam dari meja resepsionis bahkan sampai tergopoh-gopoh datang begitu mendengar keributan, menyelamatkan Meg dari situasi tidak menyenangkan itu.

Si pria beristri pulang dengan jengkel, menggembosi kedua ban motor yang membuat Meg harus menuntun alat transportasinya itu sejauh dua kilometer sampai menemukan bengkel yang masih buka. Malam itu, sambil menunggu ban motornya diisi angin, Meg meyakini bahwa tidak semua laki-laki di dunia brengsek, tetapi bisa jadi separuh dari semua laki-laki di dunia memang benar-benar brengsek.(*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
SIAPA YANG MENYURUHMU MASTURBASI?
MENIKMATI KONFLIK “KERUDUNG MERAH KARMIZI”

Bagikan artikel ini ke: