Menu
Menu

Percakapan tentang toleransi biasanya mengemuka bersamaan dengan hari-hari besar keagamaan. Kalau belum begitu belum muncul.


Oleh: Armin Bell |

Lahir di Kupang. Tinggal di Ruteng. Dua buku cerpennya: Telinga (2011) dan Perjalanan Mencari Ayam (2018).


Bari tidak pernah masuk dalam daftar Indeks Kota Toleran (IKT). Mungkin karena Bari bukan kota. Bukan yang di Italia. Ya. Ini Bari yang di Flores. Sebuah kampung di pantai utara Manggarai Barat.

Bahwa Bari adalah kampung (meski dia adalah ibukota kecamatan), belum tentu juga kalau ada penilaian Indeks Kampung Toleran, tempat ini masuk daftar. Padahal, di Bari saya pernah jadi anggota tim musik kasidah, pentas jelang Idul Fitri, tak jauh dari masjid. Sepanjang pementasan, kalung salib melingkar di leher saya. Dipamerkan luar kaos yang saya kenakan. Dulu, yang begitu keren. Saya pegang gitar, by the way.

Tetapi apa pentingnya dikenal sebagai tempat yang toleran?

Hingga tahun 2018, Setara Institute telah tiga kali melaksanakan penilaian Indeks Kota Toleran (IKT). Menurut Hendardi, ketua lembaga itu, kegiatan yang mereka mulai tahun 2015 tersebut mendorong praktik toleransi di perkotaan. Artinya, penilaian—yang berujung pada diumumkannya daftar kota-kota paling toleran di Indonesia—dimaksudkan untuk memicu kota lain yang masih kurang baik penilaiannya, menjadi lebih baik.

Secara sederhana, barangkali, pemeringkatan kota-kota toleran tersebut diharapkan memotivasi kota-kota lain. Yang namanya tidak ada di daftar puncak IKT, kalau mau jadi juara, lakukan sesuatu. Jadilah toleran! Kira-kira begitu. Soal apa manfaat ‘kejuaraan’ seperti itu, saya pernah mendengar beberapa orang bilang begini: kota yang toleran akan diminati oleh wisatawan, para pelajar, investor, lalu siapa lagi?

Apakah benar bahwa menumbuhkan semangat toleransi di suatu kota (dan mengumumkan keberhasilannya) dilakukan agar akan berdampak pada iklim invenstasi yang baik, bertumbuhnya ekonomi kota, dan meningkatnya kesejahteraan?

Tentu saja cara melihat yang demikian adalah sesuatu yang terlampau sederhana. Karena, jika toleransi hanya dihubungkan dengan soal-soal ekonomi semata, usaha menumbuhkan toleransi seharusnya dilakukan dengan menggelontorkan anggaran yang besar. Misalnya dengan mengalokasikan anggaran khusus dari kantong APBN/APBD untuk menciptakan toleransi. Ini juga belum tentu berhasil setahun-dua.

Maka, menggelontorkan sejumlah uang untuk menciptakan toleransi, mulai dari sekolah toleransi, kemping rohani lintas agama, pembentukan forum komunikasi antaragama, dan lain sebagainya, barangkali tidak seharusnya jadi pilihan utama. Pemeringkatan juga barangkali bukan. Berapa banyak orang yang termotivasi menjadi juara satu hanya karena seorang temannya meraih juara satu? Yang iri hati banyak. Sudah, itu saja. Lain tidak.

Dalam satu poin simpulan yang disiarkan Setara Institute di website mereka (setelah mengumumkan IKT tahun 2018) dijelaskan, “[d]isandingkan dengan data IKT tahun sebelumnya, secara umum tidak terjadi perubahan komposisi yang signifikan pada data 10 kota dengan indeks toleransi terendah pada tahun 2018”. Lalu bagaimana?

Toleransi di Kampung

Percakapan tentang toleransi, yang biasanya dihubungkan dengan relasi antarumat beragama (padahal agama semestinya hanya satu dari sekian subjek; suku, jenis kelamin, orientasi seksual, dll.), biasanya mengemuka bersamaan dengan hari-hari besar keagamaan. Kalau belum begitu belum muncul.

Saat ini toleransi diperbincangkan karena umat Islam sedang menjalani ibadah puasa. Beberapa waktu lalu, toleransi juga dibicarakan ketika umat Katolik menjalani Pekan Suci. Di perayaan keagamaan apa saja, juga begitu.

Atas dasar itulah mau tak mau saya ingat Rusmin, Halim, Sirwan, dan teman-teman saya yang lain di Bari. Sekitar sembilan puluh persen penduduk kampung itu memeluk agama Islam. Bahkan, keluarga kami adalah satu-satunya yang beragama Katolik di kampung tua itu. Keluarga Katolik lain tinggal di tempat yang agak jauh.

Sekitar 20-an tahun silam, pada saat-saat seperti sekarang ini, saya diajak terlibat dalam berbagai kegiatan (sebut saja) menyukseskan Ramadan. Tak ada percakapan bahwa melibatkan saya yang Katolik ini pada agenda-agenda di bulan puasa mereka adalah usaha mewartakan kepada dunia kalau Bari adalah tempat yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama.

Saya jadi tim musik kasidah karena bisa gitar. Dan agenda itu, betapapun adalah acara agama, sesungguhnya adalah kegiatan besar di kampung kami. Saya adalah salah seorang warga di kampung itu. Ketika Paskah atau Natal, karena perayaan misa memerlukan keheningan dan semua umat Katolik mengikutinya dengan khusyuk di gereja, yang bertugas menjaga keheningan di sekitar kompleks gereja adalah Rusmin dan teman-teman muslim yang ada di Bari.

Di bulan Ramadan, anak-anak muda di Bari bertugas membangunkan warga pada jam sahur. Keliling kampung. Sahuuuur, sahuuuuur. Saya ikut berseru-seru dengan suara nyaring. Di depan rumah kami, tak ada yang berteriak. Karena Guru Don dan Muder Yuliana, Bapa dan Mama saya, tidak perlu bangun untuk sahur. Setiap bulan Mei dan Oktober, waktu berkumpul kami ditunda sampai saya dan keluarga pulang dari rumah-rumah tetangga Katolik (yang berjauhan) menunaikan doa rosario giliran, berdevosi kepada Bunda Maria.

Dua puluh tahun lalu begitu. Sekarang tetap saja sama. Tak ada yang berubah. Kepala Desa di Bari dalam beberapa periode terakhir juga terpilih bukan karena agamanya. Rasanya begitu. Karena kalau karena agama, dengan komposisi penduduk yang mayoritas Islam, mengapa pada satu periode ada seorang Katolik menjadi kepala desa?

Beberapa bulan silam, setelah bertahun-tahun tinggal di Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai, saya akhirnya berkesempatan kembali ke Bari. Olla, ponakan saya menerima Komuni Pertama. Salah satu sakramen dalam tradisi Gereja Katolik, di mana seorang anak secara resmi mulai menerima tubuh dan darah Kristus. Penerimaan sakramen ini dikenal dengan nama sambut baru. Biasanya disyukuri dengan resepsi yang cukup meriah.

Panitia sambut baru Olla ini mayoritas beragama Islam. Menyiapkan terop, makanan, kursi-kursi, dan menjadi undangan. Bergembira bersama. Saat kami sekeluarga ke gereja, panitia sibuk menyiapkan resepsi. Seluruh acara berlangsung sukses. Meriah. Tak ada percakapan tentang pesta ini dirayakan dari-oleh-untuk agama apa. Tua-muda-besar-kecil-lelaki-perempuan terlibat semua acara asalkan acara itu adalah acara di Bari. Acara orang-orang Bari.

Bagaimana bisa? Ya, sudah seharusnya bisa. Karena toleransi yang dimulai sejak kecil, jika tanpa ‘campur tangan’ aliran-aliran baru yang diperjuangkan untuk kepentingan politik sekelompok orang, seharusnya memang tidak bicara tentang sekat-sekat SARA. Toleransi adalah ‘sesuatu yang manusia’. Iya to? Kita menghargai siapa dan apa saja karena sama-sama ciptaanNya.

Bagaimana mendapatkannya (menciptakan orang-orang toleran itu)? Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan sembilan panduan.

Cara terbaik untuk menumbuhkan sikap toleran pada anak adalah dengan cara mengajarkan, membiasakan dan mencontohkan anak untuk:

  • Bersikap dan menghormati lain dengan baik tanpa memandang usia, agama, ras, dan budaya;
  • Tidak membicarakan keburukan orang lain;
  • Mendengarkan orang lain ketika berbicara tanpa memotong pembicaraan;
  • Berbicara dengan sopan dan santun, seperti menggunakan kata-kata “permisi”, “silakan”, “tolong” dan “maaf”;
  • Tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah;
  • Tidak memaksakan kehendak pada orang lain;
  • Menerima orang lain yang berbeda fisik, agama, atau ras;
  • Menghargai diri sendiri; dan
  • Menghargai privasi orang lain, misalnya mengetuk pintu sebelum masuk kamar anggota keluarga lain, meminta izin sebelum meminjam barang.

Membaca panduan Kemendikbud yang disiarkan Kumparan itu, saya ingat bagaimana kami berlaku di Bari. Juga umumnya tempat-tempat lain di Flores. Setiap orang diberi tanggung jawab karena kemampuannya, diberi makan sesuai selera dan keyakinannya, diberi tumpangan ketika sedang tersesat, dan lain sebagainya. Dengan alasan yang mudah saja. Kita manusia.Cukup.

Cara berdoa, bukankah adalah sesungguh-sungguhnya wilayah privat? Maksud saya, toleransi tidak seharusnya dihubungkan semata dalam urusan antarumat beragama. Yang itu adalah hal kemudian. Setelah paham bahwa toleransi adalah percakapan kita dengan semesta. Manusia dan alam ciptaan. Sa kira begitu, Sakhira. (*)

Bagikan artikel ini ke:

2 thoughts on “Toleransi? Toleransi!”

  1. Omvalen says:

    Hebat sekali, saya kutip kata yang terakhir, toleransi adalah percakapan kita dengan semesta. Ini mau mengatakan, toleransi tidak hanya soal iman atau agama, tapi soal relasi kita dengan yang lain, dengan semesta. Sebuah tulisan bagus. Nah ini dia, bisa jadi Bari menjadi sebuah kampung toleran. Suatu saat nanti. He he

    1. BACAPETRA.CO says:

      Terima kasih, Omvalen. Sukses selalu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *