Menu
Menu

tetapi gambar-gambarmu/ adalah taktik pascakolonial/ yang menyengsarakan


Oleh: Royyan Julian |

Belajar di Universitas Negeri Malang dan Universitas Gadjah Mada. Bukunya antara lain: “Sepotong Rindu dari Langit Pleiades” (2011), “Tandak” (2015), “Metafora Ricoeurian dalam Sastra” (2016), “Tanjung Kemarau” (2017), dan “Biografi Tubuh Nabi” (2017). Diundang sebagai penulis emerging di Ubud Writers & Readers Festival 2016. Tahun 2019 menerima penghargaan sastra dari Gubernur Jawa Timur. Saat ini tinggal di Pamekasan, bergiat di Universitas Madura dan Sivitas Kotheka.


Di Ranjang Pascakolonial

Aku tak mau ranjangku
menjadi kota perbudakan.

Tak ada tubuhmu di kamar ini
tetapi gambar-gambarmu
adalah taktik pascakolonial
yang menyengsarakan.

Setiap kali memasukinya
aku menjelma hamba
yang bergegas datang
ketika ingatan-ingatan tentangmu
berserakan di lantai, dinding, langit-langit
dan memanggil-manggil namaku.

Mari kita usaikan penjajahan ini
dengan perjanjian-perjanjian
dengan pembagian wilayah
di potongan tubuhku manakah
kau boleh membangun koloni
dan mendirikan kekaisaran.

Pamekasan, 2019

 

KASTRASI

“Jangan menulis puisi
pada jadwal kita bercinta,” katamu.

Puisi telah lama menjelma hukum Ayah
yang memisahkanku darimu.

Padahal aku tempat berpulang.
Ragaku malih rupa seorang ibu
dan kebun yang kaudamba.

Di kebun itu dahulu seorang perempuan
bercakap dengan Ular
dan bayangannya sendiri yang berbisik,
“Kau butuh negara lain, Sayangku.
Negara yang bukan diciptakan
dari debu, bahasa, dan tulang rusuk pria.”

Tetapi kini jasad betinaku ditatah
dengan kata-kata dan wahyu-wahyu.

Tubuh ini begitu asing
dan menjadi visi sebuah bangsa.

Pamekasan, 2019

 

EPIFANI

Kau datang dari masa lalu
berhujah dalam bahasa ibu yang lancar
tetapi di lidahmu kuletakkan
bahasa nasional yang kejam.

Kau terbata-bata
mengucapkan rindumu kepadaku
sebab kata-kata telah takluk
di bawah kekalahan sejarah
yang ditatah di keningmu.

Lalu kau menangis di hadapanku
mengucurkan air mata yang mengalir
dari anarkisme masa silam.

Dengan apa kutebus dosa-dosaku?

“Dengan duka yang kaupendam
di dadamu.”

Suatu hari duka itu beranak-pinak
dan menjadi kudeta
yang tak pernah kuharapkan
yang tak mungkin kami inginkan.

Pamekasan, 2019

 

STIGMATA

Kau mendesis di tengkukku,
“Masuklah, Sayang, ke dalam lukaku.”

Aku pun mengintip celah stigmata
yang memanjang seperti cakrawala
di dada kirimu.

Di sana matahari yang tenggelam
telah mati pada masa silam

dan misteri menyusut.

Suatu saat kita mengunjungi kota itu
mencicipi buah pohon kata-kata
yang akan membuka kelopak mata.

Badai mungkin terlambat tiba
tetapi Tuhan tergesa-gesa memetik
daun ara untuk menutupi rahasia
yang pernah kaubisikkan kepadaku.

Pamekasan, 2019


Foto: Kaka Ited

Bagikan artikel ini ke:

1 thought on “Puisi-Puisi Royyan Julian – Di Ranjang Pascakolonial”

  1. Gratia says:

    Suka yang stigmata.. Keren sekali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *