Menu
Menu

Novel “Semua Ikan di Langit” harus dibaca dengan pelan, tidak bisa dibaca dan diselesaikan begitu saja. Mesti dibaca berulang-ulang dan dipahami, kemudian menjadi bahan refleksi.


Oleh: Maria Pankratia |

Perempuan Taurus. Menyukai segala jenis minuman dan makanan yang membuatnya lekas tidur, ketimbang dibayang-bayangi masa lalu. Temui Maria di Instagram/Facebook: Maria Pankratia.


Bagaimana membaca sebuah kisah dan memahami bahwa tokoh utamanya adalah sebuah bus?

Juga ada seorang anak kecil yang dipanggil Beliau? Belum lagi, maklhuk hidup yang bicara melalui kaki-kaki mereka? Sebenarnya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie mau omong apa ini?

Kebingungan-kebingungan ini serupa pusaran air. Berputar di antara para pembaca Klub Buku Petra yang hadir pada bincang buku bulan Juni kemarin. Tanpa pemantik, yang berhalangan hadir dan hanya menitipkan hasil pembacaannya, Bincang Buku Klub Buku Petra edisi keenam berlangsung pada hari Kamis, 20 Juni 2019. Di LG Corner Ruteng.

Tommy Hikmat selaku pemantik mengakui, ia menemukan kesulitan ketika berusaha menyingkap novel Ziggy ini.

Sulitnya Membaca Semua Ikan di Langit

Singkapan pertama, sebuah keterusterangan, bahwa membaca novel Semua Ikan di Langit tidak membuat kita melewati lembar demi lembar dengan mudah. Kita bahkan harus membacanya berulang-ulang demi memahami ikan yang hidup di langit. Tommy mengakui, novel Ziggy ini mengingatkannya kepada kerumitan yang sama ketika mencoba memahami novel Afrizal Malna, Kepada Apakah?.

Tommy kemudian mencoba mencari testimoni-testimoni atas karya-karya Ziggy sebelumnya di internet. Ia bertemu sebuah pendapat tentang novel terakhir Ziggy ini: Semua Ikan di Langit akan menjadi sangat menarik dan mudah diselami jika kita telah membaca atau mengikuti novel-novel Ziggy sebelumnya. Untuk dua karya Ziggy yang sudah Tommy baca (Di Tanah Lada dan Semua Ikan di Langit) Tommy tetap merasa masih belum mampu memahami cerita Ziggy. Barangkali harus membaca semua buku, yang totalnya sudah 27 itu.

Kesan yang sama, disampaikan juga oleh Armin Bell dan pembaca lainnya yang malam itu hadir mengikuti bincang buku.

Armin berpendapat, Semua Ikan di Langit adalah salah satu bacaan yang bisa ditinggal tanpa dikejar tanggung jawab untuk melanjutkannya ke bab berikut. Kesulitan yang sama pernah dialami ketika membaca “Kepada Apakah” dan “Semusim Semusim Lagi.”

“Buku ini, jika disodorkan bukan karena kewajiban untuk membaca, kita tentu saja sudah akan meninggalkannya. Membaca Semua Ikan di Langit bisa jadi  memungkinkan kita dapat lebih mudah mengakses karya-karya yang bagus seperti puisi dan cerpen sejenis. Tetapi, novel ini tidak disarankan kepada orang yang baru memulai kegemaran membaca fiksi,” tutur Armin.

Singkapan kedua terhadap Semua Ikan di Langit, menurut Tommy, Ziggy tetap mengusung tema anak, meski anak bukanlah tokoh utama dalam cerita ini.

Sejumlah kegelisahan, kerisauan terhadap dunia anak, bisa kita lihat melalui boneka-boneka yang dikirim untuk anak-anak yang kesepian. Juga menyinggung tentang anak jalanan (hal.38). Kemudian ada kisah anak-anak yang terlempar dari ayunan (hal. 70), kekerasan orang tua terhadap anak, tema yang juga kita temukan pada Di Tanah Lada,” ungkap Tommy.

Namun menurutnya, berbeda dengan Di Tanah Lada, pada Semua Ikan di Langit, anak-anak mendapat tempat tersendiri. Seperti dimuliakan, diagungkan, di-esa-kan sekaligus otokritik terhadap peran anak tersebut (bdk. hal. 12). Otokritik di sini sekaligus menjadi klimaks ketika Si Membingungkan mati dan digantikan oleh seorang anak lelaki juga, yang kemudian melawan bahkan menghancurkan semua karya dan para pengikut setia Beliau.

Di halaman 62 sebuah ungkapan menarik diucapkan oleh Si Bus: “Tapi, dalam hal seseorang yang begitu ajaib seperti Beliau, perasaan itu punya akibat lain. Ini yang saya tahu merupakan akibat dari perasaan tertentu pada Beliau: Kebahagiaan Beliau melahirkan Bintang. Kesedihan Beliau membunuh keajaiban. Kemarahan Beliau berakibat fatal.”

Menurut Tommy, tiga kalimat di atas adalah kunci dari cerita yang diolah sedemikian rupa oleh Ziggy, sehingga kita bisa melihat bahwa sesungguhnya dari bab ke bab dalam novel ini adalah penggalan-penggalan kisah kebahagiaan dan kesedihan, juga kemarahan yang dialami oleh Beliau, Bus, Busted, Nad, ikan julung-julung dan tokoh lainnya. Adapun kisah-kisah yang diceritakan pada setiap bab yang berbeda pada akhirnya menjadi jawaban untuk pencariaan Si Bus atas Keagungan, Ke-esa-an Beliau – Si Anak Kecil yang tidak pernah bicara.

Singkapan ketiga oleh Tommy, ketika tiba pada bagian Pohon Chinar. Menurut Tommy, Pohon Chinar, pohon pengetahuan, pohon kebijaksanaan, dan kisah anak-anaknya adalah pesan-pesan yang coba disampaikan Ziggy, yang kemudian ia simpulkan sebagai judul resepsi pembacaannya “DIA DALAM TUBUH ANAK KECIL.”

Mengutip salah satu ayat Kitab Suci, menurut Tommy, ada bagian yang sangat mirip yang ditemukan di dalam novel ini: “Beliau” hadir dalam mereka yang miskin, berbeban berat, teraniaya, dipenjara, dan telantar. Di halaman 131, Chinar menyampaikan hal ini kepada Si Bus: “Kadang-kadang, Beliau membiarkan makluk hidup yang berada di sekitar benda mati membagi sedikit jiwanya ke benda mati. Kalau mereka cukup peduli dengan si benda mati, tentu saja.”

Saya sendiri sangat tertarik dengan bagian ini. Saya membaca Semua Ikan di Langit ini tiga kali – karena mengalami kesulitan di awal dan kemudian menikmatinya pada kali kedua dengan memperlambat tempo membaca – bagian paling menyenangkan dari Semua Ikan di Langit adalah ketika Ziggy menggambarkan dengan sangat indah hubungan antara manusia dan barang-barang kesayangannya.

Ada juga benda tidak hidup yang bisa mencintai maklhuk hidup sedemikian rupa (hal. 189). Kita kadang tidak menyadari bahwa barang-barang tersebut menjadi bagian dari kita, karena sudah terlalu lama bersama. Kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja hanya karena itu adalah benda mati, sebagian nyawa kita mungkin sudah terjebak di dalamnya.

Saya berpandangan bahwa ini novel yang bagus dan sepertinya disediakan khusus bagi mereka yang memiliki niat dan ketekunan dalam menyelesaikannya. Ziggy memiliki kemampuan imajinasi yang terpelihara dengan baik, sebab imajinasi-imajinasi yang ia sampaikan di dalam Semua Ikan di Langit adalah bukan hal mustahil bagi anak-anak usia bermain.

Kita semua mungkin pernah ada di usia ketika sering memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal dan dianggap gila oleh orang-orang di sekitar kita, tetapi ketika itu dituliskan, seperti yang telah dilakukan Ziggy, semua begitu absurd. Akan tetapi dalam waktu bersamaan menjadi jauh lebih menarik dan reflektif.

Hal reflektif tersebut disampaikan oleh Cici Ndiwa yang awalnya cukup susah mengikuti alur cerita. Cici kemudian menemukan keunikan pada bio penulis di halaman terakhir.

Ziggy menulis bahwa ia tidak menyukai kecoak, kucing dan cicak. Namun, di dalam cerita, penulis justru menempatkan binatang-binatang tersebut sebagai tokoh utama – penulis seperti sedang berusaha menyelamatkan hal-hal yang tidak ia sukai tersebut melalui ceritanya. “Pada beberapa bagian, ceritanya menjadi sangat menarik, seperti imajinasinya akan ikan julung-julung yang terbang di langit, kamar paling berantakan dan gaun dari kulit bawang putih,” jelas Cici.

Kesulitan-kesulitan mengakses Semua Ikan di Langit juga disampaikan oleh Febhy Irene, Febry Djenadut, dan Yoan Lambo yang ikut hadir pada bincang buku malam itu. Bagi Febhy, sampul buku dan ilustrasinya sangat menjanjikan. Sayangnya, cerita baru menjadi sedikit masuk akal setelah tiba di halaman dua puluhan.

Lain lagi dengan pendapat yang datang dari Febry. Ia justru baru bisa menikmati kisah ini ketika tiba pada bagian ‘kamar paling berantakan di dunia’. Sementara bagi Yoan, kisah-kisah dalam novel ini lebih seperti kumpulan cerpen, setiap bagian memiliki ceritanya masing-masing. Semua Ikan di Langit juga mengingatkan Yoan pada Butterfly Effects.

Hal lain yang juga bisa kita temukan dari novel ini disampaikan oleh Tommy Hikmat dalam resepsi pembacaannya. Maraknya fenomena penyebaran hoax di zaman sekarang, mestilah membuat kita lebih hati-hati. Ada baiknya kita memilah atau tidak menelan begitu saja berita yang beredar. Ziggy menyampaikan pesan itu pada halaman 219, sebagaimana si jahanam menghasut sang perempuan agar menjadi wanita yang cantik dengan mengorbankan hal-hal indah di sekitarnya, seperti pada kisah Taman Tengkorak.

Kenapa Kita Perlu Membaca Semua Ikan di Langit?

Penanggung jawab umum bacapetra.co, Ronald Susilo kemudian memaparkan alasan memilih novel Semua Ikan di Langit untuk agenda Bincang Buku Petra.

Pertama, pembaca memang harus terbiasa untuk berpikir jauh dari sederhana dan tidak mengharapkan cerita berjalan sebagaimana yang diinginkannya. Kedua, Ziggy memiliki kemampuan berbahasa Indonesia di atas rata-rata. Ia menggunakannya dengan sangat baik di semua tulisannya, dan hal tersebut menjadi penting bagi para pembaca.

apa yang hendak disampaikan semua ikan di langit


Meski demikian, menurutnya, setelah selesai membaca novel ini, tidak ada yang tersisa. “Semua lewat begitu saja. Novel ini harus dibaca dengan pelan, tidak bisa dibaca dan diselesaikan begitu saja. Mesti dibaca berulang-ulang dan dipahami kemudian menjadi bahan refleksi. Sepuluh tahun lagi, mungkin kita akan menganggap bahwa ini merupakan karya yang luar biasa dan kita bangga sebab sudah pernah membacanya,” tuturnya.

Malam itu, peserta Bincang Buku Petra memutuskan memberi tiga bintang untuk Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Bincang buku berikutnya akan dilaksanakan pada Kamis, 25 Juli 2019 di LG Corner Ruteng, membahas 960 halaman Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyub. (*)


Foto: Kaka Ited

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *