Menu
Menu

Selamat menikmati tiga puisi Tjahjono Widarmanto ini!


Oleh: Tjahjono Widarmanto |

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Buku puisi terbarunya Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018). Sedangkan antologi puisinya yang lain, Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak (2016) menerima Anugerah Buku Hari Puisi Indonesia tahun 2016. Selain menulis juga bekerja sebagai guru SMAN 2 Ngawi. Sekarang tinggal di Ngawi, Jawa Timur.


Obituare Hujan

hujan selalu menggemburkan waku dengan warna cinta
sebab pada curahnya selalu dikabarkan kangen tak putus-putus
menandai dingin dan kuyup yang selalu mengalirkan kenangan
tahun-tahun membentangkan waktu dan hujanlah yang meruwatnya
menyambung kembali retakan-retakan masa lalu menjadi masa depan
betapa pun kaburnya.

tak ada peta atau kompas penunjuk arah
namun cinta akan menunjukkan kiblat yang tepat

batas demi batas berjalan bersama kenangan
batas demi batas berlalu selalu menyebut namamu
rintik demi rintik merayap pelan menggumamkan gairah rindu

entah di bandara mana, entah di dermaga mana
kangen selalu menemu kitab yang kelak mencatatnya

sebelum memulai perjalanan hujan telah mencatat
: setiap burung akan menemu sarang.

Pelataran

sebuah kota, sayang, adalah pelataran dengan bunga-bunga indah
tempatmu menjemur dan memanjangkan helai-helai rambutmu

memanjang seperti kenangan pada kecupan pertama
membuatmu tersipu dalam senyuman
lantas mencatatnya dalam suluk-suluk cinta
si majnun yang berlari memintas lorong-lorong kangen

pelataran itu, sayang, menimbun daun-daun gugur
menimbun kenangan yang selalu tersemai dan tersusun kembali
seperti musim memutar kemarau dan awan yang basah

pelataran itu, sayang, tempat kita berlari-lari
menjumputi kangen dan setia yang tumbuh tak pernah layu

Tarian Mati

—Salvador Dali

malaikat bengis bercambuk itu mengejar-ngejarku. siungnya adalah gigi-gigi hiu memburu melintas gurun tanpa kaktus tanpa udara hanya panas srengenge mendesak-pesak membuat jam meleleh di mana-mana seperti mani yang muncrat lantas sekejap mengering tinggalkan bau yang amis. tubuhku berkelojotan menolak roh lolos dari raga, namun si bengis itu melecutkan pecutnya. tar tar tar. tubuhku nyaris berkeping aku tak ingin dikubur dalam pasir. aku berlari serupa kepiting menyuruk-nyuruk pasir. jarum jam berpatahan, arloji berlelehan, angka-angkanya melompat-lompat: waktu keriput seperti jeruk bali.

tubuhku menolak gelap tapi telingaku berdenging. semut dan angrang berjubel di lubang telinga. mulutku disumpal pasir. tubuhku membentur bukit gurun. semut dan angrang menggerogoti pelirku. aku menjerit tanpa suara, tubuh menggelepar seperti tarian kejang. aku tak mau telanjang! tapi mereka yang bengis itu memeloroti celana sambil bersorak-sorai. aku gemetar disodomi ribuan semut dan kalajengking. jari-jari kaki copot kukunya tubuhku melengkung. menungging di pasir. pasrah dan takluk pada ribuan semut.

lonceng berdentang di mana-mana dari segala arah jam meleleh-leleh angkanya melompat-lompat. pasir mengisap tubuhku bersama waktu. pelan-pelan. perutku mulai berbau anyir. otakku penuh semut. bokongku mengerak. cairan tubuhku disedot pelan-pelan. tulang keropos satu-satu.

: duh, waktu jangan campakkan aku!


Foto: Kaka Ited

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *