Menu
Menu

Kasih sayang dapat dirayakan dengan buku-buku.


Oleh: Jafar Suryomenggolo |

Penerima LITRI Translation Grant 2018 atas terjemahan beberapa cerpen karya buruh migran dalam kumcer At A Moment’s Notice (NIAS Press, 2019).


Tidak hanya seikat bunga, sekotak coklat, dan sebotol anggur merah, kasih sayang juga dirayakan lewat buku. Terutama, di kota Paris, yang dikenal sebagai kota romantis.

Buku adalah salah satu kado lumrah yang diberikan orang Perancis dalam berbagai kesempatan. Termasuk juga, sebagai bentuk pernyataan kasih. Baik kepada kekasih hati, anggota keluarga, dan teman. Membaca buku adalah kebiasaan yang sudah mendarah-daging, seperti layaknya bernapas. Mohammad Hatta, saat pertama kali menjejakkan kaki di Eropa via Perancis pada 1921, menyatakan kekaguman menyaksikan kebiasaan orang Perancis membaca buku. Maklum, di setiap kotamadya seantero Perancis terdapat setidaknya satu perpustakaan umum. Setiap orang dapat menjadi anggota perpustakaan secara gratis, termasuk juga bagi orang asing (imigran nir-dokumen sekalipun!).

Berikut ini sepuluh buku berbahasa Perancis yang penting dibaca dalam merayakan kasih sayang:

1. André Gorz, Lettre à D.: Histoire d’un amour (Surat untuk D.: Kisah sebuah kasih)

André Gorz lahir di Wina (Austria) pada 1923, pindah ke Paris pada 1949 dengan bekerja sebagai wartawan beberapa koran. Kedekatannya dengan Jean Paul Sartre memengaruhi idealisme dan jalur hidupnya. Ia menjadi salah satu filosof Perancis pasca-perang yang banyak menulis tentang gerakan buruh – dan juga, mengkritiknya.  Pada 2013, nama André Gorz diangkat menjadi nama sebuah jalan di bahu sungai Seine: promenade des berges de la Seine-André Gorz.

Lettre à D. adalah buku mungil (80 halaman) berupa surat panjang Gorz untuk istrinya, Dorine, yang berkebangsaan Inggris. Nada liris surat itu seperti layaknya sebuah ode akan kisah kasih mereka. Buku ini terbit 2006, saat Dorine berusia 80 tahun dan menderita penyakit keras. Setahun kemudian, keduanya ditemukan meninggal akibat bunuh diri bersama.

André Gorz


2. Alain Badiou bersama dengan Nicolas Truong, Éloge de l’Amour (Pujian atas Cinta)

Terbit 2009, buku kecil ini (90 halaman) merekam dialog antara Badiou, filosof Universitas Paris VIII, dengan Truong, wartawan Le Monde, perihal pengertian modern tentang cinta. Badiou memberikan penjelasan berdasarkan tradisi filsafat, dari Plato, Kierkegaard, Schopenhauer dan juga Levinas. Menurutnya, dalam zaman modern ini relasi romantik sulit ada karena makin tergerus oleh desakan hedonisme dan konsumtif pasar. Selain itu juga, pasar mengutamakan kepastian dan minimalisasi resiko (bahkan, nir-resiko!) dalam setiap transaksi. Hal ini tentu bertentangan dengan nuansa cinta yang penuh ketidakpastian, jarang-terkontrol, dan mengandung resiko dalam hubungan antar manusia.

Oleh karena itu, Badiou menyimpulkan bahwa cinta perlu dipertahankan sebab cinta menciptakan ruang-ruang perlawanan terhadap komodifikasi perasaan dan tubuh manusia, dan juga membuka peluang bagi hati manusia dalam menghargai perbedaan. Sebagai inteklektual publik, Badiou tidak pelit membagikan pandangannya tersebut di berbagai media populer.

Menariknya, salah satu film Jean-Luc Godard berjudul sama, Éloge de l’Amour (2001) yang tampil hitam-putih. Meskipun, tidak ada keterkaitan langsung dengan buku ini.

Alain Badiou


3. Guillaume Gomez, Cuisine, leçons en pas à pas (Memasak, Pelajaran Tahap demi Tahap)

Mangez bien, riez souvent, aimez beaucoup (makan sehat, tertawa cukup, bercinta banyak) mungkin bisa disamakan dengan pernyataan klise, cinta yang datang dari lidah turun ke hati.

Gomez (kelahiran 1978) adalah jurumasak utama (chef cuisinier) di istana kepresidenan Palais de l’Elysée. Ia telah bekerja di sana sejak 1997, dan saat berusia 25 tahun memperoleh gelar MoF (meilleur ouvrier de France) yang merupakan gelar kehormatan atas keahlihannya di bidang gastronomi. Di istana presiden, setiap hari sajian makanan selalu berbeda. Oleh karena itu, Gomez perlu menyusun menu secara kreatif dengan bahan baku segar yang tersedia di pasar setiap paginya sambil tetap berpegang pada tradisi memasak.

Terbit 2017, buku Cuisine (setebal 504 halaman) adalah buku babon resep masakan ala Perancis. Buku ini memberi gambaran kekayaan ragam-rupa masakan Perancis dan juga perkembangannya di zaman modern. Gomez aktif di Twitter dan Instagram.

Guillaume Gomez, Cuisine, leçons en pas à pas


4. Sarah Abitbol, Un si long silence (Keheningan yang Begitu Lama)

Sarah Abitbol (kelahiran 1975) adalah olahragawati skats-es (patinage/ice skating) yang telah berulang kali berkompetisi di tingkat nasional, Eropa, dan juga Olimpiade.

Otobiografi ini terbit awal Februari 2020, dan langsung menyedot perhatian umum. Pasalnya, di dalamnya Abitbol menuding Gilles Beyer, pelatih nasional skats-es Perancis, telah memperkosanya berulang kali selama 1990-1992, saat ia berusia 15-17 tahun. Otobiografi ini dapat disejajarkan dengan buku kesaksian Henda Ayari, J’ai choisi d’ être libre (Aku Telah Memilih Kebebasan); terbit 2016, yang menuding Tariq Ramadhan telah melakukan pelecehan seksual atas dirinya, dan menjadi bola salju yang mendorong gerakan #MeToo di Perancis. Nafsu birahi tentu tidak sama dengan cinta, dan cinta tidak dapat dipaksa(kan).

Sarah Abitbol, Un si long silence


5. Giulia Mensitieri, Le plus beau métier du monde (Pekerjaan Terindah Sedunia)

Mensitieri (kelahiran 1980) adalah perempuan Italia lulusan ÉHÉSS (École des Hautes Études en Sciences Sociales), Sekolah Tinggi Ilmu Sosial di Paris. Terbit 2018, buku ini adalah hasil penelitian antropologi yang dilakukannya atas dunia industri fashion Perancis.

Industri fashion adalah industri kedua terbesar di Perancis (pertama adalah industri mobil, ketiga adalah industri senjata), dan salah satu penyumbang devisa utama negara. Tak heran pula, industri fashion terikat erat dengan identitas nasional Perancis.

Giulia Mensitieri, Le plus beau métier du monde

Banyak orang dari seluruh dunia (termasuk juga Didit Prabowo) merasa perlu bertandang ke Perancis, terutama Paris, untuk belajar, bekerja dan syukur-syukur mengukir nama di dalam dunia fashion. Buku ini justru membuka tabir di balik itu semua. Yakni, di dalam industri fashion Perancis banyak terjadi eksploitasi, ketidakadilan dan ketimpangan-sosial. Termasuk juga, model-model muda yang tidak dibayar layak.

Buku ini menjadi bacaan pengingat bahwa di balik segala keindahan dan glamorisasi dunia fashion, banyak orang yang menderita, termasuk juga menderita karena tanpa cinta.

Sepuluh Buku Merayakan Kasih Sayang - 6


6. Albert Camus dan Maria Casarès. Correspondance, 1944-1959 (Korespondensi, 1944-1959)

Terbit 2017, buku setebal 1300 halaman ini merupakan kumpulan korespondensi antara Albert Camus (1913-1960) dan Maria Casarès (1922-1996), selama rentang waktu 13 tahun, sejak mereka bertemu hingga beberapa hari sebelum Camus meninggal dunia (4 Januari 1960). Terdiri dari surat, kartu pos, dan telegram antara keduanya.

Mereka pertama kali jumpa 6 Juni 1944, pada hari pendaratan tentara Sekutu di Normandi dalam rangka pembebasan dari Nazi. Saat itu, Casarès terlibat dalam pementasan drama karya Camus. Camus sudah beristri, namun sang istri (Francine Faure) sedang mengungsi di Aljazair. Begitu Faure kembali ke Paris setelah perang berakhir, tidak ada kontak antara Camus dan Casarès. Mereka baru berjumpa kembali tepat 4 tahun kemudian, 6 Juni 1948, dan sejak saat itu pula korespondensi antara mereka tak terhenti.

Tidak ada sensor di dalam buku ini, sehingga pembaca dapat menikmati segala rupa panggilan mesra, ungkapan kasih, lelucon, dan kegelisahan dalam keseharian. Juga, membayangkan hubungan yang terbina di antara keduanya.

Menariknya, buku ini disusun oleh Cathrerine Camus, putri pertama Camus. Ia menghubungi Casarès setelah sang ibunda meninggal dunia pada 1979, dan membeli surat-surat itu darinya. Ini semua ia ungkapkan di bagian pengantar buku.

Kisah kasih antara keduanya, meski mungkin dianggap perselingkuhan, memang tidak bisa dibenamkan oleh sejarah.

Albert Camus dan Maria Casarès. Correspondance, 1944-1959 (Korespondensi, 1944-1959)


7. Édouard Louis, En finir avec Eddy Bellegueule (Selamat Tinggal Eddy Belleguele)

Buku ini adalah otobiografi si penulis (kelahiran 1992) yang menggugat stereotipe kehidupan kelas buruh Perancis (dan Eropa umumnya) dan pengaruhnya atas identitas orientasi seksualitas pribadinya. Ia lahir dan besar di kota kecil Hallencourt yang merupakan kota basis kelas buruh (dan juga, partai konservatif) dan banyak penduduknya hidup di ambang garis kemiskinan. Di antara anggota keluarganya, ia adalah orang pertama yang mengenyam kuliah. Terlebih, kuliah di universitas ternama di kota Paris.

Di kota Paris, ia merayakan “kebebasan”: bebas mengekspresikan dirinya sebagai seorang Parisien (urban/kelas menengah/terdidik) dan sebagai seorang penyuka sesama jenis. Sejak itu pula, ia berganti nama, mengucapkan selamat tinggal pada Eddy Belleguele dengan menjadi Édouard Louis.

Buku ini dipersembahkan kepada Didier Eribon (kelahiran 1953), seorang gurubesar di Universitas Amiens yang sering memberikan kuliah di ÉHÉSS Paris, yang mendorongnya untuk menulis. Menurut Louis, buku karya Eribon berjudul Retour à Reims (Pulang ke Reims), menggugah dirinya dan menjadi titik balik baginya.

Menariknya, seperti halnya beberapa novel Eka Kurniawan, buku ini diterjemahkan dalam bahasa Jepang lebih dulu daripada dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Boleh jadi, kisah Eddy yang berubah menjadi Édouard punya resonansi kuat bagi pembaca Jepang umumnya.

Sepuluh Buku Merayakan Kasih Sayang - 8


8. Louis Aragon, Le Fou d’Elsa (Cinta Buta kepada Elsa)

Aragon (1897-1982) adalah penyair surealis Perancis yang aktif menulis sejak sebelum Perang Dunia II. Pada 1928, ia bertemu dengan Elsa Triolet (1896-1970) yang kemudian hari menjadi istrinya. Mereka berdua aktif dalam media gerakan Kiri di Perancis, dan dalam gerakan bawah tanah selama masa rezim pendudukan Nazi.

Nama Aragon masuk dalam daftar hitam rezim pendudukan Nazi di Perancis. Setelah Perang berakhir, ia aktif dalam berbagai organisasi penulis dan juga, punya posisi dalam Partai Komunis Perancis (PCF). Ia mengelola majalah budaya bulanan, Les Lettres Française, dan lewat majalah ini ia punya pandangan kritis atas rezim totaliter Stalin.

Louis Aragon, Le Fou d’Elsa

Pada saat kematian Stalin (1953), atas arahannya majalah ini menurunkan gambar karikatur Stalin oleh Pablo Picasso (yang juga kritis atas Stalin). Gambar ini menimbulkan ketegangan di kalangan petinggi PCF.

Terbit 1963, Le Fou d’Elsa adalah novel-liris yang ditulisnya sebagai perwujudan cinta pada istrinya. Novel ini juga mengandung sejumlah puisi yang tak lekang waktu. Jauh sebelumnya, pada 1942 Aragon telah menerbitkan buku kumpulan puisi, Les Yeux d’Elsa (Kedua Mata Elsa). Novel ini tidak semata tentang kisah cinta, tapi juga tentang perubahan sosial dunia akibat dekolonisasi, dan juga perkembangan gerakan perempuan (di Eropa).

Sepuluh Buku Merayakan Kasih Sayang - 10


9. Anne-Claude Ambroise-Rendu, Histoire de la pédophilie XIXe-XXIe siècle (Sejarah Pedofilia, Abad Ke-19 hingga Ke-21)

Ambroise-Rendu (kelahiran 1960) adalah gurubesar sejarah Universitas Limoges (bagian tengah Perancis), yang mendalami sejarah pemidanaan, kejahatan dan tabu sosial. Terbit 2014, buku ini adalah satu dari segelintir buku tentang pedofilia yang berdasarkan penelitian ilmiah (khususnya, sejarah dan sosiologi).

Terdiri dari 10 bab (di samping Pengantar dan Kesimpulan), pembahasan buku ini dibagi berdasarkan rentang waktu. Bab 1-3 tentang abad ke-19, Bab 4-6 tentang akhir abad ke-19 hingga tahun 1970, Bab 7 tentang dekade 1970an, Bab 8 tentang dekade 1980an, Bab 9-10 tentang dekade 1995-2005.

Dengan pendekatan kronologis sejarah, pembaca diajak melihat perkembangan wacana (discours) tentang pedofilia, dan bagaimana berbagai lembaga (termasuk lembaga negara dan lembaga agama) memproduksi definisi pedofilia lewat isolasi sosial dan pemidanaan. Proses ini dimulai pada abad ke-19 dengan keterlibatan ilmu pidana dan kedokteran. Mulai dekade 1970-an, pedofilia menjadi isu politis: bagaimana melindungi korban (anak kecil). Pada masa ini pula sudah dimulai berbagai gerakan emansipasi sosial-politik, terutama gerakan perempuan. Dalam periode-periode berikutnya, masalah perlindungan korban menjadi inti dalam perkembangan hukum dan juga psikologi-klinis.

Apa relevansi buku ini bagi pembaca di Indonesia? Benedict Anderson, di dalam Pengantar buku Tangan Kuasa dalam Kelamin karya Hatib Abdul Kadir (2007), menulis bahwa penyelidikan ilmiah tentang “minoritas seksual” (termasuk pedofil, praktek inses, dll) di Indonesia masih sangat jarang. Pasalnya, pembahasan tentangnya (masih) menjadi tabu sosial-agama dan juga, melawan arus politik dominan. Karena itu, sangat diperlukan penyelidikan ilmiah untuk memberi “terang” dan membuka ruang dialog yang lebih luas.

Sejarah Pedofilia, Abad Ke-19 hingga Ke-21


10. Susie Morgenstern, Lettres d’amour de 0 à 10 (Surat cinta dari 0 hingga 10)

Terbit 1996, novel untuk anak/ remaja ini mengangkat kisah Ernest yang berusia 10 tahun. Ia seorang anak yatim-piatu: sang ibunda meninggal saat melahirkannya, dan ayah kabur meninggalkannya. Ia tinggal bersama neneknya, dan ia merasa bosan dalam keseharian hidupnya yang tanpa telefon dan juga tanpa televisi.

Novel ini memenangkan berbagai penghargaan, antara lain: Totem (1996), Goya (1997), dan Chronos (1997). Novel ini juga terpilih sebagai salah satu buku/novel anjuran Kementerian Pendidikan Perancis, dan tersedia di tiap perpustakaan sekolah. Sejak terbit, buku ini telah turun cetak berulang kali, dan pada 2019 terbit pula edisi komik bergambar (bande-dessinée). Seperti di Jepang, orang Perancis dewasa juga menikmati bande-dessinée (tautan: https://www.nytimes.com/2019/01/29/books/france-comic-books-angouleme.html)

Kisah cinta bukan hal yang tabu buat orang Perancis, dan anak-anak diperkenalkan dengan buku bacaan yang bermutu tentangnya.

Susie Morgenstern, Lettres d’amour de 0 à 10


Sepuluh buku ini, sayangnya, belum tersedia dalam kita punya bahasa persatuan. Kita bisa mendorong penerbit-penerbit di Indonesia untuk melancarkan kerja terjemahan, dimulai dengan 1-2 judul. Memperkenalkan buku-buku ini bagi pembaca Indonesia berguna untuk merayakan kasih sayang yang melebihi harumnya bunga, manisnya coklat dan masamnya anggur merah. Dan tentunya juga, untuk membuka lebar-lebar imajinasi kita akan beragam kisah kasih.(*)


Baca juga:
– DISERET PUISI KE HULL DAN LONDON
– MENIKMATI KONFLIK DALAM KERUDUNG MERAH KARMIZI
– MELIHAT KERJA LITERASI DI PALU DAN LUWUK

Bagikan artikel ini ke: