Menu
Menu

Saat membaca “Kubah”, saya menebak alur dan sayangnya saya berhasil. Sangatlah berbeda dengan “Ronggeng Dukuh Paruk” yang sulit ditebak dan penuh kejutan.


Oleh: Yuan Jonta |

Alumni Psikologi Universitas Sanata Dharma. Sekarang tinggal di Ruteng dan merupakan salah satu anggota di Klub Buku Petra. Kini bekerja sebagai ASN di Pemerintah Kabupaten Manggarai.


Ronggeng Dukuh Paruk menjadi bacaan wajib kami saat SMA.

Perkenalan dengan novel karya Ahmad Tohari yang mengesankan, membuat saya menyukai karya-karya kepenulisan sastra Indonesia.

Menemukan kembali nama penulis itu dalam daftar koleksi perpustakaan Klub Buku Petra, tanpa pikir panjang saya memesan ‘Kubah’. Berharap, buku ini dapat mengantar saya pada pengalaman membaca yang sama dengan Ronggeng Dukuh Paruk (RDP).

Tentang “Kubah”

Dalam Kubah ada rekaman-rekaman sejarah ’65. Bercerita tentang Karman, seorang mantan tahanan politik di pulau Buru. Kisahnya merupakan perwakilan dari ratusan tragedi pada masa itu.

Karman digambarkan sebagai seorang lelaki yang pandai dan tekun. Pada masa remajanya, ia jatuh cinta kepada seorang gadis manja bernama Rifah. Cinta itu kandas. Luka akhirnya terobati ketika dirinya menikah dengan Marni, seorang gadis yang tangguh dan setia.

Sial bagi Karman, ia bertemu dengan Margo dan Trisman. Dua orang licik yang merupakan anggota Partai Komunis Indonesia. Mereka menggiring Karman lalu membuka luka kisah cintanya yang kandas, menghidupkan dendam kesumatnya.

Patah hati yang pernah ia rasakan karena Rifah menjalar pada rasa bencinya kepada Haji Bakir, ayah Rifah. Rasa bencinya kepada Haji bakir, menjalar kepada agama. Kebenciannya pada agama membuat ia semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia yang memandang agama sebagai ‘candu’ yang meninabobokan rakyat miskin.

Situasi politik pada saat itu sangatlah mencekam. Anggota-anggota PKI ditangkap lalu ditahan. Pelan-pelan kabar para tahanan ini hilang. Lalu terlupakan. Tak terkecuali Karman.

Selama berada di tempat pengasingan kabar tentang Karman sudah tidak terdengar lagi, beberapa orang justru menganggapnya sudah mati.

Suatu hari, setelah dua belas tahun mendekam dalam tahanan, Karman kembali ke kampungnya. Dia menemukan bahwa Marni, isterinya yang setia itu, telah menikah dengan orang lain setelah bertahun-tahun menanti suaminya tanpa kepastian.

Ia juga menemukan anaknya sudah dewasa, dengan rupa yang sudah tidak dikenalinya lagi. Pertemuan yang mengharukan.

Namun, dalam hati Karman masih ada kegelisahan. Ia sangat khawatir, bagaimana bila orang-orang desa tidak menerimanya lagi? Tapi tanpa disangkanya, ia diterima dengan baik. Lebih dari itu, ia masih mendapatkan kepercayaan masyarakat. Orang-orang yang dulu ia abaikan.

Kepercayaan terbesar yang ia dapatkan adalah ketika ia ditugasi membuat kubah untuk Masjid di desanya. Kubah yang besar hasil kerja tangannya sendiri, kubah yang kemudian menjadi alasan Tohari memberi judul pada novelnya ini.

“Kubah” dan “Ronggeng Dukuh Paruk”

Seperti halnya RDP, Ahmad Tohari mendeskripsikan situasi alam dalam Kubah dengan sangat baik. Suasana pedesaan, keluguan masyarakat, dan kondisi politik yang digambarkan, dapat membuat pembaca merasa seperti terlibat langsung dalam cerita.

Selain itu, dalam kedua novel ini Ahmad Tohari menunjukkan sikap politiknya.

Pada cerita Ronggeng Dukuh Paruk ia menggambarkan kelicikan dan propaganda yang dibuat oleh partai “serba merah”. Dugaan saya, partai serba merah yang ia deskripsikan adalah partai yang sama pada novel Kubah.

Pada Kubah ia menunjukkan sisi-sisi gelap PKI—menunjukkan ketidaksetujuannya pada partai itu. Bahkan secara tersirat ia menjadikan tokoh utama, Karman, sebagai korban yang terjerumus ke dalam dunia komunis akibat intrik-intrik politik dan psikologis ‘orang dalam’ PKI; Tohari menghilangkan kehendak bebas Karman menjadi anggota PKI.

Di sisi lain, kedua novel ini mempunyai plot yang sangat  berbeda. Saat membaca Kubah, saya menebak alur dan sayangnya saya berhasil. Hal ini tentu saja mengurangi kepuasan saya membaca kisah Karman dan Marni ini. Sangatlah berbeda dengan Ronggeng Dukuh Paruk yang sulit ditebak dan penuh kejutan.

Bahkan, saya menemukan bahwa sinopsis ‘Kubah’ sudah dapat menjawab keseluruhan cerita novel itu sendiri.

Subjektivitas Pembaca tentang Tokoh

Dari tokoh-tokoh pada kedua novel ini saya menemukan kesamaan karakter, tetapi ditempatkan pada satu titik yang mengubah keseluruhan isi cerita.

Saya melihat bahwa Rasus (tokoh pria dalam RDP) adalah Karman yang mengiklaskan Rifah lalu melanjutkan hidupnya sebagai seorang laki-laki yang memenuhi potensi dirinya. Sementara Karman adalah Rasus yang patah hati karena tidak mendapatkan Srintil lalu menyimpan dendam pada masyarakat dan dukuhnya.

Srintil adalah Rifah yang memberikan dirinya pada Karman, lalu mengejar-ngejar Karman karena telah memberi bekas yang mendalam dalam cerita hidupnya. Rifah adalah Srintil yang tidak terkutuk, lalu menjalankan hidupnya sebagaimana Ronggeng seharusnya dari dulu, tanpa dikutuk untuk jatuh cinta pada Rasus.

Selain itu, saya menemukan kesamaan Srintil dan Rifah yang digunakan Tohari sebagai alat untuk melakukan propaganda politik.

Srintil, karena kecintaan masyarakat padanya, lalu Tohari gunakan sebagai sarana pengumpul massa untuk kemudian dipropaganda dengan doktrin-doktrin partai. Sementara sebaliknya, Rifah digunakan karena rasa sakit hati—kebalikan dari Srintil yang oleh karena disenangi—untuk menjebak Karman ke dalam dunia komunis.

Dosa saya sebagai pembaca adalah membaca Ronggeng Dukuh Paruk lebih dahulu lalu berharap Kubah akan berada pada level yang sama. Padahal Kubah adalah pendahulu. Kubah adalah karya yang menjadi dasar untuk menulis mahakarya Ronggeng Dukuh Paruk. (*)


Bagi pengalaman membaca Anda di sini. Kirim ke redaksi@bacapetra.co.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *