Menu
Menu

Ketika membaca “Kerudung Merah Karmizi” ini, saya tidak langsung menikmatinya. Di awal saya sempat putus asa dan tidak ingin membaca lagi.


Oleh: Hermina Patrisia Nujin |

Tinggal di Ruteng dan bekerja di Klinik Jiwa Renceng Mose sejak 2017.


Identitas Buku

Judul: Kerudung Merah Kirmizi
Pengarang: Remy Sylado
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002
Halaman: 616 Halaman

***

“Kerudung Merah Kirmizi” karya Remy Sylado adalah salah satu novel yang saya sukai.

Ini adalah karya Remy Sylado yang pertama kali saya baca, dan saya jatuh cinta. Sebuah novel yang menceritakan tentang kehidupan rumit tapi menarik.

Seorang perempuan bernama Mirna, yang berusaha melanjutkan hidup sambil membuang kenangan masa lalu, di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan. Tokoh Mirna yang akrab dengan kehidupan malam, paras cantik dengan gaun seksi berbaur dengan aroma alkohol, kabut dari sebatang rokok putih, rayuan lelaki hidung belang dari yang muda hingga yang usianya mendekati bau tanah, akan tetapi begitu anggun dan santun ketika menjadi “mama” di hadapan kedua anaknya ketika kembali ke rumah saat subuh. Mirna juga harus menghadapi gunjingan tetangga yang mencemooh siang dan malam, belum lagi tuntutan biayai hidup yang makin hari terus mencekik.

Ketika membaca Kerudung Merah Karmizi ini, saya tidak langsung menikmatinya. Ibarat kata orang, semua butuh proses. Benar. Saya mengalami situasi itu ketika membaca buku ini. Di awal saya sempat putus asa dan tidak ingin membaca lagi. Tetapi saya berjuang untuk meneruskan, dan saya berhasil menemukan “keseruan” yang saya cari. Rasa kagum, sedih, dan bingung yang terjadi dalam waktu bersamaan, bagi saya merupakan pengalaman pertama kali dan menjadi suatu pengalaman yang luar biasa. Perjuangan yang tidak sia-sia untuk menghabiskan 616 halaman novel ini.

Tokoh Mirna yang pergi malam dan pulang subuh, jika dilihat dengan kacamata moral tentunya tidak wajar; menjadi penyanyi malam dengan status janda beranak dua. Masa lalu Mirna ditinggal mati suami, seorang pilot yang baik hati, membuat sejarah baru dalam hidupnya. Trauma takut ditinggal lagi serta ketidakyakinan akan menemukan pria lain yang memiliki kebaikan hati sebagaimana suaminya, menjadi perang batin tersendiri bagi Mirna. Sampai akhirnya, ia menemukan Pa Luc, seorang pria yang berhasil mencuri mata, hati, dan pikirannya. Namun sayang, takdir berkata lain. Sekali lagi ia harus mengalami kehilangan.

Perlu diakui juga bahwa, hal yang menarik perhatian atau yang turut andil menghidupkan jalan cerita novel ini adalah hadirnya tokoh-tokoh pelengkap. Bagi saya, tokoh pelengkap memiliki karakter cukup kuat, hampir sama dengan tokoh utama. Hal ini yang membikin cerita semakin menarik, membuat saya dengan cepat membalikkan halaman demi halaman. Plot yang membuat saya terheran-heran, rumit dan cepat. Seperti cuplikan sinetron. Saat tengah asyik menikmati cerita yang disajikan di tiap halaman yang saya baca, saya berharap di halaman berikutnya kisahnya akan lebih seru dan menegangkan. Akan tetapi, ternyata di halaman yang baru, penulis menyajikan cerita lain yang sungguh berbeda, membuat saya mulai mereka-reka akan ke mana kisah ini nantinya.

Secara struktur, menurut saya, novel ini terpenggal-penggal seperti cerita bersambung. Sebentar-sebentar menceritakan tokoh Mirna, lalu pada bab baru menceritakan tokoh lain seperti Pa Luc, Dela, Om Sam, Satria dan Kartika anak Mirna, dan seterusnya. Dan justru hal inilah yang membuat saya tertarik untuk terus membaca novel ini. Sebuah novel dengan beberapa konflik yang terjadi sekaligus. Lama-kelamaan, saya pun menyadari, kisah-kisah ini berhubungan satu sama lain dan akhirnya membentuk sebuah cerita yang menarik. Saya hampir kesulitan untuk memilih tokoh mana yang berhasil mencuri perhatian saya, atau tokoh mana yang mengingatkan saya pada suatu kejadian yang hampir mirip dengan yang pernah saya alami atau saya dengar sebelumnya.

Masing-masing tokoh memiliki karakter yang menonjol untuk diceritakan. Sebut saja Mirna yang berjuang bertahan hidup setelah kehilangan suami, bersamaan dengan itu takut menata masa depan bersama anak-anaknya. Satria, seorang anak kecil dengan pola pikir yang terbilang dewasa. Kartika yang mudah termakan hasutan. Pa Luc dengan intuisinya yang baik sehingga selalu memiliki keyakinan terhadap sesuatu meskipun hanya dengan sekali pandang. Dela, seorang ponakan yang menghabiskan masa mudanya menjadi simpanan bagi pamannya sendiri. Paman Dela, yang menjadi gelap mata karena uang hingga akhirnya harus membunuh Pa Luc, pria yang dicintai Mirna.

Jika ditanya, bagian mana pada novel ini yang paling menggugah? Saya akan menjawabnya pada halaman 190, judul cerita yang juga dijadikan judul buku ini “Kerudung Merah Kirmizi”. Di situ diceritakan, Mirna pulang ke kampung halamannya untuk membagikan kegundahan yang tengah dialami, sekaligus ingin mendengarkan nasihat kedua orangtuanya tentang pria pengganti suaminya yang telah meninggal. Saya sangat tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh ayah Mirna: “Hanya perlu mendengarkan suara hati sebaik mungkin, apakah itu datangnya dari Tuhan atau hanya suara hantu. Hal itulah yang menjadi awal segala sesuatu terjadi dalam kehidupan kita”.

Tentang puas tidaknya saya pada akhir cerita novel ini, saya harus katakan, saya kurang puas. Penulis membuat beberapa tokohnya mati. Ketika saya mencoba menanyakan hal ini pada seorang penulis lain, yang menulis kisah kurang lebih mirip dengan novel ini, ia menjawab, “terkadang itu harus dilakukan, agar ceritanya terus berjalan”. Bisa jadi itu juga yang dipikirkan Remy Sylado ketika menulis Kerudung Merah Kirmizi. Novel ini akhirnya berhasil membuat saya penasaran akan karya-karya Remy Sylado yang lainnya.

Dari novel ini saya belajar, kadang kita lebih suka menyesali sesuatu dibandingkan menyadari lebih awal tentang kebaikan atau keburukan dari hal tersebut bagi kita di masa yang akan datang. Kita lebih suka langsung melakukannya, konsekuensinya tidak perlu dipikirkan sekarang. Nanti saja. Kita sering mengabaikan suara hati. Kita kurang menenangkan diri agar lebih peka mendengar apa yang ingin dikatakan suara hati. Kalaupun kita bertanya kepada suara hati, kita hanya akan kembali pada jawaban kita sendiri. Seolah-olah segala sesuatu dapat kita lakukan seorang diri tanpa harus menunggu keputusan suara hati. (*)


Catatan: Kerudung Merah Kirmizi adalah judul buku novel karya Remy Sylado yang diterbitkan pada tahun 2002 oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Melalui karya ini, Remy Sylado meraih Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2006).

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *