Menu
Menu

Oleh: Maria Pankratia |

Bergiat di Yayasan Klub Buku Petra, mengelola Pustaka Bergerak dan agenda bulanan Bincang Buku Klub Buku Petra. Cerpen-cerpennya disiarkan di Bali Post, Jurnal Sastra Santarang, Pos Kupang, dan beberapa antologi bersama.


Fesek, dalam bahasa Dawan berarti Pesta. Sebuah perayaan. Tanggal 4-6 April 2019 yang lalu, telah digelar Kencan Buku Fesek oleh Komunitas Leko, Kupang.

Perayaan ini dilaksanakan di Auditorium Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang. Tak ada tema khusus, pegiat Komunitas Leko benar-benar mengajak para peserta datang untuk ‘merayakan buku’. Susunan kegiatan sebagian besar didominasi oleh buku; Perpustakaan Jalanan—yang selama ini diadakan setiap malam minggu di Taman Nostalgia dan dipindahkan sementara ke Taman Budaya, Pameran Buku dari berbagai Penerbit Indie di Indonesia, serta agenda lain seperti: Diskusi Buku, Lokakarya Menulis, Lomba Membaca Puisi, Lomba Mewarnai, Pameran Seni Rupa, dan Pemutaran Film.

Sebagai fesek (pesta), acara ini terbuka untuk umum dan dibiayai dengan sistem “bua.” Bua adalah istilah masyarakat Dawan-Timor untuk menyebut sumbangan sukarela dari masyarakat atau anggota keluarga setiap kali dilaksanakan pesta atau hajatan. Seluruh daerah di NTT mengenal kebiasaan ini dalam istilahnya masing-masing. Oleh karena itu Kencan Buku Fesek yang berlangsung selama tiga hari tersebut, terbuka untuk umum dan tidak memungut biaya apa pun dari para pengunjung alias gratis, kecuali untuk lomba dan lokakarya, peserta dikenakan biaya pendaftaran.

Mewakili Klub Buku Petra, saya tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Dari Ruteng, saya berangkat sehari sebelum kegiatan dilaksanakan. Saya bertekad hadir di Kencan Buku Fesek sejak hari pertama hingga kegiatan selesai. Saya melihat animo yang luar biasa dari peserta yang mengunjungi area pameran buku. Ada juga yang datang khusus untuk mengikuti jalannya diskusi buku.

Hal menarik dari Kencan Buku Fesek 2019 kali ini adalah, kehadiran lapak buku dari 14 Penerbit Indie di Indonesia dengan diskon hingga 50%. Ada Marjin Kiri, Mojok, Circa, Gambang Buku Budaya, Pelangi Sastra Malang, Penerbit Lamalera, Penerbit Independen, Penerbit Dusun Flobamora, Penerbit Andi, Penerbit IRGSC, Tanah Merah Press, Trubadur, Post Press, dan Djaman Baroe.

Selain beragam buku yang dijual, ada sembilan judul buku yang didiskusikan sejak hari pertama hingga hari terakhir fesek. Buku-buku tersebut: Tindak Pidana Perdagangan Orang karya Paul Sinlaloe, Kumpulan Puisi Pertarungan di Pniel karya Cyprian Bitin Berek, Tegar karya Pither Yurhans Lakapu, Seperti Benenai, Cintaku Terus Mengalir Untukmu karya Roby Fahik, Kumpulan Dongeng dari Alor Hokkay Mahensah Niffe karya Juwita Rambu, Kumpulan Esai Pada Jalan Pagi yang Sehat, Terdapat Inspirasi yang Kuat karya Saverinus Suhardin, Kumpulan Esai Ringkasan Kegelisahan Sosial di Aula Sejarah karya Marsel Robot, dan Antologi Tsunami! Tsunami oleh Penulis/Penyair Komunitas KAHE. Yang terakhir adalah buku berjudul Sosialisme Petani dan Kaum Miskin Desa karya V.I Lenin.

Selain sembilan buku tersebut, di hari pertama kegiatan setelah acara pembukaan bertema Mantra yang diwarnai pertunjukkan gerak, live sketch, perkusi dan syair berbahasa dawan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi khusus. Diskusi ini membahas tema “Perubahan Agraria dan Migrasi di NTT”. Emanuel Yakob Sese Tolo selaku akademisi dan Umbu Wulang Tanamaahu selaku aktivis lingkungan dan Ketua Walhi NTT tampil sebagai pembicara.

Ini adalah salah satu diskusi dengan durasi paling panjang, dan menarik, selama Kencan Buku Fesek di Kupang. Selama kurang lebih tiga jam peserta diskusi diajak bicara tetang masalah agraria di Nusa Tenggara Timur. Mulai dari dampaknya terhadap kepemilikan tanah masyarakat adat, hingga migrasi penduduk dari desa ke kota di Indonesia dan luar negeri, juga perdagangan manusia yang akhir-akhir ini menjadi isu yang ramai dibahas di kalangan aktivis kemanusiaan dan pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur.

Karya-karya para perupa juga yang dipamerkan di sekeliling area Kencan Buku Fesek. Ada 8 seniman visual yang hadir melalui karya-karya yang dipamerkan. Lukisan karya Merlin Mare dan Oneng, kartun oleh Mando Soriano, desain grafis oleh Papa Raff, ukiran kayu oleh Paul Dheri, instalasi dan juga ukiran kayu oleh Rexy Saleh Adu, juga esai fotografi oleh Weren Taseseb, dan gambar dengan media marker di atas kertas oleh Putri. Karya-karya ini berasal dari seniman-seniman kota Kupang, juga dari seniman dari luar kota Kupang, yaitu Lembata dan Bali.

Di penghujung hari kedua Kencan Buku Fesek, diadakan Pemutaran Film pendek. Tiga film pertama yang diputar berasal dari para pegiat Sekolah Harmoni Indonesia yang berkisah tentang merawat kebhinekaan Indonesia, tiap film masing-masing berdurasi satu sampai lima menit. Dilanjutkan dengan sebuah film pendek berjudul “Sepanjang Jalan Satu Arah”, sebuah drama berdurasi 16 menit yang bercerita tentang perbedaan pilihan antara Ibu dan Anaknya pada Pemilihan Kepala Daerah Solo di tahun 2015.

Film terakhir yang diputar di malam tersebut adalah “Sexy Killers”. Film tersebut diputar di Kencan Buku Fesek pada tanggal 5 April 2019, sebelum Watchdoc mengunggahnya di akun resmi Youtube mereka pada tanggal 13 April 2019. Penonton yang malam itu hadir di GOR Taman Budaya Gerson Poyk mendapatkan kesempatan pertama menyaksikan dokumenter berdurasi 1 jam 29 menit tersebut, sebelum Sexy Killers menjadi trending topic menjelang Pemilu 2019 kemarin.

Agenda lainnya dari Kencan Buku Fesek adalah lokakarya menulis cerpen dan puisi. Lokakarya ini terlaksana berkat kerja sama Komunitas Leko, Komunitas Dusun Flobamora dan Klub Buku Petra Ruteng. Para peserta yang hadir berasal dari beberapa Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Pertama, dan kalangan umum.

Agenda terakhir yang cukup diminati adalah Lomba Membaca Puisi dan Lomba Mewarnai. Peserta Lomba Puisi merupakan siswa/i Sekolah Menengah Atas. Sedangkan Lomba Mewarnai, diikuti oleh kategori siswa/i Sekolah Dasar.

Meskipun terdapat beberapa kendala, Kencan Buku Fesek selama tiga hari di Auditorium Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang berjalan lancar dan sukses. Di akhir acara, peserta Fesek disuguhi dua pertunjukkan monolog. Monolog pertama berjudul Air, dibawakan oleh Sayyidati Hajar dan Shara Da Costa. Kemudian ditutup dengan monolog kedua berjudul Mantra, oleh Abdy Keraf bersama Anggie Prischilla dan Shara Da Costa.

Agenda selanjutnya yang telah menanti adalah: Kencan Buku Fesek di Kota Kefamenanu, Timor Tengah Utara. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada bulan Mei di Kampus Universitas Timor, Kefamenanu. Sukses untuk kawan-kawan Komunitas Leko! (*)

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *