Menu
Menu

Kepada Kina, Kasmir berulang kali menceritakan tentang nasib buruk yang dialaminya saat melaut. Istrinya memilih tidak lekas percaya.


Oleh: Afryantho Keyn |

Lahir di Kinabalu, 28 Oktober 1991. Cerpennya tergabung dalam buku antologi Tsunami, Tsunami (2018). Kini bermukim di Nuhalolon, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.


Sekalipun akan bereinkarnasi menjadi manusia, flamboyan malang itu tentu tak ingin menjadi seperti Kina: perempuan yang jarang menutup mulutnya, tak mudah menyudahi kata bicaranya, tak begitu saja menurunkan nada suaranya ketika memuntahkan amarah, seperti pagi ini.

Kasmir, suami perempuan itu, baru tiba dari laut, meletakkan tas keranjang ke atas dipan di depan dapur. Lusuh merambati wajahnya yang kehilangan beberapa jam tidur malam. Ia mencari-cari kalimat yang tepat untuk menjelaskan hasil buruk pada istrinya.

Semua cara sudah saya coba, tetap sia-sia, ia membatin.

Namun, ia tak yakin istrinya akan mudah menerima. Ia tahu, kalimat seperti itu tak akan pernah cukup. Melihat istrinya mambawa wajah dingin keluar dari dapur mendekat ke arahnya, ia sadar, tak punya pilihan lain selain bercerita lebih panjang lebar lagi.

Semua baik-baik saja pada mulanya. Hadapi laut tenang, Kasmir mengayuh sampan tanpa hambatan. Ia menuju ke tempat biasa itu: titik temu sepasang garis imajiner. Dari arah timur, garis itu membentang sejajar dengan letak mercusuar yang kian lama kian mengecil di pantai, sedang dari arah selatan, tepat di mana ketika puncak bukit Petola muncul di atas tebing batu. Titik itulah yang ia tuju dengan tak terburu-buru sebab hanya ia seorang diri yang turun melaut. Keranjang siapa pun bakal terisi jika memancing di tempat itu.

Pelaut lain lebih memilih menjadi orang biasa setelah badai menyerang bertubi-tubi sepanjang Desember ini. Tak ada yang berani melaut, sekalipun itu juragan dari Lohayong atau Lamakera. Beberapa atap rumah kerabat Kasmir terbongkar, pohon beringin tumbang menutupi jalan provinsi, perahu-perahu terpaksa ditarik ke darat mencari keamanan. Namun, kecemasan itu mulai pulih sejak kemarin. Angin mereda sejak pagi lalu benar-benar bergeming sebelum tengah hari.

Malam harinya, selepas sedikit berselisih dengan istrinya, Kasmir langsung turun ke laut memikul pendayung dan keranjangnya. Di pelataran balai desa, ia melihat kursi-kursi telah ditata, lampu-lampu telah dipasang, terang-benderang mengalahkan sinar bulan. Perayaan pergantian tahun selalu meriah, ia tak heran. Kali ini ia terpaksa menyaksikan kembang api dari laut.

Sejak meninggalkan pantai, Kasmir langsung membelokkan jalur sampan sampai sejajar dengan mercusuar. Tinggal menyambut puncak Petola yang akan menyembul tak lama lagi. Namun, beberapa saat jelang puncak bukit itu muncul, gemuruh tiba-tiba terdengar lagi dari tengah laut, langsung mematahkan laju sampannya. Angin kencang seketika mengirimkan ombak yang susul-menyusul membentur pantai. Sampan Kasmir terombang-ambing hebat, turut menyeret keranjangnya maju-mundur, sebabkan pelampung tali pancingnya terlempar ke laut. Ia tak bisa berbuat apa-apa, sebab ia pun sedang bersusah payah menguatkan pegangan di kedua sisi cadik agar tak ikut terjungkal.

Angin mulai reda sepuluh menit berselang. Laut perlahan tenang, tetapi cukup lama gemuruh tak ingin lenyap dari dada Kasmir. Ia mengingat beberapa berita di televisi, mengabarkan badai ganas yang menyerang benua selatan dan menelan banyak korban.

Kasmir setengah basah, gemetar kedinginan. Air naik merebut separuh ruang dalam sampannya. Tangan kirinya cepat menghela keluar air dengan gayung, sementara tangan lainnya mengarahkan senter mencari-cari pelampungnya. Sebuah benda hitam bergerak menjauhi sampan ternyata pelampungnya. Tampak menyedihkan ketika ia mendekat, gulungan tali-temalinya telah longgar, terbelit di mana-mana. Ia campakkan dengan kasar pelampung itu ke lambung depan sampan, lalu mengeluarkan kotak aluminium kecil dari saku celana, mengambil sebatang rokok dan pemantik api di balik tutupnya.

Semakin dalam menghisap rokok, semakin terbayang wajah istrinya. Perempuan itu berharap penuh pada hasil tangkapan malam ini. Ikan-ikan dasar adalah sebaik-baiknya jamuan untuk teman-temannya yang akan hadiri arisan di rumah mereka. Arisan yang tiba-tiba menjadi begitu penting, sebab seakan jadi penentu harga diri istrinya.

Belum selesai setengah batang, Kasmir menyulut rokok, membuka mulut keranjang. Mengeluarkan senapan tembak, memeriksa jalinan karet pelontar, tombak peluru, kaca mata selam, dan beberapa senter cadangan. Merasa semuanya siap, ia mengayuh ke pesisir, lalu terjun meninggalkan sampan.

Namun, selalu saja, tak lama menyelam, Kasmir langsung muncul ke permukaan tanpa menembak apa-apa. Beberapa kali ia melepas dan mengelap kaca matanya dengan napas terengah-engah sambil bergelantungan di cadik sampan. Bawah laut bertambah keruh, memperpendek jarak pandangnya. Tak jelas apa yang dibidiknya.

Setelah percobaan yang tak lagi terhitung banyaknya, ia menyebul, langsung disambut kembang api yang meledak berhamburan di langit kampung. Ia merasa seakan telah menyelam sepanjang tahun tetapi tetap saja sia-sia. Ia naik kembali ke atas sampan, memilih bertolak ke pantai. Laut mungkin akan sedikit jernih jelang pagi, ia menduga.

Kasmir menyalakan unggun di bawah rimbun kelapa tempat parkir perahu-perahu. Begitu dekat dengan api pun, tubuhnya masih tetap gemetaran. Udara lembab yang dihirup berulang-ulang seakan membawa masuk air ke dalam paru-parunya.

Jika bukan demi istrinya, tak mungkin ia menyiksa diri seperti ini. Kina baru masuk kelompok arisan perlengkapan rumah tangga. Mereka rutin mengadakan arisan pada tanggal satu setiap bulan, dan semua anggota bergiliran menjadi tuan rumah, tempat mereka berkumpul.

Telah menjadi buah bibir, kelompok itu lebih seperti medan perang dingin para istri. Meski bukan tujuan, tuan rumah selalu berusaha menyiapkan jamuan makan siang yang lebih baik dari tuan rumah sebelumnya. Keadaan kian panas setelah seorang anggota baru terus-menerus membanggakan ikan kuah asam miliknya.

“Mereka pasti bersekongkol.” Curiga Kina jelang malam kemarin. “Saya tahu rencana buruk mereka.”

Ia terlihat lemas, meremas-remas telepon seluler. Irna, ketua kelompok arisan, baru saja menghubungi, mendadak memindahkan tempat arisan ke rumah mereka. Odi harus ke Balada, katanya memberi alasan, ada keluarganya yang berpulang.

“Apapun itu, tetap salahmu. Kau yang tak jaga mulutmu,” Kasmir menimpal.

“Tapi masakan mereka memang terasa hambar,” Kina tak ingin kalah.

“Tetap yang salah lidahmu,” Kasmir perlahan meninggi.

“Saya harusnya mulai siapkan bahan-bahan memasak, bukan buang-buang waktu bicara denganmu,” Kina membalikkan badan.

“Tak ada yang akan melaut!” Sambar Kasmir dari belakangnya.

“Siapa lagi kalau bukan kau?” Kina membalas cepat, kembali menghadap ke arah Kasmir.

“Itu bunuh diri,” Kasmir membawa amarah. “Kau bisa potong ayam atau kambing sekalian bila perlu!” Ia bertambah kecewa.

“Tak peduli. Harus ikan!” Kina setengah berteriak.

“Saya harap kau tidak sedang gila sekarang,” Kasmir masuk dalam-dalam ke mata Kina. “Tak peduli pakai resep kuno ibumu, mukamu tetap akan disiram kuah asammu sendiri!” Ia berlalu, membanting pintu.

***

Keduanya bertemu pertama kali di pasar Enatukan seminggu setelah Kasmir menanam pohon harapan. Anakan flamboyan dalam paperbag hitam adalah pohon harapan yang dibawa pulang Kasmir dari kegiatan anak muda pencinta alam. Melihat Kina tengah menawar harga pisang tak jauh dari tempat ia memarkir sepeda motor, jantung Kasmir tiba-tiba berdetak cepat melebihi hirup pikuk pasar. Rongga dadanya seakan disesaki kata-kata ajaib bang Bumi. “Kubur akar anakan pohon ini bersama satu harapan terbesarmu dalam hidup. Merawat pohon ini berarti merawat harapanmu.” Laki-laki berperawakan tinggi itu berkata berulang kali sembari membagikan paperbag. Ia memakai kostum yang unik, berwujud bumi sekarat, terbuat dari kardus, dibalut lukisan cerobong asap pabrik tengah memuntahkan asap hitam yang mengepung warna hijau pepohonan.

Kasmir langsung menggali lubang di halaman depan begitu tiba di rumah. Sebelum menutup kembali lubang, ia menjatuhkan gulungan kertas berisi harapan yang ia tulis pada penutupan kegiatan. Harapan yang turut ia siram berulang-ulang hingga tak terduga berbunga lebih cepat tujuh hari berselang.

Tepat pada hari pasar itu, setelah membayar harga pisang, Kina seakan tak lagi kebingungan mencari tukang ojek. Ia menghampiri seorang laki-laki dengan air muka yang dirambati kegugupan, dengan mata yang seakan sulit berkedip. Untuk pertama kalinya, ia merasa nyaman membonceng di belakang laki-laki asing yang mengendarai sepeda motor dengan tubuh yang sedikit kaku, tanpa percakapan basa-basi sepanjang jalan seperti kebanyakan laki-laki, hanya gemuruh napas yang mempercepat gerak punggungnya. Bahkan ketika sampai tempat tujuan, hendak membayar jasanya, Kina tetap mendapati air muka yang belum juga berubah. Ia menyerahkan beberapa rupiah tetapi serta-merta ditolak. Ia kebingungan, cepat berlari menyusul sepeda motor yang mulai berbelok dihela gigi satu, sambil merobek nota belanja, menuliskan sesuatu di sana. “Ini nomor saya, simpan saja.” Senyum laki-laki itu akhirnya merekah, lantas kembali menarik gas yang sempat tertunda, berlalu meninggalkan Kina yang masih bergulat dengan kesan yang tetap saja sama sejak pandangan pertama: betapa aneh tingkah laki-laki itu.

Kini, sepuluh tahun berlalu, flamboyan telah membesar dan meninggi, meneduhi sebagian besar halaman depan rumah, tempat bermain anak-anak mereka.

***

Meski sedikit kecewa terlibat pertengkaran dengan Kina, mata Kasmir bernyala-nyala melebihi kobar api ketika mengingat kembali pertemuan pertama mereka. Setiap kali mengingat, masa lalu seakan memompa semangat baru ke dalam dadanya. Ia berdiri lagi menuju sampan. Hari telah jatuh menjelang subuh ketika ia mulai terjun lagi memeluk senapan tembak ke dalam laut.

Benar dugaannya. Laut kembali jernih meski tak begitu sempurna. Bentang karang tampak mulai jelas, tetapi ikan-ikan masih tetap tak terlihat, seakan tak satu pun tersisa ditelan bumi. Lama mencari-cari, ia naik, sejenak mengambil napas, lalu menyelam lagi, untuk kesekian kali. Cahaya senternya menuruni karang, mencapai ke dalam sebuah lubang. Samar-samar, tampak ekor ikan selebar dua kali telapak tangannya. Ia mendekat, membidik, lalu cepat melepas tembakan.

Tali pengikat yang menghubungkan senapan dengan ujung tombak peluru langsung diseret-seret dengan kuat, pertanda tembakan tepat mengenai sasaran. Namun, Kasmir keburu kehabisan napas. Ia tergesa naik dengan kaki yang susah payah berganti menjepit senapan agar mangsa tak lepas. Ketika kembali turun, ia terus berusaha mengikuti tarikan ikan yang bergerak kian masuk ke dalam lubang, menunggu kapan ikan itu benar-benar kehabisan tenaga. Namun, tak lama berselang, laut kembali disentuh badai, membuatnya terseret menjauh. Ia harus bersusah payah kembali mencapai permukaan, menembus kekacauan itu, dan langsung menyadari, tali telah mengendor, tetapi tanpa tombak peluru di ujungnya. Ikan pun tak terlihat naik mengambang ke permukaan. Mungkin telah terbawa ombak, atau tetap terjebak di dalam lubang batu itu, dengan tubuh ditembusi tombak peluru, mati sia-sia di sana.

Begitulah nasib buruk selama turun melaut yang Kasmir coba ceritakan berulang kali kepada Kina. Namun, perempuan itu tetap tak menerima, begitu saja mencampakkan segala jerih payahnya.

“Kau tak bisa diandalkan,” Kasmir tak menduga serendah itu balasan istrinya. Kina bahkan tak bersyukur sama sekali, mendapati ia berhasil pulang dengan jiwa raga yang masih lengkap.

Punggung perempuan itu menjauh meninggalkan dapur, tangannya membawa sapu lidi, berlalu ke muka rumah.

Kasmir terduduk muram di dipan, diam-diam terluka. Bunga flamboyan gugur memenuhi halaman, berserakan di mana-mana, dirontokkan angin yang tiba-tiba mengamuk lagi semalam. Tak lama, terdengar istrinya mulai menyapu bersama gerak mulutnya yang tak akan lagi terhenti.

“Kau memang tak bisa diandalkan,” ia mengulangi lagi dengan suara yang mulai ditinggikan. Kasmir tetap bergeming meski sungguh tak ingin. Ia terlalu lelah untuk memulai lagi pertengkaran.

“Bisakah pohon ini ditebang saja?” Suaranya makin meninggi. “Harusnya kaulah yang menyapu kalau menangkap satu ekor pun kau tak mampu!” Ia menekan kata-katanya.

Kasmir berlalu, masuk ke dapur, membawa berang yang tak sanggup lagi ia tahan, mencari-mencari letak kelewang.

(Nuhalolon, 2019)


Ilustrasi: Oliva Nagung

Bagikan artikel ini ke:

3 thoughts on “Kasmir dan Kina”

  1. Vany says:

    Seperti membaca nasehat pernihakan dengan cara elegan 🌹❤️

    1. Afryantho Keyn says:

      Terima kasih 🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *