Menu
Menu

Film “Close-Up” menampilkan proses riset dan perizinan yang biasanya tidak hadir di depan layar. Bagian itu tampak terlalu rapi sebagai wawancara mentah, tapi juga masih mentah sebagai adegan wawancara.


Oleh: Ageng Indra |

Saat ini Ageng tinggal di Jogjakarta. Koordinator Klub Baca Radio Buku yang berkuliah di Jurusan Film dan TV ISI Yogyakarta ini, bisa ditemui di Facebook: Ageng Indra atau Instagram: @agengindra.


Identitas Film

Judul: Close-Up
Sutradara: Abbas Kiarostami
Skenario: Abbas Kiarostami
Genre: Drama, Dokumenter
Durasi: 98 menit
Pemain: Hossain Sabzian, Mohsen Makhmalbaf, Mehrdad Ahankhah
Rumah Produksi: Janus Film
Tahun Produksi: 1990
Negara: Iran

*

“Di mana kau membeli buku itu?”
“Di toko buku.”
“Boleh aku minta alamatnya?”
“Ambil saja ini.”
“Kau baik sekali, tapi…”
“Sudahlah, aku yang menulisnya. Kau bisa mengambilnya.”
“Jadi kau Makhmalbaf?”

Percakapan di bus itu mengawali kasus penipuan yang kemudian menjadi artikel di majalah Iran, Sorush, pada musim gugur 1989. Seorang pengangguran di Tehran, Hossein Sabzian, dikabarkan mengibuli satu keluarga dengan mengaku sebagai Mohsen Makhmalbaf, seorang sutradara, yang film terbarunya tengah disambut hangat masyarakat Iran. Saat diundang ke kediaman keluarga Ahankhah, Sabzian memeriksa setiap sudut rumah itu, dengan dalih akan menjadikannya set untuk film yang akan ia garap. Ia pun mendapuk seorang putra keluarga Ahankhah untuk menjadi aktor utama. Selama dua minggu kedatangannya, ia sempat membuat keluarga itu memberinya uang 1900 tomans dan menebang pohon di depan rumah mereka. Sampai akhirnya, kepala keluarga merasa curiga dan melaporkannya kepada polisi.

Artikel berjudul “Makhmalbaf Gadungan Tertangkap” itu dibaca oleh Abbas Kiarostami, sutradara Iran lain, yang sedang mempersiapkan film terbarunya. Adanya unsur sinema dalam penipuan itu membuat Kiarostami tergerak untuk menangguhkan proyek filmnya demi menyelidiki Sabzian yang tengah menunggu persidangan.

Barangkali, menurut insting sinematik-puitik Kiarostami, Sabzian menawarkan kemungkinan yang lebih besar ketimbang film yang hendak ia garap. Kasus tersebut memang bukan penipuan biasa dengan motif materi. Sabzian memang satu-satunya yang bersalah, tapi ada persoalan identitas, ketimpangan kelas, kecintaan pada sinema, gairah untuk berakting, dan persoalan kolektif sebagai sebagai orang Iran, yang melatari peristiwa itu.

Penelusuran Kiarostami berakhir sebagai Close-Up (1990). “Dokumenter” ini adalah titik balik yang merevolusi cara pandangnya terhadap sinema, juga mendasari beberapa karyanya selanjutnya.

Memudarkan Batas Nyata dan Rekayasa

Ada perbedaan pengertian antara “mewawancarai” dan “adegan wawancara” dalam dokumenter. Mewawancarai berarti menggali informasi sebanyak mungkin, sementara adegan wawancara berarti memerankan penggalian informasi yang penting. Mewawancarai umumnya sudah dilakukan sedari tahap riset praproduksi, sementara adegan wawancara diambil saat produksi. Proses mewawancarai, kalaupun direkam, seringkali tampak tidak matang dan berantakan. Banyak sutradara lebih suka merekonstruksi penceritaan informasi lewat adegan wawancara karena memungkinkan untuk dikonsep dengan baik. Meskipun, banyak juga dokumenter yang pasrah menggunakan rekaman wawancara mentah karena dianggap sudah memenuhi kebutuhan film.

Dalam Close-Up, Kiarostami seolah mencampur keduanya. Ia menampilkan proses riset dan perizinan yang biasanya tidak hadir di depan layar—seperti saat menggali informasi dari keluarga pelapor dan polisi, hingga saat meminta izin pada hakim untuk memfilmkan berjalannya pengadilan. Bagian itu tampak terlalu rapi sebagai wawancara mentah, tapi juga masih mentah sebagai adegan wawancara. Bagi saya, lebih masuk akal menganggapnya adegan wawancara yang sengaja dibuat tampak mentah. Sepanjang film.

Sekuens persidangan, misalnya, adalah bagian terpanjang dalam film ini yang melibatkan hampir semua orang. Kiarostami menggunakan dua kamera 16mm. Satu kamera bergerak dinamis: zoom in, zoom out, dan bergeser mengikuti peserta persidangan yang berbicara. Kamera lain menyorot hakim.

Reka adegan tersisip di antara pengakuan-pengakuan yang disampaikan di pengadilan. Penyisipan tersebut membikin kentara kontras antara adegan rekonstruksi yang terkonsep dengan kejadian yang direkam apa adanya. Sekuens persidangan pun menjadi bagian yang tampak paling nyata dalam Close-Up.

Padahal, bagian itu adalah kebohongan terbesar Kiarostami di film ini. Dalam The Cinema of Abbas Kiarostami (2005) yang ditulis Alberto Elena, disebutkan persidangan Sabzian hanya berlangsung sekira satu jam. Setelah hakim keluar ruangan, Kiarostami melanjutkan sembilan jam persidangan tanpa hakim. Namun, ketika menjahitnya dalam editing, ia menyelipkan footage hakim, seolah hakim ada di sana, mendengarkan semua yang dikatakan Sabzian.

Dalam Close-Up, ada usaha yang lebih kentara dibandingkan film-film Kiarostami lainnya. Di film ini, ia berulangkali menggunakan close-up sepanjang persidangan untuk mendorong penonton mengidentifkasikan diri dengan Sabzian.

Sabzian sendiri ingin dan berusaha untuk dipahami. Ia mengerti benar dirinya pasti dinyatakan bersalah. Ia memberi alasan yang cukup masuk akal terkait motif perbuatannya. Bagaimana sebagai golongan masyarakat kelas bawah, ia merindukan perasaan diperhatikan dan dihormati yang hanya bisa ia peroleh ketika menjadi orang lain.

Sampai akhir, Sabzian menganggap perbuatannya sebagai penyaluran gairah pada seni, terutama sinema. The Cyclist (1987) besutan Mohsen Makhmalbaf yang disebut Sabzian sebagai “bagian dari hidupku”, memberinya mimpi hingga obsesi untuk menjadi sang sutradara. Mewujudkan peran itu tidaklah sulit baginya. Karena Makhmalbaf berlatarkan kelas pekerja, Sabzian memerankan sang sutradara sebagai sosok yang merakyat: menaiki bus dan bersedia bergaul dengan penonton. Ia sudah melakukan hal itu beberapa kali sebelum Nyonya Akankhah mendapatinya membaca naskah The Cylist dan bertanya di mana bisa membeli buku itu.

ulasan film close-up

Ketidakpuasan Pada Diri Sendiri

Seperti Usop dalam serial One Piece (sejak 1997) karya Eiichiro Oda, kebohongan Sabzian—untuk memfilmkan kediaman keluarga Ahankhah dan menjadikan mereka aktor—berakhir menjadi kenyataan. Kiarostami bukan hanya mendamaikan kedua belah pihak, tapi juga membuat semua orang yang terlibat untuk memerankan diri mereka sendiri.

Pada titik ini, Close-Up menjadi cerminan masyarakat Iran saat itu. Kita melihat, bukan hanya Sabzian yang tak puas dengan kehidupannya, tetapi hampir semua orang. Sekalipun keluarganya kaya, Mehrdad Akankhah, yang dijanjikan Sabzian sebagai aktor utama, adalah lulusan teknik mesin yang sudah enam bulan menganggur. Di awal film, kita juga mendengarkan pembicaraan Hossain Farazmand (jurnalis Sorush yang menulis kasus Sabzian) dengan supir taxi. Farazmand ingin seperti Oriana Fallaci, jurnalis ternama Italia. Sementara, supir taxi adalah mantan pilot yang harus mengemudi taxi untuk mencari nafkah.

Di penghujung film, Sabzian yang keluar penjara dijemput oleh Mohsen Makhmalbaf asli. Melihat Sabzian menangis, Makhmalbaf bergurau, “Yah, aku bahkan capek jadi Makhmalbaf.”

Yang Tidak Nyata Lebih Menarik

Bagian favorit saya sebenarnya terjadi di luar film ini—sebagaimana dituturkan oleh Kiarostami sendiri dalam sebuah Master Classyakni ketika Kiarostami mengajak Makhmalbaf ke kediaman keluarga Akankhah. Kedua sutradara itu sebenarnya berlawanan secara politis. Sebagai sutradara film religi, Makhmalbaf kerap mengkritisi Kiarostami yang liberal di media massa. Berkat kasus inilah keduanya bisa duduk dalam satu mobil, biarpun mereka diam saja di sepanjang perjalanan.

Ketika Kiarostami mengenalkan dirinya kepada keluarga Akankhah, tuan rumah meminta tanda pengenal, “Kami baru saja menyingkirkan Makhmalbaf gadungan. Kami tidak akan memberi kesempatan untuk ditipu lagi.” Kiarostami tidak membawa tanda pengenal. “Tapi aku membawa Makhmalbaf.” lanjutnya.

Setelah dua sutradara itu berhasil meyakinkan keluarga Akankhah, seorang putri keluarga tersebut meminta izin berpendapat. “Maaf, Tuan Makhmalbaf. Menurutku yang palsu lebih Makhmalbaf ketimbang yang asli.”

Premis itu, menurut saya, menjelaskan mengapa Close-Up begitu menarik. Karena, ketika kau bukan seseorang, dan kamu berusaha menjadi seseorang itu, kau jadi lebih menarik ketimbang orang tersebut. Premis itu pun begitu dekat dengan film yang dibuat Kiarostami di Italia, Certified Copy (2010), mengenai dua orang yang baru bertemu, tetapi berlagak seperti sepasang suami istri yang sudah lama menikah.

Jika mengingat kembali bagaimana Kiarostami membungkus filmnya, adegan rekayasa yang tampak mentah menjadi masuk akal: karena sekalipun mentah, rekayasa membuatnya lebih menarik.

Lebih menarik lagi, reka adegan penangkapan Sabzian yang dramatis, kontras dengan pertemuan Sabzian dan Makhmalbaf yang malah live report—dengan perekam suara yang bermasalah. Bagian klimaks film ini membuat kita tersadar pada medium film. Kita seolah diingatkan bahwa baik rekaman mentah atau adegan reka ulang, tidak cukup untuk menghadirkan kebenaran secara utuh tanpa batasan. Sebagaimana kita tidak tahu, apakah Sabzian berbicara jujur, atau masih berakting selama di persidangan. Karena yang menarik, kau tahu, barangkali tidaklah nyata.

Catatan Akhir

Master Class yang dimaksud adalah The Modern School of Film with Abbas Kiarostami. Bisa ditonton di https://www.youtube.com/watch?v=cKCabzXgxso


Grafis oleh: Daeng Irman

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *