Menu
Menu

“Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi” berkisah tentang petualangan Sungu Lembu dalam melaksanakan misi balas dendam terhadap Prabu Watugunung yang telah merebut Banjaran Waru…


Oleh: Maria Pankratia |

Sedang berusaha menjadi pembaca yang baik. Menulis apa saja. Menyukai film, musik, dan juga jalan kaki. Maria bisa ditemui di www.dasvitkonazone.blogspot.com.


Pelajari strukturnya selayaknya profesional, sehingga kita bisa melanggarnya sebagai seorang seniman.

Demikian sebuah kalimat panjang yang kiranya menggambarkan isi perbincangan malam itu tentang sosok di balik Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, Yusi Avianto Pareanom. Ada sebelas orang yang hadir di Bincang Buku Petra kali ini, Kamis, 25 April 2019. Sebagian berhalangan karena urusan pribadi, sebagian lagi terjebak hujan.

Yuan Jonta yang ditunjuk sebagai moderator membuka kegiatan ini pukul 19.00 dan langsung memberi kesempatan kepada Armin Bell selaku pemantik, untuk menyampaikan hasil pembacaannya. Menurut Armin, buku ini tidak membutuhkan pemantik diskusi. Petualangan Sungu Lembu dapat dengan segera menjadi bahan obrolan banyak orang.

Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi berkisah tentang petualangan Sungu Lembu dalam melaksanakan misi balas dendam terhadap Prabu Watugunung yang telah merebut Banjaran Waru, salah satu kerajaan kecil, tempat Sungu Lembu berasal. Dalam perjalanannya, Sungu Lembu justru bertemu salah seorang anak Watugunung. Raden Mandasia. Yang memiliki hobi aneh: mencuri sapi dan menikmati pekerjaan memotong-motong curiannya itu.

Kisah selanjutnya adalah tentang Sungu Lembu menghabiskan waktu yang panjang, menjelajahi hampir separuh dunia, bertemu banyak orang, melakukan sekian banyak hal luar biasa, sembari belajar mengendalikan dirinya; tidak terburu-buru menuntaskan dendamnya.

Literasi Baca dan Tulis

Bagi Armin Bell, membaca novel (dongeng) Yusi Avianto Pareanom adalah kenikmatan menemukan ‘kekayaan-kekayaan dunia’ dalam satu buku. Buku ini berhasil membangkitkan kembali ingatan tentang dongeng-dongeng klasik dunia, cerita rakyat Nusantara, cerita silat zaman dahulu kala, sejarah-sejarah penting dan terkenal di dunia, dan cerita-cerita Alkitab. Yusi seperti hendak memberitahukan bahwa membaca itu baik, untuk penulis dan pembaca.

“Yang ditulis Yusi mampu membuat pembaca, yang pengalaman membacanya baik, dengan segera menikmati cerita tersebut. Terhubung dengan kisah lain, tapi pada saat yang sama menemukan kebaruan sudut pandang,” papar Armin. Menurutnya, tanpa pengalaman membaca atau mendengar yang cukup, beberapa kisah akan sulit diakses.

“Kita bisa jadi beruntung karena Soeharto dulu membuat kita yang  di Indonesia bagian timur ini mengenal banyak cerita dari tanah Jawa. Modal itu memudahkan kita masuk ke dalam novel Yusi ini. Selebihnya, tentu saja kita tidak perlu bicara tentang Soeharto lagi,” tambahnya.

Bagian ini disampaikannya sehubungan dengan latar novel ini yang menghubungkannya dengan kerajaan-kerajaan tua di Jawa seperti Kerajaan Mataram, tempat yang diduga Armin sebagai ‘asal’ Kotaraja dalam Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi.

Terkait bagian ini, Yovie Jehabut, seorang pengamat burung di Ruteng Flores menduga, Banjaran Waru adalah Kerajaan Singosari. Yovie tidak hadir malam itu, tetapi menyampaikan hasil pembacaannya melalui pemantik. Yovie ‘mendeteksi’ Banjaran Waru sebagai Kerajaan Singosari karena dalam buku itu penulisnya bercerita tentang burung Jalak Putih di Banjaran Waru. “Jalak Putih adalah salah satu endemik Jawa Timur,” jelas Yovie.

Meski demikian, seorang peserta Bincang Buku Petra lainnya, Jeli Jehaut, justru mendeteksi Banjaran Waru sebagai salah satu kerajaan kecil di Sumatera. Dekat danau Toba. Penggalan cerita yang tentang letusan gunung dahsyat terjadi di dekat Banjaran Waru, yang terasa hingga ke belahan dunia lain (Gerbang Agung) menjadi alasan Jeli.

Kita tahu, sekitar 74.000 tahun lampau, Gunung Toba meletus hebat. Mengirim awan panas raksasa yang menutup nyaris seluruh ujung timur hingga barat Pulau Sumatera. Jutaan kubik abu dimuntahkan, menutupi Lautan Hindia hingga Laut Arab dan sebagian Samudera Pasifik. Bisa aja!

Kisah-kisah lain yang membuat ingatan kita akan kembali ke masa lampau, antara lain: Kisah tentang Nabi Yunus, Pinokio, Cleopatra, Perang Troya, The Lord of The Rings, Game of Thrones, The Beatles, Kisah-Kisah Nazaruddin, Wiro Sableng, Tutur Tinular, Angling Dharma, hingga bagian terbanyak, Babad Tanah Jawa.

Pemantik Bincang Buku Petra malam itu juga menyentil kemunculan lelaki tua di atas kapal yang sedang mencari anaknya dalam dongeng Yusi Avianto Pareanom ini. (Merujuk pada) siapa dia?

Kami menduga, lelaki tersebut adalah Yosep, suami Maria. Yosep yang seperti ‘dilupakan’ dari catatan-catatan pada kisah perjalanan Yesus mengabarkan keselamatan. Hingga Yesus melewati kisah sengsara dan mati di kayu salib, nama Yosep, lelaki tukang kayu itu menghilang begitu saja dari Kitab Suci Perjanjian Baru. Yusi menghadirkannya kembali di kapal yang membawa Sungu Lembu dan Raden Mandasia.

Secara keseluruhan, melalui Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi, Yusi seolah menganjurkan: perbanyaklah membaca, pelajari banyak hal, kemudian menulislah; agar hidupmu tidak seperti hewan ternak, sekadar makan dan tidur sebelum disembelih (hal. 320).

Mengapa Disebut Dongeng?

Penjelasan yang menarik tentang struktur dan teknik kepenulisan buku ini, datang dari Marcelus Ungkang. Dosen Sastra di STKIP St. Paulus Ruteng ini sepakat dengan kata ‘dongeng’ yang dipakai Yusi untuk bukunya itu. Menurut Marcelus, struktur itulah yang digunakan penulis buku ini. Struktur dongeng.

“Jika merujuk pada Vladimir Prop (1928) dan Joseph Campbell (1940), novel ini menggunakan hampir sebagian dari 31 fungsi dongeng yang kemudian dimodifikasi. Modifikasi tersebut tampak pada penggunaan sorot balik.

Lazimnya penataan kisah selalu berurutan, tetapi sebaliknya Yusi menempatkan kisah yang seharusnya akan muncul di tengah ke bagian awal cerita. Sehingga yang kita dapati di permulaan adalah, ketika Sungu Lembu dan Raden Mandasia sudah berada di dekat perkemahan perang para prajurit Gilingwesi. Biasanya dongeng akan diawali dengan perkenalan tokoh dan latar belakang kehidupannya,” paparnya.

Struktur dongeng dalam Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi ini akan dibahas secara mendalam oleh Marcelus Ungkang untuk rubrik Ulasan bacapetra.co.

Menurut Marcelus: “Boleh dibilang, keseluruhan novel ini menggambarkan tingkat kecerdasan penulis yang sangat baik. Yusi memperbaharui batas kewajaran. Teknik yang bagus, muncul dari tangan yang mahir, ketika orang membaca hal baru tetapi masih merasakannya sebagai hal yang wajar. Pada saat yang sama, Yusi telah memperbaharui definisi, atau bahasa lainnya, potensi!”

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *