Menu
Menu

Klub Buku Petra dengan sadar siap mendukung pemerintah dalam hal memberdayakan masyarakat di bidang membaca dan menulis.


Oleh: Ronald Susilo |

Pendiri Klub Buku Petra, Ruteng. Menulis sejumlah artikel kesehatan di berbagai media, kini artikel kesehatan dan tulisan lainnya dapat diakses di opinisehat.com. Penanggung jawab umum bacapetra.co.


Apa itu Klub Buku Petra?

Klub Buku Petra adalah kumpulan orang-orang di Ruteng yang senang ngobrol. Ngobrol tentang buku-buku yang telah, dan yang akan dibaca. Umumnya novel atau kumpulan cerita pendek. Ide membentuknya berawal dari keresahan, kegalauan, serta kesulitan saya secara pribadi dalam mencari teman diskusi untuk ngobrol tentang novel-novel yang telah saya baca.

Berdiskusi dalam sebuah klub buku, di mana para anggotanya membaca novel yang sama, tentunya menghadirkan beragam opini, perspektif, juga memperkaya pengalaman hidup. Tapi jika masing-masing anggota membaca novel yang berbeda, diskusi akan berlangsung sendiri-sendiri tanpa faedah.

Dengan latar belakang para anggotanya yang berbeda-beda, tentu akan sangat seru ketika mendengarkan setiap orang menyampaikan analisa sesuai hasil pembacaannya masing-masing.

Kita tahu bahwa beberapa hasil penelitian menunjukkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Berbagai diskusi dengan para guru dan dosen pun mengamini hasil penelitian tersebut. Di Ruteng, Manggarai, NTT, tempat di mana saya tinggal juga tidak jauh berbeda; minat baca tergolong rendah.

Dengan hadirnya Klub Buku Petra—saya kira ini yang pertama dan masih satu-satunya—di Ruteng, mudah-mudahan virus membaca buku menjangkiti lebih banyak orang seperti aksi virus dengue, penyebab sakit demam berdarah.

Pertemuan Awal

Pemikiran tentang membentuk klub buku ini kemudian saya sampaikan kepada teman-teman yang mempunyai minat dan “kegilaan” yang sama. Kami mulai membuat daftar. Nama-nama orang yang juga suka membaca novel di kota ini. Lalu berkumpul.

Hari Senin, 19 Juni 2013, pertemuan pertama dilaksanakan. Membahas novel berjudul “Petra-Southern Meteor” karya Yos Gerald Lema. Mengapa novel ini yang jadi buku pertama?

Pak Yos, begitu saya menyapanya, adalah seorang wartawan, novelis, dan penulis aktif kolom opini di Pos Kupang. Pak Yos juga adalah pengurus aktif Palang Merah Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tinggal di Kupang. Suatu ketika dia mampir ke Ruteng. Diundang oleh PMI Kabupaten Manggarai untuk menjadi pemateri pada beberapa sesi pertemuan yang berlangsung di Markas PMI di Ruteng.

Kebetulan saya dan Tommy Hikmat—teman dan pendengar yang baik, yang juga adalah salah satu anggota perdana Klub Buku Petra—ikut menjadi peserta dalam pertemuan tersebut. Entah dimulai dari mana diskusi di antara kami bertiga saat itu, yang saya ingat Pak Yos mengatakan begini: “Novel saya baru saja terbit. Nanti akan saya kirimkan 12 eksemplar untuk kawan-kawan di Ruteng diskusikan. Ganti ongkos kirimnya saja. Dari Kupang ke Ruteng.”

Kami menyambut tawaran ini dengan senang hati. Saya dan Tommy kemudian menghubungi kawan-kawan yang ingin terlibat pada diskusi novel Pak Yos tersebut. Kata pertama pada judul novel itu yang juga kemudian disepakati menjadi nama Klub Buku. Sejak pertemuan pertama pada 19 Juni 2013, kami mulai membuat jadwal pertemuan bulanan untuk membahas buku-buku lainnya.

Sebelumnya kami menggunakan Petra Book Club sebagai nama klub ini. Kemudian, kini, memutuskan mengganti kata Book Club menjadi ‘lebih Indonesia’. Klub buku saja. Semua dilakukan berdasarkan kesepakatan.

Buku Apa Saja yang Dibicarakan?

Kami telah bermusyawarah dan bersepakat bahwa novel-novel yang akan dipilih untuk dibaca dan kemudian didiskusikan pada setiap pertemuan adalah novel-novel yang ditulis oleh Penulis Indonesia. Novel-novel terjemahan dan novel remaja tidak kami pilih. Saya ingat. Di masa-masa awal klub buku ini, kami harus rapat tiga sampai empat kali selama dua bulan untuk menentukan kategori novel yang selanjutnya akan menjadi ciri khas dari Klub Buku Petra.

Kemudian diputuskan, kategorinya adalah “novel sastra”. Istilah “sastra” ini sengit dibicarakan. Jika terus diperdebatkan akan memakan banyak waktu dan energi. Beruntung suguhan makanan dan minuman yang lezat di setiap pertemuan, akhirnya mampu menguburkan niat kami untuk terus bergumul dengan pertanyaan: “Apa itu novel sastra?”. Kami menyimpan pertanyaan itu dalam hati dan berharap para anggota lain atau siapa saja yang mempunyai jawabannya, juga menyimpannya dalam hati.

Sudah Berapa Banyak Buku yang Dibahas?

Klub Buku Petra lahir di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kami berniat agar semakin banyak orang di kota ini bisa meluangkan waktu untuk membaca. Paling kurang mampu selesaikan satu buku setiap bulan.

Setelah menghitung-hitung jumlah buku yang pernah kami bahas di Klub Buku Petra, ternyata sudah cukup banyak. 1 bulan 1 buku. Sejak pertengahan tahun 2013 hingga tahun 2018 ada 5 tahun 6 bulan. 5 x 12 buku + 6 buku = 66 buku.

Anda sudah selesai membaca berapa buku hari ini, bulan ini, tahun kemarin, sepanjang masa?

Sejak terbentuk pada tahun 2013, Klub Buku Petra hidup dan terus berproses. Menjadi tempat berdiskusi yang menyenangkan. Setiap bulan para anggota terus bertambah. Kadang juga tak sabar menunggu jadwal diskusi selanjutnya.

Klub Buku Petra Berbadan Hukum, Kenapa Tidak?

Karena semakin bertumbuh atau mungkin karena banyak membaca atau kurang kerjaan, keluarga besar Klub Buku Petra mulai berdiskusi tentang badan hukum. Dengan kata lain, Klub Buku Petra harus menjadi sebuah wadah komunitas yang resmi.

Bersamaan dengan itu, mimpi besar lainnya terus berkelindan. Jika telah resmi berbadan hukum, seharusnya tersedia ruang kreasi yang lebih luas. Menjangkau lebih banyak orang. Maka konsep-konsep kegiatan lainnya pun terbentuk. Di antaranya, perpustakaan bergerak (mobile library), dan media khusus untuk menyiarkan tulisan-tulisan orang-orang di sekitar kami (online), serta asistensi komunitas/kelompok belajar membaca dan menulis di Kota Ruteng. Barangkali ini mimpi yang tampak terlampau ideal. Akan tetapi jika kita berkomitmen dan konsisten menjalaninya, saya yakin, tak ada yang mustahil.

“Menjadi sebuah komunitas yang sah artinya harus memiliki akta,” demikian notaris tempat kami berkonsultasi menjelaskan. “Akta adalah surat tanda bukti berisi pernyataan (keterangan, pengakuan, keputusan, dan sebagainya) tentang peristiwa hukum yang dibuat menurut peraturan yang berlaku, disaksikan dan disahkan oleh pejabat resmi.” Yang ini saya kutip dari KBBI.

Sang Notaris juga menjelaskan, tentang perbedaan lembaga dan yayasan, tentang harus adanya Surat Keputusan Resmi dari Kementrian Hukum dan Ham serta masih banyak hal penting lainnya yang sangat asing di telinga kami. Singkat cerita, kami memilih bentuk yayasan untuk komunitas ini. Surat Keputusan dan Akta Notaris sudah kami tanda tangani tanggal 8 Maret 2019 yang lalu.

Tugas berikutnya adalah mendaftarkan nama yayasan ke instansi pemerintah agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. Instansi pemerintah yang dimaksud adalah Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai. Berbagai proses telah dilalui. Pihak dinas telah melakukan visitasi ke sekretariat, kantor, atau lebih tepatnya perpustakaan Klub Buku Petra. Mengambil beberapa foto lokasi, juga melakukan wawancara untuk keperluan penerbitan Surat Izin Operasional Klub Buku Petra. Jika urusan administrasi ini selesai, kami akan disibukkan dengan membuat rancangan kegiatan-kegiatan luar biasa lainnya di waktu yang akan datang. Sungguh menyenangkan.

Mengapa Klub Buku Petra (Harus) Berbadan Hukum?

Saya teringat kisah heboh di negeri ini saat baru saja merdeka. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) berseteru dengan para seniman yang menamakan perkumpulan mereka “Angkatan 45”. Lekra saat itu adalah lembaga resmi negara. Sedangkan Angkatan 45 ‘hanyalah’ sebuah komunitas para seniman yang sehobi, sealiran, sepikiran.

Lekra dengan mudahnya menuduh, menyindir, menyerang, bahkan akhirnya memaksa membubarkan Angkatan 45. Angkatan 45 dalam posisi lemah. Mereka bukan komunitas resmi, tidak berbadan hukum, yang artinya tidak diakui oleh negara.

Tentunya perseteruan antara Lekra versus Angkatan 45 yang adalah ibu kandung Manifes Kebudayaan tidaklah sesederhana itu. Tetapi, salah satu hasil bacaan saya tentang polemik tersebut menjadi seperti itu.

Tujuan mengurus badan hukum serta izin resmi dinas terkait atas nama Yayasan Klub Buku Petra adalah agar kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan tidak melanggar aturan yang berlaku di Indonesia. Klub Buku Petra dengan sadar siap mendukung pemerintah dalam hal memberdayakan masyarakat di bidang membaca dan menulis.

Kami mengambil jalur non-formal. Tujuannya tetap sama. Semakin banyak orang membaca maka semakin banyak orang yang menulis dengan baik. Semakin banyak penulis, semakin meningkat taraf pendidikan masyarakat kita. Pendidikan makin tinggi, tentunya akan tercipta pertumbuhan ekonomi yang baik. Demi kesejahteraan bangsa Indonesia.

Bagaimana Klub Buku Petra Berproses?

Kegiatan utama Klub Buku Petra sejak pertengahan tahun 2013 silam adalah mendiskusikan novel. Sekali sebulan berkumpul untuk membahas satu judul novel yang sama. Yang telah kami baca. Menyampaikan hasil pembacaan kami masing-masing.

Selama enam bulan pertama, Bincang Buku Klub Buku Petra berlangsung di Markas PMI Kabupaten Manggarai. Setelahnya tempat diskusi mulai berpindah dari rumah ke rumah para anggota. Tuan rumah wajib menyediakan makanan dan minuman sebagai teman diskusi. Kami pasti akan kelelahan jika berdiskusi tanpa adanya asupan yang menggugah selera.

Tahun ini Klub Buku Petra akan memasuki usianya yang keenam. Dengan bertambah sibuknya para anggota, kami bersepakat untuk menggunakan jasa full time administrator. Sebut saja, mempekerjakan seorang Admin. Bertugas memesan buku, mengatur jadwal bincang buku, menyiapkan tempat diskusi yang nyaman dan bisa menampung banyak orang, serta daftar panjang tugas lainnya yang berkaitan dengan program yayasan. Maria Pankratia terpilih untuk tugas mulia ini.

Baca Petra Dot Co

Dengan hadirnya seorang Admin, rencana-rencana membesarkan klub buku ini bermunculan. Mulai dari pengurusan akta tadi, membuat dan mengelola akun resmi media sosial Klub Buku Petra (facebook, instagram, twitter), melaksanakan peminjaman buku secara online di Pustaka Bergerak Klub Buku Petra, dan akhirnya, yang paling berkesan, pembuatan website ini.

Website bernama bacapetra.co ini mulai dapat diakses pada tanggal 7 April 2019. Grand launching-nya sendiri akan terjadi pada 27 April 2019 mendatang, bersamaan dengan (kami menyebutnya) syukuran atas terbentuknya Yayasan Klub Buku Petra.

Selain kegiatan-kegiatan komunitas yang akan terus kami kabarkan dari Ruteng, di website ini tersedia cerpen, puisi, ulasan, liputan acara, serta konten menarik lainnya, yang kami terima dari penulis/penyair di seluruh Indonesia. Tentu saja semuanya telah melewati proses kurasi yang ketat oleh para redaktur. Untuk beberapa konten, kami menyediakan honor bagi penulis-penulis yang tulisannya ditayangkan. Jika bersedia, kawan-kawan tentu saja bisa ikut berpartisipasi dengan mengirimkan tulisan, untuk selanjutnya dikurasi oleh redaktur bacapetra.co dan disiarkan di sini.

Honor yang diberikan mungkin masih terbilang kecil. Akan tetapi, tujuan dari pemberian honor ini adalah sebagai bentuk penghargaan kepada para penulis yang telah menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya demi menghasilkan karya yang layak untuk dinikmati banyak orang. Selain tentu saja, dengan adanya pemberian honor ini diharapkan mampu merangsang para penulis. Khususnya penulis-penulis Nusa Tenggara Timur. Untuk terus bergiat dalam memacu kreativitas menghasilkan tulisan-tulisan bermutu.

Tulisan-tulisan bermutu biasanya datang dari kebiasaan membaca yang tekun. Tentu saja materi bacaan juga haruslah yang berkualitas. Demikian keyakinan saya.

Di masa yang akan datang, saya dan semua anggota Klub Buku Petra sangat berharap, animo masyarakat NTT dalam bidang membaca dan menulis semakin bertumbuh dan berbuah lebih banyak lagi. Semoga. (*)

Bagi tulisan ini via:

2 thoughts on “Klub Buku Petra dan Mimpi-Mimpi yang Terus Tumbuh”

  1. Mama Lila says:

    Keren dan profesional. Selamat utk klub buku petra. Sy turut berbangfa. Saya pernah diajak teman utk gabung beberapa thn lalu tetapi saat itu sy msh pemulihan insomnia ken serangan panik. Sy takut keluar mlm hari . Bagaimanapun sebagai orang yg adiktif dg baca tulis saya turut berbangga. Smoga semakn maju sukses dan memberi inspirasi bagi masy luas

    1. Terima kasih untuk dukungannya, Mama Lila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *