Menu
Menu

Penemu donat sesungguhnya tak lain seorang koki roti bernama Nosnah Yrogreg.


Oleh: Surya Gemilang |

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Buku pertamanya adalah antologi cerpen tunggal berjudul “Mengejar Bintang Jatuh” (2015). Kumpulan puisi “Cara Mencintai Monster” (2017) adalah buku keduanya. Buku ketiganya, berupa kumpulan puisi juga, berjudul “Mencicipi Kematian” (2018). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari sepuluh antologi bersama dan sejumlah media massa, seperti: Kompas, Suara NTB, Bali Post, Riau Pos, Rakyat Sumbar, Medan Bisnis, Basabasi.co, Litera, Tatkala.co, dan lain-lain.


Hanson Gregory, baik yang seorang kapten kapal asal Denmark ataupun seorang anak laki-laki berusia 15 tahun asal Maine, bukanlah penemu donat yang sesungguhnya.

Penemu donat sesungguhnya tak lain seorang koki roti bernama Nosnah Yrogreg, pria berusia 35 tahun yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Crocket. Ia adalah satu-satunya koki di Toko Roti Tekcroc, satu-satunya toko roti di kota kecil itu.

Semua orang di Crocket mengakui bahwa roti buatan Nosnah Yrogreg rasanya luar biasa. Bahkan, kata si Pemilik Tekcroc, “Sejak adonan pun sudah luar biasa.” Walaupun, mesti diakui, bentuk dari roti-roti yang dibuatnya biasa-biasa saja: seperti donat—yang belum ditemukan di masa itu—pada umumnya, tapi tanpa lubang di bagian tengah.

Nosnah Yrogreg dan Toko Roti Tekcroc semakin dikenal masyarakat luas setelah seorang aktor terkenal bernama Ghuda memuji roti buatannya di hadapan para wartawan; berita soal koki roti dan toko roti itu pun sempat heboh di koran-koran lokal selama beberapa minggu, sama hebohnya dengan berita kecelakaan yang dialami Ghuda sebulan lalu. (Tambahan informasi: kecelakaan itu menyebabkan Ghuda kehilangan tangan kiri dan keempat jari di tangan kanan—yang tersisa hanya telunjuk. Bagaimanapun, kecacatan tak mengganggu kariernya sama sekali.)

Di lain sisi, si Pemilik Tekcroc dan si Koki Roti jatuh cinta pada seorang wanita yang sama: Dona, penjaga kasir di toko roti itu. Belum ada seorang pun yang mengetahui perasaan si Pemilik Tekcroc terhadap kasirnya, tapi setiap orang Crocket tahu bahwa si Koki Roti jatuh cinta pada Dona karena mereka berdua berpacaran.

“Nosnah Yrogreg selalu memperlakukanku selayaknya adonan roti,” begitulah kata Dona. Tentu maksud dari kalimat itu adalah si Koki Roti selalu memperlakukannya secara luar biasa.

Si Pemilik Tekcroc tentu cemburu. Seandainya Nosnah Yrogreg tidak luar biasa, ia pasti sudah memecatnya. Toh, mungkin saja nanti hubungan mereka kandas, pikirnya, sekadar menghibur diri.

***

Dona menolak ajakan Nosnah Yrogreg untuk bersetubuh saat ia, pada hari libur, mampir ke kamar sewaan tempat si Koki Roti tinggal. “Bersabarlah. Toh, sebentar lagi kita akan menikah,” tambah Dona, agar Nosnah Yrogreg tak terlalu masam.

Ketika Dona pulang, segeralah Nosnah Yrogreg masturbasi, sambil membayangkan memperlakukan wanita itu selayaknya adonan roti.

***

Tak ada yang tahu soal rencana pernikahan Nosnah Yrogreg dan Dona, sampai ketika mereka menyebarkan undangan pernikahan tepat seminggu sebelum acara itu diselenggarakan. Bagi orang-orang Crocket, hadirnya undangan pernikahan itu terbilang mendadak. Tapi tak dianggap masalah. Yang menganggapnya sebagai masalah hanyalah si Pemilik Tekcroc, sebab menurutnya tak mudah untuk mencari cara membatalkan pernikahan tersebut dalam satu minggu.

***

Tak ada yang tahu pasti bagaimana bisa seminggu kemudian Dona malah menikah dengan si Pemilik Tekcroc—undangan pernikahan mereka baru disebarkan sehari sebelum acara itu berlangsung.

Berikut saya jabarkan beberapa versi cerita—yang tak terlalu jelas sumbernya—mengenai alasan Dona meninggalkan Nosnah Yrogreg dan menikah dengan si Pemilik Tekcroc:

  1. Dona memergoki Nosnah Yrogreg berduaan dengan seorang pelacur di suatu tempat, sehingga wanita itu memutuskan untuk meninggalkannya, lantas langsung dilamar oleh si Pemilik Tekcroc;
  2. Nosnah Yrogreg memaksa Dona untuk bersetubuh, sehingga wanita itu merasa terancam dan meninggalkannya, lantas langsung dilamar oleh si Pemilik Tekcroc;
  3. Dona diancam sedemikian rupa oleh si Pemilik Tekcroc supaya meninggalkan Nosnah Yrogreg dan menikah dengannya;
  4. Si Pemilik Tekcroc membayar seorang penyihir untuk membuat Dona jatuh cinta pada dirinya seketika.

***

Semenjak Dona menjadi istri si Pemilik Tekcroc, posisinya sebagai kasir digantikan oleh seorang lelaki muda. Bagaimanapun, Dona selalu datang ke Tekcroc saban buka untuk menemani suaminya—padahal sebelumnya sang suami selalu bekerja sendirian. Dona selalu berlagak bagai tak mengenal Nosnah Yrogreg setiap mereka berjumpa di toko roti itu, dan tentu saja Nosnah Yrogreg benar-benar sakit hati karenanya.

Suatu hari, sesudah si Koki Roti menyelesaikan belasan adonan roti—tapi belum memasukkannya ke pemanggang—tiba-tiba ia mendengar desahan Dona dari ruang kerja si Pemilik Tekcroc—apakah desahan tersebut hanya terdengar sampai dapur, atau mencapai area kasir, kita tak tahu. Karena suatu dorongan, si Koki Roti lalu melangkah mendekati pintu ruang kerja si Pemilik Tekcroc dan menempelkan telinganya di sana. Desahan Dona pun terdengar jauh lebih jelas, jauh lebih menggoda.

Di sela-sela desahan Dona, didengarnya si Pemilik Tekcroc berkata, “Dona, kau tahu seberapa enak dirimu?”

“Tidak tahu,” balas Dona dengan manja.

“Enak dirimu luar biasa. Seperti roti buatan Nosnah Yrogreg.”

Air mata si Koki Roti langsunglah bertumpahan, dan ia cepat-cepat melangkah-tanpa-suara kembali ke dapur, di mana desahan Dona masih terdengar. Ketimbang merasa semakin sakit hati, si Koki Roti memutuskan untuk benar-benar fokus bekerja; ia segera memasukkan adonan-adonan roti yang sudah jadi ke pemanggang. Namun, tepat setelah menyentuh adonan roti terakhir, sebelum memasukkannya ke pemanggang yang pintunya masih terbuka, terdengarlah desahan Dona sedikit bertambah keras. Dan, desahan itu mendadak membuat Nosnah Yrogreg terangsang hebat.

Enak dirimu luar biasa. Seperti roti buatan Nosnah Yrogreg, kalimat itu melintas di kepalanya.

Si Koki Roti pun menurunkan celana, menusuk adonan roti di tangannya dengan kelamin yang tegang, hingga bagian tengah adonan itu berlubang! Ia lalu mengeluarkan kelaminnya dari lubang adonan roti, memasukkannya lagi, mengeluarkannya lagi, memasukkannya lagi, mengeluarkannya lagi, dan begitulah terus selama beberapa saat, secara perlahan-lahan, seraya menikmati desahan Dona, seraya membayangkan dirinyalah yang membuat wanita itu mendesah.

“Dona …. Dona ….” Nosnah Yrogreg mulai mendesah pula.

“Nosnah Yrogreg, kenapa rotinya lama sekali!?” tiba-tiba terdengar si Lelaki Kasir berkata, dibarengi suara langkah kakinya yang mendekati dapur.

Si Koki Roti yang terkejut dan panik pun cepat-cepat melepaskan adonan roti itu dari kelaminnya, memasukkannya ke pemanggang, dan menaikkan celana. Tepat sedetik kemudian si Lelaki Kasir membuka pintu dapur, dan Nosnah Yrogreg mengatakan, “Maaf, tanganku terkilir tadi.”

“Kenapa matamu merah, Nosnah Yrogreg? Kau seperti habis menangis.”

“Aku baik-baik saja,” balasnya, sambil menutup pintu pemanggang dan menyalakannya.

***

“Kenapa bagian tengah roti ini berlubang?” tanya Ghuda, ketika si Pelayan—yang tadi membelikan roti itu di Tekcroc—akan menyuapinya roti berlubang tersebut.

“Entahlah, Tuan. Hanya kebetulan, mungkin?”

Ghuda terdiam sejenak, memikirkan sesuatu.

“Apa Tuan tidak mau memakan roti yang berlubang ini?”

“Ah! Aku paham!” tiba-tiba Ghuda berseru senang. Dengan gerakan cepat, ia memasukkan telunjuk kanannya ke lubang di bagian tengah roti, dan menarik-lepas roti itu dari tangan si Pelayan. “Pasti lubang di roti ini dibuat agar orang-orang cacat seperti aku lebih mudah memegangnya!”

Si Pelayan terbengong-bengong. Mungkin penjaga kasir Tekcroc sudah mengenal wajahku dan yakin bahwa roti yang kubeli adalah untuk Tuan Ghuda, batinnya.

“Roti ini sungguh luar biasa!” Ghuda berseru lagi. “Sungguh roti yang bentuknya bersahabat dengan kecacatanku! Hei, panggilkan para wartawan sekarang juga! Sebagai ucapan terima kasihku kepada si Koki Roti dan Tekcroc, aku ingin roti berlubang ini diberitakan di tiap koran lokal!” (*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *