Menu
Menu

Dalam “Kukila”, Aan Mansyur menampilkan cerita-cerita biasa, sederhana, namun unik, menyenangkan, dan sarat makna.


Oleh: Kristina Kurniati |

Tinggal di Ruteng. Menyukai matematika dan anak-anak. Senang membaca saat duduk di bangku kuliah dan menyesal karena terlambat memulainya. Novel pertama yang berhasil dibaca tuntas dan membuatnya jatuh cinta pada kegiatan membaca adalah “Sang Alkemis” karya Paulo Coelho.


Identitas Buku

Judul: Kukila
Pengarang: Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012
Halaman: 192 halaman

***

Banyak hal aneh, yang sulit diterima akal sehat, yang terjadi di bawah kolong langit. Peristiwa-peristiwa aneh ini kerap dipandang negatif. Kalaupun diterima, itu karena orang-orang tidak ingin ambil pusing.

Dalam Kukila—satu dari 16 cerpen dalam buku ini, peristiwa tidak masuk akal, aneh, dan sulit diterima ini dengan berani diangkat dan diceritakan dengan apik, membuat pembaca seperti saya menjadi sangat terkejut oleh kejadian-demi kejadian yang dipaparkan Aan Mansyur.

Tentang “Kukila”

Cerpen ini berkisah tentang cinta segitiga. Antara Kukila, Pilang, dan Rusdi. Rusdi, suami Kukila, adalah seorang gay. Rusdi menjadikan perasaan cintanya pada Pilang (mantan kekasih Kukila) sebagai alasannya menikahi Kukila, di samping alasan ketaatan pada amanat orang tua.

Demi menyembunyikan sesuatu yang oleh orang lain akan dianggap sebagai keanehan, tak jarang orang-orang mengambil keputusan yang juga terasa sama anehnya; mengorbankan kebahagiaan sendiri, melukai perasaan sendiri.

Hal seperti itulah yang dilakukan Rusdi. Ia meminta Pilang agar mau bersetubuh dengan Kukila, supaya istrinya itu hamil, sehingga keluarga mereka senang mendapati kenyataan bahwa Rusdi toh mampu memiliki keturunan sesuai harapan mereka. Rusdi sendiri tahu bahwa Kukila dan Pilang adalah sepasang mantan kekasih. Apa yang diminta Rusdi tentu saja akan membangkitkan kembali cinta di antara mereka.

Yang Diajarkan Kukila

“Kukila” adalah yang paling saya sukai dari 16 cerita dalam kumpulan cerpen Aan Mansyur ini. Kemampuan ketelitian pembaca diasah untuk dapat membedakan cerita yang sungguh terjadi dengan cerita yang ditulis Kukila untuk menghibur dirinya sendiri. Saya sendiri kesulitan mengatasi hal ini, mungkin karena kurang membaca cerita-cerita serupa.

Aan Mansyur dalam “Kukila” telah mengajarkan beberapa hal bagi saya. Pertama, kita perlu menghibur diri sendiri ketika kepahitan hidup datang menghampiri. Ketika kita kesepian dan tidak menemukan teman untuk berbagi cerita, seperti Kukila, kita bisa menulis perasaan dan pikiran kita itu di dalam buku harian atau surat.

Buku harian dapat menjadi teman yang mampu mendengar kita tanpa menghakimi, juga tanpa solusi tetapi membuat kita merasa lebih baik.

Kedua, bagaimanapun, kita harus tetap bisa menerima setiap kenyataan hidup, seburuk apa pun itu. Kita tidak boleh berhenti dalam mencari penghiburan dengan hanya menulis kisah-kisah imajinatif yang sesungguhnya kita inginkan, tanpa mampu menerima kenyataan yang sebenarnya.

Kebun Kelapa di Atas Kepala

Cerita lain yang juga menggugah saya adalah “Kebun Kelapa di Atas Kepala”. Judulnya telah memantik rasa penasaran. Seperti apa kebun kelapa di atas kepala itu? Aan mampu mengangkat cerita-cerita biasa, sederhana, namun unik, menyenangkan, dan sarat makna.

Kebun kelapa di atas kepala nyatanya adalah model rambut seperti bentuk sabut kelapa yang sudah dibersihkan namun sedikit dibiarkan ada dan memanjang, biasanya untuk diikat dengan kelapa lain. Model rambut ini, meski sangat tidak disukai, disengaja demi menolong Tante Mare, seseorang yang ternyata sangat dekat dengan Ibu dari tokoh utama cerita ini.

Tante Mare tidak memiliki kemampuan apa pun selain menjaga kebun kakao milik keluarga tokoh utama dan menerima kepercayaan Ibu tokoh utama untuk menggunting rambut anak-anaknya. Pekerjaan memotong rambut ini memberikan alasan yang cukup bagi sang Ibu untuk mengupah Tante Mare. Upah dari hasil guntingan rambut mirip kelapa ini, telah berhasil membantu Tante Mare membiayai anak-anaknya sekolah.

Begitulah. Hal yang sangat menjengkelkan, seperti potongan rambut yang itu-itu saja, karena kerelaan dan pengertian, telah berhasil menolong seseorang untuk bisa hidup dan bahkan membiayai anak-anaknya bersekolah, menggapai cita-cita.

Kerelaan dan pengertian sangatlah dibutuhkan ketika kita hendak menolong sesama. Di dalamnya tersirat pengorbanan akan hal-hal yang kita sukai: kerelaan untuk memberi dan sikap empati untuk bisa merasakan kesulitan sesama.

Ketika kita melihat pemandangan aneh di sekitar kita, tidaklah bijaksana jika kita langsung menghakimi tanpa mengetahui kenapa itu terjadi. Apa yang melatari semua itu sampai seperti itu. Untuk suatu tujuan yang baik, dengan cara yang benar, keanehan yang terjadi akan menuai buah-buah kebaikan pula. (*)


Kristina Kurniati yang akrab disapa Rini adalah anggota Perpustakaan Bergerak Klub Buku Petra, Ruteng. Informasi tentang salah satu program Yayasan Klub Buku Petra ini dapat disimak di tautan ini.

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *